Jaras Somatosensoris dan Patofisiologi Gangguannya

Artikel ini sudah dibaca 69025 kali!

Reseptor

Informasi mengenai lingkungan internal dan eksternal dapat mengaktivasi sistem saraf pusat melalui bermacam reseptor sensoris. Reseptor sensoris dapat berupa ujung dendrit yang terspesialisasi dari serat saraf afferen atau berkaitan dengan sel nonneural yang mengelilinginya membentuk suatu organ perasa. Sentuhan dan tekanan diterima oleh empat mekanoreseptor.

  1. Sel merkel: ujung dendrit yang meluas dan berespon terhadap tekanan yang diperpanjang dan sentuhan.
  2. Korpus Meissner: dendrit yang terkapsulasi pada jaringan ikat dan berespon terhadap perubahan tekstur dan getaran yang halus.
  3. Korpus Ruffini: ujung dendrit yang membesar dengan kapsul yang memanjang. Berespon terhadap tekanan yang diperpanjang.
  4. Korpus pacini: terdiri dari ujung dendrit yang tidak termielinisasi serta terkapsulasi oleh lapisan konsentris jaringan ikat sehingga mirip belahan bawang. Berespon terhadap tekanan dalam dan getaran yang cepat.

Beberapa reseptor sensoris bukanlah organ yang terspesialisasi tetapi merupakan ujung saraf bebas. Sensasi nyeri dan suhu berasal dari dendrit tak termielinisasi neuron sensoris. 1

Jaras Sensoris (ascenden)

Jarang sensoris merupakan jaras ascending yang menghantarkan impuls dari reseptor menuju korteks serebri. Pada jalur ascenden terdapat 3 macam neuron.  Neuron pertama yang badan selnya terdapat pada sistem saraf perifer. Akson dari neuron tersebut nantinya akan masuk ke dalam sistem saraf pusat. Selanjutnya, neuron kedua yang badan selnya terletak di sistem saraf pusat seperti pada medula spinalis atau batang otak. Aksonnya akan menuju ke thalamus. Kemudian, neuron yang akan terprojeksi ke korteks serebri dengan badan sel di thalamus disebut neuron ketiga.

a. Nyeri dan Suhu

Impul sensorik yang diterima dari reseptor nantinya akan dibawa oleh neuron pertama yang badan selnya terdapat pada ganglion spinal radiks dorsalis. Aksonnya akan masuk ke dalam medula spinalis untuk kemudian naik sekitar 1-3 tingkat pada segmen medula spinalis. Akson-akson ini disebut sebagai jaras dorsolateral Lissauer. Kemudian, akson tersebut akan bersinaps dengan neuron kedua pada kornu posterior substansia abu-abu (masih di medula spinalis).

Setelah bersinaps, impuls yang melalui akson neuron kedua akan menyilang garis tengah, untuk kemudian naik ke atas. Akson dari neuron kedua akan menghantarkan impuls melalui jaras spinotalamikus lateral pada lateral colum substansi putih. Ujung dari akson kedua berada di nukleus ventral posterolateral thalamus. Di sana, terjadi sinaps dengan neuron ketiga yang akan membawa impuls ke girus postsetralis korteks serebri (area sensorik primer) untuk dikenali.

b. Sentuh, Tekanan, Gatal, Geli

Sebagaimana rangsang nyeri dan suhu, setelah diterima reseptor, keempat rangsang ini akan dibawa oleh akson neuron pertama melalui jaras Lissauer. Bedanya, akson neuron kedua membawa impuls-impuls ini melewati jaras spinothalamikus anterior (pada nyeri: jaras spinotalamikus lateral).

c. Proprioseptif, Sentuhan Diskriminatif, dan Getaran

Impuls-impuls sensoris jenis ini akan diterima oleh reseptor dan dibawa oleh neuron pertama menuju medula spinalis. Sinaps dengan neuron kedua dan persilangan jaras tidak terjadi di medula spinalis melainkan pada tingkat medula oblongata (pada rangsang nyeri, suhu, tekanan, gatal, geli: sinaps dan persilangan terjadi di medula spinalis).

Impuls yang berasal dari atas tingkat T6 medula spinalis, jarasnya akan dibawa melalui fasikulus kuneatus sementara yang di bawahnya akan dibawa oleh fasikulus grasilis. Kedua fasikulus tersebut terletak pada colum dorsalis substansi putih medula spinalis.

Setelah naik sampai tingkat medula oblongata, terjadi sinaps dengan neuron kedua yang disebut nukleus kuneatus dan nukleus grasilis. Akson neuron kedua inilah yang akan menyilang garis tengah untuk kemudian naik sebagai lemniskus medialis. Jaras ini akan berakhir pada nukleus ventral posterolateral thalamus dan bersinaps dengan neuron ketiga. Selanjutnya, impuls dibawa ke gyrus postsentralis  korteks serebri untuk dikenali.

Sensasi dari wajah

a. Nyeri dan Suhu

Sensasi yang berasal dari wajah akan melewati jalur yang sedikit berbeda. Badan sel neuron pertama terletak pada ganglion semilunar  Gasser. Aksonnya akan memasuki batang otak dan berakhir pada nukleus traktus spinalis n. V (terdapat neuron kedua di sana). Akson pada neuron kedua akan menyilang garis tengah, kemudian naik sebagai lemniskus trigerminal. Jaras ini berakhir pada nukleus ventral posteromedial thalamus kontralateral dan bersinaps dengan neuron ketiga. Selanjutnya impuls akan dibawa ke gyrus postsentralis korteks serebri.

b. Sentuh, Tekanan, Gatal, Geli dan Getaran

Jaras yang membawa rangsang jenis ini tidak begitu berbeda dengan jaras untuk nyeri dan suhu. Yang membedakan adalah akson pertama akan menuju ke nukleus sensoris prinsipalis n. V untuk bersinaps dengan neuron kedua (pada nyeri dan suhu: nukleus traktus spinalis n.V). Kemudian, pada saat terjadi persilangan, ternyata tidak semua jaras ikut menyilang, sehingga sebagian kecil masih bisa menjangkau VPM ipsilateral.

c. Proprioseptif

Impuls sensoris yang diterima oleh reseptor akan dihantarkan oleh neuron pertama yang badan selnya terdapat pada nukleus mesensefalikus n. V batang otak. (Neuron tidak memiliki ganglion semilunar). Akson neuron pertama secara langsung akan bersinaps di nukleus motor n. V yang menginervasi otot pengunyah. Sementara itu, jaras yang membawa impuls proprioseptif ke korteks serebri masih belum jelas. Akson dari neuron sensoris di nukleus mesensefalikus kemungkinan bersinaps dengan nukleus sensoris utama n. V yang berproyeks ke thalamus dan korteks serebri.

Patofisiologi Somestesia

Gejala sensorik dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu

a.       Hilangnya perasaan (anestesia),

Anestesia terjadi apabila terjadi kerusakan yang menyebabkan hilangnya reseptor impuls protopatik atau terjadinya hambatan atau putusnya penghantaran perifer dan sentral. Misalnya, pada kasus luka bakar atau infeksi herpes zoster yang menyebabkan hilangnya ganglion spinale.

b.      Perasaan berlebihan jika dirangsang (hiperestesia),

Pada hiperestesia, rangsangan secara wajar dapat menyebabkan somestesia berlebihan yang berupa perasaan tidak enak dan tidak menyenangkan pada bagian tubuh tersebut. Kelainan ini terjadi karena terjadi gangguan pada reseptor impuls protopatik atau serabut saraf perifer atau lintasan spinotalamikus sehingg ambang rangsangnya menurun. Gangguan dapat bersifat mekanik, toksik, atau vaskular ringan.

c.       Perasaan yang timbul spontan tanda adanya perangsangan (parestesia),

Dalam klinik, pasien biasanya mengeluhkan perasaan berupa kesemutan, geringgingen, singsireumen atau kepocong. Namun, parestesi sebenarnya tidak hanya kesemutan melainkan juga termasuk perasaan dingin atau panas setempat, kesemutan, rasa berat, atau rasa dirambati sesuatu.

d.      Nyeri

Setiap nyeri memiliki corak tertentu yang dipengaruhi oleh modalitasnya sehingga dapat berupa nyeri yang bersifat tajam, difus, atau menjemukan. Selain itu, nyeri juga dapat dinyatakan sebagai kemeng, ngilu, linu, sengal atau pegal. Nyeri yang berasal dari viseral biasanya bersifat difus, yang berasal dari otot skeletal dinyatakan sebagai pegal, nyeri osteogenik seringkali disebutkan sebagai kemeng, linu atau ngilu sedangkan yang bersumber pada saraf perifer bersifat tajam.

e.      Gerakan canggung atau simpang siur

Gangguan sensorik ini seringkali dituturkan oleh pasien sebagai gangguan motorik yang berupa ataksia. Sebenarnya, gangguan tersebut terjadi pada lintasan impuls propioseptif sehingga nampak rasa gerak, getar dan posisi terganggu.

 

Gangguan sensorik dapat diklasifikasikan menjadi gangguan sensorik negatif berupa anestesi dan parestesi serta gangguan sensorik positif berupa nyeri.

a.       Gangguan sensorik negatif

Gangguan senorik superfisial atau gangguan eksteroseptif yang negatif merupakan salah satu manifestasi sindrom neurologis atau disebut juga defisit neurologis. Tergantung kedudukan lesi, anestesi atau rasa baal memperlihatkan pola yang khas sesuai penataan anatomik susunan somestesia. Untuk mempermudah pembahasan defisit sensorik, istilah anestesia dan hipestesia digunakan secara bebas sebagai sinonim defisit neurologis.

 

  • Hemihipestesia

Pada keadaan ini, korteks sensorik primer tidak mendapatkan impuls sensorik dari belahan tubuh kontralateral. Kelainan ini berkaitan dengan CVD berupa infark seluruh krus posterior kapsula interna sesisi. Biasanya, sumbatan terjadi pada arteri lentikulostriata.

  • Hipestesia alternans

Hipestesi ini ditandai dengan hipestesi belahan wajah ipsilateral terhadap lesi yang mengiringi hipestesia pada belahan badan kontralateral lesi. Lesinya biasanya terdapat pada jaras spinotalamikus dan traktus spinalis nervus trigemini di medula oblongata.

  • Hipestesia tetraplegik

Terjadi hipestesia pada seluruh tubuh kecuali kepala dan wajah. Defisit sensorik ini terjadi akibat lesi transversal pada medula spinalis tingkat servikal. Jika di bawah tingkat T1, terjadi hipestesia paraplegik.

  • Hipestesia selangkangan (saddle hipestesia)

Kerusakan pada kauda ekuina dapat menyebabkan hipestesia pada daerah kulit selangkangan.

  • Hemihipestesia sindrom brown sequard

Hemihipestesia pada belahan tubuh kontralateral terhadap hemilesi di medula spinalis

  • Hipestesia radikular

Hipestesi terjadi akibat lesi pada radiks posterior. Daerah yang mengalami hipestetik ialah dermatoma yang disarafi oleh serabut-serabut radiks posterior yang terkena lesi.

  • Hipestesia perifer

Hipestesi pada kawasan saraf perifer yang biasanya mencakup bagian-bagian beberapa dermatoma.

 

Defisit sensorik dapat menjadi salah satu gejala suatu sindrom atau manifestasi tunggal suatu proses patologik. Umumnya, defisit sensorik dapat menggambarkan suatu penyakit seperti berikut ini.

  • Pada sindrom trombosis serebri

Terjadi karena penyumbatan a. Lentikulostriata sesisi pada krus posterior kapsula interna sehingga melibatkan juga serabut yang mengatur gerak voluntar kontralateral. Jika infark melibatkan ujung belakang krus posterior, terjadilah hemiplegia dan hemihipestesia kontralateral terhadap infark.

  • Pada sindrom Wallenberg

Penyumbatan terjadi pada a.serebeli posterior sehingga infark pada korpus restiforme ipsilateral berikut kawasan lintasan spinotalamik dan traktus spinalis nervus trigermini. Oleh karena itu, hipestesi ditemukan pada wajah ipsilateral dan badan kontralateral (hemihipestesia alternans).

  • Pada siringobulbi

Siringobulbi merupakan lubang sempit yang memanjang dari kawasan lintasan spinotalamikus dan traktus spinalis n.V ke lokasi traktus solitarius di medula oblongata. Sindromnya menyerupai sindrom Wallenberg. Bedanya, pada siringobulbi patogenesis sindrom tersebut berlangsung lambat dalam waktu berbulan-bulan serta berkorelasi dengan proses degeneratif.

  • Pada sindrom tetraplegi atau paraplegia

Sindrom ini terjadi akibat lesi transversal pada servikal atas (C3 atau C4). Keempat anggota gerak lumpuh dan mulai dari dermatoma C.3/C4 ke bawah naestetik atau hipestetik. Selain itu, perasaan ingin kencing dan buang air besar serta kekuatan pengosongan kandung kemih serta rektum hilang. Jika lesi di b awah intumesensia servikobrakialis, yang muncul adalah paralisis kedua tungkai disertai hipestesia di bawah tingkat lesi (hipestesi paraplegik).

  • Pada sindrom Brown Sequard

Pada sindrom ini, lesi hanya merusak satu sis dari medula spinalis (hemilesi).  Belahan badan kontralateral di bawah lesi akan kebal terhadap rangsangan protopatik sedangkan bagian ipsilateral terjadi hilangnya perasaan getaran, gerakan, dan sikap anggota tubuh. Sementara itu, belahan badan yang lumpuh juga terdapat gangguan serebelar karena putusnya spinoserebelar dorsalis dan ventralis di sisi ipsilateral. Namun, tidak tampak karena terjadi pula kelumpuhan ipsilateral.

  • Pada sindrom radikulopatia

Radikulopati berarti terjadi proses patologis pada radiks posterior dan anterior. Tergantung proses patologisnya, tarikan, penekanan dan jepitan setempat dapat menimbulkan nyeri dan kelumpuhan yang dapat diringi parestesia. Misalnya pada jepitan radiks L5 sampai S2 pada HNP yang menyebabkan iskialgia atau stiatika.

Proses imunologis juga bisa berperan seperti pada kasus sindrom guillain barre yang menyebabkan demielinisasi. Pada kasus ini, terjadi hipestesia atau parestesia pada bagian distal anggota gerak yang dikenal sebagai hipestesia atau parestesia akral. Selain itu, terdapat juga kasus saddle anesthesia apabila terdapat penekanan pada kauda ekuina.

  • Pada lesi di pleksus brakialis

Lesi pleksus brakialis atas berasal dari lesi yang mengganggu serabut-serabut saraf spinal C5 dan C6. Seringkali terjadi karena penarikan leher. Sementara itu, lesi pleksus brakialis bawah merupakan lesi yang mengganggu saraf spinal C8 dan T1. Seringkali terjadi karena penarikan lengan yang berlebihan. Pola gangguan somestesianya berupa anestesi pada kawasan sempit yang membujur dari tepi ulnar jari kelingking, tangan sampai sepertiga distal lengan bawah.

  • Pada sindrom neuritis/neuropatia

Neuritis berarti terjadinya peradangan pada saraf perifer. Biasanya gejala yang muncul adalah hipestesia/anestesia atau parestesia. Nyeri neuritik bersumber pada bagian saraf perifer yang terlibat dalam proses patologis pada tempat yang dilewati saraf perifer yang bersangkutan.

b.      gangguan sensorik positif

Gangguan sensorik positif ialah nyeri. Perangsangan yang menghasilkan nyeri bersifat destruktif terhadap jaringan yang dilengkapi dengan serabut saraf penghantar impuls nyeri (serabut nyeri). Jaringan itu disebut jaringan peka-nyeri. Jaringan yang tidak dilengkapi dengan serabut nyeri tidak menghasilkan nyeri jika dirangsang (misal diskus intervertebral), disebut jaringan tak peka-nyeri.

  • Nyeri neuromuskuloskeletal non-neurogenik

Nyeri neuromuskuloskeletal merupakan nyeri yang terjadi pada anggota gerak, di antaranya adalah artralgia (patologis pada persendian), mialgia (otot), entesialgia (proses patologik pada tendon, fasia, jaringan miofasial dan periosteum). Umumnya disebabkan karena proses patologik setempat berupa peradangan bakterial, imunologik, non-infeksi, atau perdarahan serta keganasan.

Nyeri tekan akan nampak pada penekanan daerah yang dikeluhkan, terutama bagian miofasial, tuberositas, kapsul persendian, tulang, epikondilus, tempat fraktur tulang, otot dan berkas saraf.

  • Nyeri neuromuskuloskeletal neurogenik

Jenis nyeri ini terjadi akibat iritasi langsung terhadap serabut sensorik perifer. Ciri khasnya adalah nyeri menjalar sepanjang kawasan distal saraf distal saraf, dan perjalanan nyeri tersebut berpangkal pada bagian saraf yang mengalami iritasi.

  • Nyeri radikular

Nyeri neurogenik yang terjadi akibat iritasi radiks posterior dinamakan nyeri radikular. Pada medula spinalis C3-C4 dan T3-T12, penataan dermatomanya lapis demi lapis sehingga menunjukan gambaran yang khas. Sementara itu, pada C5-T2 dan L2-S3, penataan lamelar dermatoma agak kabur karena saraf spinal tidak langsung menuju ekstremitas melainkan membentuk fasikulus dan pleksus terlebih dahulu.

Penyebabnya bisa berupa herpes zooster, osteofit, penonjolan tulang karena fraktur, nukleus pulposus atau serpihannya, tumor. Selain itu, salah satu yang sering adalah nyeri radikular pada spondilitis tuberkulosa pada T4-T7 (nyeri intercostal) serta nyeri radikular pada spondilosis yang berkaitan dengan penuaan dan nyeri radikular pada hernia nukleus pulposus.

Manifestasi klinis pada hernia nukleus pulposus bervariasi antara nyeri radikular serta parestesi dan nyeri radikular serta hipestesia. Penekanan pada radiks posterior yang masih utuh dapat menimbulkan nyeri radikular sedangkan jika penekanan sudah menimbulkan pembengkakan bahkan kerusakan struktural yang lebih berat, dapat terjadi hipestesia atau anestesia radikular.

Nyeri iritatif di radiks posterior tingkat servikal disebut brakialgia karena nyerinya dirasakan sepanjang lengan. Sementara itu, nyeri radikular yang dirasakan sepanjang tungkai dinamakan iskialgia karena nyerinya menjalar sepanjang perjalanan n. Iskiadikus dan lanjutannya ke perifer.

 

Daftar Pustaka

1                   Barret KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Ganong’s Review of Medical Physiology: Properties of Sensory Receptors. Amerika Serikat: Mc Graw Hill. P. 149-50.

2                   Budiman G. Basic Neuroanatomical Pathways: Somatic Nervous System. 2nd ed. Jakarta: Penerbit FKUI; 2009. p. 4-13

3                   Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar: Patofisiologi Somestesia. Jakarta: Dian Rakyat. P. 81-94,104-105.


Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.