Artikel ini sudah dibaca 10623 kali!

Oleh: Johny Bayu Fitantra

A. Pitiriasis Vesikolor

Penyakit ini disebabkan oleh Malassezia furfur/ Pityrosporum orbiculare/ P. ovale. Pitiriasis vesikolor merupakan penyakit infeksi jamur superfisial kronis pada kulit yang ditandai dengan makula hipopigmentasi dan skuama halus putih atau coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut. Keluhan subyektif dari penderita biasanya tidak ada. Namun, kadang-kadang penderita merasa gatal ringan yang menjadi alasan untuk berobat.1,2 Penyakit ini sering kali dikenal sebagai Tinea Vesikolor, kromofitosis, dermatomikosis, liver spots, tinea flava, pitiriasis vesikolor, flava dan panu.2

Meski universal, penyakit ini banyak dijumpai di daerah tropis karena temperatur dan kelembaban yang tinggi. Menyerang hampir semua usia, terutama remaja, teranyak usia 16-40 tahun. Insiden yang akurat di Indonesia belum ada, namun diperkirakan 40-50% populasi di negara tropis terkena penyakit ini.3

Tinea Vesikolor timbul bila M. Furfur berubah bentuk menjadi bentuk miselia karena adanya faktor eksogen seperti panas dan kelembaban, serta penutupan kulit oleh kosemetik atau pakaian sehingga terjadi peningkatan konsentrasi CO2, mikroflora dan pH. Begitu juga dengan faktor endogen seperti malnutrisi, dermatitis seboroik, terapi imunosupresan dan riwayat keluarga. Selain itu, DM, kehamilan dan penyakit berat juga memudahkan timbulnya pitiriasis vesikolor.

Makula hipopigmentasi diakibatkan terhambatnya sinar matahari masuk ke dalam lapisan kulit yang mengganggu pembentukan melanin. Selain itu, Pytirosposum juga menghasilkan toksin serta asam azeleat dari asam lemak dalam sebum yang merupakan inhibitor kompetitif dari tirosinase.1 Repigmentasi biasanya akan terjadi perlahan setelah penyembuhan.4

Kelainan kulit yang terjadi sangat superfisial yang tampak sebagai bercak-bercak berwarna-warni dengan batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut akan berfluoresensi kuning keemasan bila dilihat dengan lampu wood. Selain itu, sedian kerokan kulit dengan larutan KOH akan menunjukan adanya hifa pendek dan spora bulat berkelompok.2

B. Progressive  Macular Hipomelanosis

Penyakit ini seringkali ditemukan di Karibia serta Asia. Terjadi area hipopigmentasi makular yang luas dengan batas tidak tegas dan tanpa skuama, khususnya pada wanita muda. Lesi biasanya terjadi pada badan bagian depan maupun belakang. Ada penelitian yang mengatakan ada peranan dari Propionibacterium acnes dalam terjadinya penyakit ini.Selain itu, ada dugaan kelainan ini terjadi karena campuran gen kulit hitam dan putih dari orang tua penderita karena banyak dijumpai pada ras campuran.1,5

Makula hipopigmentasi timbul karena P. Acnes diduga menghasilkan zat yang menghambat melanogenesis seperti pada pitiriasis vesikolor. Lesi makula ini akan memberikan flouresensi berwarna merah pada pemeriksaan wood.1

Gambaran mikroskopis pada lesi menunjukan melanin sedikit berkurang. Selain itu, terjadi pergeseran melanosom tipe IV ke melanosom tipe I-III yang kecil-kecil.

C. Morbus Hansen1,6

Morbus Hansen atau yang sering disebut dengan lepra atau kusta merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang  bersifat intraseluler obligat. Penyakit yang ditakuti karena menyebabkan kecacatan ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu multibasilar dan pausibasilar. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut.

PB MB
1. Lesi Kulit(makula datar, papul yang meninggi, nodus) -          1-5 lesi-          Hipopigmentasi/eritema-          Distribusi tidak simetris

-          Hilangnya sensasi yang jelas

-          >5lesi-          Distribusi lebih simetris-          Hilangnya sensasi kurang jelas
2. Kerusakan Saraf(menyebabkan hilangnya sensasi atau kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf yang terkena -          Hanya satu cabang saraf -          Banyak cabang

Pada pemeriksaan histologi, dapat ditemukan jumlah melanosit yang normal atau menurun, ada pula yang mengalami atrofi dan vakuolisasi dengan penurunan melanosom. Patogenesis hipomelanosis dapat terjadi karena

1. Efek langsung invasi Mycobacterium leprae ke dalam melanosit.

2. Digunakannya dopa sebagai substrat oleh sistem enzim Mycobacterium leprae.

3. Perubahan pembuluh darah sehingga terjadi atrofi melanosit.

D. Pinta

Pinta atau yang berarti bercak berwarna ini disebabkan oleh Treponema carateum dan merupakan satu-satunya treponematosis dengan manifestasi klinis terbatas pada kulit. Lesi primer muncul antara 3-60 hari setelah inokulasi, berupa papul eritem, satu atau lebih. Kelamaan bisa menjadi plak ireguler, hiperkeratotik, likenifikasi dan dapat mencapai ukuran diameter 20cm. Lesi dapat bertahan  hingga tahunan atau sembuh spontan dengan sisa berupa hipopigmentasi7.Lesi sekunder berupa papul eritem yang menjadi plak. Sejalan dengan waktu, lesi berubah menjadi coklat atau tembaga dan kadang biru, abu-abu dan hitam. Dalam satu olak dapat dijumpai lebih dari satu warna.

Lesi tersier muncul dalam 3bulan sampai 10 tahun setelah lesi sekunder. Gambaran klinis berupa depigmentasi seperti vitiligo disertai warna biru, merah, coklat dan ungu. Ukuran lesi bervariasi dengan batas tidak jelas. Pasien dengan stadium lanjut dapat mengalami vitiligo pinta. Treponema sendiri ditemukan pada epidermis, tapi tidak ada pada makula yang mengalami depigmentasi.

Daftar Pustaka

1 Partogi D. Pityriasis Versikolor dan Diagnosis Bandingnya. E-repository Universitas Sumatera Utara. 2008.

2 Budimulja U. Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Mikosis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2009. 89-105.

3 Radiono S. Dalam: Dermatomikosis Superfisialis: Pitiriasis Vesicolor. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2001. P. 17-20.

4 Daili ESS, Menaldi SL, Wisnu IM. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia. Jakarta: Medical Multimedia Indonesia. 2005. P. 33-4.

5 Burns T, Breathnach, Cox N, Griffiths. Rook’s Textbook of Dermatology: Racial Influences on Skin Desease. 8th ed. USA: Wiley Blackwell. 2010.

6 Kosasih A, Wisnu IM, Sjamsoe-Daili E, Menaldi SL. Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Kusta. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2001. 73-88.

7 Sanches MR. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine: Endemic Treponemkatosis. 6th ed. New York: Mc Graw-Hill. 2003. p. 2188-92.

Daftar Pustaka Gambar

Gambar 1: Bercak Putih pada Tinea Vesikolor. Diunduh dari http://www.herbalgranny.com/wp-content/uploads/2009/09/Tinea-Versicolor.jpg.

Gambar 2: Lesi Akhir dari Pinta. Diunduh dari http://www.msdlatinamerica.com/ebooks/SauersManualofSkinDiseases/files/4995346a222e29e83113c20274959f4c.gif.

 

Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan artikel-artikel terbaru kami!
Tagged on: