Neuritis Optik

Artikel ini sudah dibaca 16752 kali!

Neuritis optic merupakan penyakit inflamasi pada nervus optikus.1 Penyebab secara pasti dari inflamasi ini belum diketahui dengan pasti. Namun, diperkirakan hal ini berkaitan dengan autoimun yang dapat dipicu oleh virus.2 Secara klinis, istilah neuritis optik  digunakan untuk mendeskripsikan kehilangan tajam penglihatan sekunder karena demielinisasi saraf. 3

Faktor-faktor lain yang diduga menjadi pencetus neuritis optik adalah sebagi berikut.2

 

  • Infeksi: bakteri (tuberculosis,toxoplasmosis and syphilis), virus (HIV, hepatitis B, and herpes zoster)
  • Cranial arteritis: inflamasi yang terjadi pada arteri di bawah tengkorak. Inflasi tersebut dapat menyebabkan penghambatan pembuluh darah pada mata atau otak sehingga terjadi kehilangan pandangan atau stroke. Biasanya terjadi pada usia lanjut (60-90 tahun).
  • Diabetes: :lebih berkaitan dengan berkurangnya aliran darah ke saraf optikus.
  • Obat: antibiotik seperti etambutol berkaitan dengan kelainan ini meskipun mekanismenya tidak begitu diketahui.
  • Racun: arsenik, metil alkohol, quinine
  • Terapi radiasi pada kepala (tidak terlalu umum)
  • Leber’s hereditary optic neuropathy: merupakan penyakit herediter yang menyebabkan terjadinya kehilangan penglihatan pada usia sekitar 20-30 tahun.

 

Penderita kelainan ini rata-rata berusia 32 tahun dengan perincian 77% wanita, 92% disertai nyeri pada mata dan 35% dengan pembengkakan diskus optikus. Pada kebanyakan pasien, demielinisasi bersifat retrobulbar dan fundus occuli nmpak normal pada pemeriksaan awal.  Meskipun begitu, pallor pada diskus optikus akan berkembang secara perlahan dalam beberapa bulan. 1Individu dengan serangan tunggal episodik dari demielinisasi saraf optikus ini dapat kembali lagi tajam penglihatannya dan bebas dari penyakit ini. 3

Gejala yang muncul pada pasien dengan neuritis optik seringkali berupa hilangnya penglihatan dalam satu atau dua hari dengan lapang pandang bervariasi dari area kecil yang blur sampai tidak dapat melihat sama sekali. Pasien biasanya merasakan bahwa terjadi distorsi penglihatan,berkurangnya warna, kehilangan kontras dan pandangan yang kurang vivid dibandingkan normal. Hilangnya penglihatan ini dapat diperburuk oleh panas dan olahraga.

Kebanyakan orang akan mengalami nyeri yang diperburuk oleh pergerakan mata. Nyeri ini biasanya mencapai puncak dalam satu minggu dan hilang dalam beberapa hari.

Gangguan dapat terjadi pada satu atau kedua mata. Namun, jika hanya satu mata yang terlibat, biasanya pasien tidak waspada dengan hilangnya tajam penglihatan karena dikompensasi oleh mata yang sehat.

Sementara itu, tanda yang ditemukan antara lain gangguan fungsi pupil yang biasanya tampak jika salah satu mata tidak terkena inflamasi. Pada pemeriksaan dengan oftalmoskop, saraf optikus dapat dilihat dengan mudah. Jika diskus optikus membengkak, kondisi itu disebut papilitis. Jika tidak terlihat, dapat berarti itu adalah retrobulbar neuritis. 3

Diagnosis neuritis optik dilakukan dengan mempertimbangkan gejala berupa nyeri mata dan hilangnya tajam penglihatan. Pemeriksaan medis lengkap di antaranya adalah analisis kimia darah dapat menyingkirkan penyebab lain yang berkaitan. Tes yang dilakukan dapat berupa tes visus, tes pupil, dan visualisasi diskus optikus dengan oftalmoskop.

Orang dengan serangan neuritis optik pertama biasanya menjalani MRI otak untuk melihat lesi sentral. MRI dengan gadolinium dapat menunjuka perbesaran nervus optikus. Selain itu, bisa menunjukan apabila terjadi multiple sklerosis. 3

Pasien biasanya mengalami perbaikan pandangan sesudah episode tunggal neuritis optic bahkan tanpa perawatan. Treatment dengan dosis tinggi metilprednisolone (250 mg tiap 6 jam sampai 3 hari) diikuti oleh prednisone oral (1mg/kg per hari selama 11 hari) tidak memberikan perbedaan pada ketajaman akhir (diukur 6 bulan setelah serangan) tetapi mempercepat perbaikan fungsi penglihatan.

Pada beberapa pasien, neuritis optic dapat tetap terisolasi. Meskipun begitu,ada kemungkinan kumulatif 10 tahun perkembangan secara klinis menunjukan multiple sclerosis mengikuti neuritis optic pada 38% pasien. Selain itu, ternyata neuritis optik juga utamanya disebabkan oleh multiple sclerosis (bisa saling berkebalikan). Pada pasien dengan dua atau lebih plak demielinisasi pada otak dengan MRI, treatmen dilakukan dengan interferon beta 1-a untuk menghambat perkembangan perbanyakan lesi. Scanning dengan MR sangat direkomendasikan untuk setiap pasien yang mendapatkan serangan neuritis optic. Jika ketajaman penglihatan hilang dengan berat (kurang dari 20/100),penatalaksanaan dengan glukokortikoid intravena dilanjutkan dengan oral dapat mempercepat perbaikan. 1

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.