Faktor Risiko Kanker Payudara

Artikel ini sudah dibaca 511 kali!

oleh dr. Johny Bayu Fitantra, dr. Sugiyono, SpPD-KHOM

RS Kramat 128

Kanker payudara (ca mamae) merupakan tumor ganas yang menyerang jaringan payudara. Sel dan jaringan payudara menjadi berubah bentuk dan tumbuh secara tidak terkendali. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang angka kematiannya tinggi. Survival rate 5 tahun kanker payudara bervariasi sesuai stadium kanker, mulai dari 100% pada stadium 0 dan 1 hingga mencapai 22% pada kanker payudara yang sudah metastasis (stadium 4). Komplikasi dan pengobatan kanker dapat menimbulkan gangguan kualitas hidup, produktifitas serta beban biaya yang besar. Oleh karena itu, pencegahan kanker payudara menjadi hal pertama dan utama yang perlu dilakukan.

Untuk dapat mencegah, kita harus mengetahui faktor-faktor risiko apa saja yang dapat berperan dalam terjadinya kanker payudara. Faktor risiko bukanlah penyebab kanker melainkan merupakan kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan atau peluang terjadinya kanker. Faktor risiko tersebut dibedakan menjadi faktor yang dapat serta tidak dapat diubah/dimodifikasi.

Meski tidak dapat kita ubah, faktor-faktor risiko berikut dapat menjadi kewaspadaan kita terhadap kemungkinan terjadinya kanker di masa depan.

Faktor risiko kanker payudara yang tidak dapat diubah:

Usia : semakin tua, risiko terjadinya kanker payudara akan semakin tinggi. Pada wanita, 80% kejadian kanker payudara terjadi pada wanita usia >50th.

Gender : Sebagian besar penderita kanker payudara adalah wanita, yang mana kejadiannya mencapai 99%. Namun, pria juga dapat mengalami kanker payudara meski hanya pada 1% kasus.

Genetik : faktor genetik dapat meningkatkan secara signifikan risiko terjadinya kanker payudara. Terdapat gen yang kita sebut sebagai BRCA1 dan BCRA2 yang menjadi penanda risiko kanker payudara. Sebagai perbandingan, orang yang memiliki gen BRCA1 memiliki peluang sebesar 65% mengalami kanker payudara dengan usia rata-rata terjadinya adalah 43 tahun. Orang dengan gen BRCA2 memiliki peluang sebesar 45% mengalami kanker payudara dengan usia rata-rata terjadinya adalah 41 tahun. Sementara itu, populasi umum, memiliki risiko terjadinya kanker payudara sebesar 11%, dengan usia rata-rata terjadinya adalah 61 tahun.

Riwayat keluarga : Mereka yang memiliki anggota keluarga seperti ayah, ibu atau saudara dengan kanker payudara memiliki risiko yang lebih besar mengalami kanker tersebut dibandingkan yang tidak.

Radiasi payudara di usia muda : mereka yang pernah mengalami radiasi di bagian dada atau payudara di usia muda memiliki risiko yang lebih besar mengalami kanker payudara dibanding yang tidak pernah. Radiasi tersebut misalnya pada pengobatan timoma (keganasan pada rongga dada)

Ras : ras yang paling berisiko mengalami kanker payudara berturut-turut adalah ras kaukasian diikuti oleh afrika, asia pasifik, hispanik dan indian.

Kepadatan jaringan payudara : semakin padat jaringan payudara, yang dapat diperiksa/dibuktikan dengan pemeriksaan mamografi, semakin tinggi risiko terjadinya kanker payudara.

Tumor jinak sebelumnya : mereka yang pernah mengalami tumor jinak pada payudara sebelumnya, memiliki risiko yang lebih besar mengalami kanker payudara.

Periode menstruasi : wanita yang mengalami periode menstruasi lebih lama, seperti mulai pertama kali mens di usia muda <12 tahun atau mengalami menopause di usia >55 tahun memiliki risiko kanker payudara yang lebih besar.

Selain faktor yang memang tidak dapat diubah, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat diubah, yang mana masih dapat kita upayakan untuk menekan risiko terjadinya kanker payudara.

Tidak punya anak atau baru memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun memiliki risiko kanker payudara yang lebih besar. Oleh karena itu, bagi yang sudah berkesempatan, sebaiknya tidak menunda untuk memiliki keturunan, terutama mereka yang hampir mencapai usia 30 tahun.

Tidak menyusui menjadi faktor risiko terjadinya kanker payudara. Oleh karena itu, selain baik untuk tumbuh kembang bayi dan kelekatan hubungan ibu dan bayinya, menyusui sangat direkomendasikan karena dapat menurunkan risiko berbagai penyakit seperti kanker payudara.

Penggunaan KB hormonal dapat menjadi faktor risiko terjadinya kanker payudara. Oleh karena itu, mereka yang memang memiliki faktor risiko lain terjadinya kanker payudara seperti faktor genetik (atau yang lainnya) disarankan untuk menggunakan metode kontrasepsi yang lain seperti spiral, barier (kondom) atau pantang berkala.

Terapi hormon setelah menopause dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Oleh karena itu, penggunaannya harus benar benar mempertimbangkan risiko dan manfaatnya, terutama mereka yang memang memiliki faktor risiko lain terjadinya kanker payudara.

Konsumsi alkohol atau rokok dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Selain perokok aktif, perokok pasif juga memiliki peningkatan risiko yang serupa. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kebiasaan merokok dihentikan sesegera mungkin demi kebaikan diri sendiri dan keluarga.

⦁ Seringnya seseorang bekerja di malam hari ternyata juga meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Hal tersebut berkaitan dengan gangguan pada irama sikardian.

Obesitas atau berat badan berlebih dapat menjadi faktor risiko kanker payudara karena adanya proses inflamasi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki berat badan ideal. Olahraga dan menjada diet menjadi kunci untuk bisa mendapatkan dan mempertahankan berat badan ideal. Selain mencegah kanker, menjaga berat badan sekaligus juga mencegah berbagai penyakit lain terutama penyakit kardiovaskular.

Kanker payudara dapat terjadi pada siapa saja, baik yang memiliki faktor risiko tersebut maupun tidak. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan skrining kanker payudara bagi wanita usia >40 tahun. Selain itu, dapat diupayakan untuk secara rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) untuk secara dini mendeteksi adanya tumor atau bahkan kanker payudara.

sadari
Cara Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.