Dermatitis: Dermatitis Kontak Iritan

Artikel ini sudah dibaca 57581 kali!

Oleh Johny Bayu Fitantra

Dermatitis merupakan peradangan kulit sebagai respon pengaruh faktor eksogen dan endogen, menimbulkan gejala klinis berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal. Dematitis cenderung residif dan menjadi kronis. Biasanya, dermatitis disebut juga sebagai eksem.

Pencetus dematitis dapat berupa bahan kimia (seperti detergen, asam, basa, oli, semen), fisik (sinar, suhu), mikroorganisme (bakteri dan jamur), dapat pula dari dalam atau endogen seperti dematitis atopik. Dapat juga, penyebabnya tidak diketahui secara pasti.

Gambaran Klinis:

stadium akut: kelainan dapat berupa: eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksudasi, sehingga tampak basah (madidans).

Stadium subakut: eritema dan edema berkurang, eksudar mengering menjadi krusta,

Stadium kronis: lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul, dan likenifikasi.

Stadium tersebut tidak harus berurutan. Selain itu, kadangkala gambarannya juga tidak polimorfik, tetapi hanya oligomorfik.

[adsenseyu7]

Pengobatan untuk dermatitis didasarkan pada penyebabnya. Penderita harus menghindari faktor pencetus tersebut yang dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Pengobatan simptomatis juga tidak kalah pentingnya untuk dermatitis. Pengobatan sistemik dapat berupa antihistamin pada kasus ringan. Jika akut dan berat, kortikosteroid dapat dipertimbangkan.

Secara umum, dermatitis yang akut dan basah dapat diobati dengan cara basah beripa kompres terbuka. Jika subakut dapat diberikan losio (bedak kocok), krim, pasta, atau linimentum (pasta pendingin). Krim diberikan pada daerah berambut, sedang pasta daerah yang tidak berambut. Bila kronik, salap diberikan.

Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak merupakan dermatitis yang disebabkan oleh adanya bahan atau substansi yang menempel pada kulit. Dermatitis ini dapat dibedakan menjadi dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA). DKI merupakan perdangan yang nonimunologik. Kerusakan kulit terjadi langsung tanpa proses sensitisasi. Sementara itu, dermatitis kontak alergi terjadi pada orang yang telah mengalami sensitisasi sebelumnnya terhadap alergen.

Dermatitis Kontak Iritan

Bahan-bahan yang mengiritasi seperti bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah lama kontak, kekerapan (frekuensi), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeable, serta faktor gesekan dan trauma. Suhu dan kelembaban juga dapat berperan.

Bahan iritan dapat merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk, dan mengubah daya ikat air kulit. Kerusakan membran dapat menyebabkan dihasilkannya prostaglandin dan leukotrien yang menginduksi vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas vaskular. Akibatnya terjadi transudasi komplemen dan kinin. Selain itu, PG dan LT tersebut akan menyebabkan sel-sel peradangan, berupa limfosit dan neutrofil datang. Selain itu, terjadi aktivasi sel mast melepaskan histamin.

Individu-individu yang rentan mengalami dermatitis kontak iritan adalah:

  • Ketebalan kulit relatif kurang
  • Anak-anak berusia kurang dari 8 tahun dan usia lanjut lebih mudah teriritasi.
  • Wanita lebih sering terkena dibanding pria.
  • Kulit putih
  • Ada penyakit kulit yang sedang atau pernah dialami

Gejala peradangan klasik yang dapat muncul pada dermatitis ini adalah eritema, edema, panas, nyeri, terutama jika iritan kuat. Jika iritan lemah, kelainan pada kulit dapat terjadi pada kontak berulang. Awalnya terjadi kerusakan stratum korneum karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya. Akibatnya terjadi kerusakan sel di bawahnya oleh iritan tersebut.

DKI Akut

DKI akut disebabkan oleh iritan yang kuat seperti larutan asam sulfat, dan asam hidroklorida, atau basa kuat seperti natrium hidroksidan dan kalium hidroksida. Reaksi segera timbul setelah kontak. Konsentrasi dan lamanya kontak dapat menentukan kerusakan yang terjadi. Umumnya lesi terbatas pada area kontak dengan gambaran eritema edema, bula, dapat pula nekrosis. Pinggir lesi berbatas tegas dan umumnya asimetris.

DKI Akut Lambat

DKI ini kurang lebih memiliki gejala klinis yang sama seperti DKI akut. Hanya saja, lesi dapat muncul setelah 8-24 jam atau lebih setelah kontak. Bahan iritan yang dapat menyebabkan ini antara lain podofilin, antralin, tretinoin, etilen oksida, benzalkonium klorida, asam hidrofluorat. Dermatitis akibat bulu serangga yang terbang pada malam hari juga termasuk dalam jenis ini (dermatitis venenata), Awalnya lesi dapat eritema, kemudian berlanjut menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.

 DKI Kumulatif

DKI ini kadangkala disebut juga sebagai dermatitis kontak iritan kronis. Kondisi ini terjadi karena adanya kontak berulang dengan iritan lemah (kumulatif) seperti:

Fisik: gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin,

Bahan kimia: deterjen, sabun, pelarut, tanah bahkan air.

Beberapa bahan dapat tidak cukup kuat jika hanya ada sendiri, tetapi dapat makin kuat untuk bisa sampai menimbulkan dermatitis apabila digabung dengan faktor lain. Kelainan dapat muncul setelah kotak berminggu-minggu atau bulan, bahkan bertahun-tahun. Oleh karena itu, waktu dan rentetan kontak merupakan faktor penting.

Gejala klasik dapat berupa kulit kering, berskuama, eritema. Lama kelamaan dapat terjadi penebalan kulit (hiperkeratosis), dan likenifikasi, difus. Kontak yang terus menerus dapat menyebabkan kulit retak (fisura) seperti pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Daerah yang retak tersebut biasanya terasa gatal atau nyeri. Mereka yang beresiko tinggi terkena DKI kumulatif adalah tukang cuci, kuli bangunan, montir di bengkel, juru masak, tukang kebun, dan penata rambut.

DKI Traumatik

Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma panas atau laserasi. Gejalanya mirip dematitis numularis, penyembuhan lambat, dapat mencapai 6 minggu. Umumnya terjadi di tangan.

DKI Noneritematosa

DKI noneritematosa merupakan bentuk subklinis dari DKI. Fungsi sawar stratum korneum sudah mengalami perubahan. Namun, gejala dan tanda klinis belum nampak

DKI Subjektif

Pada kondisi ini, lesi tidak nampak. Namun, sensasi nyeri setelah kontak dengan bahan kimia seperti asam laktat dirasakan oleh pasien. Dapat dikatakan, DKI ini bersifat subjektif karena berdasarkan pada keluhan subjektif pasien.

Pengobatan terpenting pada DKI adalah menghindari  pajanan bahan iritan serta faktor faktor yang memperberat. Hal ini terutama dengan menggunakan alat pelindung diri yang adekuat.  Jika diperlukan, dapat diberikan kortikosteroid topikal seperti hidrokortison.

Prognosis tergantung pada kemampuan dalam menyingkirkan faktor pencetus dermatitis ini. Jika tidak berhasil disingkirkan, tentu saja prognosisnya tidak akan baik.

Daftar Pustaka

Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6thed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI;2013. p.129-33.

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.