Artikel ini sudah dibaca 46143 kali!

Oleh Arini Purwono:

Obesitas dan overweight sangatlah berbeda. Overweight adalah kelebihan berat badan, sedangkan obesitas berarti terlalu gemuk. Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan. Cara menentukan apakah seseorang termasuk obesitas ataupun tidak dapat dilakukan dengan cara menghitung BMI org tersebut, yaitu dengan rumus BB(kg)/tinggi (m)2 atau dengan mengukur lingkar pinggang seseorang.1

Obesitas dapat disebabkan oleh, antara lain: genetik, faktor metabolik/hormonal (cushing’s syndrome, hipotiroidisme), faktor lingkungan (asupan makanan berlebih, makanan tinggi lemak, sosial), obat (misalnya steroid), psikologi (ada orang yang terus menerus makan di saat stress), dan tingkah laku (memiliki kebiasan mengemil).

Saat ini, sebuah model pencegahan penyakit kronik yang meliputi intervensi gaya hidup dan tim terapi interdisiplin dari peneliti, ahli gizi, spesialis olahraga, dan terapis tingkah laku merupakan kesempatan penanganan terbaik. Program penurunan berat dengan kemungkinan sukses tertinggi adalah yang mengintegrasikan pemilihan makanan sehat, latihan, dan modifikasi gaya hidup. Penanganan farmakologi juga tepat pada keadaan-keadaan tertentu tapi bukan merupakan substitusi dari perubahan pada pola makan dan pola aktivitas fisik.2

Tujuan penanganan obesitas harus difokuskan dari penurunan berat badan sendiri ke pemeliharaan berat badan, yang berarti mencapai berat badan yang paling baik menurut konteks kesehatan keseluruhan.

 

Modifikasi Pola Makan2

Program penurunan berat dengan derajat kesuksesan apapun mengintegrasikan perubahan pilihan makanan dengan latihan, dan seringkali dengan modifikasi kebiasaan, edukasi nutrisi, dan dukungan psikologis. Ketika penanganan ini gagal memberikan hasil yang diinginkan, medikasi dapat ditambahkan ke dalam program dan, pada kasus obesitas yang ekstrem (BMI lebih dari sama dengan 40), intervensi pembedahan dapat diperlukan.

 

Rekomendasi

Program penurunan berat badan harus dikombinasikan dengan rejimen diet gizi seimbang dengan modifikasi latihan dan gaya hidup. Memilih strategi penanganan yang sesuai tergantung pada tujuan dan risiko kesehatan dari pasien. Pilihan penanganan termasuk antara lain:

  • Diet rendah kalori, peningkatan aktivitas fisik, dan modifikasi gaya hidup
  • Farmakoterapi
  • Terapi bedah
  • Pencegahan dari penambahan berat badan melalui penyeimbangan energi.

 

Diet Pembatasan Energi

Diet pembatasan energi yang seimbang merupakan metode penurunan berat badan yang paling sering diresepkan. Diet tersebut harus cukup secara nutrisi kecuali untuk energi, yang dikurangi hingga poin di mana penyimpanan lemak harus dapat dimobilisasi untuk mencapai kebutuhan energi harian. Defisit kalori dari 500 hingga 1000 kkal setiap harinya biasanya dapat mencapai tujuan tersebut. Tingkat energi bervariasi pada setiap individu menurut ukuran dan aktivitasnya, umumnya berkisar dari 1200 hingga 1800 kkal setiap harinya. Tanpa memerhatikan tingkat restriksi kalori, pola makan sehat harus diajarkan, dan rekomendasi untuk peningkatan aktivitas fisik harus diikutsertakan.

Diet rendah kalori harus diindividualisasikan untuk karbohidrat (50% hingga 55% dari total kilokalori), menggunakan sumber-sumber seperti sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Diet juga harus meliputi protein, sekitar 15% hingga 23% kilokalori, untuk mencegah konversi protein menjadi energi. Konten lemak harus tidak melebihi 30% dari total kalori. Tambahan dari serat juga direkomendasikan untuk menurunkan densitas kalori, untuk memberi rasa kenyang dengan memperlambat waktu pengosongan lambung, dan untuk sedikit menurunkan efisiensi absorpsi usus.

Penghitungan lemak sebagai persentase kalori terbukti efektif dalam mendukung asupan rendah energi. Aturan dasar adalah untuk membagi kadar kalori ideal menjadi 4 setiap asupan 25% lemak (misal, asupan 1800 kkal harus mencakup 450 kkal dari lemak, atau sekitar 50 g lemak). Hal tersebut memberikan hasil yaitu asupan rendah energi tanpa kelaparan. Total kalori juga harus diperhatikan.

Jumlah asupan alkohol dan makanan dengan kadar gula tinggi haruslah dikurangi sebagai sumber energi yang tidak sibutuhkan. Alkohol bersifat seoerti lemak dalam tubuh, karena ia memisahkan lemak sehingga tidak teroksidasi. Pada peminum alkohol berat, justru akan menyebabkan nafsu makan berturun pesat hingga bisa terjadi malnutrisi, namun pada peminum sedang, akan menaikkan berat badan karena alkohol dianggap sebagai justru menambah jumlah kalori yang masuk. Pemanis buatan atau pengganti lemak tidak terbukti memiliki makna besar dalam menurunkan berat badan.

Suplemen vitamin dan mineral yang disesuaikan usia sangat dianjurkan untuk dikonsumsi dalam program penurunan berat badan. Pada wanita dibutuhkan kurang dari 1200 kcal dan 1800 kcal pada pria.

 

Diet Formula atau Makanan Pengganti

Makanan pengganti ini merupakan makanan atau minuman siap saji yang digunakan sebagai pengganti makanan lainnya yang berkalori tinggi. Umumnya, terkandung di dalamnya 5 g serat, 10-14 g protein, dan sejumlah karbohidrat, 10 g lemak dan 25% – 30% RDfu vitamin dan mineral.

Dengan mengganti makanan utaman atau ringan 2 kali sehati dapat membantu mengurangi berat badan atau menjaga berat badan secara signifikan.

 

Pembatasan Energi Secara Berlebih dan Puasa

Yang dimaksud dengan pembatasan energi masukan secara berlebih apabila jumlahnya kurang dari 800 kcal per hari atau puasa  dibawah 200kcal per hari. Puasa memang bisa menjadi salah satu pilihan terapi namun terkadang dapat menyebabkan gangguan neurologis, hormonal, dan efek samping lainnya. Lebih dari 50% jumlah berat badan yang akan berkurang adalah cairan tubuh yang dapat menyebabkan hipotensi. Dapat pula terjadi akumulasi asam urat atau memunculkan batu empedu. Selain itu puasa ekstrim ini dapat berujung pada anoreksia.

 

Diet Kalori Sangat Rendah

Yang dimaksut diet kalori sangat rendah adalah apabila masukan kalori hariannya berkisar antara 200-800 kcal. Umumnya diet ini rendah kalori namun tinggi protein (0.8-1.5 g/kg IBW per hari). Diet ini termasuk konsumsi vitamin, mineral, elektrolit, asam lemak. Lama yang dianjurkan untuk diit ini adalah 12-16 minggu. Karena efek samping yang mungkin ditimbulkan maka diet ini dianjurkan untuk pasien dengan BMI diatas 30. Efek sampingnya antara lain, tidak tahan dingin, pusing, gugup, euforia, konstipasi atau diare, kulit kering, rambut menipis dan kemerahan, anemia, menstruasi yang reguler.

Modifikasi Gaya Hidup2

Modifikasi tingkah laku telah menjadi hal yang penting dalam intervensi obesitas. Hal ini terfokus pada membentuk ulang lingkungan pasien untuk mengurangi tingkah laku atau kebiasaan yang berkontribusi terhadap obesitas. Sebagai tambahan pada nutrisi dan aktivitas fisik, komponen kunci dari program modifikasi tingkah laku meliputi self-monitoring, penetapan tujuan, kontrol stimulus, penyelesaian masalah, restrukturisasi kognitif, dan pencegahan kekambuhan.

Self-monitoring dengan rekaman data dan waktu setiap harinya mengenai asupan makanan, disertai pula dengan pemikiran dan perasaan, membantu mengidentifikasikan aturan fisik dan emosi yang terjadi saat makan. Aktivitas fisik biasanya dicatat dalam menit atau kalori yang dihabiskan. Hal ini juga menyediakan feedback dalam kemajuan dan menempatkan tanggung jawab untuk berubah pada pasien.

Kebanyakan program tingkah laku mencoba untuk mencapai 0,5 – 1 kg penurunan berat per minggu dengan target kalori, gram lemak, dan aktivitas fisik, yang dibahas saat fase penetapan tujuan. Kontrol stimulus mencakup modifikasi dari (1) rantai kejadian yang mendahului makan, (2) jenis makanan yang dikonsumsi saat makan, dan (3) konsekuensi dari makan. Pasien diajari untuk memperlambat laju makan dan menjadi lebih sadar akan rasa kenyang dan mengurangi asupan makanan. Strategi seperti menaruh alat makan di antara kunyahan merupakan salah satu cara untuk memperlambat proses makan. Penyelesaian masalah adalah proses untuk mendefinisikan masalah makan atau masalah berat, menciptakan solusi yang mungkin, mengevaluasi solusi, memilih yang terbaik, melakukan tingkah laku yang baru, mengevaluasi hasilnya, dan mereevaluasi solusi alternatif jika solusi sebelumnya tidak berhasil. Restrukturisasi kognitif mengajarkan pasien untuk mengidentifikasi, menantang, dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang sering menurunkan usaha mereka dalam pemeliharaan berat badan. Program yang komprehensif dari modifikasi gaya hidup menghasilkan penurunan berat badan kira-kira 10% dari berat badan awal dalam 16-26 minggu.

 

Pola Latihan2

Kegemukan adalah hasil dari ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi. DEngan meningkatkan proporsi LBM dalam lemak, olahraga membantu menyeimbangkan kehilangan LBM dan pengurangan RMR yang pasti akan terjadi walaupun pada program penurunan berat badan yang baik. Efek positif yang lain dari olahraga antara lain memperkuat sistem kardiovaskular, meningkatkan sensitifitas pada insulin, dan mengeluarkan energi tambahan, yaitu kalori.

Aktivitas fisik adalah komponen yang paling beragam dari pengeluaran energi atau energi expenditur. Peningkatan pengeluaran energi melalui olahraga atau aktivitas fisik lain merupakan komponen penting untuk meningkatkan penurunan berat badan dan pencegahan berat kembali naik. Tingkatan latihan atau olahraga yang adekuat untuk menimbulkan efek adalah 60-90 menit perhari (rekomendasi USDA).

Orang dewasa yang memiliki berat badan berlebih / overweight dan obese harus diberikan konseling agar secara bertahap meningkatkan aktivitas fisik dan olahraga orang tersebut. Apabila seorang overweight atau obese tidak dapat mencapai tingkatan tertentu pada aktivitas fisik tersebut maka minimal perhari setidaknya selama 30menit melakukan aktivitas yang bersifat moderate activity. Oleh karena itu diperlukan intervensi yang menargetkan tingkatan aktivitas fisik tersebut untuk meningkatkan kesehatan dan mengkontrol berat badan secara jangka panjang.

Kombinasi dari latihan aerobik dan ketahanan lebih dianjurkan. Latihan ketahanan dapat meningkatkan LBM, kemampuan untuk meningkatkan asupan energi dan meningkatkan kepadatan tulang, yang terutama penting bagi wanita. Latihan aerobik penting untuk kesehatan sistem kardiovaskular, serta untuk pengeluaran energi sehingga cadangan lemak di tubuh akan digunakan. Selain manfaat fisiologis dari latihan tersebut adalah menghilangkan kebosanan, meningkatkan kemampuan kontrol, dan meningkatkan rasa kesejahteraan.

RMR ini ditingkatkan dengan latihan aerobik. RMR akan kembali ke tingkat istirahat dalam waktu satu jam atau lebih setelah olahraga, kecuali pada latihan memiliki intensitas tinggi. Pengeluaran energi selama periode ini menggambarkan penggunaan glikogen otot, yang merupakan efek dari perubahan hormonal dan peningkatan metabolisme cadangan energi dalam tubuh.

Berlawanan dengan kepercayaan masa kini, spot reduction (mengurangi lemak pada suatu daerah tubuh tertentu) tidak mungkin dengan olahraga. Hal tersebut dikarenakan lemak terbakar pada konsentrasi yang besar pada jaringan adiposa. Kesalahpahaman lain adalah bahwa olahraga disebut counterproductive karena meningkatkan keinginan untuk makan. Padahal sebenarnya konsistensi adalah kunci untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan keuntungan dari olahraga untuk mangatur berat badan. Dahulu, olahraga yang direkomendasikan harus dilakukan selama 20 sampai 60 menit latihan ketahanan dengan intensitas sedang sampai tinggi yang dilakukan tiga atau lebih kali seminggu. Namun sekarang, tampak bahwa sebagian besar manfaat kesehatan dapat diperoleh dengan aktivitas fisik yang moderat intensitas (cukup untuk mengeluarkan 200 kkal setiap hari). Cara terbaik adalah untuk memelihara kesehatan kardiovaskular secara maksimum, terlepas dari berat badan, dapat dilakukan latihan intensitas tinggi selama 20 sampai 30 menit 4 sampai 7 hari per minggu.

 

Terapi Farmakologi Obesitas

Obat anti obesitas umumnya anoreksan atau penekan nafsu makan golongan simpatomimetik dan pemberiannya sementara. Obat ini dapat menimbulkan toleransi dan lama-lama efek obat ini akan berkurang. Umumnya obat-obat ini merangsang SSP sehingga akan menyebabkan adiksi. Obat ini sering bekerja dengan meningkatkan neurotransmitter anoreksigenik seperti NE, serotonin, dan dopamin.

 

Obat Antiobesitas3

Obat antiobesitas dapat dibagi menjadi golongan-golongan berikut:

  • Golongan nonadrenergik: amfetamin (tidak diizinkan), fentermin (meningkatkan pelepasan NE saja), dietilpropion, dan mazindol.
  • Golongan serotonergik: fenfluramin (meningkatkan pelepasan serotonin dan menginhibisi reuptake-nya) dan fluoksetin.
  • Campuran noradrenergik dan serotonergik: sibutramin (menginhibisi reuptake serotonin dan NE).
  • Gastrointestinal lipase inhibitor: orlistat (menginhibisi lipase lambung dan pankreas).

 

Obat-obat antiobesitas yang dapat digunakan dan disetujui oleh FDA hanyalah yang memenuhi DEA schedule III dan IV. DEA schedule ialah penggolongan obat berdasarkan potensinya untuk menimbulkan ketergantungan. Semakin rendah nilainya maka semakin bahaya untuk disalahgunakan.

Orlistat adalah yang paling aman digunakan karena tidak bekerja pada SSP, sedangkan sibutramin, dietilpropion, dan fentermin termasuk golongan IV yang berarti kemungkinan penyalahgunaannya lebih rendah. Sibutramin dapat digunakan untuk jangka panjang (lebih dari 6 bulan) karena kecenderungan penyalahgunaannya lebih kecil dan efek kerjanya akan hilang setelah 1 tahun.

Berikut ini merupakan obat-obat antiobesitas yang dapat digunakan dan disetujui oleh FDA:

 

Nama Generik Nama Dagang DEA Schedule Lama Penggunaan Disetujui
Orlistat Xenical Tidak ada Jangka panjang 1999
Sibutramin Meridia IV Jangka panjang 1997
Dietilpropion Tenuate IV Jangka pendek 1973
Fentermin Adipex, Ionamin IV Jangka pendek 1973
Fendimetrazin Bontril, Prelu-2 III Jangka pendek 1961
Benzfetamin DIldrex III Jangka pendek 1960

 

Sedangkan di bawah ini adalah merk dagang dari masing-masing obat antiobesitas yang beredar di Indonesia, antara lain:

  • Sibutramin: ReductilR, RedufastR
  • Orlistat: XenicalR
  • Dietilpropion: ApisateR
  • Fenfluramin:  PonderalR
  • Mazindol: TeronacR
  • Fentermin: MiraprontR

 

Fenilpropanolamin yang digunakan oleh wanita obesitas dalam dosis besar (lebih dari 75 mg sehari), ternyata menyebabkan peningkatan kejadian stroke. Karena itu, indikasi obat ini untuk obesitas telah ditarik, dan hanya boleh digunakan dalam dosis maksimal 75 mg sehari sebagai dekongestan.

Fenfluramin sebagai obat antiobesitas telah ditarik dari peredaran karena diperkirakan menyebabkan hipertensi pulmonal dan kerusakan katup jantung.

Obat antiobesitas yang diizinkan untuk digunakan di Indonesia ialah campuran golongan noradrenergik dan golongan serotonergik, yaitu sibutramin; dan golongan gastrointestinal lipase inhibitor, yaitu orlistat.

 

Sibutramin4

Pada tahun 1997, FDA mengizinkan dipasarkannya merk obat Meridia yang mengandung sibutramin di dalamnya. Obat yang memiliki rumus molekul C17H29Cl2NO ini bekerja dengan cara menghambat reuptake norepinefrin, serotonin, dan dopamin di sistem saraf pusat; dengan inhibisi yang terjadi pada reuptake norepinefrin dan serotonin 3 kali lebih besar dibandingkan pada dopamin. Dua molekul metabolit aktif sibutramin (M1 dan M2) juga merupakan inhibitor reuptake norepinefrin dan serotonin.

Sibutramin menghambat norepinefrin yang akan menimbulkan rasa kenyang dan menekan nafsu makan dan mengurangi asupan kalori oleh karena efek anoreksan yang dikandung oleh obat ini. Selain itu, sibutramin juga meningkatkan pengeluaran energi dan mengurangi kecepatan metabolisme yang turun terkait penurunan berat badan.

Sibutramin cocok jika diberikan kepada pasien yang memiliki nafsu makan yang sulit dikendalikan, suka mengemil, sering makan di malam hari, memerlukan penurunan berat badan dalam waktu singkat untuk alasan medis, memiliki kadar HDL rendah, atau tidak memiliki kontraindikasi terhadap penggunaan sibutramin (terutama kelainan jantung atau tekanan darah tinggi).

 

Farmakokinetik

Obat ini diabsorpsi secara cepat dengan pemakaian secara oral. Waktu yang diperlukan sibutramin untuk mencapai kadar puncaknya ialah 1 hingga 2 jam. Metabolisme lintas pertama terjadi di hati, terutama oleh CYP3A4. Obat ini diekskresi terutama melalui urin. Makanan dapat mengurangi kadar puncak M1 (27%) dan M2 (32%) dalam darah, dan waktu untuk mencapai kadar puncak memanjang menjadi 3 jam.

 

Indikasi

Obat yang digunakan pasien obesitas untuk mengurangi berat badan ini dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan terkait obesitas, dengan catatan hipertensi harus terkontrol. Sibutramin dianjurkan untuk penderita obesitas dengan IMT lebih dari sama dengan 30 kg/m2, atau dengan IMT 27 dan disertai faktor risiko lain seperti diabetes, hipertensi, arthritis, sleep apneu, dan dislipidemia.

Puncak penurunan berat badan terjadi setelah sekitar 6 bulan pemakaian dan berat badan dapat dipertahankan untuk sekurangnya 1 tahun. Sibutramin dikenal efektif untuk mempertahankan penurunan berat badan. Karena efek sibutramin berakhir minimal 1 tahun, maka sibutramin dianjurkan untuk pengobatan obesitas jangka panjang.

 

Dosis

Dosis awal sebesar 10 mg diberikan 1 kali/ hari dengan atau tanpa makan. Bila penurunan berat badan tidak signifikan, maka dosis dapat ditingkatkan setelah 4 minggu pemakaian menjadi total 15 mg 1 kali/hari. Tekanan darah dan frekuensi jantung pasien perlu dipertimbangkan saat titrasi dosis. Tidak dianjurkan pemakaian dengan dosis di atas 15 mg. Pada kebanyakan uji klinis, pemberian obat dilakukan pada pagi hari.

 

Efek samping

Efek samping dari sibutramin antara lain: mulut kering, anoreksia, sakit kepala, konstipasi, insomnia, peningkatan tekanan darah dan detak jantung, dan aritmia (memerlukan pengawasan lebih lanjut). Penderita dengan sejarah drug abuse perlu lebih diperhatikan untuk tanda-tanda gangguan tertentu.

 

Kontraindikasi

Kontraindikasi dari sibutramin antara lain: hipertensi tidak terkontrol; penderita dengan sejarah infark miokard, angina, gagal jantung, aritmia jantung, stroke atau serangan iskemik selintas  (Transient Ischaemic  Attack), atau penyakit arteri perifer.

 

Interaksi Obat

Sibutramin akan berinteraksi jika diberikan bersama dengan obat simpatomimetik, contohnya dekongestan nasal. Jika diberikan bersama dengan obat serotonergik, contohnya antidepresi golongan Selective Serotonin Reuptake  inhibitors (SSRI), misalnya fluoksetin atau sertalin, dapat  mengakibatkan serotonin syndrome yang mungkin fatal, sehingga hal tersebut juga merupakan kontraindikasi.

 

 

Orlistat1

Orlistat merupakan suatu derivat sintetik lipstatin (suatu inhibitor lipase) yang dihasilkan oleh Streptomyces toxytricini. Lipase gastrointestinal (pankreas dan lambung) penting untuk absorpsi trigliserida rantai panjang dan memfasilitasi pengosongan lambung.

Orlistat bekerja selektif dalam menghambat lipase gastrointestinal dengan cara menghambat pembentukan asam lemak bebas dari trigliserida makanan, sehingga absorpsi lemak makanan menurun dan berat badan dapat berkurang. Obat ini sangat sedikit diabsorpsi dan digunakan dengan makanan yang mengandung lemak agar menunjukkan hasil yang diinginkan.

Penurunan berat badan yang terjadi pada pasien yang mengonsumsi orlistat mungkin disebabkan karena individu tersebut mengurangi asupan lemak mereka untuk menghindari efek gastrointestinal parah seperti steatorrhea. Suplemen vitamin (terutama vitamin D) dapat diberikan jika terjadi kekurangan vitamin larut lemak. Orlistat tidak dapat diberikan lebih lama dari 2 tahun karena kurangnya pengalaman dalam kurun waktu tersebut.

Orlistat cocok jika diberikan pada pasien yang telah mengalami penurunan berat badan setidak 2,5 kg akibat penggunaan obat, memerlukan terapi jangka panjang, yang pada terapi dietnya memerlukan asupan lemak tinggi, memiliki kadar LDL yang tinggi, memiliki gangguan toleransi glukosa, telah berulang kali kehilangan berat badan belakangan ini dan dengan cepat mengembalikannya, atau memiliki kemampuan untuk menjalani diet rendah lemak dalam waktu yang lama.

 

Dosis

Pemberian orlistat dengan dosis 120 mg yang diberikan segera sebelum, saat, dan hingga 1 jam setelah setiap makan besar (maksimal 360 mg/hari). Pemberian dosis tersebut memberikan hasil  yaitu lemak dapat berkurang sampai 30%. Maksimal terapi pengobatan 2 tahun. Tidak direkomendasikan bagi anak-anak.

 

Efek samping

Efek samping dari orlistat antara lain: feses lunak, nyeri abdomen, flatus, fecal urgency atau incontinence yang paling sering terjadi selama 1-2 bulan pertama dengan derajat ringan sampai sedang dan cenderung membaik seiring berlanjutnya penggunaan.

 

Kontraindikasi

Kontraindikasi dari pemberian orlistat antara lain: sindrom malabsoprsi kronik, kolestasis, kehamilan dan menyusui.

 

Pengawasan Jangka Panjang4

Pasien yang menjalani terapi obat antiobesitas akan diawasi pula berat badannya (setiap bulan atau tidak kurang dari sekali dalam 2 bulan), diperhatikan nadi dan tekanan darahnya, risiko terkait obesitas dan penyakit lainnya (misal: dislipidemia, diabetes tipe 2), serta kemajuan dari penurunan berat badan dan penyesuaiannya terhadap dosis obat yang dikonsumsi.

 

Penyalahgunaan Obat1

Penyalahgunaan obat yang dimaksudkan adalah pemakaian obat untuk menurunkan berat badan namun sebenarnya obat tersebut bukan merupakan agen penurut badan. Golongan obat tersebut antara lain:

  • Metilselulosa: mengembang dalam perut sehingga membuat kenyang (tidak boleh digunakan).
  • Pencahar: dikonsumsi agar makanan yang dimakan tidak diserap tubuh dan langsung dibuang.
  • Diuretik: menyebabkan orang yang mengonsumsi menjadi sering buang air kecil sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.

 

Penatalaksanaan Obesitas Anak

  • Menetapkan target penurunan berat badan

Yaitu berdasarkan umur anak: usia 2 – 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target penurunan berat badan sebesar 2,5 – 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 – 2 kg per bulan.5

  • Pengaturan diet

Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat (IMT lebih dari 97 persentile) dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah (very low calorie diet).6

Hal yang perlu diperhatikan: 5

  • Tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
  • Diet dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh kurang dari 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol kurang dari 300 mg per hari.
  • Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia lebih dari 2 tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5) gram per hari. 5
  • Pengaturan aktivitas fisik

Peningkatan aktivitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme. Latihan fisik disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktivitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan ketrampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama 20-30 menit per hari. 5

  • Mengubah pola hidup/perilaku

Pada anak, diperlukan bantu peran serta orang tua sebagai komponen intervensi, yaitu:

  • Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktivitas fisik serta mencatat perkembangannya.
  • Mengontrol rangsangan untuk makan.
  • Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
  • Memberikan penghargaan dan hukuman.
  • Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah. 5
  • Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru.

Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktivitas yang mendukung program diet. 6

  • Terapi intensif 5,6

Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi bedah.

  • Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan lebih dari 140% BB Ideal atau IMT lebih dari 97 persentile, dengan asupan kalori hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5 – 2,5 gram/kg BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum lebih dari 1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan pengawasan dokter.
  • Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu: mempengaruhi asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin; mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin; meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek jangka panjang yang masih belum jelas.
  • Terapi bedah di indikasikan bila berat badan lebih dari 200% BB Ideal. Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding, dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada anak.

 

Daftar Pustaka

  1. Royal College of Physicians of London. Anti-obesity drugs: guidance on appropriate prescribing and management. Royal College of Physicians of London, 2003:1-28.
  2. Gee M., Mahan K., Escott-Stump S. Weight Management. Dalam Krause’s Food and Nutrition Therapy, Editor: Kathleen M., Sylvia E.S. Missouri: Elsevier, 2008;542-550.
  3. National Task Force on the Prevention and Treatment of Obesity. Long-term pharmacotherapy in the management of obesity. JAMA 1996;276:1907-15.
  4. NHS Centre for Reviews and Dissemination. University of York. Prevention and treatment of obesity. Eff Health Care 1997;3:1–12.
  5. Syarif, D.R. Childhood Obesity: Evaluation and Management, Dalam Naskah Lengkap National Obesity Symposium II, Editor: Adi S., dkk. Surabaya, 2003;123-139.
  6. Kiess W., et al. Multidisciplinary Management of Obesity in Children and Adolescents-Why and How Should It Be Achieved?. Dalam Obesity in Childhood and Adolescence, Editor: Kiess W., Marcus C., Wabitsch M. Basel: Karger AG, 2004;194-206.
Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan artikel-artikel terbaru kami!
Tagged on: