Artikel ini sudah dibaca 18694 kali!

Imunisasi merupakan upaya pencegahan terhadap penyakit tertentu pada diri seseorang dengan pemberian vaksin. Vaksin adalah antigen yang dapat bersifat aktif maupun inaktif yang berasal dari mikroorganisme ataupun racun yang dilemahkan. Pemberian vaksin bisa melalui injeksi ,misalnya vaksin BCG, DPT, DT, TT, Campak, dan Hepatitis B. Sedangkan yang diberikan secara oral yaitu vaksin polio. Pemberian vaksin secara dini dan rutin pada bayi dan balita diketahui mampu memunculkan kekebalan tubuh secara alamiah. Cara itu sangat efektif, mudah, dan murah untuk menangkal berbagai penyakit menular. 1

Imunisasi harus dilakukan pada populasi yang mempunyai proteksi kurang angka pemaparan terhadap antigen tinggi, dan resiko terhadap penyakit atau komplikasinya tinggi. Orang yang amat muda dan amat tua merupakan yang populasi berisiko. Kelompok usia muda masih memiliki imunitas yang imatur sementara yang tua telah mengalami kemunduran.Begitu juga dengan orang-orang yang berada dalam keadaan tertentu (seperti hamil, memiliki penyakit kronik jantung paru) atau berada di lingkungan yang kurang sehat.2

Jenis-Jenis Imunisasi3

Pada dasarnya ada 2 jenis imunisasi, yaitu :

* Imunisasi Pasif (Pasive Immunization)

Imunisasi pasif ini adalah immunoglobulin yang didapatkan secara genetis melalui ibu.

* Imunisasi Aktif (Active Immunization)

Imunisasi yang diberikan pada anak adalah :

a. BCG untuk mencegah penyakit TBC

b. DPT untuk mencegah penyakit-penyakit Difteri, Pertusis,
dan Tetanus.

c. Polio untuk mencegah penyakit Poliomielitis.

d. Campak untuk mencegah penyakit Campak (Measles).

Prinsip-Prinsip Vaksinasi2

Vaksin dianggap efektif jika mengurangi insidensi penyakit secara bermakna pada kelompok yg terimunisasi dibanding kelompok kontrol. Kemanjuran tidakn hanya ditentukan oleh perangsangan terjadinya antibodi serum saja, tetapi mengarah ke adanya penambahan proteksi terhadap penyakit.

Keuntungan imunisasi aktif dibanding imunisasi pasif adalah lebih lamanya waktu proteksi karena kadar protektif antibodinya bisa dipertahankan selama bertahun-tahun. Pada umumnya, vaksin yang mengandung organisme virulen, dilemahkan atau hidup, lebih efektif dibandingkan preparat yang telah dimatikan atau diinaktifkan. Lamanya imunitas diduga tergantung pada antigen yang menetap. Vaksin hidup mengandung antigen yang mampu bertahan hidup terus menerus dan memperpanjang pengaruh immunogenik. Imunisasi dengan jenis yangt diinaktifkan dapat juga diikuti oleh respon serius yang terjadi sesudah pemaparan berikutnya terhadap virus alam.

Sifat-sifat khas respons imunisasi yang berhubungan dengan status antigen

Non-replikatif replikatif
Contoh Bakteri (DPT) 

Beberapa virus (polio, morbili, influenza)

Virus (demam kuning, vaksinia, rubeola, parotitis, polio)
Prinsip imunisasi Masa antigenik yang terbentuk sebelumnya Replikasi sendiri
Pengaruh antibodi pasif Tidak ada pengaruh menghambat Dapat mencegah keberhasilan imunisasi
Lama imunitas Relatif pendek, memerlukan ‘booster’ Relatif panjang (menyerupai infeksi alami)
Mekanisme imunitas utama IgG humoral IgG humoral; IgA lokal

Pemberian suatu vaksin hidup yang dilanjutkan dengan vaksin hidup lainnya secara simultan seringkali menyebabkan terhambatnya imunisasi kedua. Gangguan ditunjukan pada manusia dengan vaksin morbili, cacar dan polio. Selain itu, adanya infeksi juga bisa menjadi faktor penghambat. Misalnya, vaksin polio oral hidup dapat dihambat jika imunisasi dilakukan pada epidemi infeksi enterovirus. Namun, beberapa vaksin virus tetap dapat diberikan secara simultan dengan kemanjuran yang baik, misalnya vaksin morbili, parotitis dan rubela.

Kebanyakan vaksin diberikan secara  parenteral tanpa memandang tempat masuk alamiahnya. Namun, pada vaksin polio hidup tetap diberikan secara oral melalui jalur enterik dan vaksin demam kuning diberikan secara parenteral sesuai dengan cara alamiah patogen.

Contoh vaksin Rute vaksin Tempat masuk alamiah
Rubeola I.M Traktus respiratorius
Rubela I.M
Influenza I.M
Virus Polio (Sabin) P.O Traktus gastrointestinal
Virus Polio (Salk) I.M
Cacar I.D Traktus respiratorius
Rabies I.M Kulit
Demam kuning I.M Kulit

I.M: intramuscular           I.D: intradermal                                P.O: oral

Antibodi bisa didapat secara pasif melalui pemindahan transplasental antibodi IgG maternal, imunisasi pasif oleh serum gamaglobulin melalui imunoprofilaksis, atau pemindahan antibodi melalui air susu ibu.

Pemindahan transplasental globulin IgG  maternal pada bayi mudah terjadi. Namun, ada perbedaan yang besar, pada antibodi yang diperoleh dengan cara ini. Misalnya antibodi igG dengan berat molekul rendah (misalnya antobodi rubeola) yang ada dalam kadar tinggi dalam serum ibu, mudah dipindahkan jika dibanding antibodi yang tersedia dalam jumlah kadar lebih rendah (misalnya antibodi Bordetella pertussis) dan antibodi anti LPS IgM tidak dapat dipindahkan.

Selain memberikan perlindungan, antibodi yang diperoleh secara pasif ini dapat mengganggu sintesis antibodi aktif apabila dilakukan imunisasi tertentu. Imunisasi secara parenteral dapat terhambat sehingga harus ditunggu sampai usia 15 bulan. Namun, kemanjuran imunisasi permulaan dengan vaksin yang dimatikan, misalnya difteri, pertusis dan tetanus (DPT), pada bayi usia dua sampai 3 bulan tidak begitu terhambat oleh antibodi tersebut.

Faktor lain yang mempengaruhi kemanjuran vaksin adalah keadaan fisikokimia antigen. Umumnya, protein larut adalah imunogen yang jelek dibanding protein yang tidak larut atau protein yang diperkuat dengan ajuvan.

Macam Macam Imunisasi4,5

Imunisasi yang diwajibkan

Vaksinasi Jadwal pemberian-usia Booster/Ulangan Imunisasi untuk melawan
BCG Waktu lahir, 

Apabila umur > 3 bulan harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu, BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.

Tuberkulosis
Hepatitis B HB diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 3-6 bulan.
Interval dosis minimal 4 minggu.
1 tahun– pada bayi yang lahir dari ibu dengan hep B. Hepatitis B
Polio Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS OPV diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain). 18bulan-booster1 

6tahun-booster 2

12tahun-booster3

Dipteria, pertusis, tetanus, dan polio
campak Campak-1 umur 9 bulan,campak-2 diberikan pada program BIAS pada SD kl 1, umur 6 tahun. Campak
DPT Diberikan pada umur 6 minggu, DTwP atau DTaP atau secara kombinasi dengan Hep B program BIAS SD kelas VI. 18bulan-booster1 

6tahun-booster 2

12tahun-booster3

Dipteria, pertusis, tetanus,

Imunisasi yang dianjurkan:

Vaksinasi Jadwal pemberian-usia Booster/Ulangan Imunisasi untuk melawan
MMR 1-2 tahun 12 tahun Measles, meningitis, rubella
Hib Diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Diberikan terpisah atau kombinasi. 18 bulan Hemophilus influenza tipe B
Hepatitis A Hepatitis A diberikan pada umur > 2 tahun, dua kali dengan interval 6-12 bulan Hepatitis A
Cacar air 12-18bulan Cacar air


Komplikasi Imunisasi2,6

Setelah imunisasi kadang-kadang timbul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan, agak rewel. Itu adalah reaksi yang umum terjadi setelah imunisasi. Umumnya akan hilang dalam 3-4 hari, walaupun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama.

Perlindungan imunisasi memang tidak 100 %,  artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit-penyakit tersebut, tetapi kemungkinannya hanya kecil (5 – 15 %),  jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Bukan berarti imunisasi itu gagal atau tidak berguna, karena perlindungan imunisasi memang sekitar 80 – 95 %.

Komplikasi Imunitas Aktif

Komplikasi yang paling sering terjadi sesudah imunisasi adalah reaksi lokal pada tempat suntikan. Terdiri dari pembengkakan lokal yang lunak dan dapat disertai dengan gejala-gejala sistemik (demam) dalam 24 jam, terutama pada bayi.

Meskipun jarang, setelah penggunaan vaksin pertusis pada bayi di bawah satu tahun, dapat terjadi ensepalopati yang mekanismenya kurang dimengerti. Jika panas tinggi, somnoloen, atau konvulsi terjadi sesudah suntikan DPT, komponen pertusis seharusnya dihilangkan pada suntikan berikutnya.

Komplikasi lain yang nonimunologik adalah penyebaran vaksinia pada lesi ekzem (eczema vaccinatum). Bayi dengan ekzem atau luka-luka lain (seperti luka bakar), seharusnya tidak diimunisasi dengan vaksin cacar karena bahaya penyebaran.

Komplikasi imunologik dapat dibedakan menjadi

a.       Pengaruh merugikan pada hospes yang kompromi secara imunologis.

Walau jarang, vaksinia progresif  dapat terjadi sebagai dampak buruk imunisasi cacar pada anak-anak dengan cacat defisiensi imun kombinasi yang berat. Hal ini diakibatkan kegagalan lesi primer untuk sembuh normal. Begitu juga pada penderita leukimia, limfoma, dan yang sedang menjalani terapi imunosupresif.

b.      Reaksi hipersensitivitas yang merugikan yang terlihat menonjol pada individu alergik.

Karena beberapa vaksin ditumbuhkan pada biakan jaringan atau telur, ada resiko kontaminasi jaringan heterolog, protein, atau substansi asing yang bisa menjadi alergen.

c.       Pengaruh pada hospes normal yang berkaitan dengan sifat antigen atau cara pemberian.

Komplikasi serius dari vaksin yang dimatikan adalah respon atipik yang mungkin terjadi pada anak anak setelah menerima vaksin yang dimatikan seperti vaksin virus morbili. Saat anak-anak terpapar dengan virus ganas di alam, penyakit atipik yang terjadi bisa lebih berat. Hal tersebut karena sedikitnya perangsangan antibodi IgA pada traktus respiratorius sehingga terjadi ketidakseimbangan imunologik. Akibatnya replikasi virus pada traktus respiratorius menjadi dipercepat.

d.      Pengaruh pada hospes normal yang tidak diketahui pasti patogenesisnya.

Kejadian manifestasi sendi dan neuropati tampaknya memiliki hubungan dengan infeksi rubela alamiah, dan sebagian kecil, dengan vaksin rubela.


Daftar Pustaka

1I Ketut. Imunisasi Mencegah Penyakit Lebih Dini Diunduh dari http://www.dechacare.com/Imunisasi-Mencegah-Penyakit-Lebih-Dini-I45.html. Diakses 1 September 2010.

2Bellanti, JA. Imunologi III:Imunoprofilaksis: Penggunaan Vaksin.1993. Yogyakarta: gadjah Mada University Press. p. 553-560.

3Wardani L. Imunisasi pada Bayi dan Balita. Diunduh dari http://www.surabaya-ehealth.org/e-team/berita/ imunisasi-pada-bayi-dan-balita.  Diakses 1 September 2010.

4Suririnah. Jadwal Imunisasi / Vaksinasi. Diunduh dari http://www.infoibu.com/tipsinfosehat/jadwalimunisasi.htm. Diakses 1 September 2010.

5Jadwal Imunisasi 2008
Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2008. Diunduh dari http://www.ayahbunda.co.id/imunisasi

6Soedjatmiko. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. Diunduh dari http://www.ykai.net/index.php?view=article&id=328:imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya-. Diakses 1 September 2010.


PDF Editor    Send article as PDF   
Tagged on:         

One thought on “Imunisasi

  • September 15, 2010 at 7:23 am
    Permalink

    Jadwal Imunisasi bisa berbeda-beda. Sepertinya, rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia bisa menjadi rujukan yang paling bisa diterima meski sudah 2 tahun lalu dirilis.
    Link bisa dilihat di http://www.ayahbunda.co.id/imunisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>