Peningkatan Risiko Ketoasidosis Diabetes setelah Inisiasi Terapi SGLT2 Inhibitor

Artikel ini sudah dibaca 632 kali!

dr. Johny Bayu Fitantra

Salah satu obat hipoglikemik oral (OHO) terbaru untuk pasien diabetes antara lain adalah golongan sodium-glucose cotransporter 2 inhibitor (SGLT2). Obat jenis ini membantu menurunkan kadar gula darah dengan menghambat reabsorpsi glukosa pada tubulus proksimal. Namun, terdapat laporan kasus yang menunjukan bahwa SGLT2 inhibitor berkaitan dengan risiko peningkatan terjadinya ketoasidosis diabetes (KAD).

Oleh karena itu, telah dilakukan sebuah penelitian untuk menilai risiko terjadinya KAD setelah dimulainya terapi dengan SGLT2 inhibitor. Pada penelitian tersebut, dibandingkan pula risiko terjadinya KAD pada pasien yang diterapi dengan OHO jenis dipeptidyl peptidase-4 (DPP4) inhibitor. Obat golongan tersebut dipilih sebagai pembanding mengingat kedua obat tersebut merupakan obat yang sering digunakan sebagai terapi lini kedua pasien DM serta kaitannya dengan KAD belum diketahui secara pasti. Outcome yang diharapkan adalah risiko perawatan di rumah sakit akibat KAD dalam 180 hari sejak dimulainya terapi.

Jumlah pasien yang mendapatkan terapi baru dengan SGLT2 inhibitor adalah sebanyak 50.220 pasien serta DPP4 inhibitor sebanyak 90.132 pasien. Subjek yang dieksklusi pada penelitian tersebut antara lain adalah pasien dengan HIV, gagal ginjal stadium akhir, kanker, DM tipe 1, serta riwayat KAD sebelumnya. Subjek yang tidak disertakan dalam analisis antara lain mereka yang tidak melanjutkan pengobatan, layanan asuransi tidak meng-cover, pasien yang mengalami tanda dan gejala mengarah KAD (pada awal pengobatan), serta pasien meninggal.

Karakteristik Subjek Penelitian

Dari penelitian tersebut didapatkan hasil yang menunjukan bahwa pada pasien yang mendapatkan terapi dengan SGLT2 inhibitor, sebelum dilakukan propensity-score matching, risiko terjadinya KAD  dalam 180 hari adalah dua kali lipat dibandingkan dengan pasien dengan terapi DPP4 inhibitor. Kejadiannya adalah 4.9 per 1000 orang dibandingkan 2.3 per 1000 orang. Hazard rasionya adalah 2.1 dengan 95% confidence interval [CI] 1.5-2.9. Sesudah dilakukan propensity-score matching, hazard rasionya adalah sebesar 2.2, dengan 95% CI 1.4-3.6.

Perbandingan Kejadian Ketoasidosis Diabetes dalam 30, 60 dan 180 Hari

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kejadian terjadinya ketoasidosis diabetes, baik pada penggunaan SGLT2 inhibitor maupun DPP4 inhibitor sebenarnya tidaklah terlalu tinggi. Namun, adanya peningkatan risiko KAD pada penggunaan SGLT2 inhibitor dapat menjadi pertimbangan sebelum memulai terapi dengan obat golongan tersebut, terutama pada pasien dengan risiko atau memiliki gejala yang mengarah pada ketoasidosis diabetes.

Referensi:

Fralick M, Schneeweiss S, Patorno E. Risk of Diabetic Ketoacidosis after Initiation of an SGLT2 Inhibitor. N Engl J Med 2017; 376:2300-2302.

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.