Metode Kontrasepsi Hormonal

Artikel ini sudah dibaca 101154 kali!

Disusun oleh Johny Bayu Fitantra, S.Ked

Salah satu metode kontrasepsi yang sudah digunakan sejak lama adalah dengan melakukan intervensi pada sistem hormonal seorang wanita. Berdasarkan waktunya, kita bisa membedakan menjadi kontrasepsi hormonal jangka pendek dan jangka panjang. Kontrasepsi hormonal jangka pendek dapat berupa pil kontrasepsi yang harus  diminum setiap hari. Disebut sebagai jangka pendek karena memang kerja dari pil yang sudah dikonsumsi tersebut hanya terjadi dalam waktu singkat. Seorang wanita harus setiap hari secara disiplin mengkonsumsi pil tersebut. Jika terlewat, resiko terjadi kehamilan setelah berhubungan seksual akan besar. Sementara itu, kontrasepsi hormonal jangka panjang dapat berupa injeksi atau suntik KB serta implan. Kontrasepsi dengan injeksi dapat berlaku selama 1 bulan atau 3 bulan tergantung dari regimen yang diberikan. Mungkin memang lebih tepat jika disebut sebagai jangka menengah daripada jangka panjang. Sementara untuk implan, masa kerjanya dapat bervariasi dari 3 tahun hingga 5 tahun. Penggunaan metode kontrasepsi hormonal sering digunakan dan cukup disukai karena tidak menimbulkan gangguan dalam berhubungan seksual.

Hormon yang berperan penting  dalam pengaturan pembuahan serta fungsi rahim maupun lendir leher rahim adalah estrogen dan progesteron. Karena itulah, tidak heran jika metode kontrasepsi hormonal yang digunakan melibatkan intervensi pada kedua hormon tersebut. Secara garis besar, terdapat kontrasepsi yang berupa pemberian progesteron saja serta yang berupa pemberian kombinasi antara progesteron dan estrogen.

Konsumsi Pil KB sebagai Metode Kontrasepsi

Sebagaimana disebutkan di atas, pil kontrasepsi dibedakan menjadi dua, yaitu pil kombinasi dan minipil. Bedanya, pil kombinasi berisi progesteron dan estrogen sedangkan minipil hanya berisi progesteron.

a. Pil Kombinasi

download

Kontrasepsi dengan pil kombinasi termasuk metode yang sangat efektif. Jika digunakan secara tepat, angka keberhasilannya setara dengan efektifitas tubektomi. Dari 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan, hanya satu yang mengalami kegagalan. Dalam menjalankan metode KB dengan pil, kedisiplinan adalah kunci yang penting sebab pil harus diminum setiap hari. Dengan disiplin dalam mengkonsumsi pil, seorang wanita tidak perlu khawatir akan hamil apabila berhubungan seksual dengan suaminya.  Jika seorang wanita ingin merencanakan kehamilan, pil dapat dihentikan. Selanjutnya, kesuburan wanita tersebut akan segera kembali begitu pil tidak dilanjutkan.

Kerja utama dari pil ini adalah menekan pelepasan sel telur dari ovarium. Ditambah lagi, sperma akan mengalami kesulitan untuk masuk rongga rahim karena lendir serviksnya menjadi lebih kental. Pertemuan sperma dan ovum juga dihalangi dengan berkurangnya pergerakan tuba sehingga transportasi ovum tidak optimal. Selain itu, gangguan implantasi dari sel telur menambah kemampuan pil kombinasi mencegah kehamilan.

Berdasarkan kombinasi dari dosisnya, jenis dari pil kombinasi ada tiga, yaitu:

  • Monofasik: kemasan 21 tablet dengan hormon aktif estrogen dan progesteron dalam dosis yang sama, ditambah dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
  • Bifasik: kemasan 21 tablet dengan hormon aktif estrogen dan progesteron dengan dua dosis yang berbeda, ditambah dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
  • Trifasik: kemasan 21 tablet dengan hormon aktif estrogen dan progesteron dengan tiga dosis yang berbeda, ditambah dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

Siapa saja yang cocok dan tidak cocok menggunakan pil kombinasi sebagai metode KB?

Pil kombinasi cocok digunakan oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang sudah memiliki anak maupun belum. Karena perlunya kedisiplinan dalam mengkonsumsi pil setiap hari, pil KB dapat menjadi tidak cocok untuk wanita yang sibuk bekerja sehingga resiko lupa meminum pil menjadi tinggi.

Wanita berusia >35 tahun dan merokok perlu hati-hati jika ingin menggunakan pil kombinasi. Wanita dengan kondisi tersebut sebaiknya mencoba metode kontrasepsi lain. Begitu juga dengan wanita yang memiliki riwayat stroke, tekanan darah >180/110 mmHg  dan gangguan pembekuan darah pada vena. Pil kombinasi sebaiknya dihindari.

Adanya kandungan estrogen di dalamnya membuat pil kombinasi ini sebaiknya tidak dikonsumsi oleh wanita yang ingin menyusui bayinya. Penggunaan pil kombinasi oleh wanita yang sedang dalam masa menyusui membuat produksi ASI berkurang.

Wanita yang memiliki penyakit seperti tuberkulosis, epilepsi, depresi perlu mendapat perhatian khusus karena obat-obatan seperti rifampisin, fenitoin, barbiturat, griseofulvin, trisiklik antidepresan, ampisilin, dan penisilin, tetrasiklin dapat mengganggu efektivitas pil KB kombinasi. Interaksi tersebut dapat meningkatan resiko kegagalan KB. Perlu dicermati juga bahwa pada obat-obatan di atas terdapat antibiotik yang sering diresepkan seperti ampisilin, penisilin dan tetrasiklin.

Selain itu, pil kombinasi tidak boleh digunakan oleh wanita yang hamil atau dicurigai hamil, terdapat perdarahan dari vagina yang belum jelas penyebabnya, penyakit hati akut (hepatitis), riwayat kencing manis >20 tahun, kanker payudara atau dicurigai kanker payudara, migrain dan gejala neurologis fokal (seperti epilepsi atau riwayat epilepsi).

Apa efek tambahan yang dapat dialami seorang wanita yang menggunakan pil kombinasi?

Efek samping yang berat jarang sekali terjadi. Beberapa keluhan yang dapat muncul di awal-awal pemakaian antara lain adalah mual dan perdarahan bercak. Perdarahan bercak tersebut bukanlah kondisi yang berbahaya dan segera akan hilang. Siklus haid pada wanita yang menggunakan pil kombinasi menjadi cenderung teratur. Darah haid menjadi lebih sedikit, begitu juga dengan nyeri haid. Kejadian henti haid pada pemberian pil kombinasi jarang sekali terjadi. Pusing dan nyeri payudara terkadang dapat terjadi pada beberapa wanita.

Perlu diketahui juga bahwa penggunaan kontrasepsi dengan metode hormonal dapat berdampak pada peningkatan berat badan. Sebagian orang mungkin merasa kurang nyaman dengan hal tersebut.

Kapan pil kombinasi dapat mulai digunakan?

Pil kombinasi dapat dimulai setiap saat ketika sedang haid (memastikan pasien tidak hamil), terutama hari pertama hingga hari ketujuh. Jika penggunaannya setelah hari ke-8, perlu digunakan metode kontrasepsi lain seperti kondom dari hari ke-8 hingga 14 untuk menghindari kemungkinan terjadinya kehamilan. Jika sebelumnya pasien menggunakan kontrasepsi injeksi dan ingin ganti, pil dapat segera diberikan tanpa menunggu haid.

Pada wanita yang baru melahirkan, pil kombinasi dapat diberikan setelah 3 bulan apabila wanita tersebut tidak menyusui. Jika menyusui secara eksklusif, pil kombinasi dapat diberikan setelah 6 bulan.

Apa yang perlu dilakukan jika lupa minum pil KB?

Bila pasien muntah dalam 2 jam setelah minum pil, seorang wanita perlu mengkonsumsi kembali pil pengganti yang dimuntahkan sebelumnya. Bila lupa minum 1 pil pada hari 1 sampai 21, pil tersebut dapat diminum segera setelah ingat. Misalkan pada hari Senin, pil tidak diminum karena lupa. Oleh karena itu, pada hari Selasa, wanita tersebut harus mengkonsumsi 2 pil. Sementara itu, apabila pasien lupa hingga 2 pil, wanita tersebut perlu mengkonsumsi 2 pil yang terlupa tersebut selama 2 hari. Misal, hari Senin dan Selasa pil terlupa untuk diminum, maka pada hari rabu wanita tersebut harus mengkonsumsi 2 pil (pil senin+rabu) dan hari kamis juga mengkonsumsi 2 pil (pil selasa+kamis). Jika lebih dari 2, perlu dipertimbangkan penggunaan metode kontrasepsi lain sampai paket habis.

b. Minipil atau Pil Progestin

Minipil merupakan metode kontrasepsi yang sangat efektif. Angka keberhasilannya mencapai 98,5%. Berbeda dengan pil kombinasi yang mengandung estrogen dan progesteron, minipil hanya mengandung progesteron saja. Oleh karena itu, efek tambahan yang disebabkan oleh estrogen tidak ada pada minipil. Jika seorang wanita yang dalam masa menyusui tidak bisa menggunakan pil kombinasi karena efeknya terhadap penurunan produksi ASI, minipil masih tetap bisa dipakai. Minipil tidak menyebabkan penurunan produksi ASI. Contoh sediaan yang mengandung minipil adalah Exluton yang mengandung 0,5 mg lynestrenol dan cerazette yang mengandung 75 ug desogestrel. Ada minipil yang berisi 28 tablet, ada pula yang 35 tablet.

Cara kerja dari minipil dalam menghambat kehamilan adalah dengan menekan produksi dari gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium. Namun, sebenarnya minipil ini juga melakukan hambatan masuknya sperma ke rahim dengan pengentalan lendir serviks. Jika sperma masih bisa lewat, fertilisasi dicegah dengan pengubahan motilitas tuba sehingga sperma tidak dapat mencapai tempat di mana sel telur berada. Selain itu, dengan pengaruh progesteron, endometrium mengalami transformasi dini. Akibatnya, apabila terjadi fertilisasi, implantasi akan sulit terjadi.

Salah satu kunci keberhasilan kontrasepsi dengan menggunakan minipil adalah disiplin. Meskipun efektif dan efek samping relatif lebih sedikit, tingkat kedisiplinan pengguna minipil harus lebih baik dari pengguna pil kombinasi. Kemungkinan kehamilan sangat besar apabila sampai terlupa satu dua tablet. Tablet juga perlu dikonsumsi pada jam yang sama, pada malam hari. Hubungan seksual baru bisa dilakukan dalam waktu 3-20 jam pasca penggunaan minipil.

Mereka yang menggunakan minipil bisa mendapatkan beberapa keuntungan non kontrasepsi seperti berkurangnya nyeri dan darah haid. Keluhan premenstrual syndrom juga dapat berkurang. Penderita endometriosis juga bisa mendapatkan keuntungan dari penggunaan minipil. Apabila pil kombinasi beresiko menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi serta peningkatan pembekuan darah, minipil memberikan resiko yang lebih kecil dalam menyebabkan kondisi tersebut. Karena tidak terlalu mengubah metabolisme karbohidrat, minipil cenderung aman jika digunakan pada wanita dengan diabetes yang belum mengalami komplikasi.

Yang perlu diketahui oleh wanita yang menggunakan minipil di antaranya adalah adanya resiko terjadi gangguan haid seperti perdarahan di antara masa haid, bercak-bercak dan amenorea atau tidak datangnya haid. Hal ini berbeda dengan pil kombinasi yang justru menyebabkan haid menjadi relatif teratur. Keluhan lain yang dapat muncul adalah payudara menjadi tegang, mual, pusing dan jerawat. Sebagaimana pil kombinasi, minipil juga terganggu efektifitasnya apabila akseptor mengkonsumsi obat-obatan tuberkulosis atau epilepsi.

Mereka yang tidak boleh mengkonsumsi minipil di antaranya adalah wanita dengan kondisi hamil atau dicurigai hamil, perdarahan dari liang kemaluan yang belum jelas penyebabnya, tidak dapat menerima adanya gangguan haid, menggunakan obat tuberkulosis (rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturat), kanker payudara atau riwayat kanker payudara, sering lupa menggunakan pil, miom uterus dan riwayat stroke.

Kapan dapat mulai menggunakan minipil?

Secara umum, minipil dapat digunakan setiap saat asalkan akseptor tidak hamil. Minipil dapat dimulai pada hari pertama hingga hari kelima siklus haid. Jika digunakan pada waktu tersebut, tidak diperlukan adanya pencegah dengan kontrasepsi lain. Apabila minipil baru dimulai setelah hari kelima haid, akseptor perlu menggunakan metode kontrasepsi lain terlebih dahulu selama 2 hari atau jika memungkinkan tidak melakukan hubungan seksual selama 2 hari.

Wanita yang belum haid karena memberikan ASI eksklusif pasca melahirkan dapat memulai minipil setiap saat serta tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi tambahan.

Pengguna kontrasepsi hormonal lain yang hendak berganti menjadi minipil jgua dapat memulai minipil setiap saat asalkan diyakini akseptor memang sedang tidak hamil, Termasuk apabila akseptor sebelumnya sudah menggunakan metode kontrasepsi suntik. Minipil dapat digunakan sebelum jadwal suntik berikutnya. Namun, apabila metode kontrasepsi sebelumnya adalah spiral, pasien perlu memulai minipil pada hari pertama hingga kelima siklus haid. AKDR dapat dilepas.

Bagaimana jika lupa minum minipil?

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa konsumsi minipil harus teratur dan tidak boleh terlupa. Jika akseptor muntah dalam waktu 2 jam setelah meminum minipil, pil pengganti harus segera diminum atau dapat digunakan metode kontrasepsi lainnya apabila akseptor berniat melakukan hubungan seksual dalam 48 jam berikutnya. Pil terlambat 3 jam dari jadwal harus segera diminum begitu akseptor ingat. Untuk amannya, dapat digunakan metode pelindung dalam 48 jam berikutnya. Bila sampai terlupa satu atau dua pil, pil tersebut harus segera diminum. Selanjutnya, dapat digunakan metode pelindung hingga akhir bulan.

Apabila paket sudah habis, paket berikutnya segera dimulai tanpa menunggu haid. Jika pasien yang sebelumnya mengalami haid secara teratur selama menggunakan minipil, sebaiknya dilakukan pemeriksaan apabila terlambat haid selama 1 siklus untuk memastikan ada tidaknya kehamilan.

Suntik KB, Kontrasepsi Hormonal Bulanan

a. Suntikan Kombinasi

Suntik kombinasi cukup efektif dengan angka kegagalannya hanya sebesar 0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan. Contoh dari suntikan kombinasi untuk KB adalah cyclofem yang berisi 50 mg medroksiprogesteron asetat dan 10 mg estradiol sipionat. Cyclofem memiliki masa kerja selama 1 bulan. Suntik KB bekerja dengan penekanan ovulasi, pengentalan lendir serviks, perubahan pada endometrium dan hambatan tranportasi gamet oleh tuba.

Sebagaimana pil kombinasi, suntikan kombinasi memiliki beberapa keuntungan seperti berkurangnya jumlah perdarahan dan nyeri haid. Selain itu, suntikan kombinasi dipercaya dapat mengurangi kejadian kanker ovarium dan endometrium serta mengurangi penyakit paydara jinak dan kista ovarium. Namun, pola haid dapat menjadi tidak teratur, terdapat perdarahan bercak serta perdarahan sela hingga 10 hari. Pil ini dapat mengurangi produksi ASI apabila digunakan oleh wanita yang sedang menyusui.

Pada awal penggunaan, pasien dapat mengalami mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan yang akan menghilang seiring semakin seringnya suntikan KB dilakukan. Pada suntikan kedua dan ketiga, keluhan tersebut biasanya sudah tidak ada.

Sebagaimana pil kombinasi, obat tuberkulosis dan epilepsi dapat menurunkan efektifitas akseptor. Oleh karena itu, sebaiknya tidak digunakan secara bersamaan. Efek samping yang cukup serius di antaranya adalah serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru dan otak serta ada kemungkinan timbulnya tumor hati. Mereka yang dapat dan tidak dapat menggunakan suntikan kombinasi kurang lebih serupa dengan penggunaan pil kombinasi.

Kapan dapat mulai menggunakan suntikan kombinasi ?

Suntikan dapat dilakukan dalam waktu 7 hari siklus haid. Jika digunakan pada waktu tersebut, akseptor tidak perlu menggunakan metode tambahan. Sementara jika diberikan sesudah haid 7 hari, akseptor perlu menggunakan metode kontrasepsi lain selama 7 hari. Pasien pasca persalinan yang belum haid dapat diberikan suntikan pertama kapan saja asal dipastikan sedang tidak hamil. Apabila akseptor tidak ingin menyusui bayinya, suntikan kombinasi dapat diberikan pascapersalinan 3 minggu.

Suntik KB diberikan pada lapisan otot, terutama otot pada bagian pantat. Selanjutnya, akseptor dapat diminta untuk kembali datang setiap 4 minggu. Jika tidak bisa datang pada 4 minggu berikutnya, pasien dapat diberikan suntikan 1 minggu lebih awal. Asal pasien tidak hamil, suntikan berikutnya dapat diberikan 7 hari setelah jadwal.

Kondisi yang perlu diwaspadai apabila terjadi pada wanita dengan metode KB suntik antara lain adalah nyeru dada atau nafas pendek, sakit kepala berat, hebat atau gangguan penglihatan, nyeri tungkai hebat, dan tidak terjadi perdarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya karena adanya resiko terjadi kehamilan.

b. Suntikan Progestin

Suntik progestin merupakan contoh metode kontrasepsi yang efektif. Kembalinya kesuburan terjadi lebih lambat yaitu sekitar 4 bulan setelah penghentian KB.  Sebagaimana pil progestin, suntikan ini tidak menyebabkan gangguan produksi ASI. Contoh dari suntikan progestin adalah depo provera yang mengandung 150 mg medroksi progesteron asetat. Suntikan tersebut digunakan secara intramuskular setiap 3 bulan. Alternatif lain adalah depo noristerat yang mengandung 200 mg, norestisteron enantat, diberikan setiap 2 bulan secara intramuskular.

Cara kerja suntikan progestin dalam mencegah kehamilan kurang lebih serupa dengan suntikan kombinasi. Sementara itu, keuntungan dan keterbatasannya juga serupa dengan pil KB. Angka kegagalannya hanya sekitar 0,3 kehamilan per 100 perempuan setiap tahunnya. Tentunya, dengan syarat penyuntikan dilaksanakan sesuai jadwal.

Implan, Metode Hormonal Jangka Panjang

Kontrasepsi dengan implan termasuk dalam kontrasepsi jangka panjang karena dapat berlaku masa kerjanya hingga 3-5 tahun. Norplant dapat efektif selama 5 tahun sedangkan janeda, indoplant dan implanon dapat bertahan hingga 3 tahun. Norplant mengandung 36 mg levonogestrel, implanon mengandung 68 mg ketodesogestrel sedangkan indoplant mengandung 75 mg levonogestrel. Sebagai alat bantu mengatur jarak kelahiran, implan cukup bagus karena masa kesuburan akan segera kembali setelah implan dicabut. Efektifitas implan sangat tinggi, dengan angka kegagalan hanya sekitar 0,2-1 kehamilan per 100 wanita.

Selain masa pencegahan kehamilannya yang lama, hingga 5 tahun, implan bebas dari pengaruh estrogen. Dengan begitu, implan tidak mengganggu produksi ASI serta efek samping dari estrogen lainnya tidak ada. Kontrol ke klinik tidak perlu dilakukan secara rutin, melainkan cukup apabila ada keluhan saja. Apabila akseptor sudah menginginkan kehamilam, implan dapat segera dicabut kapan saja.

Nyeri haid dan jumlah haid berkurang dengan penggunaan implan. Selain itu, dipercaya bahwa kejadian kanker endometrium berkurang pada penggunaan implan, begitu juga dengan kelainan jinak payudara. Penderita endometriosis juga bisa mendapatkan manfaat dari implan.

Efek yang kadangkala dikeluhkan oleh pasien antara lain adalah perdarahan bercak dan amenorea. Meski secara umum mengurangi darah haid, ada pula kasus sebaliknya berupa terjadinya hipermenorea yang merupakan peningkatan jumlah darah haid. Keluhan tambahan antara lain adalah nyeri kepala, peningkatan atau penurunan berat badan, nyer payudara, mual, pusing, perubahan mood dan kegelisahan. Obat-obatan seperti obat tuberkulosos dan epilepsi juga mengurangi efektifitas implan sebagaimana metode kontrasepsi hormonal lainnya.

Serupa dengan metode kontrasepsi hormonal lainnya, wanita hamil atau diduga hamil, perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya, benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara, miom uterus, serta gangguan toleransi glukosa tidak boleh menggunakan implan. Wanita dengan tekanan darah >180/110 mmHg sebaiknya tidak menggunakan implan. Pemasangan implan sebaiknya dilakukan pada saat haid hari ke-2 hingga hari ke-7. Lebih dari itu, perlu adanya penggunaan kontrasepsi tambahan selama 7 hari.

Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut:

Saifuddin AB, Affandi B, Baharuddin M, Soekir S. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;2010. MK-29 hingga MK-75

 

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.

  • Terimakasih admin, yang telah berbagi pengetahuan dan informasi yang sangat bagus melalui posting artikel yang dipadukan dengan penayangan iklan yang menarik sebagai informasi terkini. Saya sering mengunjungi web ini dan klik iklan2 yang menarik. Lanjutkan dan tingkatkan …. !

  • Debby

    Kalo misalnya lgi pake kb suntik kombinasi, terus minum obat yg mengandung banyak hormon estrogen, itu masalah ga? Thanks info

  • A

    knapa kok bisa mual muntah setelah minum pil kombinasi? makasih.