Farmakologi BPH (benign prostat hyperplasia)

Artikel ini sudah dibaca 104241 kali!

Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan medik. Kadang-kadang mereka yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun. Namun, jika keluhannya ternyata semakin parah, dibutuhkan juga terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain.

Tujuan utama terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah untuk:

a.       Memperbaiki keluhan miksi

b.      Meningkatkan kualitas hidup

c.       Mengurangi obstruksi infravesika

d.      Mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal

e.      Mengurangi volume residu urine setelah miksi

f.        Mencegah progresifitas penyakit.

Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat alfa adrenergik (adrenergik alfa blocker) serta mengurangi volume prostat sebagai komponen statik dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron atau dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5α-reductase. Selain itu, yang sering digunakan adalah terapi menggunakan fitofarmaka yang mekanisme kerjanya belum begitu jelas.1

1. Penghambat reseptor adrenergik-α

Prostat manusia serta dasar dari kandung kemih memiliki alfa-1 adenoreceptors (α-1A). Sementara itu, prostat dapat menunjukan respon kontraktil terhadap agonist yag terkait. Pemberian obat yang secara selektif menghambat reseptor tersebut bisa mengurangi resiko efek samping pada pemberian obat menggunakan α-blocker.2 Alfa blocker bisa diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor serta waktu paruhnya.3

Klasifikasi alfa-bloker adalah sebagai berikut: 3

a.       Non selektif                       : Fenoksibenzamin, 10 mg 2x/hari

b.      Alpha-1, short acting      : Prazosin, 2mg 2x/hari

c.       Alpha-1, long acting        : Terazosin, 5 atau 10 mg/hari; Doxazosin, 4 atau 8 mg/hari

d.      Alpha-1a, selective          : Tamsulosin, 0.4-0.8 mg/hari; alfuzosin 10 mg/hari

 

Alpha blocker yang long acting memungkinkan untuk membuat dosis satu hari, tetapi titrasi dosis tetap dibutuhkan. Pada permulaan, terazosin diberikan 1 mg/hari selama 3 hari lalu ditingkatkan menjadi 2 mg/hari selama 11 hari dan kemudian menjadi 5 mg/hari. Bahkan, dosis bisa dinaikan sampai 10mg/hari jika dibutuhkan. Sementara itu, terapi dengan menggunakan doxazosin dimulai dari 1mg/hari selama seminggu dan dinaikan menjadi 2mg perhari selama seminggu juga, kemudian menjadi 4mg/hari. Kenaikan dosis bisa sampai 8mg/hari jika dibutuhkan.

 

Dulu, saat pertama kali obat penghambat adrenergik alfa digunakan sebagai salah satu terapi BPH, obat yang digunakan adalah fenoksibenzamin. Obat tersebut merupakan penghambat alfa yang tidak selektif yang ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi. Sayangnya, obat tersebut menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan seperti hipotensi postural dan kelainan kardiovaskular lainnya. 1

Ditemukannya obat penghambat adrenergik-α1 dapat mengurangi efek sistemik akibat efek penghambatan pada adrenergik-α2 seperti pada fenoksibenzamin.  Beberapa di antaranya adalah prazosin yang diberikan dua kali sehari, terazoin, afluzoin, dan doxazosin yang diberikan sekali sehari. Sebagaimana fenoksibenzamin, obat-obat tersebut dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin.1 Namun, tetap saja ada efek samping yang mungkin muncul seperti hipotensi ortostatik, pusing, lelah, ejakulasi retrograde, rhinitis dan sakit kepala.3

Akhir-akhir ini juga telah ditemukan obat golongan penghambat adrenergik-α1A, yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Obat ini dikatakan mampu memperbaiki pancaran miksi tanpa menimbulkan efek berlebih terhadap tekanan darah maupun denyut jantung.1

Dosis awal untuk tamsulosin adalah 0.4mg/hari yang bisa dinaikan sampai 8mg/hari. Tidak perlu dilakukan titrasi pada obat jenis ini mengingat efek samping yang lebih minimal tersebut. Begitu juga pada alfuzosin, tidak diperlukan titrasi dosis untuk memberikan resep sampai 10mg.3 Bandingkan dengan prazosin yang membutuhkan titrasi dosis dan dosis dua kali perhari.2

2. Penghambat 5 α-reductase

Obat jenis ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT) dari testosteron yang dikatalisis oleh enzim 5 α-reductase di dalam sel prostat. Penurunan kadar DHT akan menurunkan pula sintesis protein dan replikasi sel-sel prostat.1

Finasteride merupakan salah satu obat yang bekerja dengan mekanisme tersebut. Obat ini berpengaruh terhadap komponen epitel prostat, mengurangi ukuran kelenjar dan gejala yang muncul. Terapi selama enam bulan dibutuhkan untuk melihat efek maksimum pada ukuran prostat (reduksi 20%)serta gejala.

Obat golongan ini sudah terbukti efikasi, keamanan dan daya tahannya. Meskipun begitu, perbaikan dari gejala-gejala hanya muncul pada pria dengan pembesaran prostat lebih dari 40 cm3. Efek samping yang mungkin muncul adalah penurunan libido, volume ejakulasi dan impotensi. Serum PSA bisa berkurang sampai 50% pada pasien yang diterapi dengan finasteride, meskipun nilainya bervariasi pada tiap individu. Selain finasteride, jenis lain dari obat golongan ini adalah dutasteride.3,2

3. Fitoterapi

Fitoterapi mengacu pada penggunaan tanaman atau ekstrak tanaman untuk tujuan medis. Penggunaan fitoterapi pada BPH mulai banyak dilakukan di eropa dan Amerika. Beberapa tanaman yang populer digunakan di antaranya adalah potongan kecil-kecil dari palmetto berry, kulit kayu Pygeum africanum, akar Echinacea purpurea,dan Hypoxis rooper, ekstrak serbuk sari dan daun poplar. S. repens telah diteliti dengan baik dengan pemberian dosis sebesar 320mg/hari. Meskipun efek positif pada gejala dan rata-rata aliran kencing sudah tercatat pada berbagai penelitian, tetapi dikatakan hal tersebut masih belum konsisten. Bahkan ada pula uji prospektif yang menunjukan tidak adanya manfaat dari potongan palmetto terhadap perbaikan gejala dan aliran urin dibandingkan dengan plasebo. Mekanisme fitoterapi belum diketahui secara pasti dan efikasi serta keamanannya belum teruji dengan baik pada studi multicenter, randomized, double-blind, dan placebo-controlled.3,2

Meskipun belum ada penelitian dan data-data farmakologik tentang kandungan zat aktif, ada beberapa kemungkinan mekanismenya yaitu sebagai: anti-estrogen, anti-androgen, menurunkan kadar sex hormon binding globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast growth factor (bFGF)dan epidermal growth factor (EGF), mengacaukan metabolisme prostaglandin, efek antiinflamasi, menurunkan outflow resistance,dan memperkecil volume prostat. Fitoterapi yang sudah banyak dipasarkan yaitu Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica dan lainnya. 1

disusun oleh Johny Bayu Fitantra

Daftar Pustaka

1 Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi: Hiperplasia Prostat. 2nd ed. Jakarta: Sagung Seto, 2008. P. 77-9

2 McPhee SJ, Papadakis MA. 2011 Current Medical Diagnosis and Treatment: Urologic Disorder. United States of America, 2011. p. 923-5.

3 Tanagho EA, McAnich JW. Smith’s General Urology: Neoplasms of The Prostat Gland. United States of America: The McGraw-Hill Companies, 2008. P. 352-3

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.