Mabuk Perjalanan

Artikel ini sudah dibaca 5924 kali!

Disusun oleh Johny Bayu Fitantra, S.Ked

Perjalanan semestinya dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan apalagi jika itu adalah suatu perjalanan yang panjang. Namun, adakalanya kenikmatantersebut menjadi terganggu saat rasa mual bahkan muntah-muntah terjadi selama perjalanan. Mabuk perjalanan menjadi hal yang cukup lazim terjadi di masyarakat.

Selain mual dan muntah, mabuk perjalanan juga dapat disertai dengan pening maupun sakit kepala. Keadaan ini dapat terjadi pada saat seseorang naik mobil, kapal, kereta api atau pesawat terbang. Keringat juga bisa keluar lebih banyak serta nafas menjadi cepat dan pendek. Kadangkala, mereka yang mabuk kendaraan juga nampak pucat.

Pada saat berada di kendaraan, mereka yang mabuk kendaraan mengalami gangguan pada sistem kesetimbangan seperti telinga dan mata. Anak-anak lebih sering mengalami mabuk kendaraan dibanding orang dewasa. Faktor stressor seperti rasa gelisah dapat menjadi faktor pemicu juga.

Untuk meminimalkan terjadinya mabuk kendaraan sebaiknya minuman beralkohol maupun soda dihindari sebelum dan selama perjalanan. Jika bisa, makanlah makanan yang tidak terlalu berbumbu (hambar). Jahe bisa menjadi obat tradisional untuk membantu mengurangi mual. Konsumsi kapsul jahe sebaiknya dua jam sebelum perjalanan.

Pergerakan dan guncangan selama perjalanan merupakan faktor yang penting dalam menentukan resiko seseorang mengalami mabuk perjalanan. Semakin banyak mengalami pergerakan atau guncangan, semakin besar resiko untuk mabuk. Oleh karena itu, upayakan untuk bisa duduk di tempat yang mengalami guncangan atau pergerakan paling minimal.

Jika berada di pesawat terbang, usahakan untuk bisa duduk di bagian tengah dengan jendela melihat ke sayap. Begitu juga saat di kapal. Usahakan untuk bisa duduk di tengah atau dek. Jika terpaksa berada di dek bawah atau kabin tertutup, tidur menjadi upaya yang cukup jitu untuk mengurangi mabuk selama di kapal. Tidur juga bisa menjadi alternatif ketika melakukan perjalanan di malam hari. Melakukan perjalanan di malam hari juga bisa dilakukan supaya dalam perjalanan dapat tidur secara nyaman.

Ketika berada di kereta api, usahakan untuk bisa duduk di kursi dekat jendela dengan menghadap searah dengan arah perjalanan. Sementara itu, kursi depan menjadi area paling nyaman saat berkendara dengan mobil. Area kursi paling belakang merupakan yang paling rentan menimbulkan mabuk perjalanan.

Selama perjalanan, sebaiknya bau-bauan yang menyengat maupun rokok bisa dihindari.

Mengingat mata merupakan salah satu organ keseimbangan, yang mana dalam perjalanan dapat terjadi ketidaksesuaian sinyal dengan organ keseimbangan lain seperti telinga, pandangan menjadi salah satu alternatif mengurangi mabuk perjalanan. Di dalam kendaraan, sebaiknya pandangan di fokuskan ke benda-benda yang letaknya jauh. Sebaiknya tidak membaca, menulis atau melihat ke bawah selama perjalanan terutama jika memang rentan terhadap mabuk kendaraan.

Alihkan perhatian dari ketakutan akan rasa mual dan ingin muntah dengan mendengarkan musik, kaset atau CD. Sementara itu, jika seseorang merasa gelisah hingga mabuk kendaraan, sebaiknya mencoba berlatih mengontrol pernapasan.

Obat yang dapat digunakan sebelum perjalanan terutama berkaitan dengan efek antimual yang dimilikinya. Contoh obatnya adalah hyoscine. Antihistamin yang sering digunakan adalah meclozine atau promethazine. Obat ini diminum sebelum perjalanan. Namun, obat ini dapat menyebabkan kantuk . Dengan begitu, sebaiknya jangan meminum obat ini jika sedang mengendarai.

Jika mabuk perjalanan dirasakan tetap ada dalam satu atau dua hari perjalanan, serta munculnya rasa mual dan pening saat tidak melakukan perjalanan sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Demikian,

semoga bermanfaat

 

 

johny bayu f

 

Referensi: Peters M. Home Doctor. Jakarta: Dian Rakyat; 2007. p110.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.