Batuk

Artikel ini sudah dibaca 32532 kali!

Oleh Oviliani Wijayanti dan Riska Wahyuningtyas

Batuk memiliki fungsi protektif terhadap saluran napas dan paru manusia. Tanpa refleks batuk yang memadai, terjadi retensi sekret saluran napas dan peningkatan risiko aspirasi. Batuk seringkali, meski tidak selalu, merupakan petunjuk suatu penyakit pada sistem pernapasan.1

Mekanisme Batuk

Batuk dapat bersifat volunter maupun refleks. Refleks batuk sebagai fungsi perlindugan dipicu oleh stimulasi ujung saraf oleh bahan kimia (asam, kapsaisin) maupun mekanik (polutan, suhu). Suatu kanal ion kationik, yaitu transient receptor potential vanilloid tipe 1 (TRPV1) dan transient receptor potential ankyrin tipe 1 (TRPA1) yang terdapat pada rapidly adapting receptors dan serat tipe C, diduga berperan dalam mekanisme timbulnya batuk. Serabut saraf aferen banyak ditemukan pada faring, laring, hingga bronkiolus terminalis, di samping meatus akustikus eksterna (cabang aurikular n. vagus), perikardium, esofagus, dan lambung. Sinyal aferen diteruskan lewat n. vagus, n. laringeal superior, n. trigeminal, dan n. glosofaringeal ke pusat batuk di nukleus traktus solitarius. Setelah dipersepsikan, pusat batuk mengirim sinyal eferen melalui saraf-saraf laringeal dan saraf spinal ke berbagai efektor, di antaranya pita suara, otot-otot ekspiratorius, dan otot polos bronkial.1

Skema Refleks Batuk

Skema Mekanisme Refleks Batuk

 Sumber: Silvestri RC, Weinberger SE. Evaluation of subacute and chronic cough in adults. Wolters-Kluwers Health Inc UptoDate®.

 2.1.2.      Klasifikasi

Berdasarkan durasinya, batuk dibedakan menjadi golongan, yaitu batuk akut (kurang dari 3 minggu), subakut (3-8 minggu), dan kronik (lebih dari 8 minggu).

2.1.3.      Diagnosis

Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang menjadi landasan pendekatan pada pasien dengan batuk. Pertanyaan yang perlu diajukan dalam anamnesis meliputi:

  • Onset batuk (akut, subakut, atau kronik),
  • Tanda infeksi pada onset,
  • Muncul bergantung musim, cuaca, dan disertai mengi,
  • Disertai tanda-tanda post-nasal drip (berdehem, sekret hidung, tenggorokan gatal) atau refluks gastroesofageal (rasa terbakar pada tengah dada atau naiknya asam ke kerongkongan),
  • Adanya demam dan dahak serta karakteristiknya,
  • Penyakit penyerta atau faktor risiko (merokok, risiko infeksi HIV, paparan lingkungan),
  • Konsumsi obat, terutama ACE-I.1-3

Pemeriksaan fisik umum bertujuan mencari petunjuk lain, seperti iritasi membran timpani, gambaran mukosa rongga hidung dan dinding faring, serta jari tabuh. Pemeriksaan fisik umum ini penting, mengingat batuk dapat merupakan gejala penyakit di luar sistem pernapasan. Auskultasi dada dapat menunjukkan stridor inspirasi (menggambarkan gangguan saluran napas atas), ronki atau mengi ekspirasi (menandakan gangguan saluran napas bawah), maupun ronki basah (menunjukkan gangguan parenkim paru, misalnya pneumonia atau gagal jantung kongestif).1

Pemeriksaan penunjang sederhana yang membantu penegakan diagnosis batuk meliputi foto toraks, uji fungsi paru, dan pemeriksaan sputum. Foto toraks bermanfaat menunjukka massa intratorakal, opaksifikasi lokal parenkim paru, ataupun penyakit interstisial/alveolar difus. Gambaran honeycomb atau kista merujuk pada bronkiektasis, sementara adenopati hilar bilateral simetris mengarah pada sarkoidosis. Uji fungsi paru berguna untuk menggambarkan abnormalitas fungsional obstruktif maupun restriktif. Pemeriksaan sputum, baik secara makroskopik maupun mikroskopik, dapat memberi gambaran penyebab batuk. Sputum purulen merupakan tanda bronchitis kronik, brokiektasis, pneumonia, atau abses paru. Darah dalam sputum dapat menandakan infeksi maupun tumor endobronkial. Pemeriksaan Gram, BTA, dan kultur dapat memastikan mikroorganisme penyebab infeksi. Terakhir, sitologi sputum dapat mengonfirmasi keganasan paru.1

Batuk akut berdurasi kurang dari 3 minggu, umumnya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, aspirasi, atau inhalasi bahan kimia tertentu. Batuk dapat pula menjadi gejala kondisi yang membahayakan, seperti emboli paru, gagal jantung kronik, atau pneumonia.

batuk akut

 Alur Diagnosis Batuk Akut

 Sumber: Irwin RS, Baumann MH, Boulet LP, Braman SS, Brown KK, Chang AB. Diagnosis and management of cough executive summary: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006;129:1S-23S.

Batuk subakut berdurasi 3-8 minggu, biasanya merupakan sisa trakeobronkitis seperti pada pertusis atau sindrom tusif postviral. Batuk yang merupakan sisa dari infeksi biasanya disebabkan oleh postnasal drip, iritasi saluran napas atas, akumulasi mukus, atau bronki hiperresposif terkait asma.

batuk subakut

Alur Diagnosis Batuk Subakut

 Sumber: Irwin RS, Baumann MH, Boulet LP, Braman SS, Brown KK, Chang AB. Diagnosis and management of cough executive summary: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006;129:1S-23S.

 Batuk kronik berdurasi lebih dari 8 minggu, dapat disebabkan berbagai etiologi dari penyakit kardiopulmonal, baik infeksi, inflamasi, neoplastik, maupun kardiovaskular. Pada temuan pemeriksaan fisik dada dan foto toraks normal, dicurigai terdapat asma tipe batuk, refluks gastroesofageal (stimulasi n. vagus di esofagus oleh asam), drainase nasofaringeal, atau obat angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-I, terjadi pada 5-20% pasien yang mengonsumsi golongan obat ini, umumnya muncul 1 minggu sampai 6 bulan sejak awal pemakaian). Terlepas dari penyebabnya, batuk biasanya memburuk ketika berbaring pada malam hari, berbicara, atau aktivitas fisik, kecuali pada pertusis dan asma.1-3

batuk kronik

Alur Diagnosis Batuk Kronik

Sumber: Irwin RS, Baumann MH, Boulet LP, Braman SS, Brown KK, Chang AB. Diagnosis and management of cough executive summary: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006;129:1S-23S.

Terapi

Terapi batuk dibedakan menjadi terapi definitif dan simtomatik. Menjauhkan diri dari paparan agen seperti rokok dan ACE-I atau mengontrol postnasal drip dan refluks gastroesofageal merupakan langkah efektif pada batuk yang disebabkan faktor-faktor tersebut. Bentuk terapi lain mencakup penggunaan antibiotik, bronkodilator, glukokortikoid, fisioterapi dada, maupun terapi tumor dan penyakit interstisial.2

Pada batuk akut yang berlangsung kurang dari seminggu, jika tidak ditemukan kondisi lain, terapi menyasar pada common cold menggunakan antihistamin generasi pertama dan dekongestan. Antibiotik dipertimbangkan jika batuk tetap bertahan selama lebih dari seminggu. Pada batuk subakut, dipikirkan terjadi paparan terus-menerus pada alergen atau agen iritatif, atau terjadi infeksi berkepanjangan. Jika batuk bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, terapi simtomatik berupa inhalasi ipratropium atau kortikosteroid dapat diberikan. Jika gejala berat hingga mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, pertimbangkan pemberian singkat prednison 30-40 mg per hari. Jika tidak berhasil, pertimbangkan pemberian dekstrometorfan atau kodein.2

Pada batuk kronik, terapi empiris kerap menjadi pilihan terapi sekaligus diagnostik, dimulai dari kombinasi antihistamin-dekongestan, glukokortikoid nasal, atau ipratropium asal. Jika tidak berhasil, pertimbangkan terapi empiris untuk asma, bronkitis eosinofilik nonasmatik, dan refluks gastroesofageal.1

Terapi simtomatik diberikan jika penyebab batuk tidak diketahui, pengobatan spesifik tidak terjangkau, batuk tidak efektif, atau batuk mengganggu kenyamanan.1 Batuk nonproduktif ditekan dengan obat antitusif yang meningkatkan ambang rangsang di pusat batuk, di antaranya kodein fosfat 15-30 mg setiap 6 jam atau dekstrometorfan 15-30 mg setiap 4-6 jam, atau obat antitusif yang bekerja di perifer yang bekerja dengan menutup reseptor iritan da saluran napas, misalnya benzonatat atau anestesi topikal. Batuk produktif ditangani dengan obat mukolitik, seperti larutan asetilsistein 20% sebanyak 3-5 mL yang diuapkan dalam nebuliser setiap 4-6 jam.4

Referensi

  1. Kritek P, Fanta C. Cough and hemoptysis. In: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J, editors. Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. New York: McGraw-Hill; 2012 .p.282-6.
  2. Irwin RS, Baumann MH, Boulet LP, Braman SS, Brown KK, Chang AB. Diagnosis and management of cough executive summary: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006;129:1S-23S.
  3. Coughlin L. Cough: diagnosis and management. Am Fam Physician. 2007;75(4):567-575.
  4. Amin Z. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan kelainan sistem pernapasan. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II. Ed 5. Jakarta: InternaPublishing; 2009. h.969-73.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.