Zat Zat Kimia dan Nutrisi yang Mempengaruhi Perkembangan Bayi dalam Kandungan

Artikel ini sudah dibaca 22613 kali!

Cacat struktural kongenital yang besar terjadi pada 2-3 % bayi yang lahir hidup, dan 2-3 % lainnya dikenali pada anak umur 5 tahun sehingga totalnya 4-6 %. Pada 40-60 % dari semua cacat lahir, penyebabnya tidak diketahui. Faktor genetik seperti kelainan kromosom dan gen-gen mutan sebesar 15 %, faktor lingkungan sekitar 10 %, multifaktorial 20-25 % dan kehamilan kembar menyebabkan 0,5-1 %.

Hingga awal 1940-an, diduga cacat congenital terutama karena faktor keturunan. Setelah ditemukan bahwa penyakit campak Jerman yang diderita ibu hamil menyebabkan kelainan pada mudigah, kelainan congenital ternyata dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada tahun 1961 ditemukan bahwa penggunaan thalidomide berkaitan dengan cacat tungkai pada bayi yang memperjelas bahwa obat-obatan dapat melewati plasenta dan menimbulkan cacat lahir.

Peranan zat-zat kimia dan obat-obat farmasi dalam menimbulkan kelainan pada manusia sulit ditafsirkan karena kebanyakan penelitian bersifat retrospektif dengan mengandalkan pada ingatan ibu tentang riwayat paparan dan terdapat banyak sekali obat-obat farmasi yang digunakan oleh wanita hamil. Walaupun penggunaan zat-zat kimiawi ini luas, hanya beberapa yang benar-benar sudah diketahui bersifat teratogenik.

1. Talidomid

Talidomid merupakan pil anti muntah dan obat tidur. Talidomid menyebabkan amelia dan meromelia (tidak terbentuknya anggota-anggota badan seluruhnya atau sebagian), kelainan pada tulang panjang, atresia usus, dan kelainan-kelainan jantung

2. Aminopterin

Senyawa ini tergolong antimetabolit, suatu antagonis asam folat, digunakan sebagai obat antineoplastik (menghambat perkembangan neoplasma, salah satunya menghambat mitosis). Aminopterin menyebabkan anensefali, meningokel, hidrosefalus, bibir sumbing, dan palatoskisis.

3. Antikejang (difenilhidantoin (fenitoin), asam valproat, dan trimetadion)

Penelitian retrospektif pada wanita hamil pengidap epilepsi yang mengonsumsi obat-obatan tersebut ternyata melahirkan bayi yang menderita malformasi mayor seperti cacat jantung, celah pada wajah, dan mikrosefali. Selain itu, difenilhidantoin menyebabkan cacat kepala muka (kraniofasial), hipoplasia kuku dan jari, kelainan pertumbuhan, dan kelainan jiwa. Cacat ini membentuk suatu pola dismorfogenesis yang disebut “sindrom hidantoin pada janin”. Asam valproat menimbulkan cacat tuba neuralis dan jantung, cacat kraniofasial, dan tungkai. Trimetadion menimbulkan cacat telinga, palatoskisis, cacat jantung, urogenital, dan sistem tulang, serta keterlambatan perkembangan fisik dan jiwa, yang keseluruhannya disebut “sindrom trimetadion”.

4. Antipsikosis dan antiansietas (obat penenang mayor dan minor)

Antipsikosis fenotiazin dan litium dicurigai sebagai teratogen walaupun bukti teratogenisitas fenotiazin masi diperdebatkan. Sedangkan litium menyebabkan malformasi jantung. Dalam suatu penelitian ditemukan kelainan-kelainan berat yang terjadi pada 12 % bayi dari ibu yang terpapar meprobamat dan 11 % yang terpapar klordiazepoksid dibandingkan 2,6 % pada kontrol. Penelitian terhadap diazepam menunjukkan peningkatan sampai empat kali kasus bibir sumbing dengan atau tanpa palatoskisis pada anak-anak yang berasal dari ibu yang meminum obat tersebut sewaktu hamil.

5. Warfarin (antikoagulan)

Warfarin menyebabkan hipoplasia kartilago hidung, kondrodisplasia, cacat sistem saraf pusat, termasuk keterbelakangan jiwa, dan atrofi saraf optik.

6. Antihipertensi penghambat ACE

Agen-agen antihipertensi yang menghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor) menimbulkan keterlambatan pertumbuhan, disfungsi ginjal, kematian janin, dan oligohidramnion.

7. LSD (dietilamid asam lisergat)

LSD menyebabkan kelainan anggota badan dan susunan saraf pusat. Akan tetapi, sebuah tinjauan komprehensif dari 100 terbitan menghasilkan kesimpulan bahwa LSD murni dalam dosis sedang tidak bersifat teratogenik dan tidak menyebabkan kerusakan genetik.

8. PCP (fensiklidin, angel dust)

Sebuah laporan kasus tentang malformasi dan kelainan perilaku pada seorang bayi yang ibunya menggunakan PCP sepanjang kehamilannya mengindikasikan kemungkinan adanya hubungan antara obat ini dengan cacat pada bayi tersebut.

9. Kokain

Kokain dilaporkan menyebabkan abortus spontan, keterlambatan pertumbuhan, mikrosefali, masalah-masalah tingkah laku neuro, cacat urogenital, dan gastroskisis. Kelainan yang ditimbulkan kokain mungkin disebabkan karena sifatnya sebagai vasokonstriktor yang menyebabkan hipoksia.

10. Alkohol

Sindrom alkohol janin: kelainan kepala-muka (fisura palpebra yang pendek dan hipoplasia tulang rahang atas), kelainan-kelainan anggota badan (gangguan pergerakan dan posisi sendi), cacat kardiovaskular (kelainan septa ventrikularis), keterlambatan perkembangan jiwa, dan defisiensi pertumbuhan.

11. Isotretinoin (asam 13-cis-retinoat)

Obat ini untuk mengobati akne kistik atau dermatosis kronik lainnya, tetapi sangat teratogenik. Isotretinoin, suatu analog vitamin A, menyebabkan pola malformasi yang khas, disebut “embriopati isotretinoin atau vitamin A” yakni perkembangan telinga kecil dan abnormal, jembatan hidung datar, hipoplasia mandibula, celah langit-langit, hidrosefali, cacat tuba neuralis, dan cacat jantung yang mengenai daerah konotrunkus.

12. Senyawa lain

· Propiltiourasil, kalium iodida –> pembesaran kelenjar gondok (goiter) dan keterbelakangan jiwa

· Streptomisin –> tuli

· Sulfonamide –>kernikterus (kadar bilirubin darah tinggi, hampir selalu dengan gejala saraf yang berat)

· Antidepresan imipramin –>cacat anggota badan

· Tetrasiklin –>kelainan tulang dan gigi

· Amfetamin–> celah pada mulut dan kelainan jantung

· Kinin –> tuli

Hormon

1. Agen-agen androgenik

Progestin sintetik digunakan untuk mencegah abortus. Progestin etisteron dan norethisteron menimbulkan maskulinisasi alat kelamin pada mudigah perempuan, salah satunya pembesaran klitoris yang berhubungan dengan derajat-derajat penyatuan lipatan labioskrotal.

2. Dietilstilbestrol

–> estrogen sintetik untuk mencegah abortus

1. mudigah perempuan:

· kelainan kongenital pada rahim, tuba uterina, bagian atas vagina

· karsinoma vagina dan serviks

2. mudigah laki-laki:

· kelainan pada testis

· sperma abnormal

Nutrisi

1. Makronutrien

a. Karbohidrat –> sumber energi bagi tubuh

b. Protein –>pertumbuhan sel, sintesis jaringan dan otak, mekanisme pertahanan

c. Lemak –> asam lemak esensial dan nonesensial penting untuk pembentukan otak dan selubung mielin

1) Asam lemak omega 3 dan omega 6: komponen mielin, membran sel

2) AA : penting untuk pertumbuhan semua jaringan termasuk otak

3) DHA : penting untuk perkembangan jaringan saraf

d. Vitamin dan Mineral yang seimbang

2. Mikronutrien

a. Asam folat

· Fungsi: penting untuk sintesis, metilasi, dan perbaikan DNA, berperan dalam pematangan sel

· Defisiensi: Neural Tube Defect (NTD), spina bifida, anencephaly

· Sumber: produk padi-padian, sayuran hijau, jeroan, buah-buahan, kentang

b. Vitamin B12

· Fungsi: penting untuk pembentukan selubung myelin, sintesis asam nukleat, terlibat dalam metabolisme asam folat

· Sumber: jeroan, daging, keju fermentasi, susu, kuning telur, spirulina

c. Zat besi

· Fungsi: terlibat dalam pembentukan jaringan ikat dan beberapa neurotransmitter di otak, pembentukan hemoglobin dan enzim yang terlibat dalam metabolisme energi, pembelahan dan pertumbuhan sel berkaitan dengan peranannya dalam sintesis DNA, metabolisme protein

· Defisiensi: kecerdasan, perkembangan psikomotor, dan pengaturan suhu tubuh terganggu

· Sumber: tomat, papaya, brokoli, susu

d. Zat iodium

· Fungsi: perkembangan mental dan fisik

· Defisiensi: kerusakan otak, mental terganggu, pembesaran kelenjar tiroid

· Sumber: garam beryodium, ikan laut

e. Zat seng

· Fungsi: berperan dalam perkembangan otak

· Defisiensi: NTD, unencephalocele, iniencepaly, kelainan kongenital, retardasi mental

· Sumber: daging merah, seafood, kacang-kacangan, sayuran hijau, pumpkin seeds, whole grain

f. Kolin

· Fungsi: prekursor untuk asetilkolin (mempercepat sintesis dan pelepasan asetilkolin dalam sel saraf), phospatidyl choline (lesitin), sfingomielin, platelet activator factor, myelin mengandung kolin, diperlukan untuk penutupan neural tube yang normal

· Sumber: telur, jeroan, sayuran hijau, gandum, kedelai, kacang-kacangan

Pada beberapa kasus, ada riwayat ibu hamil yang mengkonsumsi jamu-jamuan dan obat-obatan yang dijual bebas tanpa rekomendasi dokter/paramedis pada kehamilan 1 bulan. Hal ini mungkin berbahaya bagi janin karena obat-obatan tersebut bisa saja mengandung zat-zat kimia berbahaya (walaupun tidak selalu) yang dapat mengakibatkan cacat pada janin. Apalagi pada kehamilan minggu ketiga sampai kedelapan merupakan masa kepekaan terbesar bagi perkembangan jaringan, terutama saraf. Selain itu, jamu-jamuan mengandung senyawa alkaloid yakni salah satu dari kelompok besar bahan dasar nitrogen yang ditemukan pada tanaman, biasanya sangat pahit dan banyak yang aktif secara farmakologik. Alkaloid dapat bersifat sitotoksik yakni dengan mengikat tabulin sehingga sel tertahan dalam tahap metafase. Contoh senyawa alkaloid antara lain atropine, caffeine, coniine, morphine, nicotine, quinine, strychnine. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan seperti biji, daun, ranting, dan kulit batang. Contoh tanaman yang mengandung alkaloida antara lain Biji Pinang (Areca cathecu), Kulit Kina (Chinchona succirubra), Kecubung (Datura stramonium), dan Daun Koka (Erythoxylon coca).

Disusun oleh Lyriestrata Anisa

DAFTAR PUSTAKA

1. Sadler. Malformasi Kongenital dalam Embriologi Kedokteran Langman Edisi ke-7. Jakarta: EGC, 2000, hal 122-41

2. Witjaksono F, Tambunan V, Oetoro S. Nutrition for Central Nervous System. Bahan Kuliah FKUI. 2008

3. Gibney MJ. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC, 2005, hal 302-25

4. Kuramoto M, Arimoto, Uemura D. Bioaktif Alkaloid dari Laut: Sebuah Review. www.mdpi.net/marinedrugs/ dipublikasikan 25 Februari 2004. Diakses pada tanggal 5 Mei 2010 pukul 20.00 WIB

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.