Aspek Medis Obesitas

Artikel ini sudah dibaca 16156 kali!

Disusun oleh Johny Bayu Fitantra, S.Ked

Obesitas merupakan kondisi berlebihnya jaringan adiposa pada jaringan. Tidak semua orang yang memiliki berat badan berlebih disebut sebagai obesitas karena yang berperan dalam berat badan tidak hanya jaringan adiposa melainkan juga jaringan otot. Meski memiliki indeks massa tubuh yang tinggi, orang-orang yang berotot besar tidak disebut sebagai obesitas jika komposisi lemak dalam tubuhnya dalam kisaran normal.

Saat ini, metode untuk menentukan apakah seseorang mengalami obesitas memang tidak langsung dengan pengukuran adiposit melainkan dengan indeka massa tubuh yang diukur dari berat badan/tinggi badan (kuadrat) dalam satuan kg/m2. Nilai indeks massa tubuh rata-rata populasi berkisar antara 19-26 kg/m2. Dengan IMT yang sama, wanita memiliki komposisi lemak yang lebih tinggi dibanding pria. Seseorang dianggap mengalami obesitas jika memiliki IMT 30 kg/m2 atau lebih. Namun, penelitian epidemilogis dalam skala yang luas menunjukan bahwa mereka dengan BMI ≥25 mulai memiliki peningkatan resiko morbiditas terkait metabolik, kanker dan kardiovaskular. Maka dari itu, nilai IMT antara ≥25  hingga 30 disebut sebagai overweight. IMT dalam batas tersebut sudah memiliki dampak medis yang signifikan serta perlu mendapatkan intervensi terapi, terutama jika terdapat faktor-faktor resiko yang dipengaruhi adiposit seperti hipertensi dan intoleransi glukosa. Beberapa pendekatan lain yang digunakan untuk menilai kondisi obesitas antara lain adalah antropometri (ketebalan lipat kulit), densitometri (berat di bawah air), CT atau MRI.

Distribusi jaringan adiposit pada jaringan ayng berbeda ternyata dapat memberikan implikasi morbiditas yang berbeda pula. Lemak subkutan intraabdominal dan abdominal memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan lemak pada pantat atau ekstremitas bawah. Oleh karena itu,digunakan pula pengukuran rasio pinggang dan pinggul (waist-to-hip ratio). Wanita dengan waist-to-hip ratio >0.9 dan pria >1.0 dianggap abnormal. Adiposit yang tertumpuk pada intraabdominal dan atau lemak tubuh bagian atas memiliki keterkaitan lebih besar dibandingkan adiposit secara keseluruhan terhadap resistensi insulin, diabetes, hipertensi, hiperlipidemia dan hiperandrogenisme pada wanita. Mekanisme masih kurang begitu diketahui, hanya saja dipercaya berkaitan dengan sifat adiposit intraabdominal yang cenderung lipolitik aktif dibanding tempat lain. Pelepasan asam lemak bebas ke dalam sirkulasi portal memiliki kerja yang kurang baik terhadap metabolik terutama hati.

Jaringan adiposa tersusun dari sel adiposa penyimpan lipid dan kompartemen vaskular atau stroma yang terdiri dari sel-sel preadiposit dan residu makrofag. Massa adiposa meningkat dengan pembesaran sel-sel adiposa yang melakukan deposisi lipid. Selain itu, adiposit juga dapat meningkat jumlahnya.

 Pengaturan Berat Badan: Keseimbangan Intake dan Pengeluaran Energi

Pengaturan berat badan dilakukan oleh sistem endokrin maupun persarafan. Tujuannya adalah mempertahankan keseimbangan antara energi yang masuk dengan yang keluar. Pada kondisi berat badan yang stabil, saat seseorang mengalami kelebihan makan, akan terjadi kompensasi penurunan nafsu makan serta peningkatan pengeluaran energi. Sebaliknya, saat berat badan mulai turun, nafsu makan akan meningkat dan pengeluaran energi akan dikurangi. Hanya saja, mekanisme kompensasi tersebut seringkali gagal sehingga orang yang memiliki kebiasaan makan banyak dan aktifitas fisik rendah akan cenderung mengalami obesitas. Salah satu regulator dalam respon adaptif tersebut adalah hormon yang dihasilkan oleh adiposit, yaitu leptin.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi nafsu makan atau appetite, terutama pada hipotalamus. Sinyal-sinyal yang bekerja pada hipotalamus tersebut dapat berupa saraf afferen, hormon dan metabolit.

1. input vagal berperan dalam membawa informasi dan organ visceral seperti distensi usus.

2. Hormon-hormon yang berperan dalam pengaturan nafsu makan adalah leptin, insulin, kortisol dan peptida usus. Juga terdapat Ghrelin yang merupakan hormon yang dihasilkan oleh lambung yang menstimulasi dorongan. Sementara itu, peptida YY (PYY) dan kolesistokinin dihasilkan oleh usus halus. Ketiganya bekerja langsung pada pusal kontrol pada hipotalamus dan atau melalui persarafan vagus.

3.  Metabolit yang berperan dalam pengaturan nafsu makan antara lain adalah glukosa. Glukosa yang turun pada saat terjadi hipoglikemia akan memicu rasa lapar. Hanya saja, glukosa ini normalnya bukan regulator nafsu makan yang utama.

Kombinasi antara saraf, metabolit dan hormonal tersebut akan mempengaruhi pelepasan dan ekspresi beberapa peptida hipotalamus seperti neuropeptide Y (NPY), Agouti-related peptide (AgRP), α-melanocyte-stimulating hormone (α-MSH), dan melanin-concentrating hormone (MCH) yang terintegrasi dengan jalur persinyalan serotonergik, katekolaminergik, endikanabinoid, dan opioid. Selain itu, faktor psikologis dan budaya juga berperan penting dalam mempengaruhi appetite.

Sementara itu, unsur-unsur yang berkontribusi dalam pengeluaran energi antara lain adalah:

1. Basal metabolik rate (BMR) yang merupakan pengeluaran energi untuk mempertahankan kerja sistem tubuh selama seseorang beristirahat (untuk tetap bernapas, jantung tetap berdetak, dsb).

2. Energi yang dikeluarkan untuk melakukan metabolisme dan menyimpan makanan.

3. Energi yang diubah menjadi panas pada saat seseorang berolahraga atai melakukan aktivitas fisik.

4. Adaptif termogenesis, yang dapat bervariasi sebagai respon terhadap intake kalori secara kronis (akan meningkat dengan peningkatan intake makanan).

Dari keempat unsur tersebut, BMR merupakan penyumbang pengeluaran energi terbesar, yaitu sekitar 70% pengeluaran harian. Sementara itu, aktivitas fisik berkontribusi sebesar 5-10%.

Dalam penelitian menggunakan tikus, mutasi pada beberapa gen ternyata dapat melindungi tikus tersebut dari obesitas dengan cara meningkatkan pengeluaran energi. Termogenesis adaptif yang terjadi pada brown adipose tissue (BAT) atau jaringan lemak coklat berperan penting dalam metabolisme energi pada banyak mamalia. Lemak ini berbeda dengan jaringan lemak putih yang menyimpan energi dalam bentuk lipid. Lemak coklat justru menghabiskan energi sebagai paas. Uncoupling protein (UCP-1) mitokondria yang terdapat pada BAT merupakan unsur penting dalam pelepasan energi sebagai panas tersebut. Aktivitas metabolit dari BAT ini akan meningkatkan dengan pengaruh leptin yang bekerja pada sistem saraf simpatis (sistem saraf simpatis merupakan sistem saraf utama yang mempersarafi jaringan tersebut). Pada penelitian dengan tikus juga, defisiensi BAT dapat menyebabkan obesitas dan diabetes. Sebaliknya stimulasi dari BAT dengan agonis adrenergik spesifik (β3 agonis) melindungi tikus tersebut dari diabetes dan obesitas. BAT sendiri pada manusia terutama terdapat pada neonatus. Namun, peranannya secara fisiologis secara umum belum begitu banyak diketahui.

Etiologi Obesitas

Meskipun terdapat bermacam jalur yang berperan dalam keseimbangan energi, penyebab obesitas masih belum terlalu dipahami. Pada satu sisi, patofisiologi obesitas nampak sederhana yaitu berlebihnya intake nutrisi relatif terhadap pengeluaran energi secara kronis. Namun, adanya kompleksitas neuroendokrin dan sistem metabolik, yang meregulasi intake energi, penyimpanan dan pengeluaran energi, parameter-parameter yang relevan sulit dihitung secara kuantitatif pada manusia.

Beberapa hal yang menjadi dasar dari etiologi obesitas antara lain:

1. Peranan gen dengan lingkungan

Banyak orang-orang yang mengalami obesitas berasal dari keluarga yang mengalami obesitas juga. Sebagaimana tinggi badan, berat badan juga secara umum tampak secara familial. Hanya saja, pewarisan gen tersebut memang biasanya tidak terjadi secara Mendelian. Selain itu, sulit untuk membedakan peranan gen dan faktor-faktor lingkungan. Kemampuan adiposit dalam menyimpan lemak salah satu ‘kemampuan’ yang diturunkan tersebut. Orang-orang yang kembar identik, meskipun dipisahkan cenderung memiliki BMI yang kurang lebih serupa. Namun, apapun peranan dari gen, faktor lingkungan tetap tidak bisa dipisahkan peranannya dalam obesitas. Pada masa kini, budaya, kebiasaan dan kemampuan untuk mengkonsumsi banyak makanan ditambah dengan rendahnya aktifitas fisik akan mengarahkan seseorang mengalami obesitas. Kebiasaan menonton tv terlalu lama pada anak-anak adalah salah satu hal yang berperan dalam peningkatan angka obesitas anak.

2. Sindrom genetik spesifik

Sindrom genetik spesifik ini terkait dengan adanya mutasi yang mempengaruhi leptin. Rendahnya kadar leptin akan memicu hiperfagia dan penurunan pengeluaran energi. Selain itu, mutasi pada gen yang mengkode Proopiomelanokortin (POMC) dapat menyebabkan kegagalan sintesis α-MSH, suatu neuropeptide yang menghambat nafsu makan pada hipotalamus. Mutasi pada proenzime convertase 1 (PC-1) juga menyebabkan gangguan sintesis α-MSH dari POMC yang merupakan prekusor peptidanya. Gen-gen lain yang mutasinya berperan dalam obesitas antara lain adalah gen MC4R, AgRP, Fat, tub, dan TrkB.

3. Sindrom spesifik lain

Sindrom spesifik lain yang berkaitan dengan obesitas antara lain adalah

  1. Sindrom cushing: terdapat reaktivasi lokal secara berlebih dari kortisol pada lemak oleh enzim 11β-hydroxysteroid dehydrogenase 1.
  2. Hipotiroidisme: Bukan penyebab umum obesitas. Sebagian besar berat badan yang didapatkan disebabkan oleh adanya myxedema yang menjadi salah satu gejala penyakit ini.
  3. Insulinoma: pasien dengan insulinoma cenderung makan lebih banyak untuk mencega gejala-gejala hipoglikemi yang terjadi pada pasien tersebut.  Peningkatan intake makanan tersebut ditambah dengan tingginya insulin yang dihasilkan akan meningkatkan lemak yang tersimpan.
  4. Kraniofaringioma dan kelainan lain yang melibatkan hipotalamus

Komplikasi Obesitas

Obesitas sebisa mungkin dicegah dan ditangani karena dapat menimbulkan bermacam komplikasi yang berpotensi fatal maupun mengurangi kualitas hidup. Beberapa komplikasi tersebut antara lain adalah:

  1. Resistensi insulin dan diabetes mellitus tipe-2
    • Terdapat downregulation dari insulin
    • Asam lemak bebas dapat menyebabkan gangguan kerja insulin
    • Akumulasi lipid intraseluler
    • Peptide sirkulasi yang dihasilkan adiposit seperti sitokin TNF-α dan IL-6, RBP4 dan adiponektin dan resistin yang dihasilkan oleh adiposit dapat memodifikasi kerja insulin.
  2. Gangguan Reproduksi
    • Peningkatan jaringan adiposa berkaitan dengan Hipogonadisme
    • Pada pria, berat badan >160% dari ideal berkaitan dengan penurunan testosteron plasma dan sex hormone-binding globulin (SHBG) dan terjadi peningkatan kadar estrogen. Ginekomastia dapat terjadi. Namun, maskulinisasi, libido, potensi dan spermatogenesis masih tetap terjaga pada individu tersebut.
    • Testosterone bebas dapat berkurang pada pria dengan berat badan >200% berat badan ideal.
    • Pada wanita, terdapat abnormalitas menstruasi pada kondisi obesitas. Produksi androgen meningkat, SHBG berkurang, dan terjadi peningkatan konversi androgen menjadi estrogen pada daerah perifer.
    • Kebanyakan wanita obesitas dengan oligomenorea memiliki polycystic ovarian syndrome (PCOS) yang berkaitan dengan anovulasi dan hiperandrogenisme ovarium. Sekitar 40% wanita dengan PCOS juga mengalami obesitas.
  3. Penyakit Jantung
    • Obesitas menjadi faktor resiko independent bagi terjadinya insiden penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung kongestif,  pada pria maupun wanita. Faktor prediksi yang paling baik adalah ratio antara pinggang dan panggul. Efeknya akan jauh lebih terlihat apabila terjadi tambahan lain berupa hipertensi dan intoleransi glukosa.
    • Obesitas, terutama obesitas pada perut atau abdominal berkaitan dengan peningkatan LDL, VLDL, dan trigliserida disertai penurunan HDL dan vascular protective adipokine adiponectin.
    • Obesitas juga berkaitan dengan hipertensi yang mana hipertensi juga merupakan faktor resiko dari kejadian kardiovaskular.
  4. Penyakit Paru
    • Abnormalitas pada sistem pernapasan terkait dengan penurunan komplians dinding dada, peningkatan usaha untuk bernapas, peningkatan menit ventilasi karena adanya peningkatan metabolic rate dan penurunan kapasitas residual fungsional serta volume cadangan ekspirasi.
    • Obesitas berat berkaitan dengan obstuctive sleep apnea (OSA) dan sindrom hipoventilasi obesitas dengan hipoksia ringan dan respon hiperkapnea. Sleep apnea dapat obstruktif (paling umum), sentral atau campuran serta berkaitan dengan hipertensi.
  5. Batu Ginjal
    • Obesitas berkaitan dengan peningkatan sekresi bilier kolesterol, supersaturasi biliar dan insiden yang lebih tinggi dari batu ginjal terutama batu ginjal oleh kolesterol. Orang dengan berat badan 50% di atas ideal memiliki peningkatan resiko 6 kali lipat mengalami batu ginjal yang simptomatik. Namun, diet yang ekstrem juga dapat meningkatan resiko batu ginjal dengan memicu terjadinya penurunan komponen fosfolipid sehingga terjadi supersaturasi bilier.
  6. Penyakit Tulang, Sendi dan Kutaneus
    • Obesitas berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis karena adanya trauma oleh pembebanan berat badan berlebih dan malaligment sendi.
    • Prevalensi gout meningkat
    • Gangguan kulit seperti acanthosis nigricans, berupa penebalan dan menggelapnya lipatan kulit pada leher, siku, dan daerah interfalangeal dorsal. Acanthosis berkaitan dengan keparahan resistensi insulin dan berkurang apabila berat badan turun.
    • Friabilitas kulit dapat meningkat terutama pada lipatan kulit, meningkatkan resiko jamur.
    • Stasis vena meningkat pada orang obesitas.

 

 Referensi dan Bacaan Lebih lanjut:

Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson dkk. Harrison’s Principles of Internal Medicine: Biology of Obesity. 17thed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill; 2008. [ebook]

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.

  • anon

    Emang bahaya kalo kegemukan..