Penanganan Kegawatdaruratan Kejang (status epileptikus)

Artikel ini sudah dibaca 117570 kali!

Kejang atau seizure adalah kondisi aktivitas elektrik tak terkontrol pada otak yang dapat menghasilkan konvulsi fisik, gejala fisik minor, gangguan pemikiran, atau kombinasi dari bermacam gejala. Gejalanya dapat bermacam-macam tergantung di mana aktivitas abnormal terjadi pada otak, penyebabnya, serta faktor-faktor seperti usia pasien dan kondisi medis secara umum.

Sementara itu, epilepsi adala keadaan yang ditandai oleh bangkitan epilepsi berulang berselang lebih dari 24 jam yang timbul tanpa provokasi. Bangkitan epilepsi itu sendiri berarti manifestasi klinik yang disebabkan oleh aktivitas listrik otak yang abnormal dan berlebihan dari sekelompok neuron.

Kejang umumnya terjadi secara singkat sehingga pada saat berada di tempat layanan kesehatan, seringkali pasien sedang tidak mengalami kejang.  Akan tetapi, ada suatu kondisi yang disebut sebagai status epileptikus, yang membuat kejang masih terjadi saat pasien sudah berada di layanan kesehatan.  SE merupakan suatu kondisi kegawatdaruratan.Pada kondisi ini, tenaga kesehatan harus segera sigap untuk melakukan tatalaksana segera.

Status epileptikus ini sendiri didefinisikan sebagai kondisi bangkitan yang berlangsung lebih dari 30 menit, atau adanya dua bangkitan atau lebih di mana di antara bangkitan-bangkitan tadi tidak terdapat pemulihan kesadaran. Meskipun terdapat kriteria ‘lebih dari 30 menit’, penatalaksanaan kejang harus sudah dilakukan bila bangkitan konvulsif berlangsung >5 menit (tergantung kondisi klinisnya, penatalaksanaan dapat dilakukan sesegera mungkin). SE dapat dipastikan apabila pemberian benzodiazepin awal tidak efektif dalam menghentikan bangkitan.

Apabila kondisi status epileptikus terjadi sebelum di rumah sakit, tatalaksana awal yang dapat diberikan adalah benzodiazepine rektal (dimasukan lewat anus) selama perjalanan ke rumah sakit.

Protokol penanganannya adalah sebagai berikut:

Stadium I (0-10 menit)

Pada kondisi ini, perbaikan fungsi kardio-respirasi adalah yang paling utama. Harus dipatikan bahwa jalan napas pasien tidak terganggu. Dapat pula diberikan oksigen. Jika diperlukan resusitasi dapat dilakukan

Stadium II (1-60 menit)

Pada stadium ini, perlu dilakukan pemeriksaan status neurologis dan tanda vital.  Selain itu, perlu juga dilakukan monitoring terhadap status metabolik, analisa gas darah dan status hematologi. Pemeriksaan EKG jika memungkinan juga perlu dilakukan .

Selanjutnya dilakukan pemasangan infus dengan NaCl 0,9%. Bila direncakanan akan digunakan 2 macam obat anti epilepsi, dapat dipakai 2 jalur infus. Darah sebanyak 50-100 cc perlu diambil untuk pemeriksaan laboratorium (AGD, glukosa, fungsi ginjal dan hati, kalsium, magnesium, pemeriksaan lengkap hematologi, waktu pembekuan dan kadar AED).

Pemberian OAE emergensi berupa:

Diazepam 0,2 mg/kg dengan kecepatan pemberian 5 mg/menit IV –> evaluasi kejang 5 menit–> masih kejang (?) –> ulangi pemberian diazepam.

hipoglikemi: berikan 50 cc glukosa 50%.

alkoholisme: berikan thiamin 250 mg IV

Asidosis –> bikarbonat

Selama penanganan ini, etiologi penyebab kejang harus dipastikan.

Stadium III (0-60/90 menit)

Jika kejang masih saja berlangsung, dapat diberikan:

Fenitoin IV 15-20 mg/kg dengan kecepatan <50 mg/menit (tekanan darah dan EKG perlu dimonitor selama pemberian fenitoin). Jika masih kejang, dapat diberikan fenitoin tambahan 5-10 mg/kgbb. Bila kejang berlanjut, berikan phenobarbital 20 mg/kgbb dengan kecepatan pemberian 50-75 mg/menit (monitor pernapasan saat permberian phenobarbital). Pemberian phenobarbital dapat diulang 5-10 mg/kgbb. Pada pemberian phenobarbital, fasilitas intubasi harus tersedia karena resikonya dalam menimbulkan depresi napas. Selanjutnya, dapat dipertimbangkan apakah diperlukan pemberian vasopressor (dopamin).

Stadium IV (30-90 menit)

Bila selama 30-60 menit kejang tidak dapat diatasi, penderita perlu mendapatkan perawatan di ICU. Pasien diberi propofol (2mg/kgBB bolus IV) atau midazolam (0,1 mg/kgBB dengan kecepatan pemberian 4 mg/menit) atau tiopentone (100-250 mg bolus IV  pemberian dalam 2o menit dilanjutkan bolus 50 mg setiap 2-3 menit), dilanjutkan hingga 12-24 jam setelah bangkitan klinik atau bangkitan EEG terakhir, lalu lakukan tapering off. Selama perawatan, perlu dilakukan monitoring bangkitan EEG, tekanan intrakranial serta memulai pemberian OAE dosis rumatan.

 

Referensi: Pedoman Tatalaksana Epilepsi dari Kelompok Studi Epilepsi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) tahun 2011.

 

 

 

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.