Pendekatan Sakit Kepala Akut pada Dewasa

Artikel ini sudah dibaca 3251 kali!

Oleh : dr. Rahmanu Reztaputra

Artikel asli: Hainer BL, Matheson EM. Approach to Acute Headache in Adults. Am Fam Physician. 2013;87(10):682-687

Disclaimer: Artikel ini merupakan saduran dengan bahasa yang lebih sederhana dari artikel di atas. Target pembaca artikel ilmiah populer ini adalah mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tingkat awal. Artikel ini lebih bertujuan sebagai pendahuluan atau membuka wawasan mengenai topik di atas. Untuk informasi yang lebih lengkap pembaca disarankan mencari artikel di atas.

 Hampir semua, jika tidak semua,  orang di dunia pernah mengalami sakit kepala sepanjang masa hidupnya. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering menemukan orang di sekitar kita mengalami sakit kepala. Dari pengamatan tersebut pula kita juga melihat bahwa sakit kepala dapat terjadi dalam bermacam-macam bentuk. Jenis sakit kepala yang bermacam-macam ini memiliki penyebab yang bermacam-macam pula, sehingga penatalaksanaannya pun tidak sama. Artikel ini membahas pendekatan, atau langkah-langkah yang sebaiknya kita lakukan bila bertemu pasien dengan keluhan sakit kepala.

Untuk mendiagnosis tentu saja kita harus mengetahui jenis-jenis sakit kepala terlebih dahulu. Klasifikasi sakit kepala yang dipakai secara umum di dunia internasional adalah klasifikasi berdasarkan The International Headache Society, yang sekarang telah mencapai klasifikasi kedua(ICHD-2). Klasifikasi tersebut antara lain:

  • Sakit kepala primer, yang terdiri dari tension-type headache, migrain, kluster, dan lainnya.
  • Sakit kepala sekunder, yaitu sakit kepala karena cedera kepala atau leher, kelainan pembuluh darah di kepala atau leher, kelainan dalam rongga tengkorak selain yang disebabkan kelainan pembuluh darah, penyalahgunaan obat dan putus obat, infeksi, gangguan jiwa, dan penyebab lain di semua struktur kepala atau wajah(termasuk mata, hidung, dan sinus).

Setelah melihat klasifikasi di atas kita dapat membayangkan bahwa banyak sekali sakit kepala. Langkah yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui apakah sakit kepala yang dialami pasien merupakan primer atau sekunder.

Membedakan sakit kepala primer dengan sekunder

Mengapa sih kita harus membedakan dua jenis sakit kepala ini? Alasannya sangat penting lho. Yang pertama, tentu saja untuk membantu menegakkan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan lainnya. Kalau kita sudah memastikan jenis sakit kepala yang dialami pasien tentu saja kita akan lebih yakin melakukan terapi. Yang kedua, yang paling penting, adalah untuk menyingkirkan penyakit yang berbahaya yang memerlukan penanganan segera. Beberapa penyakit yang serius dan mengancam jiwa dapat juga menimbulkan keluhan sakit kepala. Kadang-kadang sakit kepala merupakan penuntun awal untuk menuju diagnosis yang berbahaya ini.

Lalu, bagaimana kita membedakan kedua jenis sakit kepala ini? Artikel ini memberikan pedoman bahwa terdapat beberapa karakteristik pasien yang mengarah kepada sakit kepala primer dan sakit kepala primer tidak memiliki tanda bahaya(red flag).

Karakteristik pasien yang mengarah kepada sakit kepala primer adalah:

  • Usia pasien kurang dari 30 tahun
  • Sakit kepala memiliki ciri seperti jenis sakit kepala primer(migrain, TTH, dll)
  • Sebelumnya pernah mengalami sakit kepala serupa
  • Tidak ditemukan kelainan neurologis
  • Tidak ada perubahan bermakna dari karakteristik sakit kepala yang biasa
  • Tidak ada penyakit penyerta yang serius(misalnya infeksi HIV)
  • Tidak ada temuan anamnesis dan pemeriksaan fisis baru yang bermakna

Tabel di bawah ini memperlihatkan jenis-jenis tanda bahaya, penyebabnya, dan pemeriksaan penunjang yang dianjurkan untuk memastikan diagnosis.

jenis-jenis tanda bahaya, penyebabnya, dan pemeriksaan penunjang yang dianjurkan untuk memastikan diagnosis sakit kepala

Langkah-langkah saat bertemu pasien

Sama dengan keluhan yang lain, yang kita lakukan pada pasien dengan sakit kepala adalah anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, dan terapi.

Pada anamnesis pertama kali kita minta pasien mendeskripsikan sakit kepalanya. Setelah itu kita cari ada tidaknya keluhan lain. Untuk mengerucutkan diagnosis kita gunakan pedoman di atas. Pertama kita harus membedakan sakit kepala primer dan sekunder, dengan melihat apakah pasien memenuhi criteria ciri sakit kepala primer serta apakah memiliki tanda bahaya. Bila lebih mengarah ke primer, berdasarkan deskripsi sakit kepala pasien, kita mencari jenis sakit kepala yang cocok dengan pasien. Bila belum ditemukan, maka kita harus menanyakan semua poin criteria diagnosis masing-masing sakit kepala primer(kriteria ini terdapat pada artikel asli). Bila terdapat tanda bahaya, maka lakukan penelusuran lebih lanjut dan pemeriksaan penunjang seperti pada table di atas.

Pemeriksaan fisis jarang sekali dapat membedakan jenis sakit kepala. Oleh sebab itu mintalah pasien mendeskripsikan keluhannya dengan rinci dan baik. Pemeriksaan fisik yang dianjurkan dikerjakan pada pasien sakit kepala adalah pemeriksaan neurologis. Kelainan pada pemeriksaan neurologis mengisyaratkan untuk melakukan pemeriksaan penunjang sesuai dugaan diagnosis berdasarkan temuan anamnesis dan pemeriksaan fisis.

Pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan untuk mendiagnosis atau menyingkirkan sakit kepala sekunder. Jenis pemeriksaan penunjang yang dianjurkan adalah pencitraan(neuroimaging) dan pungsi lumbal. Neuroimaging(radiologi system saraf) biasanya dilakukan untuk mencari kelainan intracranial. Pungsi lumbal dilakukan untu memastikan adanya perdarahan, infeksi, atau keganasan system saraf pusat.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.