Bendungan Payudara

Artikel ini sudah dibaca 2701 kali!

dr. Johny Bayu Fitantra

Pada masa persalinan, seorang wanita mengalami perubahan hormon dalam tubuh untuk mendukung produksi dan sekresi (pengeluaran) air susu ibu (ASI). ASI seringkali tidak langsung keluar sesaat setelah melahirkan. Akan tetapi, seiring dengan adanya rangsangan seperti keinginan ibu untuk memberikan ASI maupun gerakan menyusu dari bayi pada payudara ibu, produksi ASI akan semakin banyak. Namun, produksi ASI yang berlebih juga terkadang menimbulkan permasalahan.

Sebagian wanita menyusui mengalami keluhan nyeri pada payudara yang disebabkan oleh bendungan payudara. Bendungan tersebut terjadi pada kelenjar payudara akibat ekspansi dan tekanan dari produksi  dan penampungan ASI. Biasanya keadaan ini terjadi pada hari ketiga hingga kelima setelah persalinan meskipun dapat juga terjadi lebih cepat atau lama tergantung produksi dan pengeluaran ASI. Selain nyeri, payudara mengalami pembengkakan dan keras.

Kondisi ini secara umum disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan pengeluaran ASI. Hal tersebut dapat terjadi apabila ibu menyusui dengan posisi yang tidak baik, membatasi menyusui, membatasi waktu bayi dengan payudara, memberikan suplemen susu formula untuk bayi, menggunakan pompa payudara tanpa indikasi sehingga suplai berlebih, maupun adanya implan pada payudara.

Untuk mencegah hal tersebut, hal yang penting untuk dilakukan adalah memastikan bahwa ASI yang sudah diproduksi akan diminum oleh bayi sehingga tidak terbendung di dalam payudara. Ibu perlu menyusui bayinya secara teratur. Bayi perlu disusukan tiap 2-3 jam sekali sesuai keinginan bayi. Juga, perlu dipastikan bahwa perlekatan bayi dan payudara ibu sudah baik.

Menyusui sebaiknya dilakukan dengan bergantian payudara kanan dan kiri. Masing-masing payudara sekitar 10-15 menit. Pada bayi yang baru lahir, waktu menyusui di masing-masing payudara bisa lebih lama, sekitar 20 menit. Pada masa awal atau bila bayi yang menyusu tidak mampu mengosongkan payudara, bisa dilakukan  penggunaan pompa atau pengeluaran ASI secara manual dari payudara. Selain itu, bra atau beban yang dikenakan ibu haruslah memiliki ukuran yang pas dan tidak terlalu ketat karena dapat menghambat aliran ASI.

Apabila sudah terlanjur terjadi bendungan atau nyeri payudara, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi bengkak serta mengeluarkan sisa ASI yang masih ada di payudara. Untuk mengurangi bengkak, kompres payudara dengan kain basah/hangat selama sekitar 5 menit.  Payudara diurut dari arah pangkal menuju puting. Keluarkan ASI dari bagian depan payudara sehingga puting menjadi lunak. Setelah menyusui, kompres payudara dengan kain dingin setelah menyusui atau setelah payudara dipompa. Sementara itu, upaya untuk menyusui bayi secara teratur dan bergantian payudara kanan-kiri harus tetap dilakukan. Jika perlu, dapat diberikan obat pereda nyeri seperti paracetamol.

Apabila dalam tiga hari tidak ada perbaikan atau terdapat gejala seperti demam, payudara merah serta nyeri, perlu dilakukan evaluasi untuk kemungkinan adanya mastitis atau peradangan pada payudara akibat infeksi.

MenyusuiReferensi

WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: WHO Country Office for Indonesia; 2013. P.227-8.

Bacaan Rekomendasi

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.