Henti Jantung: Algoritma Tatalaksana Henti Jantung pada Dewasa

Artikel ini sudah dibaca 51062 kali!

Oleh dr. Johny Bayu Fitantra

Ada empat ritme listrik jantung yang menyebabkan terjadinya henti jantung, yaitu pulseless ventricular tachycardia (VT), ventricular fibrilation (VF), pulseless electric activity (PEA), dan asystole. Ritme-ritme jantung tersebut menyebabkan jantung tidak dapat memompa untuk membuat darah mengalir secara signifikan. Penyebab-penyebab terjadinya henti jantung yang dapat ditangani, dalam istilah bahasa Inggris disebut sebagai the H’s dan  the T’s yaitu H: Hypoxia (hipoksia), hypovolemia (hipovolemik), hydrogen ion/asidosis (asidosis), hypo-/hyperkalemia, hypothermia; T: Toxins (racun), tamponade jantung, tension pneumothorax, thrombosis pulmonary, thrombosis coronary. Meski jantung berhenti, penderita belum lah dikatakan meninggal. Penderita masih memiliki harapan untuk mendapatkan kembali sirkulasi darah spontan atau yang disebut sebagai return of spontan circulation (ROSC). Namun, peluang untuk penderita mengalami ROSC akan semakin berkurang seiring dengan lama terjadinya henti jantung. Oleh karena itu, pertolongan harus segera dilakukan, yang mana setiap detik amatlah berharga.

Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan tindakan utama yang harus segera dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung. RJP terdiri dari kompresi dada dan pemberian ventilasi dengan rasio 30:2. Artinya adalah penolong melakukan kompresi dada sebanyak 30 kali, kemudian dilanjutkan dengan memberikan napas buatan sebanyak dua kali tiupan. Jika status infeksi pasien tidak diketahui sehingga penolong khawatir adanya risiko penularan penyakit saat melakukan pemberian napas buatan, napas buatan tidak perlu diberikan. Pada menit-menit awal terjadinya henti jantung, kompresi dada saja cukup membantu mengingat pasien masih memiliki cadangan oksigen. Pada saat RJP, pengiriman oksigen ke jantung dan otak lebih terbatasi oleh karena rendahnya aliran darah dibandingkan kandungan oksigen dalam arteri. Bahkan, jika penolong hanya sendiri, pemberian ventilasi disarankan untuk tidak perlu diberikan pada menit-menit awal henti jantung.

Kecepatan kompresi dada yang direkomendasikan adalah setidaknya 100 kali dalam satu menit. Ritme kompresi dada tersebut sesuai dengan beat sebuah lagu berjudul Staying Alive sehingga untuk mempermudah dalam melakukan kompresi dada sebanyak 100x per menit, banyak praktisi kesehatan yang melakukan kompresi dada sembari membayangkan lagu tersebut. RJP tidak boleh mengalami interupsi. Berhentinya RJP secara sementara hanya boleh dilakukan saat menilai ritme jantung (dengan EKG atau monitor jantung), melakukan shock dengan defibrilator pada kasus VT/VF, melakukan pengecekan pulsasi nadi karotis (dilakukan jika ritme jantung teratur sudah terdeteksi), atau saat melakukan pemasangan advanced airway (alat untuk membantu mempertahankan jalan napas tetap terbuka, seperti endotracheal tube atau supraglotic airway). Saat pergantian penolong (bisa karena kelelahan), interupsi harus diupayakan seminimal mungkin.

Jika sudah dilakukan pemasangan advanced airway, ventilasi tidak lagi hanya diberikan sebanyak dua kali tiap 30 kompresi dada melainkan menjadi 8-10 kali setiap menit. Jadi, pemberian ventilasi (dengan bagging) dilakukan setiap 6 hingga 8 detik.  Namun, perlu diperhatikan bahwa ventilasi tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Pada saat RJP, perfusi sistemik dan paru berkurang sehingga hubungan perfusi-ventilasi yang normal dapat terjaga dengan ventilasi yang jauh lebih rendah daripada normal. Selain itu, pada saat pemberian ventilasi, tekanan dalam rongga dada akan meningkat sehingga aliran darah akan cenderung terhambat padahal yang sedang lebih dibutuhkan adalah terjaganya aliran darah ke organ-organ penting.

Selain interupsi minimal, kecepatan kompresi dada minimal 100x/menit, hindari ventilasi berlebihan, kompresi-ventilasi 30:2, prinsip lain dalam RJP adalah kedalaman yang cukup saat melakukan kompresi dada (sekitar 5 cm pada dewasa dan 3 cm pada anak), dan membiarkan dada mengalami complete recoil atau relaksasi secara sempurna setiap kali kompresi dada. Untuk kedalaman yang cukup serta efektifitas tenaga, kita tidak mengandalkan kekuatan lengan melainkan menggunakan berat badan kita dalam melakukan kompresi dada. Posisi lengan lurus, tidak boleh tertekuk. Telapak tangan kanan diletakan diatas tangan kiri. Kemudian, kita mendorong dengan badan kita dengan beban dialirkan melalui lengan kita menuju dada penderita.

Pada kasus ventricular fibrilation atau pulseless ventricular tachycardia, selain menjalankan RJP yang berkualitas, terapi lain yang sudah terbukti meningkatkan survival adalah defibrilator. Oleh karena itu, pada kedua kasus tersebut, pemberian defibrilator terintegrasi dalam siklus RJP. Selain itu, meskipun pada awal pengecekan ritme didapatkan bahwa ritme jantung pasien PEA atau asystole, defibrilator tetap perlu disiapkan karena ritme jantung dapat mengalami evolusi.

Bagaimana algoritma penatalaksanaan henti jantung pada dewasa?

Situasi di luar rumah sakit: Pada saat melihat korban tidak sadarkan diri, pastikan bahwa korban tidak sadar seperti dengan mengguncang-guncang bahu dan memanggil namanya (atau dengan panggilan umum seperti pak, bu, mas, dsb). Panggil pertolongan sesegera mungkin bahwa ada korban tidak sadarkan diri. Amankan lingkungan sekitar, jangan sampai penolong dan korban justru mengalami bahaya lain, misalnya korban tidak sadar di tengah jalan sehingga ada bahaya dari kendaraan yang lewat. Cek pulsasi karotis. Jika tidak ada nadi teraba, segera lakukan kompresi dada. Minta bantuan pada orang di sekitar untuk meminta pertolongan medis (menelepon ambulans atau RS). RJP dilakukan hingga ada orang yang lebih kompeten atau ambulans datang.

Jika henti jantung terjadi di rumah sakit, segera setelah memulai RJP, korban diberikan oksigen dan dipasang monitor. Defibrilator segera disiapkan. Setelah monitor siap, lakukan pemeriksaan ritme jantung untuk memastikan apakah dapat dilakukan shock dengan defibrilator atau tidak. Jika tidak dapat dishock, yaitu ritme listrik jantung PEA atau asistol, RJP dilanjutkan kembali selama dua menit. Sembari melakukan RJP, jika belum dipasang, akses intravena dipasang. Pertimbangkan juga untuk melakukan pemasangan advanced airway (endotracheal tube atau supraglotic airway). Setelah dua menit RJP, lakukan kembali pengecekan ritme yang ditampilkan pada monitor. Jika tidak dapat dishock, RJP dilanjutkan.

Suntik epinefrin diberikan setiap 3-5 menit. Dosis pemberian epinefrin adalah 1 mg. Namun, untuk mempermudahnya, pemberian epinefrin dapat diberikan setiap 4 menit, yaitu tiap kali dua sesi RJP dilakukan. Tatalaksana pada kasus yang tidak dapat dishock memang hanya RJP yang berkualitas ditambah dengan pemberian epinefrin. Jadi, siklus itu terus dilanjutkan sampai pasien ROSC atau memenuhi kriteria untuk tidak melanjutkan resusitasi. Jika tidak ada, epinefrin dapat diganti dengan vasopresin 40 unit. Sembari melakukan upaya resusitasi, penyebab dari henti jantung juga perlu dicari dan ditangani.

Pada kondisi ritme yang dapat dishock, yaitu VT atau VF, segera lakukan shock dengan defibrilator. Alat defibrilator memiliki dua macam jenis, yaitu bifasik dan monofasik. Pada bifasik, dosis energi yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pembuat alat,misalnya dosis inisial 120-200 J. Jika tidak diketahui, gunakan energi maksimal yang mungkin. Jika alat monofasik, dosis yang digunakan adalah 360 J.

Setelah melakukan shock dengan defibrilator, RJP dilanjutkan selama dua menit, sembari melakukan pemasangan akses intravena. Setelah dua menit, lakukan kembali pemeriksaan ritme jantung. Jika masih VT/VF, shock dengan defibrilator kembali dilakukan. Epinefrin 1 mg diberikan setiap 3-5 menit sebagaimana pada kasus PEA atau asistol. Tiap kali shock dengan defibrilator selesai dilakukan, RJP dilanjutkan selama dua menit.  Setelah tiga kali shock dengan defibrilator dilakukan korban belum ROSC, pemberian amiodarone dapat dilakukan dengan dosis 300 mg, bolus. Siklus tetap dilanjutkan sampai pasien ROSC. Setelah 2 kali shock lagi setelah pemberian amiodarone pertama, amiodarone dosis kedua dapat diberikan sebesar 150 mg, bolus. Pemberian amiodarone hanya dilakukan sebanyak dua kali itu saja. Jika tidak ada amiodarone, lidokain dapat menjadi penggantinya. Dosis inisial adalah 1-1,5 mg/kgBB IV. Jika masih VF atau pulseless VT, dapat ditambahkan dosis 0.5-0.75 mg/kgBB IV dengan interval pemberian 5-10 menit hingga dosis maksimal 3 mg/kgBB.

Shock hanya dilakukan tiap kali monitor menunjukan gambaran VT atau VF. Jika ritme berubah menjadi PEA atau asistol, hanya RJP dan pemberian epinefrin saja yang dilakukan. Jika epinefrin, vasopresin dan lidokain tidak dapat diberikan secara intravena karena aksesnya tidak bisa didapatkan, pemberian dapat dilakukan melalui endotracheal tube. Dosis optimal pemberian obat melalui ETT belum diketahui secara pasti, tetapi dosis yang diberikan biasanya adalah 2-2,5 kali pemberian melalui IV. Obat terlebih dahulu dilarutkan dalam air steril atau normal saline 5-10 cc.

Reference:

Neumar RW, Otto CW, Link MS, Kronick SL, Shuster M, Callaway CW, dkk. Adult Advanced Cardiovascular Life Support: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010; 122:S729-S767.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.