Diabetes Mellitus

Artikel ini sudah dibaca 8231 kali!

Diabetes mellitus atau yang juga sering disebut sebagai penyakit gula dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2. Keduanya memiliki karakterisitik yang berbeda yang berkaitan dengan kadar insulin dan kerja dari insulin tersebut.

Diabetes Mellitus Tipe 1

DM tipe 1 juga disebut sebagai insulin-dependent DM karena penyakit ini disebabkan kurangnya produksi insulin dalam tubuh. Sel beta pankreas yang semestinya mensekresikan insulin tidak bisa menjalankan kerjanya dengan baik. Oleh karena itu, penderita DM tipe 1 ini membutuhkan insulin dari luar supaya dapat bertahan hidup. Selain itu, DM tipe 1 dapat muncul semenjak penderitanya masih kanak-kanak sehingga disebut juga juvenile-onset diabetes mellitus. Tipe 1 terjadi pada 10% kasus diabetes.

DM tipe 1 merupakan proses autoimun yang menyebabkan kerusakan pada sel beta pankreas oleh sel limfosit T yang teraktivasi dengan tidak tepat. Namun, penyebab pasti proses autoimun tersebut kurang diketahui secara pasti. DM tipe 1 ini dipercaya berkaitan dengan genetik.

Diabetes Mellitus Tipe 2

Berbeda dengan tipe 1, pada DM tipe 2, kadar insulinnya justru normal atau bahkan meningkat sehingga disebut non-insulin-dependent DM. Meskipun kadar insulin normal, sel yang menjadi target dari insulin tersebut kurang sensitif terhadap hormon ini. Sekitar 90% kasus diabetes merupakan jenis ini. Jika onset DM tipe 1 terjadi pada anak-anak, onset DM tipe 2 umumnya terjadi pada orang dewasa.

Hilangnya sensitifitas sel terhadap insulin berkaitan dengan variasi genetika dan faktor gaya hidup. Obesitas, merupakan salah satu faktor resiko terbesar mengingat 90% penderita diabetes melitus tipe 2 merupakan orang yang obesitas.

Beberapa studi menunjukan bahwa respon otot rangka dan hati terhadap insulin dapat dimodulasi oleh adipokin sirkulasi (hormon yang dihasilkan oleh sel adiposa). Misalnya, sel adiposa mensekresikan resistin, yang mempromosikan resistansi insulin dengan mengintervensi kerja insulin tersebut. Pada orang yang obesitas, kadar resistin ini meningkat. Selain mengeluarkan resistin, sel adiposa juga dapat mengeluarkan adiponektin yang berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Namun, pada orang obesitas, adiponektin ini menurun.

Asam lemak bebas yang dilepaskan dari jaringan adiposa dapat secara abnormal terakumulasi di otot rangka dan mengganggu kerja insulin dengan menurunkan kemampuan insulin dalam mempromosikan uptake glukosa yang dimediasi oleh GLUT-4. Selain itu, ternyata asam lemak yang berlebihan tersebut juga secara tidak langsung dapat memicu apoptosis sel beta.

Penalataksanaan Diabetes

Karena disebabkan oleh kurangnya kadar insulin, pengobatan pada penderita DM tipe 1 adalah dengan injeksi insulin secara regular pada sekitar waktu makan, pengaturan jumlah dan tipe makanan serta olahraga. Insulin tidak bisa diberikan per oral (melalui mulut) karena insulin takan dicerna oleh enzim proteolitik di lambung dan usus halus. Pemberian insulin dari luar ini diharapkan bisa membantu mengatasi hiperglikemi yang terjadi karena kadar insulin dalam tubuhnya kurang. Sementara itu, saat olahraga, otot akan mengambil glukosa yang berlebihan dalam darah sehingga kebutuhan akan insulin berkurang.

Pada diabetes tipe 2, yang penting adalah kontrol diet dan pengurangan berat badan. Juga, dapat diberikan beberapa obat yang membantu tubuh penderita untuk menggunakan insulinnya sendiri secara lebih efektif dengan mekanisme sebagai berikut.

1. Sulfonylureas, misalnya Glucotrol: menstimulasi sel beta untuk mensekresikan lebih banyak insulin).

2. Metformin, misalnya Glucophage: menekan output glukosa dari hati.

3. Alpha glycosidase inhibitors, misalnya Precose: mengeblok enzim yang mencerna karbohidrat kompleks, sehingga menurunkan absorpsi glukosa ke dalam darah dari saluran pencernaan. Dengan mekanisme ini, lonjakan kadar glukosa setelah makan dapat dihindari.

4. Thiazolidinediones, misalnya Avandia: membuat sel otot dan sel lemak lebih reseptif terhadap insulin.

5. Incretin mimetics, misalnya Byetta: meniru incretin. Incretin merupakan hormon yang dilepaskan oleh saluran pencernaan sebagai respon terhadap makanan untuk mengantisipasi peningkatan gula darah. Byetta, akan meniru hormon glucagon-like peptide 1 (GLP-1). GLP-1 dilepaskan dari sel L di usus halus sebagai respon terhadap intake makanan dan memiliki efek menurunkan kadar glukosa secara multipel. Sebagaimana GLP-1, Byetta akan menstimulasi sekresi insulin saat kadar glukosa tinggi, tetapi tidak pada saat kadar glukosa rendah atau normal. Byetta juga menurunkan produksi glukagon yang meningkatkan glukosa serta menurunkan pengosongan lambung. Dengan memberikan efek kenyang, intake makanan akan berkurang sehingga dalam jangka panjang, Byetta dapat berfungsi untuk menurunkan berat badan. Selain itu, Byetta juga menstimulasi regenerasi sel beta pankreas.

6. Dipeptidyl peptidase-4 atau DDP-4 inhibitor, misalnya Januvia: meningkatkan kadar GLP-1 endogen. GLP-1 dapat dipecahkan oleh enzim yang disebut DDP-4. Dengan pemberian obat ini, DDP-4 akan dihambat sehingga GLP-1 dapat bekerja dengan lebih lama. Pemanjangan masa kerja ini dapat meningkatkan kerja insulin sampai kadar glukosa kembali normal. Januvia juga menekan pelepasan glukosa oleh hati dan memperlambat pencernaan.

Karena tidak ada satu pun obat yang memberikan insulin baru ke tubuh, obat-obatan tersebut tidak dapat digunakan untuk orang dengan diabtes tipe-1.Selain itu, kadangkala pada diabetes tipe-2 terjadi pelemahan sel beta pankreas sehingga tidak lagi bisa menghasilkan insulin. Pada kasus ini, pasien yang tadinya non-dependent-insulin membutuhkan terapi insulin.

disusun oleh Johny Bayu Fitantra



Daftar Pustaka

Sherwood L. Human Physiology: The Periferal Endocrine Glands. 7thed. Canada: Brooks/Cole Cengage Learning; 2010. P. 720-1.

 

 

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.