Melakukan CPR saat Emergency

Artikel ini sudah dibaca 27457 kali!

RJP dilakukan bila terjadi henti napas dan atau henti jantung. Henti napas terjadi bila korban tidak bernapas, ditandai dengan tidak adanya pergerakan dada dan aliran udara napas. Henti jantung terjadi bila jantung berhenti berdenyut dan memompakan darah, ditandai dengan tidak terabanya denyut nadi pada arteri-arteri besar, seperti arteri karotis, arteri brakialis dan arteri femoralis.

Resusitasi jantung paru tidak perlu dilakukan bila telah terdapat tanda-tanda pasti kematian pada korban, yaitu lebam mayat (livor mortis), kaku mayat (rigor mortis), dan pembusukan. Lebam mayat dapat dikenali sebagai warna merah sampai dengan kebiruan pada bagian terendah dari tubuh korban saat korban ditemukan. Pada korban yang ditemukan dalam keadaan terlentang lebam mayat dapat ditemukan di daerah punggung korban. Kaku mayat terjadi mulai 4 jam setelah kematian, dan menghilang setelah 10 jam. kekakuan ini dapat ditemukan pada batang tubuh dan anggota tubuh korban. Pada mayat yang membusuk korban sulit untuk dikenali dan bau busuk akan tercium dari mayat.

Pada cedera yang tidak memungkinkan korban hidup seperti terpisahnya kepala dari badan maka penolong tidak perlu lagi melakukan RJP. Pada bayi yang lahir sudah dalam keadaan mati atau mati didalam kandungan maka RJP tidak diperlukan lagi.

Persiapan RJP

Sebelum melakukan RJP penolong perlu melakukan persiapan-persiapan untuk menjamin RJP dan pertolongan lain yang dibutuhkan korban dapat dilakukan dengan baik. Hal yang pertama dan utama yang harus dilakukan adalah memastikan keamanan tempat kejadian. Pastikan keamanan diri penolong dan gunakan alat pelindung diri (APD). Setelah memastikan keamanan maka lakukan langkah-langkah:

1. Lakukan penilaian kesan umum.
Goyangkan bahu korban. Ajak korban bicara dan pancing jawaban verbal untuk mengetahui kesadaran dan keadaan airway korban. Bila ternyata korban tidak memberikan respon terhadap panggilan segera minta bantuan, dengan berteriak β€œtolong”, dan segera aktifkan SPGDT.

Bila korban memberikan respon positif, posisikan korban pada posisi pulih atau seperti saat ditemukan. Pertolongan dari tenaga medis tetap diperlukan karena keadaan korban bisa saja memburuk dalam hitungan menit.
Lakukan evaluasi berkala pada korban sampai korban ditangani oleh yang lebih ahli.

2. Minta tolong. Aktifkan SPGDT.

3. Perbaiki posisi korban dan buka pakaian yang menutupi dada (ekspos dada korban). Resusitasi akan lebih efektif bila posisi korban tidur telentang, dengan alas yang rata dan keras. Posisikan korban pada posisi telentang dengan kedua lengan di sisi kanan dan kiri korban (posisi anatomis). Ketika melakukan perubahan posisi selalu perhatikan kesatuan/kesegarisan antara kepala, leher, dan tubuh, termasuk bahu dan tulang belakang. Ingat untuk selalu melindungi leher korban terutama bila dicurigai adanya cedera leher. Bebaskan dada korban dari pakaian yang menutupi untuk mempermudah tindakan dan penilaian korban.

4. Atur posisi penolong.

Segera berlutut di samping korban sejajar dengan bahunya, agar saat melakukan bantuan napas dan sirkulasi penolong tidak perlu banyak bergerak, sehingga akan menghemat waktu.

Langkah-langkah RJP

Setelah melakukan prosedur dasar sebagai persiapan sebelum melakukan RJP, teruskan dengan:

1. Airway control dan cervical control, penguasaan jalan napas.

a. Buka jalan napas. Cara membuka jalan napas akan dijelaskan secara rinci pada pembahasan bantuan hidup dasar.
b. Nilai derajat dan jenis sumbatan.

Lakukan dengan pedoman look, feel, listen. Untuk mempermudah berlututlah di samping korban di dekat kepalanya. Miringkan kepala penolong dekat mulut dan hidung korban dengan mata melihat ke arah dada korban, sambil buka jalan napasnya. Dengan cara seperti ini penolong dapat melakukan penilaian airway sekaligus breathing. Telinga penolong mendengarkan (listen), pipi penolong bisa digunakan untuk merasakan (feel), dan mata penolong melihat (look) pergerakan dada dan adanya penggunaan otot-otot pernapasan tambahan.
c. Lakukan tindakan membebaskan jalan napas dari sumbatan. Langkah-langkah dalam membebaskan jalan napas ini juga akan dijelaskan pada pembahasan bantuan hidup dasar.

2. Breathing support; ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat.
a. Sambil mempertahankan jalan napas bebas, pastikan korban bernapas. Periksa pernapasan korban dengan look, feel, listen.
b. Jika pernapasan memadai, dan tidak ada dan tidak dicurigai adanya cedera leher posisikan korban pada posisi pulih. Lakukan evaluasi A dan B berkala.
c. Bila korban tidak bernapas, berikan napas buatan 2 kali. Kemudian periksa tanda-tanda sirkulasi. Bila korban hanya memerlukan napas buatan maka lakukan napas buatan dengan frekuensi 12-15 kali/ menit. Lanjutkan dengan evaluasi ulang A dan B secara berkala.

3. Circulation support; pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung.

a. Pastikan ada tidaknya denyut jantung korban dengan melakukan perabaan pada arteri karotis.
b. Jika teraba arteri karotis, maka lanjutkan pengelolaan korban dengan melakukan evaluasi ulang A dan B berkala.
c. Jika tidak teraba arteri karotis, lakukan kompresi/ pijat jantung luar. langkah-langkah melakukan kompresi jantung luar akan dterangkan di bawah.

4. Lakukan reevaluasi/ penilaian ulang A-B-C.

a. Bila masih tidak teraba nadi lanjutkan kompresi jantung luar dan lakukan evaluasi ulang setiap 4 siklus.
b. Bila teraba nadi, namun tidak bernapas, berikan bantuan napas saja dengan kecepatan 12-15 kali/menit.
c. Bila korban bernapas spontan dan teraba nadi, posisikan pada posisi pulih, dengan catatan tidak ada atau tidak dicurigai cedera leher.

Langkah-langkah kompresi jantung luar

1) Tentukan ujung tulang xifoid. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah menelusuri lengkung tulang iga kanan atau kiri sampai bertemu bagian tulang dada atau sternum, dikenal sebagai xifoid, bagian menyerupai ujung pedang.
2) Dari ujung xifoid, letakkan jari telunjuk dan jari tengah di tulang dada, satu jari di atas xifoid dan satu lagi di sebelahnya, ke arah kepala. Tepat di samping jari yang lebih dekat ke kepala merupakan titik kompresi.
3) Letakkan tumit salah satu tangan di posisi yang sudah ditentukan tadi. Tangan yang lain ditempatkan di atas tangan pertama. Dianjurkan jari-jemari kedua tangan saling mengait. Tekanan hanya diberikan melalui tumit tangan tersebut, usahakan agar jari-jari penolong tidak menyentuh bahkan menekan tulang-tulang iga korban.
4) Saat melakukan penekanan dinding dada, posisi badan penolong tegak lurus bidang datar, dengan kedua lengan lurus. Penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya. Lakukan 15 kali kompresi secara berkala, dengan kedalaman 3,8 – 5 cm. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit.
5) Setiap kali setelah kompresi biarkan dada korban mengembang, kembali ke posisi semula. Jangan lepaskan tangan penolong dari dada korban atau merubah posisi tangan.
6) Waktu untuk menekan dan melepas adalah sama, yaitu 1 : 1.
Satu siklus pernapasan buatan dan kompresi jantung luar terdiri dari 15 kompresi dan 2 napas buatan (15:2). Perbandingan ini berlaku baik untuk 1 penolong maupun 2 penolong. Lakukan 4 siklus secara lengkap. Setelah lengkap 4 siklus, lakukan evaluasi ulang mulai dari A, B, dan C.

Bagaimana tanda-tanda RJP yang dilakukan berhasil?

Keberhasilan RJP tidak lepas dari keberhasilan setiap langkah RJP yang dilakukan. Apabila RJP yang dilakukan berhasil maka pada korban didapati tanda-tanda kembali berfungsinya sistem pernapasan dan sistem sirkulas. Korban dapat bernapas spontan, tampak dada korban bergerak naik turun dan adanya aliran udara napas. Denyut nadi kembali teraba dan denyut jantung kembali terdengar melalui stetoskop. Kulit korban yang semula pucat berangsur normal. Korban dapat melakukan gerakan terarah dan korban berusaha menelan. Pupil akan mengecil bila terkena cahaya yang menandakan adanya reaksi pupil yang positif.

Kapan RJP dihentikan?

Penolong yang kelelahan dan tidak sanggup melanjutkan tindakan resusitasi boleh menghentikan upaya RJP yang sedang dilakukannya. Apabila bantuan dan petugas lain yang lebih ahli sudah datang, penolong boleh menghentikan tindakan resusitasi dan mengalihkan pada petugas tersebut. Kadang kala korban ditemukan dalam keadaan tidak sadar tanpa penolong tahu apakah korban sudah lama meninggal atau baru saja terjadi henti napas dan henti jantung. Apabila kemudian didapatkan informasi bahwa korban sudah lama meninggal maka RJP boleh dihentikan. Tindakan RJP dihentikan bila sirkulasi (denyut nadi) dan pernapasan sudah kembali pulih, yaitu korban sudah dapat bernapas spontan dan nadi kembali berdenyut spontan. Pada korban dengan sengatan listrik atau tenggelam, biasanya jantung merespon lebih lama terhadap tindakan RJP.

Kapan RJP boleh dihentikan untuk sementara ?

Resusitasi jantung paru boleh dihentikan untuk sementara apabila korban perlu dipindahkan. Pemindahan korban dapat terjadi pada berbagai keadaan, seperti korban dipindahkan ke tandu, keluar atau masuk ambulan, melalui tangga, melalui lorong yang sempit, ketika korban dinaikan atau diturunkan dari pesawat. Pada tindakan bantuan hidup yang lebih lanjut kadang dilakukan tindakan defibrilasi (memberikan kejutan pada jantung dengan alat khusus), saat melakukan defibrilasi ini RJP harus dihentikan sementara.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.