Artikel ini sudah dibaca 37136 kali!

Pada stadium awal, sirosis sering bersifat asimptomatik sehingga baru diketahui ketika pasien berobat untuk pemeriksaan kesehatan rutin atau penyakit lainnya.  Gejala awal sirosis meliputi perasaan mudah lelah, nafsu makan turun, perut kembung, dan penurunan berat badan.  Pada pria, bisa menimbulkan impotensi, testis mengecil, ginekomastia, dan hilangnya dorongan seksual.  Hipetensi portal, kegagalan hati, hilangnya rambut, gangguan tidur, dan demam tidak terlampau tinggi dapat ditemukan pada tahapan lanjut.   Terkadang disertai gangguan pembekuan darah, siklus haid, ikterus, melena, dan perubahan mental yang mencakup mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi, sampai koma.1

Spider Nevi1

Atau disebut juga spider angio maspiderangiomata (spider telangiektasi) adalah lesi vaskular non-neoplastik yang tersusun dari arteri atau arteriol melebar, radial, sering berdenyut, dan mengelilingi suatu sentral.  Lesi akan pucat sewaktu bagian tengah ditekan.  Mekanisme terjadinya belum diketahui, tetapi diduga ada kaitan dengan peningkatan rasio estradiol atau testosterone bebas.  Biasanya ditemukan pada bahu, muka, dan lengan atas.  Tidak hanya pada pasien sirosis, spider nevi juga terjadi pada wanita hamil, malnutrisi berat, atau bahkan orang sehat meski ukuran lesi kecil.

Shifting dullness1,2,3,4

Shifting dullness mendeskripsikan suara pekak yang berpindah-pindah pada saat perkusi akibat adanya cairan bebas di dalam rongga abdomen.  Cairan bebas dalam rongga abdomen tersebut disebut asites.  Asites disebabkan oleh hipertensi portal dan hipoalbuminemia.  Tidak hanya asites, hipertensi porta juga dapat bermanifestasi  menjadi caput medusa.

Hipertensi porta pada sirosis disebabkan oleh resistensi terhadap aliran aliran porta di tingkat sinusoid dan penekanan vena sentralis oleh fibrosis perivenula dan ekspansi nodul parenkim.  Asites, manifestasi hipertensi porta, baru tampak bila terjadi penimbunan paling sedikit 500 mL.  Cairan yang terakumulasi bisa berliter-liter dan mengandung serosa, protein albumin, zat terlarut seperti glukosa, natrium, dan kalium.  Patogenesis asites melalui mekanisme:

1)hipertensi sinusoid mendorong cairan keluar melalui pembuluh limfa hati,

2)aliran limfa hati ke dalam rongga peritoneum dengan kapasitas 20L/ hari (normal: 0,8-1 L/hari),

3)peningkatan resistensi diimbangi dengan vasodilatasi splanchnic bed oleh vasodilator endogen ( NO, CGRP, endotelin, VIP, substansi P, dan lain-lain) menyebabkan hipertensi porta bersifat menetap.  Secara keseluruhan, tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan aktivitas simpatik, sistem renin-angiostensin-aldosteron, dan arginin vasopresin.  Akibatnya, terjadi peningkatan reabsorpsi air dan garam oleh ginjal serta peningkatan indeks jantung.

Ikterus1,4

Ikterus disebabkan oleh bilirubinemia.  Bila konsentrasi bilirubin di bawah 2-3 mg/dL tidak akan terlihat, dengan angka normal pada orang dewasa 1,2 mg/dL.  Bilirubin adalah produk akhir penguraian hem, yang berasal dari eritrosit yang tua dan peputaran hemoprotein hati.  Pembentukan bilirubin meliputi:

1)penyerapan yang diperantarai oleh pembawa di sinusoid,

2)pengikatan ke protein sitosol lalu disalurkan ke retikulum endoplasma,

3)konjugasi dengan  satu atau dua molekul asam glukoronat dengan bantuan enzim UGT1A1,

4)ekskresi bilirubin glukuronida  larut air ke empedu.  Nantinya, dekonjugasi bilirubin glukuronida terjadi atas bantuan enzim β glukuronidase bakteri usus dan diuraikan menjadi urobilinogen yang tidak berwarna.  Selanjutnya, urobilinogen diekskresikan melalui feses dan 20%-nya akan diserap lalu dikembalikan ke hati dan diekskresikan ke dalam empedu.  Sebagian kecil yang lolos dari siklus enterohepatik  akan diekskresikan melalui urin.

Ikterus terjadi akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi dan bilirubin glukuronida di jaringan.  Bilirubin tak terkonjugasi tidak larut air sehingga tidak dapat dikeluarkan melalui urin.  Sejumlah kecil beredar di plasma sebagai anion bebas albumin sehingga dapat berdifusi ke dalam otak bayi dan bersifat toksik.  Hiperbilirubinemia jenis ini ditemukan dalam penyakit hepatoseluler difus akibat hepatitis virus, obat, atau sirosis. Di lain sisi, hiperbilirubinemia akibat bilirubin terkonjugasi dapat dikeluarkan melalui urin dan nontoksik.  Dengan demikian, ikterus terjadi akibat ketidakseimbangan produksi dan pengeluaran bilirubin dengan mekanisme di bawah ini:*

1)produksi bilirubin berlebihan

2)penurunan penyerapan oleh hati

3)gangguan konjugasi

4)penurunan ekskresi hepatoseluler

5)gangguan aliran empedu

*no 1-3 penyebab hiperbilirubinemia tak terkonjugasi, 4-5 penyebab hiperbilirubinemia terkonjugasi.

Bunyi Bruit5,6,7

Bruit berarti kebisingan dalam bahasa Prancis, adalah suara abnormal arteri atau lumen pembuluh darah yang terdengar sebagai aliran turbulensi.  Bunyi bruit pada leher mencerminkan stenosis  dari arteri karotid.  Bisa juga ditemukan pada kondisi tertentu seperti anemia dan hipertiroidisme.  Bunyi ini akan meningkat ketika pasien inspirasi dan dalam posisi berdiri.  Sedangkan pada auskultasi hati, terdengar bunyi bruit arteri hepatika yang dibatasi oleh sistol atau sistol yang berlanjut ke diastol.  Hal ini bisa disebabkan oleh peningkatan aliran darah arteri ke liver, aliran arteriovena, atau obstruksi sebahagian di arteri.  Oleh karena tumor primer atau metastasis hati menerima aliran darah sebagian besar dari arteri hepatika, maka aliran darah akan meningkat.  Begitu pula dengan sirosis, yang menimbulkan bruit akibat obstruksi sebahagian aliran arteri oleh pertumbuhan nodul.

Eritema Palmaris1

Thenar dan hipothenar telapak tangan berwarna merah karena perubahan metabolisme hormon estrogen.  Oleh karena dapat dijumpai pada wanita hamil, arthritis rheumatoid, hipertiroidisme, dan keganasan hematologi, tanda ini bersifat tidak spesifik.

Muchrche1

Perubahan kuku berupa pita putih horizontal dipisahkan dengan warna normal kuku.  Mekanisme belum diketahui dan diduga akibat hipoalbuminemia.  Hal ini disebabkan oleh muchrche dapat dijumpai pada kondisi hipoalbuminemia lainnya seperti sindrom nefrotik.

Disusun oleh Herliani Dwi Putri Halim

Daftar Pustaka

1.Nurdjanah S. Sirosis hati. In Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5.  Jakarta: Interna Publishing; 2009, hlm. 669-70

2.Simadibrata M.  Pemeriksaan abdomen, urogenital dan anorektal.  In Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5.  Jakarta: Interna Publishing; 2009, hlm.72.

3.Hirlan. Asites.  In Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5.  Jakarta: Interna Publishing; 2009, hlm. 674-75.

4.Crawford JM.  Hati dan saluran empedu.  In Buku ajar patologi.  Edisi 7.  Jakarta: EGC; 2007, hlm.665-73.

5.Bruit definition.  Diunduh dari  http://www.medterms.com/script/main/ art.asp? articlekey =38528.  Diakses pada 8 Maret 2011, pk. 07.30

6.Kuntz E, Kuntz HD.  Hepatology principles and practice.  2nd ed.  Berlin: Springer Medizin Verlag; 2006, p.87.

7.Hardison JE.  Auscultation of the liver.  Diunduh dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/ NBK422/.  Diakses pada 8 Maret 2011, pk. 08.28.

 

 

Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan artikel-artikel terbaru kami!
Tagged on:
  • bayu

    nice pos