Hipofisis: The Master of Glands

Artikel ini sudah dibaca 63825 kali!

Kelenjar pituitari adalah nama lain dari hipofisis yang merupakan master kelenjar endokrin karena mensekresikan hormon-hormon yang mengontrol kelenjar endokrin lainnya. Kelenjar pituitari itu sendiri juga memiliki master yaitu hipotalamus. Hipotalamus merupakan penghubung utama antara saraf dengan kelenjar endokrin. 1,2

Kelenjar yang menempel pada infundibulum ini secara anatomis dan fungsional dibedakan menjadi anterior pituitary (adenohipofisis) dan posterior pituitary (neurohipofisis).

a. Anterior Pituitary

Pelepasan hormon dari anterior pituitary distimulasi oleh releasing hormon dan dihambat oleh inhibiting hormon dari hipotalamus. Ada lima jenis sel pada anterior pituitary yaitu somatotrophs, thyrotrophs, gonadotrophs,

lactotrophs dan corticotrophs.1,3

  • Somatotrophs mensekresikan human growth hormone (hGH) atau somatotropin. Hormon ini bekerja dengan menstimulasi beberapa jaringan (sel hati, otot rangka, cartilago, maupun ) untuk menghasilkan insulinlike growth factors (somatomedins) yang selanjutnya dapat menstimulasi pertumbuhan tubuh secara umum dan meregulasi berbagai aspek metabolisme.

IGF menyebabkan sel bertumbuh dan berkembang seiring dengan ambilan uptake asam amino ke dalam sel dan sintesis protein yang disiapkan. IGF juga meningkatkan lipolisis pada jaringan adiposa. Selain itu, hGH dan IGF juga dapat mempengaruhi penurunan uptake glukosa sehingga penggunaan glukosa untuk pembentukan ATP berkurang.

  • Thyrotrophs mensekresikan thyroid-stimulating hormone (TSH) atau thyrotropin yang dapat mengontrol sekresi dan aktivitas lain dari kelenjar tiroid. TSH menstimulasi sekresi dan sintesis kelenjar tiroid seperti triiodothyronine.
  • Gonadotrops mensekresikan gonadotropins: Follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). FSH dan LH menstimulasi sekresi estrogen dan progresterone serta pematangan oosit dalam ovarium serta menstimulasi produksi sperma maupun sekresi testosteron dalam testis.
  • Lactotrophs mensekresikan prolaktin (PRL) yang menginisiasi produksi ASI dari kelenjar mamae.
  • Corticotrophs mensekresikan adrenocorticotropic hormone (ACTH) atau corticotropin yang menstimulasi kelenjar adrenal untuk menghasilkan glukokortikoid seperti kortisol. 1

Growth Hormon

Growth Hormone merupakan hormon anabolisme protein dan menghasilkan keseimbangan nitrogen dan fosfor positif, peningkatan fosfor dalam plasma, dan penurunan blood urea nitrogen dalam darah serta kadar asam amino. Efek growth hormone dalam mempengaruhi pertumbuhan, kartilago dan metabolisme protein tergantung dari interaksinya dengan somatomedins, yang merupakan polipeptida faktor pertumbuhan yang disekresikan oleh hati dan jaringan lain.

Somatomedins ada dua jenis yaitu IGF-I dan IGF-II. Sekresi IGF-I tidak terpengaruh oleh growth factor pada saat sebelum lahir. Setelah lahir, sekresi IGF-I distimulasi oleh GH untuk selanjutnya dapat menstimulasi pertumbuhan setelah lahir. Sementara IGF-II sekresinya tidak terpengaruh GH. Efeknya pertumbuhan yang diberikan utamanya saat fetus belum lahir. Pada manusia dewasa, gen untuk IGF-II diekspresikan hanya pada pleksus koroideus dan meningen.

Growth hormone bersifat diabetogenik karena meningkatkan pengeluaran glukosa hepatik dan menghasilkan efek antiinsulin di otot. Growth hormon juga bersifat ketogenik dan meningkatkan kadar asam lemak bebas. Peningkatan asam lemak bebas dapat memberikan sumber energi siap pakai untuk jaringan selama hipoglikemi, puasa dan adanya stimulus stress. Growth hormon tidak menstimulasi sel beta pankreas secara langsung, tetapi meningkatkan kemampuannya merespon stimulus insulinogenik seperti arginin dan glukosa. Pada orang yang masih muda, yang mana epifisisnya belum berfusi, pertumbuhan distimulasi oleh hormon ini. Kondrogenesis dipercepat dan saat lempeng epifisisnya meluas, matrik tulang diberikan pada ujung tulang panjang. Dengan begitu, seseorang dapat bertambah tinggi.

Setelah epifisis menutup, pertumbuhan linear sudah tidak memungkinkan lagi. Pada kondisi ini, jika terjadi grwoth hormon yang berlebih dapat terjadi akromegali. Ukuran dari kebanyakan organ dalam membesar, konten protein dalam tubuh naik dan lemak turun. 3

 

 

Tiroid Stimulating hormone

TSH menstimulasi sintesis dan sekresi dua hormon tiroid, yaitu triiodotironine (T3) dan tiroksin (T4), yang keduanya dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Sekresi TSH distimulasi oleh TRH dari hipotalamus yang tergantung pada kadar T3 dan T4 melalui interaksi feedback negatif.

Follicle Stimulating Hormone

Pada wanita, ovarium merupakan target dari FSH. Tiap bulan, FSH menginisiasi perkembangan beberapa folikel ovarium . FSH juga menstimulasi sel folikular untuk menghasilkan estrogen. Sementara pada pria, FSH menstimulasi produksi sperma di testis.Sekresi dari FSH ini distimulasi oleh GnRH dari hipotalamus. Pelepasan GnRH dan FSH ditekan oleh estrogen pada wanita dan testosteron pada wanita melalui sistem feedback negatif. 1

Luteinizing hormone

Ovulasi dipicu oleh adanya hormon ini. LH akan menstimulasi pembentukan korpus luteum pada ovarium dan sekresi progesteron oleh korpus luteum. FSH dan LH secara bersama-sama juga menstimulasi sekresi estrogen oleh sel ovarium. Estrogen  dan progesteron membantu uterus untuk mempersiapkan implantasi dari ovum yang sudah dibuahi serta kelenjar mamae untuk sekresi ASI. Sementara pada pria, LH menstimulasi sel di dalam testis untuk mensekresikan testosteron. Sekresi LH ini dikontrol oleh GnRH. 1

Prolaktin

Prolaktin bersama-sama dengan hormon lain berfungsi untuk menginisiasi dan menjaga sekresi ASI. Jika bekerja sendiri, efek yang diberikan prolaktin kurang begitu adekuat. Harus ada pengaruh dari estrogen, progesteron, glukokortikoid, hGH, tiroksin, dan insulin terlebih dahulu supaya prolaktin dapat menstimulasi sekresi ASI. Sementara untuk ejeksi dari ASI dipengaruhi oleh oksitosin yang dilepaskan posterior pituitary.

Pada wanita, pelepasan prolaktin dihambat oleh prolactin-inhibiting hormone (PIH) yang merupakan dopamin. Tiap bulan, PIH akan berkurang dan kadar prolaktin dalam darah akan naik meskipun tidak sampai terjadi produksi ASI. Payudara akan lebih lembut sebelum menstruasi karena naiknya hormon prolaktin tersebut. Selama kehamilan, kadar prolaktin naik akibat stimulasi dari PRH (prolactin releasing hormon).Kemudian, pada saat menyusui, terjadi penurunan sekresi PIH sehingga kadar prolaktin juga tinggi.

Pada pria, fungsi prolaktin tidak diketahui dengan pasti. Namun, hipersekresi prolaktin dapat menyebabkan disfungsi erektil (impotensi). Pada wanita, hipersekresi menyebabkan galactorrhea dan amenorrhea. 1

Adrenocorticotropic Hormone (ACTH)

ACTH mengontrol produksi dan sekresi kortisol dan glukokortikoid lain oleh korteks medulla adrenal. Corticotropin releasing hormone (CRH) dari hipotalamus menstimulasi sekresi ACTH. Stimulus yang berkaitan dengan stress seperti glukosa yang rendah atau trauma fisik,  interleukin-1, juga dapat menstimulasi ACTH. Glukokortikoid menghambat pelepasan CRH dan ACTH melalui feedback negatif.

Melanocyte-stimulating Hormone

MSH meningkatkan pigmentasi kulit pada amifibi, tetapi pada manusia belum diketahui secara pasti fungsinya. Namun, mengingat reseptornya terdapat pada otak, kemungkinan besar MSH berperan dalam aktivitas otak. MSH dapat distimulasi oleh CRH. 1

b. Posterior Pituitary

Posterior pituitary pada mamalia terdiri dari nerve yang badan sarafnya terletak di hipotalamus.3 Posterior pituitary atau neurohipofisis tidak mensintesis hormon, tetapi menyimpan dan melepaskan dua hormon . Nukleus paraventrikular mensintesis hormon oksitosin dan nukleus supraoptikus menghasilkan antidiuretik hormon (ADH) atau vasipressin. Sesudah disekresi, oksitosin dan antidiuretik akan dimasukan dalam vesikel sekretori, yang akan masuk ke pituitari posterior. Di sana, hormon akan disimpan sampai impuls saraf memicu eksositosis dan melepaskan hormon.

Oksitosin

Oksitosin berperan penting dalam meningkatkan kontraksi otot polos pada dinding uterus pada saat wanita melahirkan sebagai refleks dari birth canal. Sementara saat menyusui, oksitosin menstimulasi ejeksi ASI dari kelenjar mamae yang terpicu oleh gerakan menghisap oleh bayi. Pada wanita yang tidak hamil maupun pada pria, fungsi oksitosin tidak begitu jelas. 1

Antidiuretic Hormone (ADH)

ADH berfungsi untuk mengurangi produksi urin. Dengan adanya ADH, ginjal akan mengembalikan air ke darah sehingga volume urin berkurang. Sekresi ADH dihambat oleh alkohol sehingga mereka yang mengkonsumsi alkohol dapat buang air kecil dengam jauh lebih sering. Selain mencegah terbuangnya air lewat urin, ADH juga dapat menyebabkan konstriksi arteriol sehingga air tidak banyak terbuang melalui keringat. Efek lain yang muncul adalah peningkatan tekanan darah sehingga disebut juga vasopressin.

Jumlah ADH yang disekresikan bervariasi tergantung tekanan osmotik darah dan volume darah.

“Tekanan osmotik darah yang tinggi akan menstimulasi osmoreseptor pada hipotalamus àOsmoreseptor akan mengaktivasi se neurosekretori hipotalamus yang menstintesis dan melepaskan ADH à eksositosis vesikel berisi ADH dari akson terminal pada posterior pituitary.” 1

Kelenjar Pineal

Kelenjar pineal merupakan sebuah kelenjar kecil yang menempel pada atap ventrikel ketiga otak pada bagian midline. Kelenjar ini memiliki massa neuroglia dan sel sekretori yang disebut pinealocytes. Kelenjar pineal mensekresi melatonin yang diturunkan dari serotinin. Melatonin penting sekali dalam pengaturan jam biologis tubuh yang dikontrol oleh nucleus suprachiasmatic hipotalamus (SCN).

Saat gelap, melatonin lebih banyak dilepaskan dibandingkan saat terang sehingga orang cenderung mengantuk. Kelenjar pineal berespon terhadap rangsang visual yang nantinya dapat menstimulasi pinealosit untuk mensekresikan melatonin dalam ritme tertentu. Selama siang hari, kadar melatonin lebih rendah daripada malam hari. Selama tidur, kadar melatonin dapat naik sampai sepuluh kali lipat dan akan turun ke level rendah kembali sesaat sebelum bangun. Melatonin juga berpotensi menjadi antioksidan.

Anak-anak memiliki kadar melatonin yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Namun,perubahan sekresi melatonin tidak berkorelasi dengan onset pubertas dan maturasi seksual.  1

 



Daftar Pustaka

 

1                    Tortora GJ, Derrickson Bryan. Priciples of Anatomy and Physiology: The Endocrin System. 12thed. Denver: John Wiley & Sons; 2009. p. 642-55, 672-3.

2                    Sherwood L. Sherwood L. Human Physiology : pinciples of Endocrinology. 7thed. Canada: Brooks/Cole Cengage; 2010. p. 661-3, 670-1, 685.

3                    Barret KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Ganong’s Review of Medical Physiology. 23thed. United States: Mc Graw Hill; 2010. P.377, 381-2

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.