Obesitas (Kegemukan)

Artikel ini sudah dibaca 41400 kali!

Obesitas menurut WHO adalah kondisi penumpukan lemak di jaringan adiposa secara berlebihan yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.1 Obesitas pada seseorang dapat diidentifaksi dengan menggunakan BMI (Body Mass Index)/IMT (Indeks Massa Tubuh). IMT dihitung dengan menggunakan rumus berat badan (dalam kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (dalam meter). Nilai IMT diatas 30 menunjukkan bahwa seseorang mengalami obesitas. Di seluruh dunia, pada tahun 2008, sekitar 500 juta orang diatas umur 20 tahun mengalami obesitas, 200 juta orang diantaranya laki-laki.2 Anak-anak pun tak luput dari obesitas, dimana 43 juta anak mengalami obesitas pada tahun 2010.2 Di Indonesia sendiri, menurut Himpunan Studi Obesitas Indonesia, 9,16% pria dewasa dan 11,02% wanita dewasa di perkotaan mengalami obesitas di tahun 2004.3

Etiologi & Patofisiologi

Etiologi obesitas sendiri terbilang kompleks dan belum dapat dipahami sepenuhnya hingga saat ini. Obesitas merupakan hasil dari ketidakseimbangan antara asupan energi (dalam bentuk makanan) dan keluaran energi oleh seseorang, sehingga kelebihan asupan energi akan disimpan dalam tubuh berbentuk jaringan lemak (jaringan adiposa).4 Keseimbangan energy tersebut diatur oleh sebuah sistem kontrol tubuh, lipostat, yang dapat mendeteksi kuantitas energi yang disimpan di jaringan lemak. Gen yang diduga berhubungan dengan kejadian obesitas adalah gen yang mengatur komponen molekular dari sistem fisiologis yang mengatur keseimbangan energi tersebut. Gen yang berperan penting dalam sistem homeostasis energi adalah gen LEP dan produknya, leptin.4 Leptin yang disekresikan adiposit mengatur kedua proses keseimbangan energi (asupan dan keluaran). Efek leptin sendiri adalah untuk mengurangi asupan energi (makanan) dan meningkatkan keluaran energi.

Secara garis besar, sistem pengaturan homeostasis energi tersebut dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu:

  1. Sistem aferen, yang menghasilkan sinyal dari berbagai lokasi. Komponen utamanya adalah leptin (dari jaringan adiposa), insulin (pankreas), ghrelin (lambung), dan peptida YY (ileum dan kolon). Leptin mengurangi asupan makanan, sementara ghrelin malah meningkatkan nafsu makan (bekerja sebagai sinyal inisiasi makanan). Peptida YY sendiri bekerja sebagai sinyal untuk menginisiasi rasa haus.
  2. Sistem pemroses pada hipotalamus, yaitu sistem melanokortin sentral, yang mengintegrasikan sinyal-sinyal berbeda dari sistem aferen dan menghasilkan sinyal eferen sebagai jawabannya.
  3. Sistem eferen yang membawa sinyal dari hipotalamus tersebut untuk dilaksanakan

Mekanisme leptin sendiri belum diketahui dengan jelas. Dengan mekanisme yang belum diketahui, leptin disekresikan saat terjadi penumpukan lemak di jaringan adiposa secara berlebihan. Leptin akan dibawa sampai hipotalamus dan berikatan pada dua reseptor, yaitu :

  1. Reseptor yang menyintesis neuropeptida oreksigenik (perangsang makan). Neuropeptida tersebut adalah neuropeptida Y (NPY) dan agouti-related protein (AgRP). Pada reseptor ini leptin akan bersifat sebagai inhibitor
  2. Reseptor yang menyintesis neuropeptida anoreksigenik. Peptida tersebut adalah alpha-melanocyte-stimulating hormone (α-MSH) dan cocaine and amphetamine-related transcript (CART). Pada reseptor ini, leptin akan bersifat sebagai stimulator.

Leptin juga meregulasi pengeluaran energi melalui jalur khusus, dimana peningkatan kadar leptin akan menyebabkan peningkatan aktivitas tubuh, produksi panas, dan pengeluaran energi. Leptin akan memediasi proses thermogenesis, dimana sekresi norepinefrin akan ditingkatkan, sehingga hidrolisis asam lemak dan produksi energi meningkat.4

Mutasi pada gen yang mengatur sistem melanokortin sentral diatas dapat menyebabkan obesitas. Sebagai contoh, tikus yang tidak memproduksi leptin akan terus makan dan bertambah berat badannya. Akan tetapi mutasi ini jarang sekali terjadi. Oleh karena itu, obesitas bukan saja disebabkan oleh genetik, akan tetapi dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan, terutama kebiasaan makan yang buruk (konsumsi makanan tidak seimbang atau mengemil berlebihan).4

Gejala Klinis dan Konsekuensi

Obesitas meningkatkan risiko bagi berbagai penyakit, diantaranya diabetes, hipertensi, hipertrigliserida, dan berhubungan dengan kolesterol HDL-rendah. Mekanisme yang mendasari kesemua hal tersebut saling terkait. Sebagai contoh, obesitas dapat berhubungan dengan resistensi insulin, yang penting dalam diabetes melitus tipe 2. Insulin yang berlebihan dalam darah memungkinkan pula terjadinya retensi sodium, peningkatan volume darah, produksi norepinefrin berlebihan, dan proliferasi otot polos, yang kesemuanya adalah faktor pencetus hipertensi.4 Seseorang dengan obesitas juga dapat mengalami peningkatan resiko penyakit jantung koroner oleh karena adanya hipertrigliserida dan penurunan kadar HDL kolesterol.

Beberapa penyakit lain yang dapat dipengaruhi risikonya oleh obesitas adalah4 :

–          Nonalkoholik steatohepatits

–          Batu empedu

–          Sindrom hipoventilasi

–          Ischemic stroke

Penatalaksanaan

Skema di samping adalah algoritma penanganan obesitas pada dewasa.5

Penanganan obesitas tidak membutuhkan adanya farmakoterapi selama orang tersebut mendapatkan hasil yang menckupi (penurunan berat badan >0,5kg per minggu setelah perubahan gaya hidup). Pilihan obat yang dapat digunakan pun sangat terbatas dikarenakan banyaknya efek samping yang berbahaya dengan konsumsinya. Secara garis besar, ada tiga tahap utama dalam perubahan gaya hidup pasien obesitas, yaitu6:

–          Peningkatan aktivitas fisik, sehingga pengeluaran energi akan meningkat juga. Aktivitas fisik ditingkatkan secara gradual bagi pasien obesitas dan dapat berbentuk dalam berbagai hal, diantaranya berjalan, berkebun, hingga olahraga tim/individual. Targetnya adalah mengerjakan minimal 30 menit kegiatan fisik sedang tiap harinya.

–          Terapi kebiasaan. Terapi ini dapat membantu perubahan dalam asupan makanan pasien obesitas. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: self-monitoring, manajemen stres, dan dukungan sosial. Terapi ini dimaksudkan pula untuk membantu pasien tersebut beradaptasi dengan perubahan diet dan aktivitasnya.

–          Modifikasi diet. Asupan kalori pasien harus dikurangi sekitar 500-1000 kalori dari levelnya sekarang, dengan batas terendah adalah asupan 800 kkal/hari. Umumnya digunakan kisaran 1000-1200 kkal/hari untuk wanita dan 1200-1600 kkal/hari untuk pria.

 

Disusun oleh Gusti Rizky Teguh Riyanto

 



Daftar Pustaka

  1. WHO. Obesity. Diakses dari http://www.who.int/ pada tanggal 14 September 2011 pukul 22.20
  2. WHO. Obesity and overweight fact sheet. Diakses dari http://www.who.int/mediacentre/ factsheets/fs311/en/index.html pada tanggal 15 September 2011 pukul 13.15
  3. Anonim. Pola makan gizi seimbang. Diakses dari http://www.wrp-diet.com/ pada tanggal 15 September 2011 pukul 17.20
  4. Kumar V et al. Robins basic pathology. 8th Ed. 2010. Philadelphia : Saunders. Pg.313-7
  5. Gonzales R, Kutner J. Current practice guidelines in primary care. 9th Ed. 2008. San Francisco : McGraw-Hill. [e-book]
  6. NHLBI Obesity Education Initiative. Identification, evaluation, and treatment of overweight and obesity in adults. Diakses dari http://www.nhlbi.nih.gov pada tanggal 14 September 2011 pukul 22.30

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.