Antihistamin Sebagai Antialergi

Artikel ini sudah dibaca 84189 kali!

Oleh Johny Bayu Fitantra

Alergi merupakan sensitifitas abnormal terhadap substansi tertentu seperti pollen, makanan atau mikroorganisme. Indikasi umum dari alergi di antaranya adalah bersin, gatal dan ruam kulit. Reaksi yang berat dikenal sebagai syok anafilaktik yang dapat mengancam nyawa karena bisa terjadi konstriksi jalan nafas dan hipotensi ekstrem. Histamin merupakan salah satu pendukung reaksi alergi tersebut. 1

Pada manusia, histamin merupakan Selain berperan sebagai mediator penting pada reaksi alergi tipe segera dan reaksi inflamasi, histamin juga terlibat dalam sekresi asam lambung serta sebagai neurotransmiter maupun neuromodulator.

Efek-efek yang ditimbulkan oleh histamin adalah sebagai berikut.

a. Sistem kardiovaskular

– Dilatasi kapiler. Histamin dapat menyebabkan dilatasi kapiler (baik arteriol maupun venul) dengan akibat kemerahan dan rasa panas pada wajah (blushing area), menurunnya resistensi perifer dan tekanan darah.

-Meningkatkan permeabilitas kapiler. Ini merupakan efek sekunder yang menyebabkan protein dan cairan plasma keluar ke ruang ekstrasel dan menimbulkan edema.

-Triple response Lewis. Apabila disuntikan, histamin akan menyebabkan tiga hal yaitu bercak merah setempat, flare (kemerahan yang lebih terang dengan bentuk tidak teratur 1-3cm sekitar bercak awal), dan edema setempat.

-Pembuluh darah besar. Histamin justru cenderung menyebabkan konstriksi pembuluh darah besar yang intensitasnya berbeda antar spesies.

-Jantung. Histamin mempengaruhi langsung kontraktilitas dan elektrisitas jantung. Pemberian histamin sebagai obat dapat mempercepat depolarisasi diastol di nodus SA sehingga frekuensi denyut jantung meningkat. Juga, memperlambat konduksi AV, meningkatkan automoatisitas sehingga pada dosis tinggi dapat menyebabkan aritmia.

-Tekanan darah. Penurunan resistensi perifer dapat menyebabkan penurunan tekanan darah.

b. Otot Polos Non-Vaskular

Jika berikatan dengan reseptor H1, Histamin akan menyebabkan kontraksi otot polos sedangkan aktivasi reseptor H2 akan menyebabkan relaksasi otot polos. Pada pasien asma dan penyakit paru, dapat terjadi bronkokonstriksi akibat histamin.

c. Kelenjar Eksokrin

-Kelenjar lambung. Perangsangan langsung pada sel parietal melalui reseptor H2 akan memicu sekresi asam lambung oleh histamin.

-Kelenjar lain. Histamin meninggikan sekresi kelenjar liur, pankreas, bronkus dan air mata tetapi umumnya efek ini lemah dan tidak tetap.

d. Ujung Saraf Sensoris

Histamin dapat menstimulasi rasa nyeri dan gatal. Flare pada histamin disebabkan oleh pengaruhnya pada ujung saraf yang menimbulkan refleks akson. Hal tersebut merupakan kerja histamin merangsang reseptor H1 di ujung saraf sensoris.

e. Medula adrenal dan ganglia

Selain merangsang ujung saraf sensoris, histamin dosis besar juga langsung merangsang sel kromafin medula adrenal dan sel ganglion otonom. Pada pasien feokromositomia, pemberian histamin IV akan meningkatkan tekanan darah.

Anti Histamin (AH1)

Anti histamin yang digunakan sebagai anti alergi adalah golongan antagonis reseptor H1 atau AH1. Secara farmakodinamik, AH1 dapat menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam otot polos. AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen berlebihan. Bronkokonstriksi, peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat histamin dapat dihambat dengan baik.

Mekanisme aksi dari antihistamin diantaranya adalah:

  • Mengeblok kerja histamin pada reseptornya
  • Berkompetisi dengan histamin untuk mengikat reseptor yang masih kosong. Jika histamin sudah terikat, antihistamin tidak bisa memindahkan histamin.
  • Pengikatan AH1 mencegah efek merugikan akibat stimulasi histamin seperti vasodilatasi, peningkatan sekret gastrointestinal dan respirasi serta peningkatan permeabilitas kapiler.2

Antihistamin dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu

  1. Generasi 1 atau antihistamin tradisional
  2. Generasi 2 atau antihistamin non sedatif

Obat generasi pertama merupakan obat yang dapat bekerja baik secara perifer maupun sentral. Efek antikolinergiknya lebih besar dibandingkan dengan agen nonsedatif. Penghambatan SSP akibat AH1 dapat bermanifestasi sebagai gejala mengantuk, maupun kewaspadaan turun. Contohnya adalah difenhidramin (Benadryl), chlorpheniramine (Chlor-Trimeton), Ethylenediamines, piperazin, phenothiazines, piperadines.2

Obat generasi 2 merupakan anti histamin non sedatif yang dikembangkan untuk mengeliminasi efek samping sedasi dari obat generasi pertama. Obat ini berukuran besar dan tidak bersifat lipofilik sehingga tidak bisa menembus BBB. Dengan begitu, efek ke sistem saraf pusatnya lebih kecil. Dibandingkan generasi 1, obat ini memiliki durasi kerja yang lebih lama dan memiliki spesifisitas reseptor H1 dan atau H2 untuk menekan efek histamin. Contohnya adalah fexofenadine dan loratidine.3

Banyak AH1 yang bersifat mirip atropin. Efek yang muncul pada beberapa pasien di antaranya adalah mulut kering, kesukaran miksi, dan impotensi. Namun,ada juga yang tidak berpengaruh terhadap reseptor muskarinik seperti terfenadin dan astemizol.

Dalam dosis terapi, AH1 tidak menimbulkan efek berarti pada sistem kardiovaskular. Selain sebagai antihistamin, AH1 dengan dosis yang tinggi juga bisa berfungsi sebagai anestetik lokal seperti prometazin dan pirilamin.

Intensitas Efek Beberapa Antihistamin

sd= sampai dengan

-= tidak ada

+sd+++= menggambarkan tingginya intensitas efek secara relatif

 

Farmakokinetik

AH1 dapat diabsorpsi dengan baik secara parenteral maupun oral. Efek timbul dalam 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal setelah 1-2 jam. Lama kerja antihistamin generasi I setelah pemberian dosis tunggal umumnya 4-6 jam, sedangkan beberapa derivat piperazin seperti meklizin dan hidroksizin memiliki masa kerja yang lebih panjang seperti juga umumnya antihistamin generasi II.

 

Indikasi

Indikasi pemberian AH1 adalah untuk pengobatan simpatomimatik berbagai alergi dan mencegah atau mengobati mabuk perjalanan.

 

Penyakit alergi

AH1 berguna untuk mengobati alergi tipe eksudatif akut seperti polinosis dan urtikaria. Efeknya bersifat paliatif, membatasi dan menghambat efek histamin yang dilepaskan sewaktu reaksi antigen-antibodi terjadi. AH1 tidak berpengaruh terhadap intensitas reaksi antigen-antibodi yang merupakan penyebab berbagai gangguan alergik. Keadaan tersebut hanya dapat diatasi dengan menghindari alergen, desensitisasi atau menekan efek tersebut dengan kortikosteroid.

 

Untuk asma bronkial terutama yang disebabkan oleh SRS-A atau leukotrien, AH1 saja tidak efektif. AH1 efektif jika digunakan sebagai profilaksis pada asma bronkial yang ringan. Untuk asma bronkial yang berat, aminofilin, epinefrin, dan isoproterenol merupakan pemilihan utama. Pada reaksi anafilaktik, AH1 merupakan tambahan dari epinefrin sebagai pilihan utama.

 

AH1 dapat menghilangkan bersin, rinore, dan gatal pada mata, hidung dan tenggorokan pada pasien seasonal hay fever. AH1 efektif terhadap alergi yang disebabkan oleh debu, tetapi kurang efektif bila jumlah debu banyak dan kontaknya lama. Pada urtikaria akut, AH1 cukup efektif meskipun pada urtikaria kronis hasilnya kurang baik. Terkadang, AH1 juga digunakan dalam menangani dermatitis atopik, dermatitis kontak dan gigitan serangga.

 

Selain sebagai obat alergi, AH1 juga digunakan untuk mengatasi mabuk perjalanan. Contoh obat yang digunakan adalah difenhidramin, dimenhidrinat, derivat piperazin dan prometazin. AH1 dapat memberikan antikolinergik yang kuat. Untuk mencegah mabuk kendaraan, AH1 diberikan setengah jam sebelum berangkat.

 

Efek samping

Efek samping yang disebabkan oleh penggunaan AH1 dapat muncul pada dosis terapi meskipun jarang yang bersifat serius dan bisa hilang bila pengobatan diteruskan. Toleransi individu juga bisa berbeda-beda terhadap munculnya efek samping. Efek tersering adalah sedasi, yang kadang justru berguna supaya pasien dapat beristirahat. Pengurangan dosis atau penggunaan AH1 jenis lain ternyata dapat mengurangi efek sedasi ini.

 

Efek samping yang berhubungan dengan efek sentral AH1 adalah vertigo, tinitus, lelah, penat, inkordinasi, penglihatan kabur, diplopia, euforia, gelisah, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang sering muncul adalah nafsu makan berkurang, mual, muntah, keluhan pada epigastrium, konstipasi atau diare. Efek samping tersebut dapat berkurang apabila diberikan sewaktu makan. Penggunaan astemizol, suatu antihistamin non sedatif, lebih dari 2 minggu dapat menyebabkan bertambahnya nafsu makan dan berat badan.

 

Efek samping lain yang mungkin muncul oleh AH1 adalah mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat, dan lemah pada tangan. Insiden efek samping karena efek antikolinergik lebih sedikit pada pasien yang mendapatkan antihistamin nonsedatif.

 

Pemberian terfenadin atau astemizol dosis terapi bersama ketokonazol, itrakonazol atau antibiotik golongan makrolid seperti eritromisin dapat mengakibatkan perpanjangan interval QT dan mencetuskan terjadinya aritmia ventrikel (torsades de pointes). Keadaan tersebut disebabkan karena antimikroba tersebut menghambat metabolisme terfenadin atau astemizol oleh enzim CYP3A4 sehingga kadar antihistamin dalam darah naik.

 

Selain memberikan efek samping, terdapat juga laporan mengenai kasus keracunan AH1. Efek sentral AH1 pada anak dapat berupa perangsangan dengan manifestasi halusinasi, eksitasi, ataksia, inkoordinasi, atetosis, dan kejang.

 

Antialergi Lain 1

AH1 tidak sepenuhnya efektif untuk pengobatan simptomatik reaksi hipersensitivitas akut, Hal tersebut disebabkan oleh fungsi histamin yang sebenarnya merupakan pemacu untuk dibentuk dan dilepaskannya autakoid lain (seperti peptida endogen, prostaglandin, leukotrien). Selanjutnya, histamin dan autakoid lain ini bersama-sama menimbulkan gejala alergi. Pengobatan alergi biasanya lebih terkait dengan penggunaan antagonis fisiologis tidak tertuju pada penyebabnya. Salah satu terapi hipersensitivitas lain ialah secara profilaksis yaitu menghambat produksi atau pelepasan autakoid dari sel mast dan basofil yang telah tersensitisasi oleh antigen spesifik.

 

a. Natrium Kromolin

Kromolin merupakan obat penghambat histamin dari sel mast paru-paru dan tempat-tempat tertentu, yang diinduksi oleh antigen. Kromolin tidak merelaksasi bronkus atau otot polos lain. Kromolin menghambat pelepasan histamin dan autakoid lain termasuk leukotrien dari paru-paru manusia pada proses alergi yang diperantarai IgE. Penghambatan leukotrien bermanfaat untuk mengurangi bronkokonstriksi terutama pada pasien asma bronkial. Kromolin tidak menghambat ikatan IgE dengan sel mast atau interaksi antara kompleks sel IgE dengan antigen spesifik, tetapi menekan respons sekresi akibat reaksi tersebut.

 

Kromolin diberikan secara inhalasi pada pasien asma bronkial. Kromolin jarang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan meskipun digunakan bertahun-tahun. Reaksi tersering berkaitan dengan efek iritasi bubuk halus kromolin pada paru-paru berupa bronkospasme, batuk, kongesti, hidung, iritasi faring dan wheezing. Kadang timbul pusing, disuria, bengkak, nyeri sendi, mual sakit kepala, dan kemerahan kulit. Gejala yang lebih serius dapat berupa edema laring, angioderma, urtikaria dan anafilaksis.

 

b. Nedokromil

Nedokromil menghambat pelepasan mediator dari sel mast bronkus dan diindikasikan untuk mencegah serangan asma pada pasien dengan asma bronkial ringan sampai sedang. Nedokromil hanya diindikasikan pada pasien asma di usia lebih dari 12 tahun dan diberikan secara inhalasi/semprotan.

 

c. Ketotifen

Ketotifen bersifat antianafilaktik, karena menghambat pelepasan histamin. Ketotifen fumarat diabsorpsi dari saluran cerna. Bentuk utuh dan metabolitnya diekskresi bersama urin dan tinja. Indikasi pemberiannya adalah untuk profilaksis asma bronkial. Efek samping yang dapat muncul sama dengan efek samping dari AH1.

 




Daftar Pustaka

1                   Dewoto HR. Farmakologi dan Terapi: Histamin dan Antialergi. 5thed. Jakarta: Penerbit FKUI;2009. P. 273-87.

2                   Buynak, Durani O. Antihistamin. Diunduh dari http://faculty.smu.edu/odurani_antihistamines.ppt. Diakses 30 September 2011.

3                   Nea MJ. At a Glance Farmakologi Medis. 5thed. Jakarta: Erlangga Medical Series; 22006. P. 29,66.

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.