Pengaruh Olahraga terhadap Metabolisme Trigliserida

Artikel ini sudah dibaca 9322 kali!

Disusun oleh Johny Bayu Fitantra

Trigliserida (TG) yang bersirkulasi dalam darah memiliki peranan dalam transport lemak menuju ke jaringan, yaitu jaringan adiposa untuk penyimpanan energi dan ke otot untuk produksi energi. Beberapa jam setelah makan, sekitar 50-70% TG plasma dibawa dalam bentuk very low-density lipoporotein (VLDL). Sisanya dalam bentuk low dan high-density lipoprotein (LDL dan HDL).

Kadar TGA yang tinggi dalam darah atau suatu kondisi hipertrigliseridemia berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner baik pada pria maupun wanita. Oleh karena itu, upaya penurunan kadar TG penting dalam mengurangi resiko penyakit jantung tersebut. Sementara itu, saat ini diketahui bahwa orang-orang yang melakukan olahraga secara teratur memiliki kadar TG darah yang lebih rendah dibandingkan mereka yang hidup secara sedenter.

Exercise kronis ternyata tidak dapat menjaga penurunan kadar TG. Jika exercise atau olahraga tidak dilanjutkan selama 2-3 hari pada orang-orang yang berolahraga dengan baik sebelumnya dapat terjadi peningkatan kembali dari kadar TG plasma. Oleh karena itu, olahraga harus tetap dijalankan secara teratur setidaknya setiap 3 hari supaya kadar TG tetap terjaga.

Kondisi hipotrigliseridemia yang dipicu olahraga bersifat akut dan bertahan dalam jangka waktu pendek. Dalam penelitian didapatkan bahwa kondisi hipotrigiseridemia tersebut terjadi dalam 12 hingga 18 jam pasca olahraga dan bertahan selama 2-3 hari. Penurunan trigliserida tersebut disebabkan oleh turunnya konsentrasi TG dalam bentuk VLDL serta karena dibutuhkannya sejumlah energi selama olahraga. Namun, besarnya energi yang dikeluarkan tersebut ternyata memiliki ambang batas tertentu yang tidak tergantung dengan durasi dan intensitas dari olahraga. Oleh karena itu, lebih banyak olahraga di atas ambang batas tersebut tidak akan memberikan penurunan kadar plasma TG lebih banyak lagi. Dalam kondisi tersebut, kadar plasma TG berada dalam kondisi plateau.

Dalam suatu penelitian didapatkan bahwa terjadi peningkatan pembersihan atau clearance VLDL dari plasma saat dilakukan olahraga aerobik dengan intensitas sedang (120 menit pada 60% uptake oksigen maksimal). Sementara itu, sekresi VLDL pada hati tidak mengalami perubahan berarti. Pada pria didapatkan bahwa sekresi VLDL oleh hati tidak tergantung pada tipe olahraga, durasi, intensitas atau pengeluaran energi total. Data lain menunjukan bahwa clearance VLDL yang diinduksi oleh olahraga terjadi setelah 90 menit, tetapi tidak terjadi setelah 60 menit olahraga arerobik intensitas sedang maupun sesudah 90 menit olahraga dengan intensitas rendah. Dalam hal ini ditunjukan bahwa dibutuhkan intensitas olahraga yang cukup untuk bisa memberikan efek peningkatan clearance dari VLDL tersebut.

Plateau pada peningkatan clearance VLDL terjadi pada 40% di atas nilai istirahat serta membutuhkan setidaknya 500-600 kcal yang dikeluarkan. Di atas itu, clearance tersebut tidak berubah. Jadi, penambahan olahraga di atas ambang tersebut tidak memberikan manfaat tambahan dalam meningkatkan clearance VLDL.

Namun, secara gender, ternyata didapatkan kondisi yang berbeda antara pria dan wanita. Pada wanita, clearance dari VLDL tersebut ternyata dapat lebih tinggi dibandingkan pria serta menjaga konsentrasi TG plasma yang lebih rendah pula. Olahraga yang sama memberikan efek yang lebih kecil pada wanita dalam hal clearance VLDL yaitu sebesar 20% di atas nilai istirahat dibandingkan dengan pria yang sebesar 40% di ayas nilai istirahat. Sementara itu, pada wanita ternyata terdapat penurunan sekresi VLDL dari hati yang mana pada pria tidak ada. Pada saat isirahat, sekresi dan clearance VLDL pada wanita memang lebih tinggi daripada pria. Dengan begitu, terdapat lebih sedikit kesempatan bagi peningkatan clearance VLDL.

Dari jenisnya, olahraga yang bersifat resistance seperti bench press, shoulder press, leg press, leg press, knee extension, rowing, hip flexion dan extention, chin-ups, lebih poten dibandingkan dengan olahraga endurance. Pada jenis olahraga tersebut, dibutuhkan keluaran energi yang lebih rendah untuk bisa memicu hipotrigliseridemia.

 

Referensi:

Magkos F. How Does Exercise Affect Lipid Metabolism? Exercise for Preventing Hypertriglyceridemia. 2013. Diunduh dari http://www.medscape.com/viewarticle/807468_1.

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.