Terapi Aspirin sebagai Pencegahan Preeklampsia : Efektif atau Berbahaya?

Artikel ini sudah dibaca 240 kali!

dr. Johny Bayu Fitantra

Preeklampsia merupakan suatu komplikasi pada kehamilan yang dapat membahayakan, seperti terjadinya kelahiran premature hingga menyebabkan kematian baik janin maupun ibunya. Kondisi ini didasari oleh gangguan pembentukan pembuluh darah yang menghubungkan janin dan pembuluh darah ibu pada plasenta. (Untuk membaca lebih lanjut tentang patogenesis, patofisiologi dan diagnosis preeklampsia dapat dibuka di sini)

Suatu studi yang dilakukan pada tahun 1979 menunjukan bahwa wanita yang mendapatkan terapi aspirin dosis rendah secara regular selama masa kehamilan memiliki risiko lebih rendah mengalami terjadinya preeklampsia dibandingkan yang tidak. Lebih dari 30 penelitian telah dilakukan untuk menguji manfaat dari pemberian aspirin dosis rendah, dengan kisaran dosis 50 hingga 150 mg sebagai pencegahan preeklampsia. Metaanalisis dari studi-studi tersebut menunjukan bahwa terapi tersebut memberikan insiden preekampsia yang lebih rendah sebesar 10%. Terdapat perbedaan hasil terkait waktu pemberian terapi. Suatu metaanalisis mendapatkan hasil bahwa efek aspirin tidak terpengaruh dengan usia kehamilan saat terapi dimulai. Sementara itu, terdapat metaanalisis lain yang mendapatkan data bahwa memulai terapi aspirin sejak usia kehamilan 16 minggu atau lebih cepat memberikan hasil penurunan kejadian  preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat, dan kematian perinatal hingga setengahnya. Sementara itu, memulai pemberian terapi setelah 16 minggu tidak memberikan hasil yang signifikan. Selain itu, pemberian terapi sejak usia kehamilan 16 minggu atau lebih cepat dengan dosis 100 mg atau lebih memberikan penurunan kejadian preeklampsia yang lebih besar dibandingkan dengan dosis yang lebih rendah. Saat ini, terapi profilaksis yang direkomendasikan adalah penggunaan aspirin dosis rendah antara 60 hingga 81 mg per hari untuk wanita yang memiliki risiko tinggi terjadinya preeklampsia.

Saat ini telah dilakukan penelitian terbaru untuk menguji kembali efektifitas terapi aspirin. Penelitian double-blind tersebut membandingkan efek dari pemberian aspirin dosis 150 mg per hari dibandingkan dengan plasebo. Dosis ini lebih tinggi dibandingkan dosis rekomendasi yang selama ini sudah ada, yang mana pada sepertiga wanita hamil, efek antiplatelet dengan dosis tersebut masih belum terlalu berarti (klik di sini). American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) saat ini masih merekomendasikan aspirin dosis 81 mg per hari.

Terapi dimulai sejak usia kehamilan antara 11 dan 14 minggu hingga usia kehamilan 36 minggu. Wanita hamil yang mendapatkan terapi adalah mereka yang memiliki kehamilan tunggal dengan risiko tinggi terjadinya preeklampsia preterm. Selain itu, subjek yang mendapatkan aspirin direkomendasikan untuk meminumnya di malam hari, yang mana hal tersebut berdasarkan penelitian yang ada sebelumnya yang menunjukan bahwa pemberian aspirin di malam hari lebih superior dibandingkan dengan siang hari.

Kriteria inklusi penelitian ini adalah wanita hamil usia 18 tahun atau lebih, kehamilan tunggal, janin hidup pada saat pemeriksaan awal yang dilakukan pada usia kehamilan 11 hingga 13 minggu, dan memiliki risiko preeklampsia preterm yang tinggi berdasarkan hasil screening (terlampir). Sementara itu, kriteria eksklusi antara lain adalah sakit berat, gangguan kesadaran, gangguan belajar atau gangguan mental berat, abnormalitas fetus yang berat pada saat skrinning, terapi aspirin regular sejak 28 hari sebelum skrinning, gangguan perdarahan, penderita ulkus peptikum, hipersensitifitas terhadap aspirin, penggunaan jangka panjang anti inflamasi non steroid, serta sedang dalam penelitian penggunaan obat lain dalam 28 hari sejak sebelum skrinning.

Hal yang menjadi tolak ukur atau luaran utama dalam penelitian ini adalah terjadinya kejadian persalinan dengan preeklampsia sebelum usia 37 minggu. Hasil lain yang menjadi parameter adalah kejadian tambahan yang terjadi sebelum usia 34 minggu, 37 minggu dan setelah 37 minggu, kematian atau komplikasi pada neonates, terapi yang perlu diberikan pada neonates (akibat komplikasi atau kondisi yang lain terjadi) serta neonatus dengan berat badan lahir rendah.

Total subjek yang menjalani skrinning mencapai 26.941 wanita dengan kehamilan janin tunggal dengan 2971 di antaranya memiliki risiko tinggi terjadinya preeklampsia preterm. Namun, 332 di antaranya dieksklusi dari penelitian karena tidak memenuhi kriteria. Total yang setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian adalah 1776 orang, yang mana kemudian 152 di antaranya mundur setelah randomisasi, sedangkan 4 tidak dapat di-follow up.

Berikut adalah karakteristik dari subjek penelitian, yang mana tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok aspirin maupun plasebo.

Preeklampsia preterm terjadi pada 13 dari 798 partisipan (1.6%) yang tergabung dalam kelompok aspirin. Sementara itu, pada kelompok plasebo, kejadian preeklampsia preterm mencapai 35 dari 822 partisipan (4.3%). Adjusted odds ratio pada kelompok aspirin 0.38; 95% confidence interval, 0.2-0.74; p = 0.004. Hal tersebut berarti bahwa pemberian terapi aspirin 150 mg memiliki kejadian terjadinya preeklampsia preterm yang lebih rendah dan bermakna secara statistik dibandingkan dengan mereka yang hanya mendapatkan plasebo. Sementara itu, pada insidensi luaran tambahan atau sekunder, tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok.

Pada kelompok aspirin terdapat satu kejadian tidak diharapkan yang serius pada 13 partisipan (1.6%) dan kejadian tidak diharapkan pada 207 partisipan (25.9%). Pada kelompok plasebo, terdapat setidaknya satu kejadian tidak diharapkan yang serius pada 26 partisipan (3.2%) dan setidaknya satu kejadian tidak diharapkan pada 210 partisipan (25.5%). Berdasarkan statistik, tidak ada perbedaan bermakna terkait kejadian tidak diharapkan pada kedua kelompok.

Berikut adalah hasil selengkapnya untuk luaran utama, sekunder dan kejadian tidak diinginkan.

Berdasarkan penelitian tersebut, pemberian aspirin dosis 150 mg per hari yang dimulai sejak usia kehamilan 11 hingg 14 minggu menurunkan risiko kejadian preeklampsia preterm pada wanita hamil janin tunggal yang memiliki risiko tinggi terjadinya preeklampsia preterm. Sementara itu, kejadian tidak diharapkan pada terapi aspirin tidak berbeda bermakna dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan terapi aspirin.

Referensi : Rolnik DL, Dkk. Aspirin versus Placebo in Pregnancies at High Risk for Preterm Preeclampsia. The New England Journal of Medicine. DOI: 10.1056/NEJMoa1704559

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.