Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas pada Wanita

Artikel ini sudah dibaca 7497 kali!

Oleh Nur Atikah

  1. Usia

Banyak wanita yang menunggu sampai 30-an dan 40-an untuk memiliki anak. Bahkan, sekitar 20% wanita di Amerika Serikat saat ini memiliki anak pertama mereka setelah usia 35. Sekitar sepertiga dari pasangan dimana wanita lebih tua dari 35 tahun memiliki masalah kesuburan.1 Untuk wanita di bawah 30 tahun, tingkat kehamilan mencapai 70-75%, tetapi turun menjadi 60% pada wanita usia 30-35 tahun, dan 50% pada wanita berusia di atas 36 tahun. Studi lain dari pasangan yang mengalami kesulitan untuk mencapai kehamilan mencatan tingkat infertilitas 10% pada wanita berusia di bawah 30 tahun, 15% pada wanita usia 30-35 tahun, 30% pada wanita usia 35-40 tahun, dan 60% pada wanita berusia di atas 40 tahun.2

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah oosit aneuploid meningkat seiring bertambahnya usia. Peningkatan ini dihasilkan dari gangguan mekanisme pengaturan pembentukan dan fungsi benang spindle saat meiosis. Ditambah lagi memasuki usia 30 tahun, wanita lebih rentan mengalami berbagai penyakit seperti endometriosis yang dapat mempengaruhi fertilitas. Paparan terhadap bahan-bahan kimia lingkungan dan pekerjaan juga dapat mengurangi fertilitas pada wanita usia lebih tua.3

Pada pria, testis menjadi lebih kecil dan lebih lembut, dan morfologi dan motilitas (pergerakan) sperma menjadi menurun. Selain itu, terdapat risiko lebih tinggi terhadap defek gen pada spermanya. Penuaan pada pria dapat menimbulkan penyakit yang berefek pada fungsi seksual dan reproduktif. Tidak semua pria mengalami perubahan signifikan pada fungsi seksual dan reproduktif seiring bertambahnya usia, terutama jika pria tersebut mengontrol kesehatan yang baik.

Dengan timbulnya menopause, ovarium kurang merespon FSH dan LH sehingga tubuh memproduksi lebih banyak hormone-hormon tersebut untuk dapat memicu perkembangan ovum di ovarium. Ketika ovarium berhenti merespon FSH dan LH, siklus menstruasi menjadi lebih pendek. Akhirnya ovarium tidak melepas ovum setiap bulan dan akan melewatkan satu periode.4

Pengaruh Usia dan Kesuburan pada Wanita
Pengaruh Usia dan Kesuburan pada Wanita

  1. Genetik

Beberapa gangguan gen tunggal memengaruhi fungsi hipotalamus-hipofisis-gonad dan fertilitas pada manusia. Dua factor transkripsi, yaitu steroidogenic factor-1 (SF-1) dan DAX-1 banyak diekspresikan melalui aksis reproduktif, termasuk hipotalamus, sel gonadotrop hipofisis, gonad, dan kelenjar adrenal. SF-1 mengatur transkripsi susunan gen yang terlibat dalam steroidogenesis, diferensiasi seksual laki-laki, dan reproduksi. DAX-1 diekspresikan di sel sertoli. Gangguan pada gen Ahch (yang mengkode DAX-1) menyebabkan gangguan spermatogenesis dan fertilitas pada tikus.5

 

  1. Rokok

Merokok berdampak pada fertilitas laki-laki dan perempuan. Prevalensi infertilitas lebih tinggi dan waktu untuk konsepsi lebih lama pada perempuan yang merokok atau bahkan pada mereka yang perokok pasif. Toksin dalam asap rokok dapat mempercepat deplesi folikel dan meningkatkan mutasi genetic di gamet dan embrio.6 Selain itu, rokok juga membahayakan motilitas tuba dan efek implantasi embrio. Ini terutama karena efek rokok yang mengurangi aliran darah ke organ reproduksi. Rokok juga membahayakan kualitas ovum, mengurangi kemampuan telur untuk terfertilisasi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran. Penurunan sampai 22% terlihat pada fertilitas wanita perokok. Laki-laki yang merokok memiliki jumlah dan motilitas sperma lebih rendah dan meningkatkan abnormalitas bentuk dan fungsi sperma.7

 

  1. Diet

Sebuah studi dari Harvard Nurses;s Health Study menemukan kaitan makanan dengan fertilitas. Diet yang kaya serat dan indeks glikemik rendah berhubungan dengan peningkatan fertilitas. Makanan yang indeks glikemik tinggi dapat meingkatkan kadar gula darah dan insulin. Ketika gula darah dan insulin meningkat terlalu tinggi, mereka dapat mengganggu ovulasi. Lemak trans berpengaruh pada penurunan fertilitas wanita. Lemak trans menyebabkan kerusakan sel dan berkontribusi pada inflamasi dan penyakit. Selain itu, lemak trnas merupakan pencegah ovulasi dan konsepsi yang kuat. Wanita pada studi ini dengan asupan protein tertinggi (115 g/hari) 41% lebih memiliki masalah dengan infertilitas ovulasi daripada wanita yang mengkonsumsi protein paling rendah (77 g/hari). Akan tetapi, sumber protein berpengaruh. Infertilitas ovulasi 39% lebih banyak pada wanita dengan asupan protein hewani tertinggi daripada yang asupan protein hewani terendah. Sebaliknya, wanita dengan asupan protein nabati tertinggi lebih rendah memiliki infertilitas ovulasi daripada wanita dengan asupan protein nabati terendah. Wanita yang mengonsumsi suplemen multivitamin dan mineral setidaknya 6 hari per minggu memiliki tingkat fertilitas lebih tinggi. Suplemen multivitamin dan mineral prenatal umumnya direkomendasikan pada wanita yang ingin hamil.8

Konsumsi alcohol harus dibatasi. Asupan alcohol berat menurunkan fertilitas pada wanita dan berhubungan dengan penurunan jumlah sprema dan peningkatan disfungsi seksual pria. Berdasarkan beberapa penelitian, 5-8 gelas per minggu berdampang negatif pada fertilitas wanita.6

Konsumsi kafein juga berhubungan dengan penurunan kesempatan untuk hamil. Secangkir kopi mengandung sekitar 115 mg kafein. Sebagian besar penelitian menunjukan bahwa konsumsi lebih dari 250 mg kafein sehari oleh wanita berhubungan dengan penurunan fertilitas dan peningkatan waktu untuk konsepsi. Asupan kafein lebih dari 500 mg per hari juga dapat meningkatkan tingkat keguguran berulang.6

 

  1. Olahraga

Latihan berat dapat mengubah fungsi mestruasi dan mengganggu fertilitas wanita secara temporer. Frekuensi amenorrhea atau oligomenorrhea pada wanita yang berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sekitar 2-51%, sedangkan pada wanita sedentary sekitar 2-5%. Studi prospektif menunjukan bahwa wanita dengan siklus menstruasi normal sebelumnya, 87% siklus berubah menjadi abnormal ketika dalam program olahraga berat. Abnormalitas hormone juga terjadi, termasuk gangguan pelepasan dan kadar gonadotropin, penurunan kadar estrogen, korpus luteum yang tidak adekuat, dan anovulasi komplit. Abnormalitas muncul paling sering ketika olahraga paling intens atau ketika latihan menjadi lebih keras. Mekanisme iregularitas menstruasi yang berhubungan dengan olahraga berat belum diketahui. Diperkirakan olahraga menyebabkan perubahan prolaktin dan endorphin yang memengaruhi fertilitas. 9

 

  1. Berat Badan

Jika berat badan berlebih, siklus ovulasi dapat terpengaruh. Sel lemak mengkonversi lemak menjadi estrogen yang membuat sebuah tipe estrogen cadangan yang dapat mengganggu ovulasi. Wanita obese dapat meningkatkan risiko keguguran dan mengurangi keberhasilan terapi fertilitas. Pria obese tiga kali lebih sedikit jumlah spermanya dibandingkan dengan yang normal. Selain itu, motilitas sperma juga menurun seiring dengan bertambahnya IMT.

Wanita yang underweight juga membahayakan kesehatan reproduksinya. Suatu studi menunjukan ketika konsumsi kalori kurang dari yang digunakan tubuh untuk energi, ini dapat berpengaruh pada produksi estrogen dan progesteron, serta dapat menyebabkan kehilangan periode menstruasi temporer atau permanen.

 

  1. Stress

Interaksi dengan sekitar dapat menyebabkan perubahan yang menganggu fertilitas, tetapi hubungan fertilitas dengan stress sangat sulit dibuktikan pada manusia. Masukan dari sistem limbic dan pusat otak lainnya memengaruhi hipotalamus, hipofisis, dan aksis neurohormonal yang mengatur aspek fisik dan perilaku reproduksi. Sistem yang rumit ini memberikan cukup banyak kesempatan bagi stress untuk mengganggu homeostasis individu. Dalam decade terakhir, 40-50% infertilitas berhubungan dengan factor stress dan emosional. Pada manusia, bukti menunjukan bahwa stress emosional ringan sampai berat mengubah perilaku seksual, mengganggu ovulasi, menekan testosterone, dan mungkin mengganggu spermatogenesis.9

  1. Bahan Kimia dan Obat-obatan

Obat-obatan terlarang berdampak pada fertilitas. Marijuana menekan aksis hipotalamus-hipofisis-gonad pada pria dan wanita, dan kokain dapat merusak spermatogenesis. Logam berat dan pestisida juga harus dihindari karena keduanya menurunkan tingkat fertilitas dan meningkatkan risiko keguguran berulang.6

Daftar Pustaka

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Infertility. Diunduh dari http://www.cdc.gov/reproductivehealth/infertility/ . Diakses 27 Oktober 2011.
  2. Bader TJ. Ob/gyn secrets. New York: Elsevier; 2007.
  3. Speroff L, Glass RH, Kase NG. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. 7th USA: Lippincott Williams & Wilkins; 2005.
  4. American Society for Reproductive Medicine. Age and fertility. Diunduh dari http://asrm.org/uploadedFiles/ASRM_Content/Resources/Patient_Resources/Fact_Sheets_and_Info_Booklets/agefertility.pdf. Diakses 27 Oktober 2011.
  5. Achermann JC , Jameson JL. Fertility and infertility: Genetic contribution from the hypothalamic-pituitary-gonadal axis. Molecular Endocrinology June 1, 1999 13 no. 6 812-8.
  6. Schorge JO, et al. Williams gynecology. Philadelphia: The McGraw-Hill Companies; 2008.
  7. Smoking and fertility. Diunduh dari http://www.monashivf.edu.au/site/DefaultSite/filesystem/documents/smoking-fertility.pdf. Diakses 28 Oktober 2011.
  8. Acubalance Wellness Centre. Acubalance fertility diet. Diunduh dari http://www.acubalance.ca/files/handouts/FertilityDiet.pdf. Diakses 28 Oktober 2011.
  9. S Congress. Infertiliti, medical, and social choices. Washington DC: Diane Publishing; 2001.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.