Pahami Jadwalnya, Lengkapi Imunisasinya

Artikel ini sudah dibaca 14166 kali!

disusun oleh Johny Bayu Fitantra

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Imunisasi merupakan salah satu strategi pencegahan penyakit yang sudah lama diterapkan di seluruh dunia. Dalam hal ini, penyakit yang dicegah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh suatu mikroorganisme tertentu. Cakupan imunisasi yang menyeluruh dalam masyarakat amat membantu dalam mengurangi kejadian suatu penyakit hingga dapat mengeradikasi penyakit tersebut. Salah satu penyakit yang saat ini sudah tidak ada lagi karena berhasilnya program imunisasi terhadap penyakit itu adalah variola atau penyakit cacar (bukan varisela atau cacar air). Polio juga menjadi penyakit yang angka kejadiannya saat ini sudah menurun drastis meskipun belum 100% tereradikasi. Hal tersebut terjadi karena tidak semua anak-anak, terutama di Indonesia, mendapatkan vaksin untuk polio.

Pada saat seseorang mendapatkan antigen vaksin, tubuh akan membentuk antibodi spesifik terhadap antigen tersebut. Misalnya adalah vaksin polio oral yang berisi virus hidup yang dilemahkan. Karena sudah dilemahkan, virus tersebut tidak menimbulkan penyakit polio. Apabila kemudian orang tersebut kembali mendapatkan antigen serupa (misalnya adalah virus polio yang hidup bebas dan tidak dilemahkan), tubuh akan membentuk antibodi yang spesifik dalam waktu yang relatif cepat serta afinitas yang tinggi. Dengan begitu, virus tersebut tidak akan berkembang dalam tubuh. Selain itu, tubuh akan menghasilkan sel-sel yang siap untuk menghasilkan antibodi-antibodi spesifik untuk melindungi tubuh terhadap infeksi kuman tertentu (sesuai dengan vaksinnya) yang menyerang di kemudian hari.

Vaksin secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu vaksin hidup (live attenuated) dan vaksin inaktif (inactivated). Contoh vaksin hidup yang dilemahkan adalah vaksin BCG, polio (oral), dan campak. Sementara itu, vaksin inaktif dapat berasal dari mikroba utuh atau pun bagian tertentu dari mikroba. Vaksin hidup yang dilemahkan dapat bereplikasi dan menimbulkan respons umum seperti infeksi alamiah dan sering kali dapat menimbulkan imunitas dengan pemberian 1 dosis. Sementara untuk vaksin yang inaktivasi, dapat dibutuhkan 2-5 dosis vaksin untuk mendapatkan kekuatan imun yang cukup kuat.

Dalam program imunisasi nasional, vaksin yang wajib diberikan pada anak adalah hepatitis B, BCG, DTP, polio dan campak. Selain vaksin tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia juga merekomendasikan pemberian vaksin Haemophillus influenza tipe B (Hib), pneumokokus, rotavirus, MMR, hepatitis A, influenza, tifoid, varisela dan human papiloma virus (HPV).

Berikut ini adalah gambaran jadwal imunisasi yang harus dijalani seorang anak secara umum. Semoga dapat membantu para ibu supaya tidak ada imunisasi yang terlewatkan. Konsultasikan pada dokter atau tenaga kesehatan yang memberikan imunisasi pada anak Anda untuk adanya kemungkinan penyesuaian jadwal karena kondisi tertentu pada anak Anda.

Awal Kelahiran

Vaksin hepatitis B merupakan vaksin yang paling awal diberikan pada seorang anak. Dalam 12 jam setelah lahir, vaksin tersebut semestinya sudah dapat diberikan. Selanjutnya, sebelum bayi yang lahir di rumah sakit dipulangkan, bayi tersebut diberi vaksin polio oral (diteteskan pada mulut bayi). Vaksin OPV (oral polio vaccine) ini diberikan sebelum pulang untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain.

Bulan pertama

Pada bulan pertama, vaksin yang diberikan adalah vaksin hepatitis B yang kedua. (Totalnya vaksin ini akan diberikan sebanyak 3 kali secara berkala. Jadi, vaksin kedua ini bukan vaksin pengganti apabila vaksin pertama pada awal kelahiran tidak diberikan).

Bulan kedua

Pada bulan kedua, vaksin polio-1 diberikan secara oral atau suntikan (melanjutkan vaksin polio yang diberikan di awal, yang disebut vaksin polio-0). Vaksin DTP juga diberikan, yang mana optimal diberikan setelah umur >6 minggu. Pada usia 2 bulan, vaksin BCG sudah dapat diberikan (waktu optimal pemberian vaksin BCG adalah umur 2 hingga 3 bulan). Jika terpaksa diberikan pada bulan ketiga, bayi harus mendapatkan uji tuberkulin terlebih dahulu untuk memastikan tidak adanya infeksi tuberkulosis pada bayi tersebut. Vaksin lain, sesuai rekomendasi IDAI, yang diberikan pada bulan kedua antara lain adalah Haemophillus influenzae (Hib), Pneumococcus conjugate vaccine (PCV) dan rotavirus.

Bulan keempat

Pada bulan keempat, vaksin yang diberikan adalah vaksin lanjutan untuk polio dan DTP. Dengan tambahan vaksin Hib, PCV dan rotavirus.

Bulan keenam

Pada bulan keenam, vaksinasi lanjutan untuk polio dan DTP kembali diberikan (begitu juga dengan Hib,PCV dan rotavirus). Untuk rotavirus, vaksin ini merupakan vaksin yang terakhir. Vaksin lain yang juga diberikan adalah hepatitis B (yang ketiga). Vaksin ketiga tersebut juga merupakan vaksin hepatitis B yang terakhir. Vaksin influenza dapat mulai diberikan sejak umur 6 bulan. Vaksin tersebut diberikan 1 kali pertahun. Untuk imunisasi primer pada anak 6 bulan hingga 9 tahun, pemberian dilakukan sebanyak dua kali dengan interval minimal 4 minggu.

Bulan kesembilan

Campak mulai dapat diberikan pada umur 9 bulan. Vaksin lain tidak ada yang dijadwal pada bulan kesembilan tersebut. Virus campak ini nantinya perlu diberikan penguatnya pada saat anak usia 5 hingga 7 tahun (pada awal usia sekolah).

Bulan keduabelas

Pada usia satu tahun, bayi diberikan vaksin lanjutan untuk PCV. PCV Waktu optimal pemberiannya adalah antara umur dua belas bulan hingga lima belas bulan. Vaksin PCV tersebut merupakan vaksin PCV terakhir. Vaksin varisela sudah dapat diberikan sejak umur 12 bulan meskipun waktu pemberiannya dapat dilakukan sejak usia 12 bulan hingga 18 tahun. Namun, yang paling baik adalah sebelum anak masuk sekolah dasar. Vaksin varisela ini perlu diberikan sebanyak dua kali dengan interval minimal 4 minggu.

Bulan kelimabelas

Pada bulan kelima belas, ada dua jenis vaksin yang diberikan yaitu, vaksin Hib yang keempat dan MMR. Vaksin Hib keempat merupakan vaksin Hib terakhir. Jika PCV keempat belum diberikan, vaksin tersebut dapat diberikan maksimal di bulan kelima belas ini.

Bulan kedelapanbelas hingga dua puluh empat

Vaksin polio dan DTP kembali diberikan, yang mana pada saat tersebut pemberiannya sudah empat kali. Pada usia dua tahun, vaksin untuk tifoid dan hepatitis A sudah dapat mulai diberikan. Vaksin tiroid dilakukan ulangan tiap 3 tahun sementara untuk hepatitis A, vaksin diberikan sebanyak dua kali dengan interval 6-12 bulan. Vaksin tifoid dan hepatitis A sebenarnya dapat diberikan sejak usia 2 tahun hingga remaja.

Usia 5 tahun

Vaksin polio dan DTP yang kelima diberikan pada saat anak berusia 5 tahun. Dengan begitu, vaksinasi polio dan DTP sudah lengkap. Selain itu, vaksin campak dan MMR yang kedua juga diberikan pada usia ini. Namun, untuk campak, vaksinasi disarankan dilakukan pada usia 6 tahun.

Usia 10 tahun

Paa usia 10 tahun, vaksin Td (DTP 6) dapat diberikan dengan dilanjutkan pada usia 18 tahun (DTP 7). Vaksin HPV juga dapat mulai diberikan sejak usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan sebanyak tiga kali dengan jadwal bulan ke-0 (pemberian pertama), satu bulan kemudian dan enam bulan kemudian. Sementara untuk tetravalen, vaksin diberikan pada bulan ke-0, kedua dan keenam.

 

Referensi:

Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI 2011.

 

imunisasi, jadwal imunisasi, vaksin, vaksin polio, vaksin dpt, vaksin bcg, vaksin hepatitis B, vaksin campak, anak

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.