Terapi Oksigen

Artikel ini sudah dibaca 41827 kali!

Oksigen

Adalah suatu molekul berbentuk gas dengan rumus kimia 02. Oksigen diperlukan oleh sel hidup sebagai bahan bakar untuk mendapatkan energi. Oksigen dalam kandungan yang berbeda-beda dapat ditemukan di dalam air, udara dan tanah. Kandungan oksigen di dalam udara bervariasi, tergantung tempat karena pada tekanan yang lebih rendah konsentrasi suatu zat akan menjadi lebih kecil. Pada daerah setinggi permukaan laut konsentrasi oksigen sekitar 21 %, semakin tinggi suatu tempat konsentrasi oksigen akan berkurang. Manusia mendapatkan oksigen dari proses bernapas yang disebut respirasi, secara garis besar proses bernapas dibagi menjadi 2 yaitu inhalasi (menarik napas) dan ekspirasi (membuang napas). Saat inhalasi manusia menghirup oksigen (21 %) yang akan masuk kedalam paru dan mengalami pertukaran dengan karbondioksida. Ketika mengeluarkan napas manusia masih mengeluarkan oksigen sekitar 18 %. Volume udara yang dapat dihirup manusia tanpa paksaan pada saat bernapas berkisar antara 10-15 ml/kg, ini disebut volume tidal, sehingga makin berat seseorang maka makin besar juga kebutuhan oksigennya.

Indikasi pemberian terapi oksigen

Oksigen adalah obat. Pemberian oksigen pada pasien dengan henti napas bertujuan untuk mencegah terjadi hipoksia, yaitu keadaan dimana sel-sel dalam tubuh kekurangan oksigen. Pemberian pernapasan buatan hanya memberikan oksigen sekitar 18 % sedangkan tubuh pada saat hipoksia membutuhkan kandungan oksigen yang cukup besar, namun pemberian pernapasan buatan tetap harus dilakukan karena selain untuk mencegah hipoksia lebih lanjut, juga utuk merangsang paru agar dapat timbul pernapasan spontan. Pemberian oksigen dengan alat tertentu dianjurkan untuk diberikan apabila tersedia sarana yang tepat dan pemberi pertolongan tahu cara pemakainya, karena bahaya pemakaian oksigen sangat fatal.
Pada umumnya ada beberapa keadaan dimana oksigen dibutuhkan :
• Serangan jantung.
• Gagal jantung.
• Gagal napas
• Komplikasi saat persalinan.
• Keracunan.

Umumnya pada keadaan diatas beberapa organ yang berfungsi menyalurkan oksigen (seperti jantung dan paru) tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga oksigen harus diberikan.

Sistem pemberian oksigen

Sistem pemberian oksigen terdiri dari:

Tabung ( silinder ) dengan katup

• Oksigen biasanya ditempatkan di dalam tabung yang mempunyai katup. Di banyak negara oksigen dapat dikenali dari warna tabungnya, biasanya hijau atau abu-abu, tapi di Indonesia tabung oksigen tidak mempunyai standar (biasanya putih), jadi sebelum menggunakankan sebaiknya dilakukan konfirmasi terlebih dahulu. Katup dari tabung ini terletak di puncak tabung, berfungsi untuk membuka dan menutup tabung.
• Tabung oksigen harus diperiksa setiap hari (lihat bahaya penggunaan oksigen) dan tekanan harus diuji setiap tahun karena bertekanan tinggi (2000 psi, pond/square inch).
• Simpan tabung di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung dengan suhu di bawah 50 derajat celcius.

Regulator

• Alat ini berhubungan dengan katup tabung dan berfungsi untuk menurunkan tekanan sehingga oksigen yang diberikan tekanannya tidak tinggi seperti di dalam tabung. Tekanan diturunkan dari 2000 psi menjadi 40-70 psi.
Flowmeter
• Alat ini mengatur banyaknya aliran oksigen yang diberikan (dalam liter/menit).
Saluran pengaliran oksigen ke penderita
• Berupa kanul hidung, masker dan non-rebreathing mask.

Saluran pengaliran oksigen ke penderita

Sungkup RJP

Disebut juga pocket face mask, dibuat untuk memberikan ventilasi saat RJP. Alat ini terbuat dari plastik yang lembut, sesuai dengan wajah penderita dan dilengkapi saluran untuk disambungkan dengan tabung oksigen. Kelebihan sungkup ini:
• Menghindari kontak langsung dengan mulut atau hidung pasien.
• Memungkinkan pemberian oksigen tambahan.
• Bila dilengkapi dengan katup satu arah maka tidak ada kontak dengan udara yang dihembuskan pasien.
• Mudah diajarkan dan dipelajari.
• Dapat memberi ventilasi dan oksigenasi yang lebih efektif.
• Lebih baik dibandingkan tehnik bag-valve-mask dalam memberikan volume tidal yang adekuat.
Dengan alat ini ventilasi dapat diberikan oksigen dengan konsentrasi 50 % dengan aliran sebanyak 10 liter/menit.

Bag-valve-devices

Alat ini terdiri dari kantong yang dapat mengembang sendiri dan ada katupnya. Alat yang tersedia kira-kira volumenya 1600 ml yang biasanya cukup adekuat untuk mengembangkan paru-paru pasien. Penolong harus berada di bagian kepala pasien, kepala pasien harus diangkat/head tilt dan diberi sedikit pengganjal, mulut pasien harus tetap terbuka.
Pemakaian alat ini dengan dua orang penolong akan lebih efektif, seseorang memegang sungkupnya dan seorang lagi memeras kantong udaranya. Bila ada orang ketiga dapat membantu dengan menekan tulang krikoid.
Bila pertolongan hanya dilakukan seorang diri, tangan kiri penolong menahan sungkup dengan 2 atau 3 jarinya di mandibula dan jari yang lainya memegang sungkupnya. Kepala harus dijaga tetap ekstensi dan mandibula didorong ke anterior sambil mempertahankan sungkup tetap menempel ditempatnya. Kantung udara diremas dengan tangan kanan, sambil diperhatikan ada tidaknya pergerakan dada.

Hal yang harus diingat adalah saat memeras kantung tidak boleh sampai keseluruhan kantung terperas, cukup hanya untuk membuat dada penderita mengembang. Kerugian dari alat ini adalah sulitnya mengatur tidal volume yang diberikan.

Kanul hidung
Alat ini biasanya digunakan pada pasien tanpa atau dengan gangguan pernapasan ringan. Alat ini berbentuk selang dengan 2 cabang di bagian tengah. Alat ini paling mudah dan sering digunakan di rumah sakit. Kerugian dari alat ini adalah oksigen yang diberikan tercampur dengan udara luar dan pada flow rate yang tinggi dapat menyebabkan kekeringan membran mukosa hidung.
Setiap peningkatan 1 liter/menit akan meningkatkan konsentrasi oksigen yang terhirup sekitar 4 %, sehingga konsentrasi oksigen yang dapat diberikan melalui kanul hidung sebanyak 1-6 liter pada pasien dengan volume tidal normal adalah 24-44 %.

Sungkup muka
Alat ini berupa masker tembus pandang yang menutupi mulut dan hidung penderita. Terdapat sejumlah lubang di kedua sisi masker. Biasanya dapat ditoleransi pada pasien dewasa. Oksigen yang diberikan harus lebih dari 5 liter/menit (untuk mencegah udara yang dihembuskan dari pernapasan berakumulasi dan terhirup kembali). Aliran yang dianjurkan adalah 8-10 liter/menit.
Sama seperti kanul hidung, oksigen yang diberikan akan bercampur dengan udara ruangan, tetapi cara ini dapat memberikan konsentrasi oksigen 40-60 % dan diberikan pada mereka yang memerlukan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi

Sungkup muka dengan penampungan oksigen/face mask with reservoir/non rebreathing face mask
Sungkup muka ini dilengkapi kantung tambahan sehingga tidak terjadi percampuran antara oksigen yang diberikan dengan udara luar. Dengan alat ini kita dapat memberikan pasokan oksigen dengan konsentrasi lebih dari 60%. Pemberian oksigen 6 liter/menit akan memberikan konsentrasi oksigen 60 % dan setiap kenaikan 1liter/menit akan meningkatkan konsentrasi 10 %. Jadi jika digunakan dengan cara yang benar, pemberian oksigen 10 liter/menit akan memberikan konsentrasi oksigen 100%.
Cara ini biasanya digunakan untuk pasien yang tidak sadar dan bernapas spontan karena pasien yang sadar berisiko untuk menimbulkan mual dan muntah.

Bahaya yang berhubungan dengan penggunaan oksigen

• Kebakaran: Tidak diijinkan merokok atau menggunakan api ketika sedang menggunakan oksigen. Oksigen tidak meledak, namun dapat membesarkan api sehingga api akan berkobar lebih besar lagi.
• Ledakan: Jangan pernah menggunakan minyak atau pelumas di sekitar tabung oksigen. Minyak dan pelumas yang berdekatan dengan oksigen kosentrasi tinggi dapat menyebabkan ledakan.
• Kerusakan katup: Hindari jatuhnya tabung atau penempatan tabung yang memungkinkannya untuk jatuh. Regulator atau katup yang rusak dapat menyebabkan silinder menjadi proyektil.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.