Batuk Berdarah (Hemoptisis)

Artikel ini sudah dibaca 70299 kali!

Oleh Oviliani Wijayanti dan Riska Wahyuningtyas

Hemoptisis perlu dibedakan dari hematemesis. Hemoptisis merupakan gejala yang meliputi pengeluaran darah merah muda yang bersifat basa dari mulut yang didahului rasa ingin batuk. Hematemesis merupakan pengeluaran darah, biasanya hitam, yang bersifat asam dan tidak pernah berbusa dari mulut yang didahului rasa mual.1

Berdasarkan jumlah darah yang dikeluarkan, hemoptisis dibagi menjadi:

  • Bercak (streaking), volume darah 15-20 ml dalam 24 jam, bercampur dengan sputum, biasanya pada bronkitis,
  • Hemoptisis, volume darah 20-600 ml dalam 24 jam, biasanya karena kanker paru, necrotizing pneumonia, TB, atau emboli paru,
  • Hemoptisis masif, volume darah lebih dari 600 mL dalam 24 jam, umumnya karena kanker paru, kavitas TB, atau bronkiektasis,
  • Pseudohemoptisis, luka terletak di saluran napas atas atau saluran cerna.1

tabel penyebab hemoptisis

Diagnosis

Sebelum menganamnesis lebih detail, perlu dipastikan bahwa pasien dapat membedakan batuk darah dengan muntah darah. Dari anamnesis, perlu dicari tahu:

  • Volume dan frekuensi batuk darah,
  • Sumber perdarahan. Pasien umumnya dapat menggambarkan rangkaian perjalanan batuknya, seperti darah mimisan yang jatuh ke belakang kemudian dibatukkan, atau jika darah berasal dari salah satu paru,
  • Riwayat penyakit sebelumnya,
  • Gejala lain, seperti batuk produktif, demam, sesak, nyeri dada, atau penurunan berat badan.

Pada pemeriksaan fisik, cari tanda-tanda penting yang menggambarkan kestabilan hemodinamik (hipotensi, takikardi), serta tanda-tanda yang mengarahkan pada penyebab perdarahan, misalnya luka nasofaring, emboli paru, sepsis, atau infark miokard dengan edema paru. Pemeriksaan jantung meliputi investigasi kemungkinan hipertensi pulmonal akut, gagal ventrikel kiri akut, atau penyakit jantung katup. Pemeriksaan dinding dan rongga dada berguna untuk mencari tanda-tanda trauma dinding dada (memar parenkim, laserasi bronkial); konsolidasi paru (pneumonia, infark paru, atelektasis) yang ditandai ronki setempat, berkurangnya suara napas, dan perkusi redup/pekak; edema paru kardiogenik yang ditandai ronki difus nyaring dengan kardiomegali.1

Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan mencakup darah perifer lengkap, fungsi koagulasi, analisis gas darah, dan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan radiografis seperti foto toraks dan arteriografi menjadi sarana penujang diagnostik lainnya. Bronkoskopi bermanfaat untuk memvisualisasikan saluran napas dan mencari penyebab perdarahan.1

Alur Evaluasi Batuk Berdarah

Skema Evaluasi Pasien dengan Hemoptisis

Sumber: Kritek P, Fanta C. Cough and hemoptysis. In: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J, editors. Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. New York: McGraw-Hill; 2012 .p.282-6.

Terapi

Pada hemoptisis masif, kunci tata laksana adalah mempertahankan terbukanya saluran napas, memosisikan pasien agar darah tidak berpindah ke paru yang baik, menekan batuk dengan kodein fosfat 30-60 mg IM, dan mempertahankan tekanan darah dengan transfusi. Pada hemoptisis ringan dan bercak, terapi dasar meliputi istirahat total dengan posisi paru yang mengalami perdarahan ditempatkan di bawah, penekanan refleks batuk dengan kodein fosfat 30-60 mg IM setiap 4-6 jam selama 24 jam, dan terapi spesifik untuk kondisi yang melandasi.1

 

Referensi:

Amin Z. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan kelainan sistem pernapasan. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid II. Ed 5. Jakarta: InternaPublishing; 2009. h.969-73.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.