Penanganan Kegawatdaruratan Jantung : Takikardi

Artikel ini sudah dibaca 13165 kali!

dr. Johny Bayu Fitantra

Takikardi atau takiaritmia adalah keadaan denyut jantung lebih dari 100 kali permenit. Takikardi dapat merupakan suatu mekanisme kompensasi terhadap kondisi lain yang sedang terjadi dalam tubuh seperti demam, anemia, syok dan sebagainya. Pada kondisi tersebut, yang perlu kita tangani adalah faktor pencetusnya. Dengan sendirinya, denyut jantung akan berkurang menuju kecepatan normal. Namun, pada kejadian takikardi dengan denyut jantung ≥150 kali permenit, maka kemungkinan besar kondisi takikardi tersebutlah yang menyebabkan tanda dan gejala lain pada pasien. Pada keadaan ini, takikardi memiliki potensi bahaya serta perlu kita tangani segera. Dalam artikel ini, kita akan membahas takikardi atau takiaritmia dengan denyut jantung ≥ 150 kali permenit.

Pasien takikardi seringkali datang dengan keluhan jantung berdebar-debar. Hal pertama yang penting kita lakukan adalah penilaian kesesuaian dengan kondisi medis. Selanjutnya, kita perlu melakukan identifikasi dan mengatasi penyebabnya. Pastikan jalan napas tetap aman dan paten. Jika terdapat kondisi hipoksemia, oksigen perlu diberikan. Pemantauan dengan menggunakan monitor penting dilakukan untuk mengidentifikasi irama, memonitor tekanan darah maupun saturasi oksigen.

Hal terpenting yang perlu kita nilai pada pasien takikardi adalah kestabilan klinis pasien. Pasien dinilai sebagai tidak stabil apabila takikardi atau takiartimia tersebut menyebabkan (dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik singkat):

  • Hipotensi (pusing, pandangan gelap atau pingsan, menyertai tekanan darah yang rendah)
  • Penurunan kesadaran (GCS)
  • Tanda-tanda syok (tekanan darah rendah, akral dingin)
  • Nyeri dada iskemia (nyeri dada retrosternal)
  • Gagal jantung akut (sesak napas)

A. Pasien Tidak Stabil

Jika pasien menunjukan tanda-tanda tidak stabil, terapi utama yang perlu dilakukan adalah kardioversi tersinkronisasi (synchronized cardioversion). Kardioversi merupakan upaya mengkonversi irama takikardi menjadi irama sinus. Kardioversi dapat dilakukan dengan menggunakan obat maupun listrik (synchronized cardioversion). Alat yang digunakan sama seperti saat melakukan defibrilasi yaitu defibrilator. Perbedaannya adalah dosis listrik yang digunakan lebih kecil serta menggunakan mode sync. Kardioversi tersinkronisasi menjadi pilihan karena pada pasien ini perlu segera dilakukan konversi ke irama sinus (ingat bahwa kondisi pasien tidak stabil).

Tindakan kardioversi tersinkronisasi merupakan tindakan yang penting karena jika tidak dilakukan pasien dapat mengalami perburukan. Namun, tindakan ini juga merupakan tindakan yang berbahaya karena dapat mencetuskan fibrilasi ventrikel (henti jantung). Oleh karena itu ada tiga hal yang perlu disiapkan inform consent serta tim dan alat resusitasi. Pertimbangkan sedasi pada pasien yang masih sadar. Sedasi dapat menggunakan midazolam dosis 0.5-1 mg IV diberikan selama 2 menit. Tunggu selama 2-3 menit untuk evaluasi efek sedasi.

Setelah pasien tersedasi, pastikan bahwa mode sync sudah diaktifkan serta dosis listrik yang hendak digunakan sudah tepat. Rekomendasi dosis inisial kardioversi adalah sebagai berikut.

  • QRS sempit dan teratur : 50-100 J
  • QRS sempit tidak teratur (misal fibrilasi atrium): 120-200 J bifasik atau 200 J monofasik (tergantung tipe alatnya apakah bifasik atau monofasik). Hati-hati kardioversi pada fibrilasi atrium (AF), terutama jika AF sudah terjadi lebih dari 48 jam karena dapat menyebabkan trombus yang sudah terbentuk menjadi terlepas.
  • QRS lebar dan teratur (contoh: VT) : 100 J
  • QRS lebar tidak teratur : dosis defibrilasi (tidak disinkronisasi)

Setelah alat siap dan di-charge, pastikan tidak ada yang berkontak dengan pasien. Shock dilakukan pada posisi yang serupa dengan defibrilasi, yaitu satu paddle sternum dan satu paddle apeks. Segera cek nadi dan monitor setelah shock selesai dilakukan untuk memastikan apakah irama sudah menjadi normal, masih sama atau justru menjadi fibrilasi ventrikel. Jika masih sama, dosis shock dapat dinaikan. Jika terjadi fibrilasi ventrikel atau kejadian henti jantung lainnya, segera lakukan CPR. Segera berikan shock dosis defibrilasi (tidak tersinkronisasi) apabila irama VT tanpa nadi atau VF.

Pada kasus kompleks QRS sempit dan reguler dapat dipertimbangkan pemberian adenosin. Adenosin merupakan obat utama pada PSVT, tetapi tidak dapat menghentikan atrial fibrillation, atrial flutter atau ventricular tachycardia. (Cara pemberian adenosin akan dijelaskan di bawah).

B. Pasien Stabil

Pada pasien takikardi ≥150 kali permenit tetapi memiliki kondisi klinis yang stabil, kita perlu membedakan apakah kompleks QRS –nya lebar (≥0.12 detik) atau sempit (≤0.12 detik). Kompleks QRS lebar menandakan bahwa takiaritmia tersebut berasal dari ventrikel (kecuali pada sebagian kecil kasus yang mana terjadi aberansi sehingga QRS melebar meski takikardi berasal dari supraventrikuler). Sementara itu kompleks QRS sempit menandakan bahwa takikardi berasal dari supraventrikuler.

b.1. Takikardi QRS lebar

QRS lebar menandakan adanya potensi ancaman sehingga perlu ditangani segera. Akses intravena perlu dipasang, lalu EKG 12 sadapan diperiksa. Adenosin dapat dipertimbangkan hanya jika QRS kompleks reguler dan monomorfik karena dapat dicurigai bahwa sebenarnya itu merupakan takikardi supraventrikuler dengan aberansi, bukannya takikardi ventrikel. Pada pasien ini perlu dipertimbangkan pemberian infus antiaritmia. Pilihan utamanya adalah amiodaron 150 mg IV dalam 20 cc Dextrose 5% diberikan dalam waktu 5-10 menit. Jika diperlukan, dapat dilakukan pemberian ulang sebanyak 150 mg IV tiap 10 menit dengan maksimal dosis 2.2 gram/24 jam. Selanjutnya dapat dilakukan dosis pemeliharaan sebanyak 1 mg/menit selama 6 jam dilanjutkan 0.5 mg/menit selama 18 jam.

Takikardi Ventrikel (Ventricular Tachycardia). QRS ≥0.12 detik)
Takikardi Ventrikel (Ventricular Tachycardia). QRS ≥0.12 detik)

b.2. Takikardi QRS sempit

Takikardi QRS sempit memiliki pendekatan tatalaksana yang lebih tidak agresif dibandingkan QRS lebar. Namun, akses intravena dan EKG 12 sadapan tetap perlu dilakukan. Tatalaksana pertama yang dapat dilakukan adalah manuver vagal yaitu dengan melakukan pijatan secara sirkuler pada karotis selama sekitar 10 detik. Jika belum berhasil dapat dilakukan pada sisi sebelahnya juga. Namun, sebelum melakukan vagal manuver, harus dipastikan bahwa pasien tidak memiliki risiko adanya plak pada karotis dan sekitarnya yang dapat terlepas apabila manuver tersebut dilakukan. Dari anamnesis kita perlu tanyakan adanya riwayat henti jantung, stroke, gangguan katup dan penyakit jantung lainnya. Selanjutnya, lakukan auskultasi pada karotis untuk memastikan ada tidaknya bruit.

Takikardi Supraventrikuler (Supraventricular Tachycardia). QRS ≤ 0.12 detik)
Takikardi Supraventrikuler (Supraventricular Tachycardia). QRS ≤ 0.12 detik)

Jika vagal manuver tidak efektif, pertimbangkan penggunaan adenosin jika kompleks QRS teratur. Di Indonesia, sediaan yang tersedia adalah ATP. Adenosin merupakan obat yang memiliki waktu paruh yang sangat cepat serta dapat menyebabkan sensasi flushing pada pasien. Oleh karena itu perlu beberapa persiapan sebelum pemberian adenosin antara lain adalah inform consent pada pasien bahwa akan diberikan obat yang secara sesaat dapat memberikan sensasi panas atau nyeri di dada sehingga pasien tidak panik. Selain itu, adenosin harus diberikan secara cepat. Siapkan triway dan NS 20 ml. Segera setelah adenosin dibolus, ikuti dengan bolus NS sebanyak 20 cc sembari kemudian lengan diangkat selama 10-12 detik. Dosis adenosin pertama adalah 6 mg (10 mg ATP), dapat diulang setelah 1-2 menit setelah pemberian pertama dengan dosis 12 mg (20 mg ATP). Selanjutnya dapat diulang sekali lagi dengan dosis 12 mg (20 mg ATP).

Obat lain yang dapat diberikan untuk mengontrol kecepatan denyut jantung adalah golongan beta blocker dan calcium channel blocker (intravena). Beta blocker IV yang tersedia di Indonesia adalah metoprolol. Dosis yang diberikan adalah 5 mg IV secara lambat kemudian dapat diulang 5 menit kemudian hingga total dosis 15 mg. Sementara itu, CCB yang menjadi pilihan adalah diltiazem. Dosis awalnya adalah 15-20 mg IV dalam lebih dari 2 menit. Dapat diulangi 15 menit kemudian dengan dosis 20-25 mg selama lebih dari 2 menit. Dosis pemeliharaan adalah 5-15 mg/jam dititrasi sesuai denyut nadi. (Dapat dihapalkan dengan mengingat 15-20 20-25 5-15). Diltiazem diencerkan cengan dekstrose 5% tau normal saline.
Pada kasus takikardi di atas 150 kali permenit dengan pasien stabil, selalu pertimbangkan konsultasi dengan ahli, baik pada kasus QRS lebar maupun sempit.

Daftar Pustaka
• Putranto BH, Kosasih A. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut : Takikardi, Obat-Obatan yang Digunakan dalam Bantuan Hidup Jantung Lanjut. Ed 2015. P44-56. P. 85-94.
• Hu R, Stevenson WG, Strichartz GR, Lilly LS. Pathophysiology of Heart Disease : Mechanisms of Cardiac Arrhytmias. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer and Lippincott & Williams & Wilkins; 2011. P.284
• Medscape. Midazolam. Dapat diakses di http://reference.medscape.com/drug/versed-midazolam-342907. Diunduh April 2016.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.