Alat Kontrasepsi dalam Rahim atau Spiral (overview)

Artikel ini sudah dibaca 24089 kali!

Disusun oleh Johny Bayu Fitantra, S.Ked

Pengaturan jarak kelahiran serta jumlah anak amat penting bagi terjaminnya pengasuhan yang optimal bagi anak. Ditambah lagi, laju pertumbuhan penduduk yang sudah sedemikian tinggi harus segera ditekan supaya tidak terjadi ledakan penduduk. Oleh karena itu, keluarga berencana menjadi suatu program yang pemerintah upayakan untuk dapat menjadi suatu budaya bagi masyarakat. Setiap kehamilan dan kelahiran hendaknya sudah terencakan sebelumnya.

Secara garis besar, alat kontrasepsi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu hormonal dan non hormonal. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau yang sering dikenal sebagai spiral termasuk ke dalam alat KB non hormonal karena cara kerja utamanya lebih ke arah penghambatan jalannya sperma menuju ovum maupun implantasi ovum yang sudah berhasil dibuahi, bukan melakukan intervensi hormon reproduksi seperti estrogen dan progesterone.

Saat ini, jenis AKDR yang sering digunakan adalah CuT-380A. Ukuran alat ini kecil dengan kerangka dari plastik yang lentur. Sesuai namanya, bentuk dari AKDR ini seperti huruf T dengan dilapisi kawat halus berbahan Cu atau tembaga. Jenis lain dari AKDR di Indonesia antara lain adalah Nova T.

CuT 380A
CuT 380A

AKDR merupakan suatu metode kontrasepsi yang dapat digunakan jangka panjang. Meskipun efektif dan dapat bertahan sampai dengan 10 tahun (misal pada CuT-380A, salah satu jenis AKDR), alat ini dapat mencegah kehamilan secara reversibel. Dalam artian, apabila nantinya seorang wanita merencanakan untuk kembali hamil, dia dapat melepas alat kontrasepsi dalam rahim tersebut. Namun, memang biasanya tidak serta merta dia langsung dapat hamil sesaat setelah alat tersebut dilepas. Ada jeda waktu tertentu yang dapat bervariasi antara satu wanita dengan wanita lain. Akan tetapi, sebenarnya begitu AKDR dilepas, wanita tetap memiliki resiko hamil apabila berhubungan seksual dengan suaminya.

Sebagai alat kontrasepsi, AKDR sangatlah efektif. Angka keberhasilannya mencapai 99,2-99,6% dalam tahun pertama. Berbeda dengan metode kontrasepsi hormonal, AKDR dapat segera mencegah kehamilan begitu dipasang. Juga, pengguna alat KB ini tidak perlu lagi mengingat-ingat untuk mengkonsumsi obat setiap hari (pada penggunaan pil KB) atau repot-repot datang ke klinik sesuai jadwal (untuk penggunaan suntik KB). Pemeriksaan yang dapat dilakukan sendiri oleh pengguna AKDR kurang lebih berupa pengecekan posisi benang AKDR secara berkala (tidak perlu terlalu sering). Benang tersebut dapat teraba pada sekitar mulut rahim untuk memastikan bahwa AKDR terpasang sehingga tetap ada fungsi pencegahan kehamilan. Pengecekan tersebut dapat dilakukan terutama setelah haid.

Pemasangan AKDR dapat dilakukan kapan saja. Akan tetapi, diutamakan dipasang pada hari pertama hingga ketujuh siklus haid untuk meyakinkan bahwa pasien memang sedang tidak hamil. Selain itu, dikatakan pula bahwa pada saat haid, ostium uteri sedikit membuka sehingga mempermudah pemasangan.

Karena tidak menggunakan mekanisme utama hormonal dalam kerjanya, pengguna AKDR tidak perlu khawatir terhadap efek samping dari hormon. Jika pil kombinasi tidak bisa digunakan pada wanita yang ingin menyusui karena dapat menghambat produksi ASI, AKDR dapat digunakan karena tidak memberikan pengaruh tersebut. Oleh karena itu, saat ini juga digalakan pemasangan AKDR post plasenta atau diberikan sesaat setelah plasenta lahir pada suatu persalinan. Pengguna AKDR juga tidak perlu khawatir akan adanya interaksi obat atau menurunnya efektifitas kontrasepsi apabila dia harus mengkonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat tuberkulosis dan beberapa obat kejang atau epilepsi.

Penempatan AKDR dalam Rahim
Penempatan AKDR dalam Rahim

Namun, terdapat beberapa hal yang perlu diketahui sebagai efek tambahan dari pemasangan AKDR tersebut supaya tidak timbul kekhawatiran yang tidak perlu. Pada awal penggunaan AKDR, sekitar 3 bulan pertama dapat terjadi perubahan siklus haid. Namun, setelah itu lama kelamaan akan berangsur normal kembali. Haid dapat terjadi lebih lama dan lebih banyak darah yang keluar. Meski jarang,  perdarahan pada haid yang begitu berat dapat menimbulkan adanya anemia. Pada saat tidak menstruasi, kadang-kadang dapat timbul perdarahan bercak atau spotting, tetapi umumnya tidak berbahaya (jika memang murni karena pemasangan AKDR dan bukannya ada kelainan patologis lainnya pada organ-organ di rongga panggul). Perdarahan spotting yang terjadi di awal pemasangan biasanya menghilang sendiri dalam 1-2 hari. Pada hari-hari awal penggunaan dapat timbul rasa nyeri selama 3-5 hari setelah pemasangan. Jika diperlukan, peserta kb bisa mendapatkan obat analgesik ringan untuk meredakan nyeri tersebut.

Wanita yang sering berganti pasangan sebaiknya tidak menggunakan metode kontrasepsi ini. Hal tersebut terkait dengan tingginya resiko infeksi menular seksual pada wanita tersebut. Perempuan dengan IMS dapat beresiko mengalami penyakit radang panggul jika menggunakan AKDR.

Meski secara umum dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk mereka yang sudah dekat masa menopause, ada beberapa kriteria tertenu yang mana seseorang menjadi tidak diperkenankan menggunakan AKDR, antara lain:

  • Sedang hamil atau dicurigai hamil
  • Perdarahan pervagina yang tidak diketahui penyebabnya
  • Sedang menderita infeksi alat genital seperti vaginitis dan servisitis.
  • Mengalami radang panggul dalam 3 bulan terakhir
  • Memiliki kelainan bawaan uterus atau tumor jinak rahim yang mempengaruhi kavum uteri
  • Penyakit trofoblas ganas
  • Mengalami TBC pelvis
  • Kanker alat genital
  • Ukuran rongga rahim < 5 cm

AKDR Postplasenta

AKDR post-plasenta merupakan program pemasangan AKDR sesaat setelah plasenta keluar pada saat persalinan. Pada saat itu, ostium uterus sedang terbuka sehingga pemasangannya relatif mudah dilakukan tanpa perlu menggunakan sonde maupun pendorong. Selain untuk wanita yang melahirkan melalui vagina, pemasangan AKDR post plasenta juga dapat dilakukan pada persalinan cesar.

Angka kejadian keluarnya AKDR pada pemasangan post plasenta adalah sekitar 6-10%. Namun, jika AKDR diletakan pada fundus secara tepat, resiko tersebut akan berkurang. Oleh karena itu, pasien dapat memeriksakan diri setelah 4-6 minggu pemasangan untuk mengecek keberadaan AKDR maupun kontrol adanya efek samping lain yang mungkin muncul. Selanjutnya, pemeriksaan atau kontrol dapat dilakukan pertahun saja atau jika ada keluhan. Pengguna dapat memeriksakan diri ke dokter atau klinik apabila benang AKDR tidak teraba, teraba bagian keras dari AKDR, AKDR terlepas, adanya gangguan siklus, keluar cairan mencurigakan dari vagina maupun adanya infeksi.

 

Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut untuk Metode Kontrasepsi Lainnya:

Saifuddin AB, Affandi B, Baharuddin M, Soekir S. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi: AKDR. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. MK74-MK 80.

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.

  • infonya lengkap sekali.. bisa buat tambah ilmu bagi aku yang awam ini 😀