Anatomi Sistem Respirasi

Artikel ini sudah dibaca 33101 kali!

Oleh Nur Atikah

Sistem respirasi terdiri dari hidung, faring (tenggorokan), laring (kotak suara), trakea, bronkus, dan paru-paru. Bagian-bagiannya dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur dan fungsinya. Secara structural, sistem respirasi terdiri dari sistem pernapasan atas, yaitu hidug, farin, dan struktur yang terkait, dan sistem pernapasan bawah, yaitu laring, trakea bronkus, dan paru-paru. Secara fungsional, sistem respirasi terdiri dari 2 bagian, yaitu zona konduksi yang terdiri dari rangkaian interkoneksi rongga dan tabung baik di luar ataupun di dalam paru-paru. Ini termasuk hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan bronkiolus terminal yang fungsinya untuk menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara dan menghubungkannya ke dalam paru-paru. Zona kedua adalah zona respiratori yang terdiri dari jaringan di dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas. Ini termasuk bronkiolus respiratori, duktus alveolar, kantung alveolar, dan alveoli yang mereka merupakan tempat utama pertukaran gas antara air dan darah.

Anatomi Organ Respirasi Bagian Anterior
Anatomi Organ Respirasi Bagian Anterior

Hidung

Hidung dibagi menjadi bagian eksternal dan internal. Hidung eksternal merupakan bagian dari hidung yang terlihat pada wajah dan terdiri dari kerangka penunjang tulang dan kartilago hialin yang dilingkupi dengan otot dan kulit, dan dibatasi oleh membrane mukosa. Rangka tulang hidung eksternal dibentuk dari tulang frontalis, tulang nasale, dan maksilae. Rangka kartilago hidung eksternal terdiri dari kartilago septi nasi yang membentuk bagian anterior septum nasalis, kartilago nasi lateralis yang terletak inferior ke tulang nasale, dan kartilago ala nasi yang membentuk dinding nostril. Di permukaan inferior hidung terdapat dua pintu masuk yang disebut nares atau nostril.

Anatomi Tulang pada Hidung
Anatomi Tulang pada Hidung

Struktur inferior hidung eksternal memiliki 3 fungsi, yaitu:

  • Menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara yang masuk
  • Mendeteksi stimulus olfaktori
  • Memodifikasi vibrasi suara ketika melewati ruang yang besar beresonasi.
Anatomi Hidung Potongan Sagital
Anatomi Hidung Potongan Sagital

Hidung internal merupakan suatu rongga besar di anterior tulang yang membentang inferior ke os nasale dan superior mulut. Secara anterior, hidung internal berbatasan dengan hidung eksternal, dan di posterior berhubungan dengan faring melalui dua pintu bernama nares internal atau choana. Sinus paranasalis adalah rongga-rongga di tulang cranium dan wajah tertentu yang dibatasi membrane mukosa yang berlanjut dengan rongga hidung. Sinus ini terdiri dari sinus frontalis, ethmoidalis, sphenoidalis, dan maksilaris. Fungsi sinus-sinus ini tidak diketahui pasti; sinus meringankan tulang tengkorak dan menambah resonansi suara.

Lantai hidung dibentuk oleh palatum yang memisahkan rongga hidung dari rongga mulut di bawahnya. Di anterior, di mana palatum disokong oleh processuss maksilaris dan tulang palatum, dinamakan palatum durum (hard palate). Di posterior yang tidak disoking adalah otot palatum molle (soft palate).

Rongga hidung memiliki 3 regio, yaitu:

  • Vestibulum : sebuah pelebaran tepat di sebelah dalam nares yang dilapisi kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk menahan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap
  • Penghindu : di sebelah cranial; dimulai dari atap rongga hidung meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi di hadapan concha tersebut. Region ini terdiri dari reseptor bau.
  • Pernapasan : bagian rongga hidung selebihnya

Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi, yaitu concha nasalis puperior, medius, dan inferior. inferolateral terhadap masing-masing concha nasalis ini terdapat meatus nasi yang sesuai. Susunan concha dan meatus meningkatkan area permukaan hidung internal dan mencegah dehidrasi dengan menangkap tetesan air selama ekshalasi.

Faring

Faring atau tenggorokan adalah sebuah pipa muskulomembranosa, panjang 12-14 cm, membentang dari basis crania sampat setinggi vertebra C6 atau tepi bawah kartilago cricoidea. Faring membentang posterior dari rongga hidung dan mulut, superior dari laring, dan anterior vertebra cervicalis. Dindingnya terdiri dari otot rangka dan dibatasi membrane mukosa. Kontraksi otot rangka membantu menelan. Fungsi laring sebagai jalan untuk udara dan makanan, memberika ruang resonansi untuk suara, dan tempat tonsil yang berperan dalam reaksi imunologis melawan benda asing.

Faring dapat dibagi menjadi 3 daerah anatomis:

  1. Nasofaring

Nasofaring merupakan bagian superior dari faring, membentang posterior dari rongga hidung dan meluas ke palatum molle. Terdapat 5 bukaan pada dindingnya, yaitu dua nares internal, dua bukaan ke tuba auditorius (tuba eustachius), dan bukaan ke orofaring. Nasofaring dan orofaring berhubungan melalui isthimus praringeum yang dibatasi tepi palatum molle dan dinding posterior faring. Sewaktu proses menelan dan ebrbicara, isthimus pharingeum akan terturup oleh elevasi palatum molle dan pembentukan lipatan Passavant di dinding dorsal faring. Dinding posteriornya terdiri dari tonsil faringeal (adenoid).

  1. Orofaring

Orofaring merupakan bagian tengah dari faring, membentang dari posterior rongga mulut dan meluas dari palatum molle inferior ke tulang hyoid. Orofaring hanya memiliki 1 bukaan, yaitu faucium (isthimus orofaringeum), bukaan dari mulut. Bagian faring ini memiliki fungsi respirasi dan digestif, terdapat dua pasang tonsil, yaitu tonsila palatine dan lingual.

  1. Laringofaring

Laringofaring adalah bagian inferior dari faring, dimulai dari tulang hyoid. Pada ujung inferiornya, laringofaring terbuka ke esophagus di posterior dan laring di anterior. Laringofaring juga sebagai jalur respirasi dan digesti.

Laring

Laring atau kotak suara adalah jlur pendek yang menghubungkan laringofaring dengan trakea. Dia membentang di midline leher anterior ke esophagus dan vertebra C4-C6. Dinding laring dibentuk dari 9 cartilago. Terdiri dari kartilago thyreoidea, kartilago cricoidea, dan kartilago epiglottis yang masing-masing satu buah; serta kartilago arytaenoidea, kartilago cuneiforme, dan kartilago corniculatum yang masing-masing sepasang.

LaringKartilago thyreoidea (Adam’s apple) merupaka tulang rawan laring terbesar, terdiri dari dua lamina kartilago hyaline yang menyatu yang membentuk dinding anterior laring, membuat bentuk segitiga. Ini terdapat pada laki-laki dan perempuan, tetapi biasanya lebih besar pada laki-laki karena pengaruh hormone seks laki-laki saat pertumbuhan selama pubertas.

Epiglottis merupakan kartilago elastic berbentuk daun yang ditutupi dengan epitel. Batang epiglottis meruncing ke inferior yang menempel ke tepi anterior kartilago thyroid dan tulang hyoid. Daun superior epoglotis tidak menempel dan bebas maju ke atas dan bawah. Selama menelan, faring dan laring terangkat. Elevasi faring memperluas faring untuk menerima makanan, sedangkan elevasi laring menyebabkan epiglottis bergerak ke bawah dan menutupnya. Glottis terdiri dari sepasang lipatan membrane mukosa, lipatan vocal (true vocal cords) di laring, dan ruang antara mereka yang disebut rima glottidis. Kartilago cricoids merupakan cincin kartilago hyaline yang membentuk dinding inferior laring. Kartilago ini merupakan tanda untuk membuat jalan napas darurat bernama tracheotomy.

Kartilago arytenoids berbentuk triangular yang sebagian besar kartilago hyaline. Dia berlokasi di batas posterior, superior dari kartilago cricoids. Kartilago corniculatum yang merupakan kartilago elastic berbentuk tanduk, berlokasi di apeks dari tiap kartilago arytenoids. Cartilago cuneiforme merupakan kartilago elastic di anterior kartilago curniculatum, menyokong lipatan vocal dan epiglottis lateral.

Trakea

Trakea atau pipa udara adalah suatu jalur tubular untuk udara sepanjang 12 cm dan berdiameter 2,5 cm. trakea berlokasi di anterior esophagus dan meluas dari laring ke batas superior vertebra T5, di mana dibagi menjadi bronkus utama kanan dan kiri. Lapisan dinding trakea dari dalam ke luar adalah mukosa, submukosa, kartilago hyaline, dan adventisia. Trakea memiliki 16-20 cincin tulang rawan hyaline yang masing-masing membentuk gambaran huruf U, yang membatasi 2/3 bagian anterior.

TrakeaKarena elemen elastiknya, trakea dapat cukup fleksibel untuk meregang dan bergerak inferior selama inspirasi dan recoil selama ekspirasi, tetapi cincin kartilago mencegahnya kolaps dan menjaga jalan napas paten walaupun tekanan berubah selama bernapas. Bagian posterior yang terbuka dari cincin kartilago yang berbatasan dengan esophagus dihubungkan dengan serat otot polos dari otot trakealis dan dengan jaringan ikat lunak. Karena bagian dinding trakea sebelah sini tidak rigid, esophagus dapat mengembang ke anterior ketika menelan makanan yang melaluinya.

Bronkus

Di batas superior vertebra T5, trakea terbagi menjadi bronkus utama kanan yang masuk ke paru kanan, dan bronkus utama kiri yang masuk ke paru kiri. Bronkus utama kanan lebih vertikal, lebih pendek, dan lebih luas dibandingkan dengan yang kiri. Seperti trakea, bronkus utama terdiri dari cincin kartilago yang tidak komplit. Pada titik di mana trakea terbagi menjadi bronkus utama kanan dan kiri, terdapat carina yang dibentuk dari proyeksi posterior dan inferior kartilago trakea terakhir. Membrane mukosa carina merupakan salah satu area paling sensitive dari seluruh laring dan trakea untuk memicu refleks batuk.

Bronkus
Bronkus

Paru-paru

Paru-paru merupakan sepasang organ berbentuk kerucut di rongga toraks. Keduanya dipisahkan oleh hati dan struktur lain di mediastinum. Setiap paru ditutup dan dilindungi oleh membrane serosa lapis dua bernama membrane pleura. Lapisan superficial disebut pleura parietal yang berbatasan dengan rongga toraks, lapisan dalam disebut pleura visceral yang menutupi paru-paru. Di antara pleura parietal dan visceral terdapat ruang kecil bernama rongga pleura yang mengandung sedikit cairan lubrikan yang disekresikan oleh membrane. Cairan pleura ini mengurangi friksi antara membrane.

Paru (Tampak Lateral)
Paru (Tampak Lateral)
Paru (Tampak Medial)
Paru (Tampak Medial)

Bagian inferior yang luas dari paru, basis, berbentuk cekung dan cocok di atas daerah cembung diafragma. Bagian superior paru yang sempit adalah apeks. Permukaan paru-paru membentang terhadap tulang rusuk, permukaan costalis, sesuai dengan kelengkungan tulang rusuk. Permukaan mediastinalis dari tiap paru berisi hilus yang dilalui bronkus, pembuluh darah paru, pembuluh limfa, dan nervus.

Di medial, paru kiri terdapat cekungan, cardiac notch, tempat di mana ada jantung. Karena ruang yang ditempati jantung, paru kiri 10% lebih kecil daripada paru kanan. Walaupun paru kanan lebih tebal dan lebih luas, dia juga lebih pendek daripada paru kiri karena diafragma lebih tinggi di sisi kanan untuk mengakomodasi hati yang ada di inferiornya.

Setiap paru dibagi oleh 1 atau 2 fissura. Kedua paru-paru mempunyai sebuah fissure oblik yang memanjang inferior dan anterior. Paru kanan juga memiliki fissure horizontal. Fissure oblik di paru kiri memisahkan lobus superior dengan lobus inferior. di paru kanan, bagian superior dari fissure oblik memisahkan lobus superior dengan lobus inferior; bagian inferior dari fissure oblik memisahkan lobus inferior dengan lobus medius yang berbatasan dengan fissure horizontal di superior.

Setiap lobus menerima bronkus sekunder, jadi bronkus utama kanan memberi 3 bronkus sekunder (bronkus superior, media, dan inferor), dan bronkus utama kiri memberi 2 bronkus sekunder (bronkus superior dan inferior). Di dalam paru, bronkus sekunder bercabang menjadi bronkus tersier/segmentorum (terdapat 10 bronkus tersier di tiap paru) yang masing-masing bercabang lagi menjadi segmen bronkopulmonalis. Selanjutnya, masing-masing bronkus segmentorum memberikan 20-25 percabangan dan akhirnya menjadi bronkus terminalis. Masing-masing bronkus terminalis bercabang banyak menjadi bronkiolus respirasi dan masing-masing bronkiolus respirasi mempercabangkan 2-11 duktus alveolaris. Masing-masing duktus alveolaris mempercabangkan 5-6 saccus alveolaris.

Alveolus
Alveolus

 

Supply Darah ke Paru-Paru

Paru-paru menerima darah melalui 2 set arteri, yaitu arteri pulmonalis dan arteri bronkialis. Darah deoksigenasi mengalir melalui trunkus pulmonalis, yang dibagi menjadi arteri pulmonalis kanan dan arteri pulmonalis kiri. Kembalinya darah oksigenasi ke jantung terjadi melalui 4 vena pulmonalis yang masuk ke atrium kiri. Arteri bronkialis yang merupakan cabang aorta, mengantarkan darah oksigenasi ke paru-paru. Darah ini melakukan perfusi ke dinding muscular bronkus dan bronkiolus.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of anatomy and physiology: The respiratory system. 12th USA: John Wiley & Sons Inc; 2009. p. 875-89.
  2. Marieb EN, Hoehn K. Human anatomy & physiology: The respiratory system. 7th [e-book]
  3. Gunardi S. Anatomi sistem pernapasan. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 5-89.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.