Pioderma: Impetigo, Hidraadenitis, Folikulitis, Furunkel, Karbunkel, Abses Multipel Kelenjar Keringat

Artikel ini sudah dibaca 175130 kali!

Pioderma

Pioderma merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus atau keduanya. Spesies bakteri penyebab pioderma tersering adalah S.aureus dan Streptococcus Beta hemolyticus. Sementara itu, S.epidermidis sebagai flora normal juga bisa menyebabkan infeksi, meskipun jarang. 1

Staphylococcus dan Streptococcus merupakan penyebab infeksi kulit tersering. Namun, infeksi kulit itu sendiri sebenarnya dapat juga disebabkan oleh kuman fram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, E.Coli, dan Klebsiella.

Pioderma dapat berupa impetigo, folikulitis, furunkel/karbunkel, ektima, erisipelas, selulitis, flegmon, ulkus piogenik, abses multipel kelenjar keringat, maupun staphylococcal scladed skin syndrome. 1

Hal yang dapat menjadi faktor predisposisi untuk pioderma di antaranya adanya kurangnnya higiene, menurunnya daya tahan, atau karena sudah adanya penyakit kulit sebelumnya. Kerusakan pada epidermis dapat mempermudah infeksi karena sistem pelindungnya terganggu. 1

Pioderma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu pioderma primer dan sekunder. Pioderma primer terjadi pada kulit yang normal, yang biasanya disebabkan oleh satu mikroorganisme. Sementara itu, pioderma sekunder terjadi pada kulit yang sudah mengalami lesi sebelumnya. Gambarannya pioderma ini tidak khas dan mengikuti perjalanan penyakit yang sudah ada. 1

Penyakit kulit yang diikuti pioderma sekunder disebut impetigenisata. Beberapa contohnya adalah dermatitis impetigenisata, skabies impetigenisata. Tanda dari impetigenisata di antaranya adalah pus, pustul, bula purulen, krusta kuning kehijauan, pembesaran KGB regional, leukositosis, dapat pula disertai demam. 1

Pengobatan Umum1

  1. Sistemik

1.1.   Penisilin G prokain dan semisintetiknya

1.1.1.      Penisilin G prokain

Dosis: 1,2 juta perhari, pemberian IM. Obat ini sudah tidak dipakai lagi karean tidak praktis dan sering terjadi syok anafilaktik.

1.1.2.      Ampisilin

Dosis 4×500 mg, diberikan sejam sebelum makan

1.1.3.      Amoksisilin

Dosis sama seperti ampisilin. Obat ini dapat diberikan setelah makan. Selain itu, diabsorpsi lebih cepat dari ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.

1.1.4.      Golongan obat penisilin resisten-penisilinase

Contoh antibotik jenis ini adalah oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis kloksasilin adalah 3×250 mg per hari sebelum makan.

1.2.   Linkomisin dan Klindamisin

Dosis linkomisin 3×500 mg sehari selama 5-7 hari. Dosis klindamisin adalah 4×150 mg sehari. Pada infeksi berat, dosis dapat dinaikan menjadi 4×300-450 mg sehari. Efek samping yang mungkin muncul adalah pseudomembranosa meskipun cukup jarang. Klindamisin saat ini lebih direkomendasikan karena potensi antibakterinya lebih tinggi, efek samping lebih sedikit. Selain itu, pada pemberian oral, obat ini tidak dihambat oleh asam lambung.

1.3.   Eritromisin

Dosis eritromisin adalah 4×500 mg sehari. Efektifitanya kurang dibandingkan dengan linkomisin atau klindamisin, dan obat golongan penisilin resisten-penisilinase. Selain itu, obat ini juga cepat menyebabkan resistensi. Juga, dapat memberikan rasa tidak enak di lambung.

1.4.   Sefalosporin

Jika pioderma berat atau tidak berespon dengan pengobatan di atas, sefalosporin dapat digunakan. Contohnya yang dapat digunakan adalah sefadroksil dosis 2×500 mg atau 2×1000 mg sehari.

  1. Topikal

Antibiotik topikal yang dapat digunakan adalah yang tidak digunakan secara sistemik untuk mencegak resistensi dan hipersensitivitas, contohnya adalah basitrasin, neomisin dan mupirosin. Neomisin juga dapat digunakan untuk infeksi gram negatif. Untuk kompres terbuka, dapat digunakan larutan permanganas kalikus 1/5000, larutan rivanol 0,1% dan povidone iodine 7,5% yang dilarutkan 10 kali.

Pemeriksaan Pembantu pada Pioderma1

Sebagaimana infeksi bakteri lainnya, pada pemeriksaan darah dapat ditemukan leukositosis. Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada kasus pioderma antara lain adalah kultur dan tes resistensi pada kasus kronis dan sukar sembuh. Ada kemungkinan bahwa penyebabnya bukan gram positif, melainkan gram nefatif. Tes resistensi bersifat sebagai penyokong. Selain itu, kadang hasil in vivo tidak sesuai dengan in vitro.

Impetigo1

Impetigo merupakan pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis). Jenis impetigo meliputi impetigo krustosa, bulosa dan neonatorum.

a. Impetigo krustosa

Impetigo ini disebut juga impetigo kontagiosa, impetigo vulgaris, impetigo Tillbury Fox. Penyebab utamanya adalah Streptococcus B hemolyticus. Kondisi ini terjadi pada anak-anak. Gejala klinis tidak disertai gejala umum. Predileksi berada di wajah, sekitar lubang hidung dan mulut. Sumber infeksi dianggap dari daerah tersebut. Kelainan kulit berupa eritema dan vesikel yang memecah sehingga jika pasien datang berobat nampak krusta tebal berwarna kuning seperti madu. Jika dilepaskan, akan nampak erosi di bawahnya. Komplikasi dari impetigo krustosa adalah glomerulonefritis pada tipe tertentu.

Diagnosis bandingnya adalah ektima. Tatalaksana berupa pelepasan krusta, jika krusta sedikit, lalu diberi salap antibiotik. Jika krusta banyak, dapat diberikan antibiotik sistemik.

b. Impetigo bulosa

Nama lain impetigo ini adalah impetigo vesikobulosa atau cacar monyet. Penyebab utamanya adalah S.aureus. Keadaan umum tidak dipengaruhi. Predileksi terletak pada ketiak, dada, punggung. Seringkali kejadian ini bersama-sama dengan miliaria. Impetigo bulosa terjadi baik pada anak-anak maupun dewasa. Kelainan kulit berupa eritema, bula dan bula hipopion. Vesikel atau bula yang sudah memecah biasanya menampilkan kolaret dengan dasar eritematosa.

Diagnosis bandingnya adalah dermatofitosis pada kondisi vesikel atau bula telah pecah. Oleh karena itu, ditanyakan pada anamnesis mengenai apakah sebelumnya terdapat lepuh.

Jika hanya beberapa vesikel/bula,tatalaksananya adalah dipecahkan lalu diberi salap antibiotik atau cairan antiseptik. Jika banyak, diberikan antibiotik sistemik. Faktor predisposisi perlu dicari. Jika banyak keringat, ventilasi diperbaiki.

c.Impetigo neonatorum

Impetigo neonatorum merupakan varian impetigo bulosa yang terdapat pada neonatus. Kelainan serupa dengan impetigo bulosa, tetapi lokasinya lebih menyeluruh. Demam juga dapat terjadi.

Diagnosis bandingnya adalah sifilis kongenital. Pada kondisi tersebut, bula terdapat juga pada telapak tangan dan kaki, terdapat snuffle nose, saddle nose dan pseudo paralisis Parrot.Pengobatan berupa antibiotik sistemik. Pemberian bedak salisil 2% juga dapat diberikan secara topikal.

Erisipelas1

            Erisipelas merupakan penyakit infeksi akut yang biasanya disebabkan oleh streptococcus dengan gejala utama eritema berwarna merah cerah dan berbatas tegas disertai gejala konstitusi. Gejala konstitusi dapat berupa demam, malaese. Lapisan kulit yang diserang dapat dermis dan epidermis. Predileksinya adalah tungkai bawah dengan didahului trauma. Pada pinggir lesi tampak tanda radang akut, bisa terdapat edema, vesikel, dan bula. Terdapat pula leukositosis. Lesi dapat menjalar ke arah proksimal. Diagnosis bandingnya adalah selulitis, yang pada kejadian ini terdapat infiltrat pada subkutan.

Tatalaksanana adala tungkai bawah dan kaki yang diserang ditinggikan, lebih tinggi sedikit dari jantung. Pengobatan sistemk dengan antibiotik disertai pemberian kompres terbuka dengan antiseptik. Jika terjadi edema, dapat diberikan diuretika.

Selulitis1

Selulitis memiliki etiologi, gejala konstitusi dan tempat predileksi, pemeriksaan lab dan terapi yang sama dengan erisipelas. Namun, kelainan kulitnya lebih difus, di subkutan dengan tanda-tanda radang akut. Sementara itu, flegmon merupakan selulitis yang mengalami supurasi. Terapi sama seperti selulitis, tetapi memerlukan juga insisi.

Hidraadenitis

Hidraadenitis merupakan infeksi kelenjar apokrin, biasanya disebabkan oleh S.aureus. Infeksi terjadi pada kelenjar apokrin. Seringkali didahului oleh trauma, seperti banyak keringat, pemakaian deodoran atau rambut ketiak digunting.

Gejala konstitusi yang terjadi berupa demam, malaese. Ruam berupa nodus dengan kelima tanda radang akut. Kemudian dapat melunak menjadi abses dan memecah membentuk fistel dan disebut hidradenitis supurativa. Pada yang menahun dapat terbentuk abses, fistel, dan sinus yang multiple. Lokasi paling banyak di ketiak, perineum. Leukositosis dapat ditemukan.

Diagnosis bandingnya adalah skrofuloderma. Persamaannya terdapat pada nodus, abses dan fistel. Hanya saja, pada hidraadenitis terdapat tanda radang akut dan gejala konstitusi.

Pengobatan dilakukan dengan antibiotik sistemik. Jika telah ada abses, diinsisi. Kalau belum melunak, dapat diberikan kompres terbuka. Pada kasus kronik residif, dapat dilakukan eksisi kelenjar apokrin.

Folikulitis

            Folikulitis merupakan peradangan pada folikel rambut yang umumnya disebabkan oleh S.aureus. Folikulitis dapat terbatas pada epidermis saja (yang disebut sebagai folikulitis superfisialis) hingga ke subkutan (folikulitis profunda). 1,2

            Folikulitis superfisialis seringkali disebut juga sebagai impetigo Bockhart. Lesi paling sering muncul di tungkai bawah berupa papul atau pustul eritematosa dan di tengahnya terdapat rambut, biasanya multipel.

Sementara itu, folikulitis profunda gambaranyan kurang lebih sama, hanya saja teraba infiltrat di subkutan. Contohnya adalah sikosis barbe yang berlokasi di bibir atas dan dagu, bilateral. Diagnosis banding dari sikosis barbe ini adalah tinea barbae yang lokasinya di mandibula, submandibula, unilateral. Pada tinea barbe, sediaan KOH positif. 1

Secara klinis, mula-mula terdapat nodul kecil yang mengalami peradangan pada folikel rambut, kemudian menjadi pustul dan mengalami nekrosis. Lama kelamaain akan menyembuh setelah pus keluar dan dapat meninggalkan sikatrik. Proses nekrosis dapat terjadi dalam 2 hari hingga 3 minggu. 2

                Lesi ini terasa nyerti terutama pada kasus akut, besar atau terletak di hidung maupun lubang telinga luar. Selain itu, dapat juga terjadi gejala konstitusional sedang seperti badan panas, malaise, dan mual. Folikulitis bisa satu atau banyak serta kambuhan. 2 Secara umum, predileksinya adalah muka, leher, lengan pergelangan tangan dan jari-jari tangan, pantat dan daerah anogenoital.2

            Prinsip tatalaksana pada folikulitis ialah antibiotik sistemik atau topikal. Selain itu, faktor predisposisi juga harus dicari.

 

Furunkel/Karbunkel

Furunkel merupakan radang folikel rambut dan sekitarnya. Akan disebut furunkulosis jika lebih dari satu.1,2 Kumpulan dari furunkel disebut karbunkel. Jika pecah, dapat tampak banyak fistel. 2 Kuman penyebabnya paling sering S.aureus.

Pasien seringkali mengeluhkan nyeri. Kelainan yang dapat muncul berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut, di tengahnya terdapat pustul. Lesi ini kemudian dapat melunak menjadi abses berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu memecah membentuk fistel. Predileksi furunkel adalah tempat yang banyak gesekan seperti aksila dan bokong.

Pada gejala klinis karbunkel, infeksi awalnya terasa sangat nyeri dan tampak benjolan merah, permukaan halus, bentuk seperti kubah dan lunak. Dalam beberapa hari, ukuran akans emakin membesar hingga berukuran 3-10 cm. Supurasi terjadi setelah 5-7 hari dan pus keluar dari banyak lubang fistel. Setelah nekrosis, tampak nodula yang menggaung atau luka yang dalam dengan dasar yang purulen. 2

Lesi yang sedikit cukup diberikan antibiotik topikal. Sementara jika banyak, dapat digabung dengan antibiotik sistemik. Jika kasus berulang, faktor predisposisi seperti diabetes mellitus perlu ditelusuri. 1

 

Abses Multiple Kelenjar Keringat

Abses multipel kelenjar keringat adalah infeksi pada kelenjar keringat berupa abses multipel tidak nyeri berbentuk kubah. Umumnya disebabkan oleh staphylococcus aureus. Kondisi ini paling sering pada anak-anak. Biasanya muncul saat daya tahan tubuh turun (karena malnutrisi, morbili), banyak keringat. 1

Gambaran lesi yang muncul dapat berupa nodus eritematosa, multipel, tidak nyeri, berbentuk kubah dan lama memecah. Lokasinya di tempat yang banyak keringat. Kelainan ini mirip dengan furunkulosis, tetapi pada furunkulosis terasa nyeri, bentuknya seperti kerucut dengan pustul di tengah dan relatif lebih cepat memecah. 1

Tatalaksana yang dapat diberikan adalah antibiotik sistemik dan topikal. Selain itu, faktor predisposisi juga perlu diperhatikan untuk ditangani.1

 

Daftar Pustaka

  1. Djuanda A, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Pioderma. 6thed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI;2013. P. 57-61.
  2. Folikulitis/Furunkel/Karbunkel; Furunkulosis. 2nded. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair; 2011. P.30-2.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.