Transient Ischemic Attack: Modifikasi Faktor Risiko dan Tatalaksana

Artikel ini sudah dibaca 4128 kali!

Oleh dr. Rahmanu Reztaputra

Transient Ischemic Attack: Modifikasi Faktor Risiko dan Tatalaksana

Artikel asli: Simmons BB, Cirignano B, Gadebeku AB. Transient Ischemic Attack: Part II. Risk Factor Modification and Treatment. Am Fam Physician. 2012;86(6):527-532

Disclaimer: Artikel ini merupakan saduran dengan bahasa yang lebih sederhana dari artikel di atas. Target pembaca artikel ilmiah populer ini adalah mahasiswa rumpun ilmu kesehatan tingkat awal. Artikel ini lebih bertujuan sebagai pendahuluan atau membuka wawasan mengenai topik di atas. Untuk informasi yang lebih lengkap pembaca disarankan mencari artikel di atas.

Artikel ini merupakan lanjutan dari Transient Ischemic Attack: Diagnosis dan Evaluasi. Pada bagian ini topik yang akan dibahas adalah modifikasi faktor risiko stroke dan tatalaksana TIA.  Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya, bahwa orang yang mengalami TIA memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena stroke. Oleh sebab itu pada orang yang telah mengalami TIA perlu dilakukan modifikasi faktor risiko stroke. Artikel ini menyebutkan bahwa 82 persen stroke memiliki lima faktor risiko berikut: hipertensi, perokok aktif, obesitas, diet tidak sehat, dan kurangnya aktifitas fisik. Pada bagian akhir dibahas tatalaksana TIA.

Menurunkan tekanan darah ke tingkat normal memiliki Relative Risk Reduction sebesar 30-40 persen. Penatalaksanaan hipertensi mencakup dua modalitas, yaitu farmakologis dan non-farmakologis. Terapi non-farmakologis meliputi perubahan gaya hidup, yaitu menurunkan asupan natrium, menurunkan berat badan, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, menurunkan konsumsi produk susu, aktifitas fisik teratur, dan konsumsi alcohol dosis rendah.

Perokok aktif memiliki risiko peninkatan tekanan darah, mempercepat terjadinya aterosklerosis, dan dua sampai empat kali terjadinya stroke dibandingkan orang yang tidak merokok. Risiko semakin meningkat seiring peningkatan dosis rokok. Tatalaksana penghentian merokok yang paling baik adalah kombinasi terapi perilaku, penggantian nikotin, dan dukungan sosial.

Definisi obesitas berbeda menurut ras, akan tetapi pada artikel ini yang digunakan adalah Body Mass Index(BMI) di atas 30 kg/m2. Rekomendasi aktifitas fisik berdasarkan American Heart Association adalah 30 menit aktifitas intensitas sedang setiap hari, ditambah dengan diet DASH ( Dietary Approach to Stop Hypertension).

Diabetes mellitus merupakan faktor risiko stroke yang hubungannya sudah baik diketahui. DM memiliki hazard ratio sekitar 2,27 untuk terjadinya stroke iskemik. Target tatalaksana DM yang memiliki penurunan risiko terjadinya stroke adalah HbA1C di bawah 7 persen. Penurunan di bawah 6 persen tidak memberikan manfaat tambahan.

Dislipidemia merupakan faktro risiko stroke yang signifikan, dengan odds ratio 1,89 (berdasarkan studi  INTERSTROKE).  Penurunan kadar kolesterol yang memiliki tingkat penurunan risiko stroke adalah LDL.

Setelah mengetahui modifikasi faktor risiko stroke, bagian selanjutnya adalah tatalaksana TIA. Tujuan utama tatalaksana TIA adalah mencegah terjadinya stroke. Risiko terjadinya stroke dalam 90 hari setelah TIA sekitar 10 sampai 20 persen, yang setengahnya terjadi dalam 48 jam pertama. Tatalaksana TIA yang dianjurkan pada artikel ini adalah pemberian antiplatelet, statin, dan intervensi pembuluh koroner. Artikel ini tidak menganjurkan jenis antiplatelet tertentu untuk pencegahan stroke, akan tetapi aspirin paling sering dipakai dan efektifitasnya baik. Tidak dianjurkan menggunakan kombinasi beberapa antiplatelet karena tidak memberikan keuntungan yang signifikan tetapi risiko efek samping meningkat. AHA/ASA menganjurkan pemberian statin pada pasien yang sudah diketahui memiliki penyakit jantung koroner atau risiko tinggi penyakit kardiovaskular untuk pencegahan stroke, berapa pun kadar kolesterol LDL-nya. Aterosklerosis arteri karotis merupakan salah satu penyebab stroke yang cukup sering. Endarterektomi karotis dianjurkan pada pasien yang mengalami TIA atau stroke pada enam bulan terakhir dan memiliki stenosis(tentunya) jika tingkat stenosisnya berkisar 70 sampai 99 persen dan morbiditas dan mortalitas perioperatif diperkirakan tidak lebih dari enam persen. Endarterektomi karotis juga dipertimbangkan pada stenosis 50-69 persen dengan mempertimbangkan risiko-risiko pada pasien. Tindakan ini tidak dianjurkan pada sumbatan kurang dari 50 persen.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.