Diare Akut Pada Anak (Pedoman Tatalaksana Diare Akut dari WHO)

Artikel ini sudah dibaca 224555 kali!

Seorang anak dapat dikatakan mengalami diare cair akut apabila terjadi diare lebih dari 3 kali sehari (BAB) selama kurang dari 14 hari serta tidak mengandung darah. Apabila diare berdarah, kondisi tersebut kita sebut sebagai disentri. Sementara itu, dari segi waktu, apabila terjadi lebih dari 14 hari, diare tersebut disebut diare persisten. Klasifikasi terbaru digunakan untuk diare akut yang masih terjadi selama lebih dari 7 hari, yaitu diare memanjang (prolonged diarrhea).

Apabila menghadapi seorang anak yang diare, kita harus memperhatikan komplikasi utama yang dapat terjadi, yaitu status dehidrasi. Berdasarkan status dehidrasi tersebut, kita dapat mengklasifikasikan diare tersebut menjadi diare dengan dehidrasi berat, ringan/sedang atau tanpa dehidrasi.

Dehidrasi berat terjadi apabila terdapat dua atau lebih dari tanda dan gejala klinis berupa letargi atau penurunan kesadaran, mata cekung, turgor menurun (≥2 detik) dan tidak bisa minum atau malas minum. Anak dengan diare berat perlu mendapatkan rehidrasi segera melalui infus dengan pengawasan. Jika anak sudah membaik, rehidrasi dapat dilanjutkan melalui jalur oral.

Rehidrasi cairan pada anak diare berat paling utama dilakukan menggunakan cairan ringer laktat. Jika tidak tersedia dapat digunakan NaCl 0,9%. Banyaknya cairan serta waktu pemberiannya tergantung pada usia anak. Apabila anak kurang dari 12 bulan, pertama kita berikan cairan 30 ml/kgBB dalam 1 jam dilanjutkan 70 ml/kgBB dalam 5 jam. Sementara itu, untuk anak lebih dari setahun, rehidrasi dilakukan lebih cepat, yaitu 30 ml/kgBB dalam 30 menit kemudian dilanjutkan 70 ml/kgBB dalam 2,5 jam. Setelah pemberian cairan yang pertama, kita harus melakukan evaluasi terutama denyut nadi radial. Apabila masih lemah atau tidak teraba, kita harus mengulangi kembali pemberian cairan pertama (30 ml/kg dalam 1 jam untuk <12 bulan atau dalam 30 menit untuk ≥12 bulan.

Pemantauan dilakukan setiap 15-30 menit melalui pemeriksaan nadi radial. Sementara itu, tanda perbaikan hidrasi dapat dipantau melalui turgor, kesadaran dan kemampuan anak untuk minum setiap setidaknya 1 jam. Mata biasanya masih akan cekung meski hidrasi sudah membaik sehingga tidak menjadi patokan untuk pemantauan.

Jika status hidrasi belum membaik, tetesan intravena dapat dilakukan lebih cepat. Apabila anak sudah mau minum, oralit dapat segera diberikan, sekitar 5ml/kg/jam. Biasanya anak sudah mau minum setelah 1-2 jam rehidrasi dengan infus serta 3-4 jam pada bayi. Jika masih menyusu, ASI dapat diberikan dengan lebih sering. Selain itu, anak sudah dapat diberikan tablet zinc. Zinc diberikan ½ tablet perhari (10 mg) untuk anak <6 bulan dan 1 tablet perhari (20 mg) pada anak 6 bulan ke atas. Tablet zinc dapat diberikan selama 10 hari. Zinc ini penting untuk membantu penyembuhan selama diare serta mencegah timbulnya diare berikutnya.

Sementara itu, pada diare ringan/sedang, yang ditandai dengan anak gelisah, rewel, haus dan minum dengan lahap, mata cekung dan turgor menurun, hal utama yang perlu dilakukan adalah rehidrasi dengan larutan oralit. Targetnya adalah dalam 3 jam pertama. Jumlah oralit yang diperlukan adalah sekitar 75 ml/kgBB. Jika berat badan tidak diketahui, kita dapat menggunakan patokan usia.

  • Usia sampai 4 bulan, perkiraan BB <6 kg, jumlah cairan yang diperlukan 200-400 ml
  • Usia 4-12 bulan, perkiraan BB 6-10 kg, jumlah cairan yang diperlukan 400-700 ml
  • Usia 12-24 bulan, perkiraan BB 10-12 kg, jumlah cairan yang diperlukan 700-900 ml
  • Usia 2-5 tahun, perkiraan BB 12-19 kg, jumlah cairan yang diperlukan 900-1400 ml

Oralit dapat diberikan dengan menggunakan sendok, setidaknya sebanyak 1 sendok tiap 1-2 menit pada anak kurang dari 2 tahun. Jika anak sudah lebih besar, oralit dapat diberikan menggunakan cangkir.

Jika anak muntah, kita dapat menunggu selama 10 menit, kemudian berikan oralit secara lebih lambat, misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit. Apabila kelopak mata bengkak, pemberian oralit dihentikan dan anak diberi air matang atau ASI. ASI dapat terus diberikan apabila anak masih mau menyusu.

Anak dapat kembali dinilai setelah 3 jam untuk memeriksa tanda dehidrasi sebelumnya. Namun, pemeriksaan dapat lebih cepat dilakukan apabila anak tidak bisa minum oralit atau keadaannya nampak memburuk. Jika anak sudah tidak nampak dehidrasi, anak dapat dipulangkan dengan pemberian cairan tambahan selama di rumah, tablet zinc (dosis sesuai usia) selama 10 hari. Pemberian makan dan minum tetap dilanjutkan. Kunjungan ulang dapat dilakukan apabila anak tidak bisa atau malas minum atau menyusu, kondisi anak memburuk, demam, dan terdapat darah dalam tinja.

Sementara itu, jika setelah pemberian oralit ternyata masih ada dehidrasi, prinsipnya adalah kembali lakukan rehidrasi. Pemberian oralit untuk 3 jam berikutnya dapat kembali diberikan. Anak dapat mulai diberi makanan, susu, atau jus serta ASI sesering mungkin.

Jika anak justru nampak menjadi dehidrasi berat, tatalaksana akan dilakukan sesuai dengan terapi pada dehidrasi berat di atas. Meskipun belum tampak tanda dehidrasi berat, apabila anak tidak bisa minum sama sekali seperti karena muntah profus, dapat dilakukan pemberian infus dengan pemberian cairan secepatnya. Pada kondisi ini, banyaknya cairan yang diberikan adalah 70 ml/kg selama 5 jam pada bayi (<12 bulan) atau selama 2,5 jam pada anak ≥ 12 bulan. Dapat diperhatikan bahwa terapi ini sama seperti terapi pada dehidrasi berat, hanya saja tanpa pemberian cairan awal sebesar 30 ml/kg.

Klasifikasi ketiga adalah diare tanpa dehidrasi. Kondisi ini terjadi pada anak yang diare, tetapi tidak mempunyai tanda dan gejala akan adanya dehidrasi karena cairan yang terbuang karena diare tidak terlalu banyak atau karena rehidrasi sudah mengimbangi hilangnya cairan.

Anak dengan diare tanpa dehidrasi tidak perlu dirawat.  Meskipun begitu, cairan tambahan tetap perlu diberikan mengingat anak dalam kondisi kehilangan cairan. Jika masih minum ASI, anak dapat disusui lebih sering dan lebih lama. Anak yang mendapatkan ASI eksklusif perlu mendapatkan oralit yang dapat diberikan menggunakan sendok. Jika bukan oralit, air matang dapat diberikan. Pilihan lainya, pada anak yang sudah mendapatkan MPASI adalah sup, air tajin dan kuah sayuran.

Anak yang mengalami diare selalu memiliki risiko mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, setiap kehilangan cairan melalu BAB, cairan harus diganti. Pada anak kurang dari dua tahun, tiap kali BAB diberikan cairan tambahan sebanyak 50-100 ml sedangkan pada anak yang berusia dua tahun atau lebih perlu 100-200 ml setiap kali BAB. Jika anak muntah, tindakannya serupa sebagaimana pada pemberian cairan di diare ringan sedang yaitu tunggu sekitar 10 menit, baru kemudian diberikan kembali cairan secara perlahan. Sebagaimana derajat dehidrasi yang lain, diare tanpa dehidrasi juga memerlukan pemberian suplementasi zinc dengan dosis dan lama pemberian serupa.

Pedoman tatalaksana diare akut pada anak ini diambil dari buku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit (Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota) yang diterbitkan oleh WHO, tahun 2009.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.