Artikel ini sudah dibaca 71529 kali!

Faringitis

Faringitis adalah penyakit tenggorokan, merupakan respon inflamasi terhadap patogen yang mengeluarkan toksin. Faringitis juga bisa merupakan gejala dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti penyakit flu.1

Etiologi2

Beberapa penyebab dari faringitis yaitu:

Virus

Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis. Beberapa jenis virus ini yaitu:

  • Rhinovirus
  • Coronavirus
  • Virus influenza
  • Virus parainfluenza
  • Adenovirus
  • Herpes Simplex Virus tipe 1 dan 2
  • Coxsackievirus A
  • Cytomegalovirus
  • Virus Epstein-Barr
  • HIV

Bakteri

Beberapa jenis bakteri penyebab faringitis yaitu:

  • Streptoccocus pyogenes, merupakan penyebab terbanyak pada faringitis akut
  • Streptokokus grup A, merupakan penyebab terbanyak pada anak usia 5 – 15 tahun, namun jarang menyebabkan faringitis pada anak usia <3 tahun.
  • Streptokokus grup C dan G
  • Neisseria gonorrheae
  • Corynebacterium diphtheriae
  • Corynebacterium ulcerans
  • Yersinia enterocolitica
  • Treponema pallidum
  • Vincent angina, merupakan mikroorganisme anaerobik dan dapat menyebabkan komplikasi yang berat, seperti abses retrofaringeal dan peritonsilar

Penyebab faringitis yang bersifat noninfeksi yaitu sleep apnea, GERD, merokok, dan alergi. Alergi menyebabkan hiperplasia limfoid, obstruksi nasal, dan keluarnya mukus hidung yang dapat mengiritasi faring.3

Epidemiologi

Di USA, faringitis terjadi lebih sering terjadi pada anak-anak daripada pada dewasa. Sekitar 15 – 30 % faringitis terjadi pada anak usia sekolah, terutama usia 4 – 7 tahun, dan sekitar 10%nya diderita oleh dewasa. Faringitis ini jarang terjadi pada anak usia <3 tahun.

Penyebab tersering dari faringitis ini yaitu streptokokus grup A, karena itu sering disebut faringitis GAS (Group A Streptococci). Bakteri penyebab tersering yaitu Streptococcus pyogenes. Sedangkan, penyebab virus tersering yaitu rhinovirus dan adenovirus. Masa infeksi GAS paling sering yaitu pada akhir musim gugur hingga awal musim semi.4

Patogenesis dan patofisiologi1

Bakteri S. Pyogenes memiliki sifat penularan yang tinggi dengan droplet udara yang berasal dari pasien faringitis. Droplet ini dikeluarkan melalui batuk dan bersin. Jika bakteri ini hinggap pada sel sehat, bakteri ini akan bermultiplikasi dan mensekresikan toksin. Toksin ini menyebabkan kerusakan pada sel hidup dan inflamasi pada orofaring dan tonsil. Kerusakan jaringan ini ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada faring.1 Periode inkubasi faringitis hingga gejala muncul yaitu sekitar 24 – 72 jam.3

Beberapa strain dari S. Pyogenes menghasilkan eksotoksin eritrogenik yang menyebabkan bercak kemerahan pada kulit pada leher, dada, dan lengan. Bercak tersebut terjadi sebagai akibat dari kumpulan darah pada pembuluh darah yang rusak akibat pengaruh toksin.1

Faktor risiko dari faringitis yaitu:5

  • Cuaca dingin dan musim flu
  • Kontak dengan pasien penderita faringitis karena penyakit ini dapat menular melalui udara
  • Merokok, atau terpajan oleh asap rokok
  • Infeksi sinus yang berulang
  • Alergi

Tanda dan gejala2

Tanda dan gejala faringitis dibedakan berdasarkan etiologinya, yaitu:

Virus

  • Jarang ditemukan tanda dan gejala yang spesifik. Faringitis yang disebabkan oleh virus menyebabkan rhinorrhea, batuk, dan konjungtivitis3
  • Gejala lain dari faringitis penyebab virus yaitu demam yang tidak terlalu tinggi dan sakit kepala ringan.5
  • Pada penyebab rhinovirus atau coronavirus, jarang terjadi demam, dan tidak terlihat adanya adenopati servikal dan eksudat faring
  • Pada penyebab virus influenza, gejala klinis bisa tampak lebih parah dan biasanya timbul demam, myalgia, sakit kepala, dan batuk
  • Pada penyebab adenovirus, terdapat demam faringokonjungtival dan eksudat faring.2 Selain itu, terdapat juga konjungtivitis3
  • Pada penyebab HSV, terdapat inflamasi dan eksudat pada faring, dan dapat ditemukan vesikel dan ulkus dangkal pada palatum molle
  • Pada penyebab coxsackievirus, terdapat vesikel-vesikel kecil pada palatum molle dan uvula. Vesikel ini mudah ruptur dan membentuk ulkus dangkal putih
  • Pada penyebab CMV, terdapat eksudat faring, demam, kelelahan, limfadenopati generalisata, dan splenomegali
  • Pada penyebab HIV, terdapat demam, myalgia, arthralgia, malaise, bercak kemerahan makulopapular yang tidak menyebabkan pruritus, limfadenopati, dan ulkus mukosa tanpa eksudat2

Bakteri

Faringitis dengan penyebab bakteri umumnya menunjukkan tanda dan gejala berupa lelah, nyeri/pegal tubuh, menggigil, dan demam yang lebih dari 380C. Faringitis yang menunjukkan adanya mononukleosis memiliki pembesaran nodus limfa di leher dan ketiak, tonsil yang membesar, sakit kepala, hilangnya nafsu makan, pembesaran limpa, dan inflamasi hati.4

Pada penyebab streptokokus grup A, C, dan G, terdapat nyeri faringeal, demam, menggigil, dan nyeri abdomen. Dapat ditemukan hipertrofi tonsil, membran faring yang hiperemik, eksudat faring, dan adenopati servikal. Batuk tidak ditemukan karena merupakan tanda dari penyebab virus.

Pada penyebab S. Pyogenes, terdapat demam scarlet yang ditandai dengan bercak kemerahan dan lidah berwarna stoberi

Pada penyebab bakteri lainnya, ditemukan adanya eksudat faring dengan atau tanpa tanda klinis lainnya2

 

Pemeriksaan dan penegakan diagnosis

Tujuan utama dari pemeriksaan faringitis yaitu untuk membedakan etiologi dari penyakit ini. Langkah pemeriksaan utama yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.2

Demam akibat infeksi streptokokus biasanya lebih dari 38,30C. Faringitis dengan penyebab bakteri dan virus biasanya bertahan dalam waktu 1 minggu, namun faringitis dengan penyebab noninfeksi biasanya lebih lama. Penting untuk menggali informasi mengenai riwayat penyakit pasien, seperti alergi, demam reumatik, dan penyakit imunokompromis.

Pemeriksaan fisik yang terutama pada faringitis yaitu pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan THT. Pada pemeriksaan tenggorokan, dapat ditemukan adanya:3

  • Eksudat dan kemerahan pada tonsil
  • Bercak kemerahan pada palatum molle, tampakan lidah seperti stroberi dengan papila yang merah dan lidah yang keputihan
  • Limfadenopati servikal

Pada pemeriksaan paru, dapat ditemukan beberapa tanda klinis pada pasien dengan riwayat demam reumatik, yaitu pembengkakan sendi, nyeri, nodul subkutan, eritema marginatum, atau murmur jantung.

Pemeriksaan penunjang dapat berupa:

  • Kultur swab tenggorokan; merupakan tes gold standard.3 Jenis pemeriksaan ini sering dilakukan. Namun, pemeriksaan ini tidak bisa membedakan fase infektif dan kolonisasi, dan membutuhkan waktu selama 24 – 48 jam untuk mendapatkan hasilnya.2
  • Tes infeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH
  • Tes Monospot, merupakan tes antibodi heterofil. Tes ini digunakan untuk mengetahui adanya mononukleosis dan dapat mendeteksi penyakit dalam waktu 5 hari hingga 3 minggu setelah infeksi3
  • Tes deteksi antigen cepat; tes ini memiliki spesifisitas yang tinggi namun sensitivitasnya rendah
  • Heterophile agglutination assay
  • ELISA2

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan terhadap faringitis dapat mengurangi risiko demam reumatik, menurunkan durasi gejala, dan mengurangi risiko penularan penyakit. Pada faringitis dengan penyebab bakteri, dapat diberikan antibiotik, yaitu:

  • Penicillin benzathine; diberikan secara IM dalam dosis tunggal
  • Penicillin; diberikan secara oral
  • Eritromisin
  • Penicillin profilaksis, yaitu penicillin benzathine G; diindikasikan pada pasien dengan risiko demam reumatik berulang

Sedangkan, pada penyebab virus, penatalaksanaan ditujukan untuk mengobati gejala, kecuali pada penyebab virus influenza dan HSV. Beberapa obat yang dapat digunakan yaitu:2

  • Amantadine
  • Rimantadine
  • Oseltamivir
  • Zanamivir; dapat digunakan untuk penyebab virus influenza A dan B
  • Asiklovir; digunakan untuk penyebab HSV

Faringitis yang disebabkan oleh virus biasanya ditangani dengan istirahat yang cukup, karena penyakit tersebut dapat sembuh dengan sendirinya. Selain itu, dibutuhkan juga mengkonsumsi air yang cukup dan hindari konsumsi alkohol. Gejala biasanya membaik pada keadaan udara yang lembab. Untuk menghilangkan nyeri pada tenggorokan, dapat digunakan obat kumur yang mengandung asetaminofen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil, Motrin). Anak berusia di bawah 18 tahun sebaiknya tidak diberikan aspirin sebagai analgesik karena berisiko terkena sindrom Reye.

Pemberian suplemen  dapat dilakukan untuk menyembuhkan faringitis atau mencegahnya, yaitu:5

  • Sup hangat atau minuman hangat, dapat meringankan gejala dan mencairkan mukus, sehingga dapat mencegah hidung tersumbat
  • Probiotik (Lactobacillus), dapat digunakan untuk menghindari dan mengurangi demam
  • Madu, dapat digunakan untuk mengurangi batuk
  • Vitamin C, dapat digunakan untuk menghindari demam, namun penggunaan dalam dosis tinggi perlu pengawasan dokter
  • Seng, digunakan dalam fungsi optimal sistem imun tubuh, karena itu seng dapat digunakan untuk menghindari demam, dan penggunaan dalam spray dapat digunakan untuk mengurangi hidung tersumbat. Namun, penggunaannya perlu dalam pengawasan karena konsumsi dalam dosis besar dan jangka waktu yang lama dapat berbahaya

Komplikasi

Prognosis dari faringitis ini biasanya baik, karena biasanya faringitis ini dapat sembuh sendiri. Namun, jika faringitis ini berlangsung lebih dari satu minggu, masih terdapat demam, pembesaran nodus limfa, atau muncul bintik kemerahan, hal tersebut dapat berarti terjadi komplikasi dari faringitis, seperti demam reumatik. Beberapa komplikasi lain dari faringitis ini yaitu:

  • Demam scarlet, yang ditandai dengan demam dan bintik kemerahan
  • Demam reumatik, yang dapat menyebabkan inflamasi sendi atau kerusakan pada katup jantung. Pada negar berkembang, sekitar 20 juta orang mengalami demam reumatik akut yang mengakibatkan kematian.5Demam reumatik merupakan komplikasi yang paling sering terjadi dari faringitis.2
  • Glomerulonefritis; Komplikasi berupa glomerulonefritis akut merupakan respon inflamasi terhadap protein M spesifik. Kompleks antigen-antibodi yang terbentuk berakumulasi pada glomerulus ginjal yang akhirnya menyebabkan glomerulonefritis ini.1
  • Abses peritonsilar biasanya disertai dengan nyeri faringeal, disfagia, demam, dan dehidrasi.2
  • Shok

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah faringitis yaitu:5

  • Hindari penggunaan alat makan bersama pasien yang terkena faringitis, memiliki demam, flu, atau mononukleosis
  • Mencuci tangan secara teratur
  • Tidak merokok, atau mengurangi pajanan terhadap asap rokok
  • Menggunakan pelembab ruangan jika ruangan kering

Laringitis

Laringitis adalah inflamasi laring yang dapat disebabkan oleh proses infeksi ataupun noninfeksi.

Etiologi

Laringitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Virus merupakan etiologi laringitis yang paling sering, yaitu rhinovirus, virus influenza, virus parainfluenza, adenovirus, coxsackievirus, coronavirus, dan respiratory synsitial virus (RSV). Sedangkan, beberapa bakteri yang menyebabkan laringitis yaitu:

  • Streptokokus grup A
  • C. Diphtheriae
  • Moraxella Catarrhalis
  • Mycobacterium tuberculosis; laringitis akibat bakteri ini biasanya sulit dibedakan dengan kanker laring karena tidak terdapat tanda, gejala, dan hasil pemeriksaan radiologis yang spesifik

Jamur juga dapat menyebabkan laringitis, yaitu:6

  • Histoplasma
  • Blastomyces; biasanya menyebabkan laringitis sebagai komplikasi dari inflamasi sistemik
  • Candida; biasanya menyebabkan laringitis dan esofagitis pada pasien imunosupresi
  • Coccidioides
  • Cryptococcus

Laringitis juga merupakan akibat dari penggunaan suara yang berlebihan, pajanan terhadap polutan eksogen, atau infeksi pada pita suara. Refluks gastroesofageal7, bronkitis, dan pneumonia8 juga dapat menyebabkan laringitis. Selain itu, laringitis berkaitan dengan rinitis alergi. Onset dari laringitis berhubungan dengan perubahan suhu yang tiba-tiba, malnutrisi, atau keadaan menurunnya sistem imun.7

Patofisiologi

Laringitis diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu laringitis akut dan laringitis kronik.Laringitis akut terjadi akibat infeksi bakteri atau virus, penggunaan suara yang berlebih, inhalasi polutan lingkungan.9 Laringitis akut ditandai dengan afonia atau hilang suara dan batuk menahun. Gejala ini semakin diperparah dengan keadaan lingkungan yang dingin dan kering. Sedangkan, laringitis kronik ditandai dengan afonia yang persisten. Pada pagi hari, biasanya tenggorokan terasa sakit namun membaik pada suhu yang lebih hangat. Nyeri tenggorokan dan batuk memburuk kembali menjelang siang. Batuk ini dapat juga dipicu oleh udara dingin atau minuman dingin. Pada pasien yang memiliki alergi, uvula akan terlihat kemerahan.7

Laringitis kronik dapat terjadi setelah laringitis akut yang berulang, dan juga dapat diakibatkan oleh penyakit traktus urinarisu atas kronik, merokok, pajanan terhadap iritan yang bersifat konstan, dan konsumsi alkohol berlebih.9 Tanda dari laringitis kronik ini yaitu nyeri tenggorokan yang tidak signifikan, suara serak, dan terdapat edema pada laring.10

Laringitis pada anak sering diderita oleh anak usia 3 bulan hingga 3 tahun, dan biasanya disertai inflamasi pada trakea dan bronkus dan disebut sebagai penyakit croup. Penyakit ini seringkali disebabkan oleh virus, yaitu virus parainfluenza, adenovirus, virus influenza A dan B, RSV, dan virus campak. Selain itu, M. Pneumoniae juga dapat menyebabkan croup.

Infeksi oleh bakteri dan virus menyebabkan inflamasi dan edema pada laring, trakea, dan bronkus, sehingga menyebabkan obstruksi jalan napas dan menimbulkan gejala, yaitu berupa afonia, suara stridor, dan batuk. Produksi mukus dapat terjadi dan menyebabkan obstruksi jalan napas semakin parah. Tidak terdapat gangguan menelan. Gejala ini biasanya muncul saat malam hari dan dapat membaik di pagi hari. Penyakit croup dapat sembuh sendiri dalam waktu 3 – 5 hari.11

Tanda dan gejala

Tanda dan gejala dari laringitis yaitu:

  • Afonia, yaitu suara serak atau hilang suara
  • Nyeri tenggorokan
  • Batuk karena teriritasi
  • Stridor, biasanya ditemukan pada anak-anak10
  • iritasi pada tenggorokan yang menggelitik sehingga memicu keinginan untuk batuk, demam, dan nyeri tenggorokan12
  • rhinorrhea
  • kongesti nasal
  • Pada pemeriksaan dengan laringoskopi, ditemukan tanda laringitis yaitu eritem laring difus, edema, dan pembengkakan vaskular pada pita suara
  • Pada laringitis kronik, dapat ditemukan nodul dan ulkus pada mukosa6

Pemeriksaan dan penegakan diagnosis

Diagnosis laringitis dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.12 Hasil anamnesis yang berkaitan dengan laringitis ini yaitu adanya batuk yang timbul sering di malam hari dan terdengar kasar.9 Pemeriksaan fisik ini mencakup pemeriksaan telinga, hidung, tenggorokan, dan leher. Pemeriksaan tenggorokan ini dapat menggunakan scope yang kecil. Scope ini dimasukkan melalui hidung hingga terlihat laringnya. Pemeriksaan ini dapat memperoleh informasi mengenai keadaan saraf laringeal yang mengatur pergerakan pita suara.12Selain itu, suhu tubuh dapat normal atau naik sedikit. Auskultasi perlu dilakukan untuk menilai suara napas di kedua paru.9

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu:

  • Laringoskop, yang menunjukkan adanya pita suara yang membengkak dan kemerahan
  • Kultur eksudat pada kasus laringitis yang lebih berat
  • Biopsi, yang biasanya dilakukan pada pasien laringitis kronik dengan riwayat merokok atau ketergantungan alkohol9
  • pemeriksaan laboratorium CBC (complete blood cell count)
  • pemeriksaan foto toraks pada tanda dan gejala yang berat10

Penatalaksanaan

Laringitis akut biasanya diatasi dengan:

  • istirahat yang cukup, terutama pada laringitis akibat virus. Istirahat ini juga meliputi pengistirahatan pita suara9
  • pemberian antibiotik; antibiotik tidak disarankan kecuali bila penyebab berupa streptokokus grup A dapat ditemukan melalui kultur. Pada kasus ini, antibiotik yang dapat digunakan yaitu penicillin6
  • menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk
  • menghindari udara kering7
  • konsumsi cairan yang banyak
  • konsumsi asetaminofen atau ibuprofen untuk mengurangi nyeri
  • berhenti merokok dan konsumsi alkohol12
  • trakeostomi, jika terjadi edema laring
  • konsumsi antasida atau bloker histamin-2 pada laringitis dengan penyebab GERD9

Sedangkan, penatalaksanaan laringitis kronik bergantung pada mikroorganisme penyebabnya, yang biasanya ditemukan melalui biopsi dan kultur.6

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi yaitu laringitis kronik. Selain itu, dapat terjadi perubahan suara jika gejala suara serak tersebut terjadi selama 2 – 3 minggu. Perubahan suara ini dapat diakibatkan oleh refluks asam lambung atau pajanan terhadap bahan iritan. Hal tersebut berisiko untuk menimbulkan keganasan pada pita suara.12Pada pasien yang berusia lebih tua, laringitis bisa lebih parah dan dapat menimbulkan pneumonia.7

Penyakit croup jarang menimbulkan komplikasi, namun beberapa komplikasi yang terjadi berkaitan dengan obstruksi jalan napas, yaitu respiratory distress, hipoksia, atau superinfeksi bakteri. Kortikostreoid dapat digunakan untuk mengurangi inflamasi. Pemberian epinefrin aerosol menimbulkan efek konstriksi pada mukosa dan dapat mengurangi edema.11

Prognosis dari laringitis ini biasanya baik.Langkah pencegahan laringitis yang dapat dilakukan yaitu:

  • Menghindari pasien laringitis
  • Mencuci tangan secara teratur
  • Menghindari keramaian8
  • Pemberian vaksin H. Influenzae pada anak-anak
  • Tidak menggunakan suara secara berlebihan11

 disusun oleh Elisabet Lana Astari

Daftar pustaka:

  1. Pommerville JC. Alcamo’s Fundamentals of Microbiology. Ed ke-9. Sudbury: Jones & Bartlett Publisher; 2011; h.304-305.
  2. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Ed ke-17. Philadelphia: McGraw-Hill; 2008.
  3. Lipsky MS, King MS. Blueprints Family Medicine. Philadelphia: Lippincott; 2010; h.87-89.
  4. Acerra JR. Pharyngitis in Emergency Medicine [internet]. 2011 [diperbarui 6 Mei 2010; diunduh 5 Juli 2011]. Diambil dari http://emedicine.medscape.com/article/764304-overview#a0199.
  5. Anonymous. Pharyngitis [internet]. 2011 [diunduh tanggal 5 Juli 2011]. Diambil dari http://www.umm.edu/altmed/articles/pharyngitis-000129.htm.
  6. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Ed ke-17. Philadelphia: McGraw-Hill; 2008.
  7. Smeltzer SC, Bare BG, Hinkle JL, Cheever KH. Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Ed ke-12. Philadelphia: Lippincott; 2009; h. 530.
  8. Sumana JMD. Laryngitis [internet]. 2011 [diperbarui 16 Desember 2010; diunduh 6 Juli 2011]. Diambil dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001385.htm.
  9. Harold C, Hemphill BJ, Kovach P. Professional Guide to Diseases. Ed ke-9. Philadelphia: Lippincott; 2009; h.727-728.
  10. Soni GJ. Homoeopathy in Surgical Cases. New Delhi: B.Jain Publisher; 2004; h.107.
  11. Ricci SS, Kyle T. Maternity and pediatric Nursing. Philadelphia: Lippincott; 2008; h.1241-1242.
  12. Shah RK. Laryngitis [internet]. 2011 [diperbarui 14 Februari 2011; diunduh 6 Juli 2011]. Diambil dari http://www.emedicinehealth.com/laryngitis/article_em.htm.
Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan artikel-artikel terbaru kami!
Tagged on:         
  • Hilmanz Krenzz

    Qok gag bisa di copas????
    pelid sangadh