Sakit Kepala

Artikel ini sudah dibaca 21630 kali!

A. Sakit Kepala

Sakit kepala secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sakit kepala primer dan sekunder. Sakit kepala primer merupakan kondisi yang mana sakit kepala dan tampilan lainnya merupakan kelaianan itu sendiri. Sementara itu, sakit kepala sekunder disebabkan kelainan lain atau eksogen.

Sakit kepala primer paling umum adalah TTH. Jenis lain dari sakit kepala ini adalah migrain, idiopatik, eksertional, dan tipe cluster. Sakit kepala sekunder paling banyak disebabkan oleh infeksi sistemik, Penyebab lain yang menyebabkan sakit kepala sekunder di antaranya adalah cedera kepala, gangguan pembuluh darah, perdarahan subarachnoid, dan tumor otak.

Nyeri dapat timbul saat terjadi stimulasi nociceptor perifer oleh cedera jaringan, distensi visceral atau faktor lain. Juga, nyeri bisa muncul saat jaras pembangkit nyeri pada sistem saraf pusat atau perifer mengalami kerusakan atau teraktivasi secara tidak tepat. Sebuah sakit kepala dapat melibatkan beberapa mekanisme tersebut.

Pada kranial, struktur yang dapat menghasilkan nyeri di antaranya adalah kulit kepala, arteri meningea media, sinus dura, falx serebri dan segmen proksimal arteri pial besar. Struktur seperti ependimal ventrikuler, pleksus koroideus, vena pial dan parenkim otak tidak menghasilkan nyeri.

Pada sakit kepala primer, struktur utama yang terlibat adalah:

  • Pembuluh darah intrakranial besar dan duramater
  • Ujung perifer nervus trigerminus yang mempersarafi struktur di atas.
  • Portio caudal nukleus trigerminal yang memanjang menuju kornu dorsal medula spinal servikal atas dan menerima input dari radiks servikal satu dan kedua (kompleks trigerminoservikal)
  • Sistem modulator nyeri pada otak yang menerima input dari nociceptor trigerminal.

Inervasi pembuluh intrakranial besar dan duramater oleh nervus trigerminal yang disebut sebagai sistem trigerminovaskular. Gejala otonom sepertikongesti lakrimal dan nasal muncul jelas pada nyeri kepala trigerminal, termasuk sakit kepala cluster dan hemikrania paroksismal serta migrain. Gehala tersebut merefleksikan aktivasi jalur parasimpatetik kranial.

B. Tanda Bahaya pada Sakit Kepala

Beberapa gejala yang patut diwaspadai bahwa terdapat kelainan serius yang mendasari sakit kepala di antaranya adalah:

  • Sakit kepala paling buruk yang pernah dialami
  • Sakit kepala berat pertama kali
  • Memburuk secara subakut dalam beberapa hari atau minggu
  • Terdapat abnormalitas pada pemeriksaan neurologis
  • Terdapat demam atau gejala sistemik yang tidak dapat dijelaskan
  • Sakit kepala yang diawali muntah
  • Nyeri yang diinduksi oleh bending, lifting dan batuk
  • yeri yang mengganggu tidur atau sampai membangunkan dari tidur
  • Terdapat sakit sistemik
  • Onset sesudah usia 55 tahun
  • Nyeri yang berkaitan dengan tenderness lokal misalnya pada area arteri temporal.

C. Tension Type Headache

Sakit Kepala jenis ini merupakan tipe sakit kepala yang umum terjadi pada orang dewasa, yang seringkali dikaitkan dengan sakit kepala karena stress. Nyeri umumnya berdenyut dan mempengaruhi sisi depan, atas atau samping kepala. TTH kronis tidak mempengaruhi penglihatan, keseimbangan dan kekuatan. TTH bervariasi dari ringan hingga sedang, (loder)tetapi umumnya tidak menyebabkan penderitanya harus berhenti beraktivitas harian seperti biasa.(glass)

Wanita memiliki kecenderungan untuk memiliki TTH 2 kali lebih besar dibandingkan pria. (glass) Kasus ini terjadi paling banyak pada orang dewasa (usia puncak 46-49) meskipun pada anak-anak juga mungkin terjadi. Rasio wanita terhadap pria untuk berkembang menjadi kronis adalah 5:4. Prevalensi TTH juga meningkat pada level edukasi yang lebih tinggi. (loder)

Tidak ada penyebab tunggal dari TTH. Juga, tidak ada galur pewarisan dalam keluarga. Pada beberapa orang, sakit kepala ini disebabkan oleh pengikatan otot di belakang leher dan kulit kepala. Tegangan otot ini disebabkan oleh istirahat yang tidak adekuat, postural yang buruk, stress mental atau emosional (termasuk depresi), cemas, kelelahan, kelaparan dan overeksresi. Pada orang lainnya, tegangan otot bukan merupakan bagian dari sakit kepala serta penyebabnya tidak diketahui. Namun, biasanya TTH dipicu oleh beberapa tipe stress lingkungan maupun internal, bervariasi dari keluarga, hubungan sosial, teman, tempat kerja dan sekolah. Sakit kepala yang episodik biasanya dipicu oleh situasi stress yang terisolasi.

Gejala-gejala lain yang muncul di antaranya adalah kesulitan tidur atau menjaga tetap tidur, kelelahan kronik, iritabilitas, konsentrasi terganggu, sensitivitas ringan terhadap cahaya atau bising serta sakit pada otot secara umum. (glass)

Tidak seperti migrain, TTH tidak berkaitan dengan gejala neurologis seperti kelemahan otot atau pandangan kabur. Juga, gejala sensitifitas berat terhadap cahaya atau bising, nyeri perut, mual dan muntah biasanya tidak ada pada TTH. (glass)

Penyebab yang mendasari TTH belum diketahui secara pasti. Aktivasi neuron afferen perifer secara berlebih dari otot kepala dan leher merupakan penjelasan yang paling memungkinkan pada TTH eposidik yang infrekuen. Tenderness otot dan tekanan psikologis berkaitan dan memperberat TTH, meskipun belum jelas apakah hal tersebut menjadi penyebab. Abnormalitas pada pemrposesan sentral dan sensitivitas nyeri secara umum yang meningkat seringkali muncul pada pasien dengan TTH. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. (loder)

Umumnya, pasien meminta pertolongan dokter saat kondisi sakit kepalanya bersifat kronis. Seringkali pasien memiliki riwayat sakit kepala episodik, tetapi belum ke dokter sampai frekuensi da disabilitasnya tinggi.

Klasifikasi

Menurut International Headache Society, terdapat dua jenis tension type headache, yaitu episodik dan kronik. (jensen) Bentuk episodik ditandai dengan serangan sakit kepala yang terjadi kurang dari 15 hari dalam sebulan. Sementara jika lebih dari 15 hari dalam sebulan disebut sebagai kronik. Keduanya memiliki bentuk bilateral serta terdapat sensasi seperti ditekan dan diikat pada sekeliling kepala.

Mekanisme yang terkait dengan patofisiologi tension type headache kronik di antaranya adalah mekanisme perifer, mekanisme sentral, perbedaan biokimia, faktor otot dan faktor mekanis.

TTH, baik yang bersifat kronik maupun episodik, ditandai dengan tenderness pada otot wajah, kepala dan kulit kepala. Tenderness ini berkorelasi dengan frekuensi dan intenstitas sakit kepala. Lebih lagi, dapat terjadi peningkatan tenderness pada tendon wajah dan kepala sebagaimana pada otot. (jensen)

Pada beberapa pasien, terdapat peningkatan calcitonin gene-related peptide (CGRP)  di sirkulasi perifer. Faktor mekanik dan sensitisasi sistem saraf pusat juga berperan seperti misalnya pada pasien dengan TTH kronik yang  cenderung sensitif terhadap tekanan, nyeri dan suhu serta stimulasi eletrik. Peningkatan intensitas sakit kepala diperkirakan sebagai akibat mekanisme perifer pada jenis episodik dan mekanisme sentral pada bentuk kronik. (jensen)

Selain itu, menurut International Headache Society , klasifikasi juga berdasarkan pada frekuensi sakit kepala. TTH episodik infrequent (kurang dari 12 sakit kepala pertahun), TTH episodik frequent (antara 12- 180 hari per tahun) dan kronik (lebih dari 180 hari per tahun). (bendstein)

C.1 TTH episodik infrequent (ihs)

TTH episodik infrequent dibedakan menjadi yang berkaitan dengan tenderness perikranial serta tidak berkaitan dengan tenderness perikranial.

Peningkatan tenderness perikranial diketahui dengan palpasi manual serta merupakan temuan abnormal signifikan pada TTH. Tenderness tersebut dapat ditemukan dengan palpasi manual dengan melakukan pergerakan rotasi ringan dan tekanan yang tegas dengan jari kedua dan ketiga pada otot temporal, frontal, masseter, pterygoid, sternokleidomastoid, splenius dan trapezius. Skor tenderness dapat bervariasi dari 0-3 pada masing-masing otot, kemudian dijumlahkan sebagai sk180or tenderness.

C.2. TTH episodik frequent(ihs)

Sakit kepala jenis ini terjadi dalam beberapa menit sampai hari. Nyeri biasanya bilateral, menekan atau mengikat. Intensitasnya dapat ringan sampai moderate dan tidak memburuk dengan aktivitas rutin. Mual tidak ada, tetapi photophobia atau phonophobia mungkin muncul.

Kriteria diagnostik untuk kasus ini adalah (ihs), (loder)

  • Episode terjadi selama 10 episode pada ≥1 hari tetapi ≤15 hari per bulan selama setidaknya 3 bulan (≥12 dan <180 kali per tahun).
  • Sakit kepala terjadi dalam kisaran 30 menit sampai 7 hari.
  • Sakit kepala tersebut setidaknya memiliki setidaknya dua karakteristik berikut: lokasi bilateral, kualitasnya seperti tertekan/terikat (non pulsatif), intensitas ringan sampai moderate dan tidak ditingkatkan dengan aktivitas fisik rutin seperti berjalan atau naik tangga.
  • Tidak ada mual atau muntah meskipun anoreksia mungkin terjadi. Juga, tidak ada photophobia atau phonophobia yang terjadi bersamaan.
  • Tidak berkaitan dengan gejala lain

TTH jenis ini seringkali terjadi bersamaan dengan migrain tanpa aura. Hal ini dapat diidentifikasi dengan bantuan diari diagnostik sakit kepala. Hal ini disebabkan karena penanganan untuk migrain berbeda dengan TTH serta diperlukan edukasi pada pasien supaya tata laksana tepat dan tidak terjadi penggunaan obat secara berlebih.

C. 3 TTH Kronik(ihs)

Yang membedakan sakit kepala jenis ini dengan tipe frequent adalah ditandai dengan serangan yang terjadi ≥180 hari perbulan pada rata-rata ≥3 bulan (≥ 180 hari dalam setahun). Durasinya dapat terjadi selama beberapa jam atau berlanjut. TTH kronik dapat berevolusi dari TTH jenis episodik.

Penanganan tension-type headache (TTH)

Secara garis besar, penanganan yang diberikan dapat berupa medikasi dengan pemberitan pereda nyeri, relaksan otot, atau antidepresan. Juga, dengan edukasi untuk meminimalisir penyebab atau pemicu seperti manajemen stress atau latihan relaksasi.(glass)

Orang-orang dengan sakit kepala infrequent dan hasil bagus dengan tatalaksana non obat tidak membutuhkan pemberian obat medikamentosa. Obat-obatan untuk sakit kepala akut sebaiknya tidak digunakan lebih dari dua sampai tiga kali hari dalam seminggu untuk meminimalisir terjadinya penggunaan berlebih dan sakit kepala rebound. Tatalaksana masih diragukan apakah dapat mencegah transisi dari episodik menjadi kronik. (loder)

Penanganan nyeri TTH umumnya dilakukan dengan pemberian analgesik seperti acetaminophen, aspirin oral (500-1000 mg), ibuprofen (400mg), dan ketoprofen (50 mg)atau NSAIDs. Dosis aspirin dan acetaminophen yang ditingkatkan jika diperlukan . Pada pemberian terapi aspirin maupun NSAIDs lainnya, perlu  diwaspadai terjadinya iritasi lambung dan ulserasi sebagai komplikasi meskipun obat digunakan secara intermiten.

Selain itu, secara non medikamentosa, latihan relaksasi juga dapat membantu pasien . Untuk TTH kronis, dapat diberikan golongan triptan yaitu amitriptyline. (hauser),(loder) . Untuk profilaksis, pasien diminta untuk membuat diari sakit kepala berisi gejala, intensitas nyeri, konsumsi obat dan stres mental atau otot, program olahraga harian serta dosis rendah amitriptilin (10-75 mg.hari).

Selain efek terhadap nyeri, amitriptilin juga dapat menurunkan tenderness otot. Efek ini dapat ditingkatkan dengan penambahan relaksasi atau tizanidine (18 mg sehari). Amitriptilin juga efektif untuk profilaksis migrain, sehingga dapat sesuai untuk pasien yang mengalami kedua bentuk sakit kepala tersebut. Efek samping yang mungkin muncul di antaranya adalah mulut kering, sedasi, konstipasi, dan pandangan kabur. Selain itu, efek samping penambahan berat badan juga seringkali membatasi penggunaan obat ini.

Efek samping dapat diminimalisir dan kepatuhan dapat ditingkatkan jika tatalaksana preventif dimulai pada dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap sampai dosis target terpenuhi. Dosis dapat ditingkatkan dalam interval mingguan. Efek tatalaksana dapat diobservasi dengan diari sakit kepala. (loder)

Prognosis

Prognosis untuk TTH bervariasi, sekitar 45% dewasa dengan TTH frequent atau kronik mengalami remisi saat diperiksa 3 tahun kemudian, 39% masih mengalami sakit keppala frekuen, dan 16% memiliki TTH kronik. Keluaran yang buruk berkaitan dengan adanya TTH kronik pada garis dasar, bersamaan dengan migrain, tidak menikah dan terdapat gangguan tidur.

Daftar Pustaka
1                   Hauser SL. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine: Headache. 2nd. New York: Mc Graw Hill; 2010. P.61
2                   Jensen R. Chronic Tension Type Headache. Diunduh dari http://www.jhasim.com/files/articlefiles/pdf/Chronic%20Tension-Type%20Headache.pdf. Diakses 2 Oktober 2012.
3                   Bendsten L, Jensen R. Tention Type Headache. http://www.med.nyu.edu/pmr/residency/resources/general%20MSK%20and%20Pain/headache%20tension_neuro%20clinics.pdf. Diakses 2 Oktober 2012.
4                   International Headache Society. Tension Type Headache. Diunduh dari http://ihs-classification.org/en/02_klassifikation/02_teil1/02.00.00_tension.html. Diakses 3 Oktober 2012.
5                   Glass J. Tension Type Headache. Diunduh dari http://www.medicinenet.com/tension_headache/page3.htm. Diakses 3 oktober 2012.
6                   Loder E, Rizzoli P. Tension-Type Headache. BMJ. 2008 January 12; 336(7635): 88–92.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.