Artikel ini sudah dibaca 29415 kali!

Oleh Herliani Dwi Putri Halim

                Penyakit alergi sering dijumpai di masyarakat dengan tempat predileksi tersering saluran napas, kulit, dan saluran pencernaan.  Diagnosis cepat dan terarah dibutuhkan agar komplikasi tidak terjadi.1 Hal yang perlu dilakukan pada pasien dengan kecurigaan alergi adalah memastikan apakah pasien tersebut benar menderita alergi dengan melakukan:

1.Anamnesis

  • · kapan gejala timbul dan apakah munculnya mendadak atau bertahap.
  • · karakter, lama, frekuensi, dan beratnya gejala, seperti urtikaria akut lebih mungkin disebabkan oleh alergen daripada urtikaria kronik.
  • · waktu timbulnya gejala seperti pada pagi, siang, atau malam hari.
  • · pekerjaan dan hobi. Pastikan apakah gejala muncul akibat pekerjaan seperti halnya 5% kasus asma.  Kemudian, pastikan apakah terdapat faktor lainnya yang mempengaruhi seperti faktor musim dan cuaca, hawa dingin, hewan piaraan, kelelahan, obat, makanan, emosi, kehamilan, asap, bau-bauan, kebiasaan merokok, dan lain-lain. Dalam hal mencari alergen, hubungan antara gejala, waktu, dan tempat menjadi sangat penting.
  • · jumlah, warna, dan kekentalan dahak perlu ditanyakan pada pasien asma atau alergi saluran napas lainnya.
  • · pengaruh penyakit terhadap kualitas hidup.
  • · kaitan penyakit dengan riwayat keluarga.

2.Pemeriksaan fisis yang lengkap dengan perhatian lebih tertuju pada manifestasi di kulit, konjungtiva, nasofaring, dan paru.

  • · seluruh kulit harus diperhatikan apakah ada peradangan kronik seperti ekskoriasi, bekas garukan, dan terdapat lesi urtikaria, angioedema, dermatitis, dan likenifikasi.
  • · mata diperiksa untuk melihat hiperemia konjungtiva, edema, sekret mata yang berlebihan dan katarak terkait atopi atau pengobatan kortikosteroid dengan dosis tinggi. Kemudian,  allergic shiners berupa daerah gelap dan bengkak di bawah mata, khas dijumpai pada penderita rhinitis alergi.
  • · pemeriksaan membran timpani untuk melihat otitis media, penyulit pada alergi saluran napas, perlu dilakukan. Kemudian, pada sinusitis, sinus dapat diperiksa secara palpasi dan transiluminasi.
  • · pada pemeriksaan hidung, terdapat beberapa tanda seperti allergic salute dimana pasien menggosok hidung ke arah atas dengan telapak tangan, allergic crease berupa garis melintang akibat lipatan kulit ujung hidung, allergic facies berupa pernapasan mulut, dan kelainan gigi-geligi.
  • · pada pemeriksaan mulut dan orofaring dinilai eritema, edema, hipertrofi tonsil, dan post nasal drip. Mukosa kemerahan dan edema sering dijumpai pada pasien rhinitis alergi.
  • · inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi pada pemeriksaan dada untuk menilai adanya penggunaan otot bantu pernapasan dan mengi.
  • · pemeriksaan lainnya berupa tekanan darah yang rendah (90-110 mmHg) sering dijumpai pada pasien penyakit alergi.1

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk memperkuat dugaan adanya penyakit alergi, dan bukan untuk menentukan diagnosis.1  Adapun indikasi dari tes alergi adalah rhinitis alergi, angioedema dan sengatan lebah, alergi makanan, dermatitis kontak, dan lain-lain.2 Pemeriksaan penunjang untuk alergi meliputi:

1.Pemeriksaan laboratorium

  • Jumlah leukosit dan hitung jenis sel

Jumlah leukosit normal pada penyakit alergi. Sel eosinofil normal pada orang dewasa adalah 0-450 sel/mm3. Pada penyakit alergi, eosinofilia sering dijumpai tapi tidak spesifik dan berkisar 5-15% beberapa hari setelah pajanan. Hal ini dapat menjadi penanda dan beratnya hipersensitivitas tersebut.1

  • Sel eosinofil pada sekret konjungtiva, hidung, dan sputum

Eosinofil banyak dijumpai pada sekret pasien rhinitis alergi. Namun, apabila terdapat infeksi maka neutrofil lebih dominan.3

  • Serum IgE total

Pemeriksaan ini mulai ditinggalkan karena peningkatan serum IgE total dapat dijumpai pula pada infeksi parasit, sirosis hati, mononukleosis, penyakit autoimun, dan lain-lain. Pemeriksaan masih dilakukan apabila a)alergi pada anak dengan riwayat orang tua yang juga menderita alergi, b)alergi pada anak dengan bronkiolitis, c)membedakan asma dan rhinitis alergi dengan non alergik, d)membedakan dermatitis atopi dengan lainnya, dan e) diagnosis aspergilosis bronkopulmoner alergik.1 Pada rhinitis alergi, terjadi peningkatan serum IgE.3

  • IgE spesifik

Pengukuran ini dilakukan pada pasien dengan penyakit kulit yang luas, tidak dapat menghentikan pengobatan, dan kasus alergi berat sehingga menghalangi tes kulit. IgE diukur secara in vitro dengan teknik RAST (Radio Allergo Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay). Rasio ikatan dan tidak terikat IgE ≥ 2 menggambarkan respons spesifik terhadap alergen. Namun, tes ini kurang sensitif (tapi lebih spesifik)  dibanding tes kulit dan hasilnya tidak langsung diketahui.1,2

  • Pemeriksaan komplemen

Pada kasus angioedema berulang tanpa urtikaria dilakukan pemeriksaan C1 inhibitor dan C4 komplemen. 4

2.Tes kulit

  • Tes tusuk (prick test)

Sebelum melakukan tes ini, pasien harus menghentikan penggunaan obat seperti antihistamin (generasi I minimal  72 jam dan generasi II minimal 1 minggu sebelum tes) dan kortikosteroid (dosis kecil seperti prednisone <20 mg dihentikan 3 hari sedangkan dosis tinggi 1 minggu). Sedangkan teofilin, obat simpatomimetik, dan nedocromil tidak perlu dilarang karena tidak mempengaruhi hasil tes.1 Tes boleh dilakukan pada pasien berusia > 2 tahun. Kontraindikasi absolut dari tes ini adalah lesi luas pada kulit, kooperasi pasien buruk, dan pasien tidak bisa menghentikan pengobatan yang dapat mengganggu hasil. Sedangkan kontraindikasi relatif berupa asma yang persisten dan instabil, anafilaksis, kehamilan, dan penggunaan obat-obatan seperti antihistamin, antidepresan trisiklik, dan beta blocker.5

Bagian volar lengan bawah, lengan atas, atau punggung dibersihkan dengan alkohol. Ketika kering, dibuat garis dengan jarak 2-3 cm. Lalu, dengan jarum disposibel ukuran 26, dilakukan tusukan dangkal dengan ujung jarum pada daerah yang sudah diteteskan kontrol negatif (larutan phosphate buffered saline dengan fenol 0,4%) atau kontrol positif (larutan histamin fosfat 0,1%). Setiap penusukan, dilakukan dengan jarum yang baru.1 Dengan metode yang sama, alergen diinjeksikan dengan jarum sehingga disebut intradermal skin test, biasanya dipakai untuk alergen spesifik seperti bisa lebah atau penisilin.  Akan tetapi, tes intradermal tidak digunakan untuk alergi makanan karena hasil positif palsu yang tinggi dan risiko terjadinya reaksi alergi yang parah. Sedangkan scratch test sudah jarang dilakukan karena hasilnya yang inkonsisten.2

Pembacaan dilakukan 15-20 menit dengan mengukur diameter bentol dan eritema. Positif apabila rata-rata diameter satu bentol 3 mm lebih besar daripada kontrol negatif.5 Adapun interpretasi hasil tes:

Hasil negatif: sama dengan kontrol negatif.

Hasil +1          : 25% dari kontrol positif.

Hasil +2          : 50% dari kontrol positif.

Hasil +3          : 100% dari kontrol positif.

Hasil +4          : 200% dari kontrol positif.1

 

  • Tes tempel (patch test)

Biasanya digunakan pada dermatitis kontak dengan menempelkan bahan pada kertas saring yang diletakkan di atas kertas impermeabel. Selanjutnya, ditempel pada kulit punggung dengan plester. Bahan yang digunakan adalah benzokain, merkapto benzotiazol, kolofoni, lanolin alkohol, dan lain-lain.  Pembacaan dilakukan setelah 48 jam dan diulangi 96 jam sesudah pemasangan agar hasil lebih jelas terlihat. Adapun interpretasi hasil tes:

0= tidak ada reaksi

+/- = eritema ringan, meragukan

1+  = reaksi ringan (eritema dengan edema ringan)

2+ = reaksi kuat (papular eritema dengan edema)

3+ =  reaksi sangat kuat (vesikel atau bula)1

3.Tes provokasi

Hanya dilakukan apabila terdapat kesulitan dalam diagnosis dan ketidakcocokan gambaran klinis dengan tes lainnya.1 Adapun contoh tes provokasi adalah:

  • Tes provokasi nasal dengan menyemprot salah satu alergen melalui satu lubang hidung dan lubang hidung lainnya ditutup. Tes dianggap positif apabila timbul bersin-bersin, pilek, hidung tersumbat, batuk, atau mukosa hidung edema.1
  • Tes provokasi bronkial biasanya untuk asma dan harus dilakukan di rumah sakit serta ditangani oleh tenaga medis. Cara yang dipakai adalah tes kegiatan jasmani dimana 42% pasien memberikan hasil jasmani positif (Sutopo et.al.: 1984). Selain itu, dilakukan tes inhalasi antigen dan histamine serta metakolin. Tes inhalasi histamin dan metakolin menimbulkan 90% reaksi pada pasien asma sehingga menjadi kriteria diagnosis asma.1
  • Tes eliminasi dan provokasi terhadap makanan. Eliminasi makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi selama beberapa minggu dan kemudian dikonsumsi kembali pada suatu waktu secara perlahan kemudian dilihat reaksi alergi.2  Oral food challenge dengan metode double blind placebo dianggap sebagai gold standard. Prosedur ini tidak dilakukan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas yang jelas.6 Pasien diminta untuk pantang makanan selama 2 minggu, antihistamin dihentikan sesuai waktu paruhnya, dan di bawah pengawasan medis untuk mengantisipasi reaksi berat seperti syok anafilaktik.4,6 Makanan diberikan dalam bentuk suatu seri kapsul yang diberikan bergantian dengan kapsul plasebo.4 Hasil negatif apabila setelah menelan makanan dalam jumlah besar, tidak ada reaksi alergi.6

4.Punch biopsy dengan ukuran 4 mm dapat digunakan untuk membantu diagnosis urtikaria karena adanya kelainan histopatologis yang luas dengan infiltrat seperti neutrofil, limfosit, dan eosinofil.4

5.Pemeriksaan pelengkap lainnya berupa spirometri, pemeriksaan sputum, foto dada, dan analisis gas darah dapat dilakukan untuk penegakan diagnosis asma bronkial.7

 

Referensi:

1.Tanjung A, Yunihastuti E. Prosedur diagnostik penyakit alergi. Dalam Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2010, hal. 377-81.

2.MedLine Plus. Allergy testing. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/ article/ 003519 .htm.  Diakses pada 28 Maret 2012, pk. 20.00 WIB.

3.Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Allergies, anaphylaxis, and systemic mastocytosis: introduction.  In Harrison’s Principle of Internal Medicine. 17th ed. USA: The.McGraw-Hill Companies; 2008, chap.311.

4.Baskoro A, Soegiarto G, Effendi C, Konthen PG. Urtikaria dan angioedema. Dalam Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2010, hal. 400-1.

5.Douglass JA, O’Hehir RE. Diagnosis, treatment and prevention of allergic disease: the basics. Med J Aust. 2006; 185 (4): 228-233.

6.Rengganis I, Yunihastuti E. Alergi makanan. Dalam Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2010, hal. 385-6.

7.Sundaru H, Sukamto. Asma bronkial. Dalam Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2010, hal. 406-7.

Sumber Gambar:

Gb.1. Diunduh dari http://www.bmj.com/highwire/filestream/409264/field_highwire_fragment_image _l/0/F3.medium.gif.  Diakses pada 28 Maret 2012, pk.23.00.

Gb.2.Diunduh dari http://2.bp.blogspot.com/_ZWqgYBROGHw/TKFjJfFjqyI/ AAAAAAAABu4/ Tu9DJLr HB nY/s1600/LT2_2.jpg. Diakses pada 28 Maret 2012, pk. 20.45.

3.Diunduh dari http://www.allergyclinic.co.uk/images/skinpricktest2.jpg. Diakses pada 28 Maret 2012, pk. 19.38 WIB.

4.Diunduh dari http://oem.bmj.com/content/58/12/823/F2.large.jpg. Diakses pada 28 Maret 2012, pk. 21.00 WIB.

5.Diunduh dari http://www.mitchellzhomes.com/AZAPAA/skintest.bmp. Diakses pada 28 Maret 2012, pk. 21.20 WIB.

 

Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan artikel-artikel terbaru kami!
Tagged on: