Sistemik Lupus Eritematosus : Pemeriksaan Autoantibodi pada SLE

Artikel ini sudah dibaca 1482 kali!

Oleh dr. Johny Bayu Fitantra

Pemeriksaan penunjang pada kasus sistemik lupus eritematosus (SLE) diperlukan baik untuk menegakan diagnosis, mengidentifikasi adanya peningkatan risiko komplikasi akibat SLE, evaluasi pengobatan dan efek samping, identifikasi kejadian flare atau kekambuhan maupun mengetahui adanya kerusakan atau keterlibatan organ pada SLE.

Tes autoantibodi merupakan pemeriksaan utama yang diperlukan dalam penanganan kasus SLE. Pemeriksaan antinuclear antibody atau ANA menjadi pilihan pertama untuk melakukan skrinning diagnosis SLE karena ANA positif terjadi pada >95% pasien SLE. ANA positif sebagian besar dapat ditemukan sejak onset gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan ANA sangat penting untuk menegakan diagnosis SLE sedini mungkin. Namun, ada sebagian pasien yang baru memunculkan hasil ANA positif setelah satu tahun onset. Sementara itu, amat jarang terjadi pasien lupus dengan hasil ANA negatif. Kalau  pun ada, biasanya kondisi tersebut berkaitan dengan autoantibodi yang lain seperti anti Ro atau anti-DNA.

Pemeriksaan pendukung lain yang penting adalah double stranded DNA (dsDNA), yang mana kadar antibodi IgG yang tinggi spesifik pada SLE. Prevalensi dsDNA yang tinggi pada pasien SLE mencapai 70%. Selain untuk mendukung diagnosis, dsDNA juga berkaitan dengan manifestasi klinis, menandakan terjadinya flare pada SLE, seperti pada kondisi nefritis dan vaskulitis. Apalagi jika kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan kadar komplemen C3 dan C4.

Selain dsDNA, pemeriksaan antibodi yang spesifik untuk SLE antara lain adalah antibodi Sm. Namun, berbeda dengan dsDNA, antibodi Sm tidak berkaitan dengan manifestasi klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan tersebut memiliki peranan yang lebih saat menegakan diagnosis awal dibandingkan evaluasi kekambuhan atau flare. Prevalensi antibodi Sm pada SLE adalah sebesar 25%. Jadi, apabila hasilnya positif, hampir pasti diagnosis SLE dapat ditegakan. Namun, jika negatif, diagnosis SLE masih belum dapat disingkirkan.

Pemeriksaan antibodi antifosfolipid bukanlah pemeriksaan yang spesifik pada SLE. Namun, apabila didapatkan hasil positif, hal tersebut memenuhi salah satu kriteria imunologis pada SLE sehingga masih diperlukan untuk menunjang diagnosis SLE. Prevalensi antibodi antifosfolipid yang positif pada SLE adalah sebesar 50%. Pemeriksaan ini penting dilakukan karena adanya peningkatan kadar antibodi antifosfolipid merupakan penanda peningkatan risiko terjadinya pembekuan atau clotting pada arteri dan vena, trombositopenia maupun fetal loss (keguguran kandungan).

Saat ini terdapat tiga macam pemeriksaan antibodi antifosfolipid yang tersedia yaitu anticardiolipin, anti-B2-glycoprotein, dan lupus anticoagulant. Semakin tinggi kadar IgG anticardiolipin (tinggi: kadar >40 IU) serta semakin banyak jumlah antibodi antifosolipid yang berbeda yang terdeteksi, semakin tinggi risiko terjadinya episode clotting.

Pemeriksaan tambahan lain yang dapat diperiksa, meskipun bukan sebagai penunjang utama penegakan diagnosis, antara lain adalah anti-Ro/SS-A. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi peningkatan risiko terjadinya lupus neonatus, subacute cutaneous lupus erythemathosus (SCLE) dan sicca syndrome. Bersama dengan antibodi antifosfolipid, pemeriksaan anti-Ro penting dilakukan pada wanita usia produktif (atau yang berpotensi hamil) dengan SLE karena kedua antibodi tersebut memiliki risiko bahaya pada janin.

Selain pemeriksaan antibodi, terdapat juga pemeriksaaan skrinning yang penting dilakukan di awal penegakan diagnosis SLE antara lain adalah darah lengkap (terutama hemoglobin dan trombosit) dan urinalisis (terutama hematuria dan proteinuria). Pemeriksaan tersebut juga nantinya berguna saat melakukan evaluasi adanya keterlibatan organ terutama saat terjadi flare, yang dilengkapi dengan pemeriksaan lain seperti kadar albumin dan kreatinin dalam darah.

Referensi: Hahn BH. Harrison’s Principles of Internal Medicine: Systemic Lupus Erythemathosus. 19th ed. Amerika Serikat: McGraw-Hill Education; 2015. p. 2124-34.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.