World Health Organization 2009 Safe Surgery Checklist [Ceklist Keselamatan Pembedahan WHO 2009]

Artikel ini sudah dibaca 113 kali!

Organisasi kesehatan dunia menerbitkan suatu ceklist untuk keselamatan pembedahan, yang terdiri dari pemeriksaan vital dalam 3 fase yaitu sebelum memulai anestesia, sebelum memulai pembedahan dan di akhir pembedahan.  Fase tersebut seringkali dikenal sebagai sign in, time out dan sign out. Penggunaan ceklist tersebut, yang mana dapat dimodifikasi sesuai tempat pelaksanaan, sangat direkomendasikan oleh WHO.

Penggunaan ceklist WHO dapat meningkatkan komunikasi team dan konsistensi pelayanan, menurunkan komplikasi dan kematian dalam pembedahan. Melalui suatu penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine tahun 2009, angka kematian selama pembedahan berkurang dari 1.5% menjadi 0.8%, serta komplikasi serius turun dari 11% menjadi 7%. Perubahan budaya dan terbangunnya kerjasama team berkontribusi bagi tercapainya hal tersebut.

Berikut adalah ceklist keselamatan pembedahan dari WHO

Untuk mencapai pelayanan anestesi yang berdasarkan keselamatan pasien, penting dilaksanakan beberapa prosedur terkait anestesia selama perioperative. Hal tersebut mencakup pelayanan dan pemeriksaan preanestesia, pemantauan selama anestesia, dan pelayanan pasca anestesia.

  • Pelayanan dan pemeriksaan preanestesia

Dalam pelayanan pre-anestesia, pasien harus dievaluasi oleh tenaga anestesia professional. Selanjutnya, perencanaan anestesia harus disusun. Semua perlengkapan yang diperlukan dipastikan tersedia serta berfungsi dengan benar sebelum tindakan anestesia. Selain itu, jika diperlukan, asisten anestesi haruslah kompeten atau setidaknya telah mendapatkan instruksi mengenai tugas-tugas yang diperlukan.

Berikut adalah contoh ceklist preanestesia yang direkomendasikan oleh WHO

  • Pemantauan selama Anestesia

Komponen pertama dan terpenting dalam pelayanan anestesia, termasuk monitoring pasien dan perlengkapan pemberian anestesia, adalah kehadiran secara kontinyu tenaga anestesi yang professional dan waspada selama proses pembiusan. Meskipun saat ini telah ada kemajuan dalam teknologi monitoring, observasi klinis yang kontinyu dan hati-hati tetap diperlukan karena perlengkapan tersebut mungkin saja tidak dapat mendeteksi perubahan klinis secepat tenaga professional yang terlatih. Apabila ada suatu kondisi emergensi yang menyebabkan tenaga anestesi utama meninggalkan ruang operasi sementara, harus dilakukan pengambilan keputusan dengan membandingkan kondisi emergensi yang terjadi dengan kondisi pasien yang sedang teranestesi. Jika tetap harus pergi, harus dipilih orang yang bertanggungjawab untuk menggantikan sementara.

Oksigenasi

Suplementasi oksigen merupakan komponen penting untuk semua pasien yang menjalani anestesia umum. Tenaga anestesi professional harus memastikan integritas suplai oksigen. Konsentrasi oksigen yang diinspirasi oleh pasien direkomendasikan untuk dipantau dengan perlengkapan yang memiliki alarm yang mendeteksi konsentrasi oksigen yang rendah atau kegagalan pengiriman suplai oksigen. Selain itu, untuk mencegah kesalahan koneksi sumber gas, sebaiknya digunakan sistem dengan interlock.

Selain memastikan bahwa alat dapat mengirimkan oksigen dengan baik, oksigenasi jaringan pasien harus dipantau secara kontinyu. Penggunaan pulse oksimetri secara kontinyu sangat direkomendasikan. Selain pulse oksimetri, perfusi jaringan juga perlu dipastikan dengan pemeriksaan klinis.

Jalan Napas dan Ventilasi

Keadekuatan jalan napas dan ventilasi harus senantiasa dipantau baik melalui observasi maupun auskultasi apabila memungkinkan. Pada penggunaan sirkuit napas, reservoir bag harus diobservasi. Konfirmasi pemasangan endotracheal tube dan adekuasi ventilasi dilakukan dengan pengukuran konsentrasi dan tampilan karbondioksida yang diekspirasi oleh pasien (kapnografi). Jika memungkinkan, disarankan juga pengukuran secara kontinyu volume gas serta konsentrasi agen volatile yang diinspirasi dan ekspirasi.

Sirkulasi

Pemantauan sirkulasi dengan menampilkan denyut jantung dengan pulse oksimetri dan elektrokardiogram (EKG) sangat direkomendasikan. Selain itu, direkomendasikan juga untuk tersedia alat defibrillator.

Tekanan darah sebaiknya diperiksa dalam interval tertentu, biasanya setidaknya setiap 5 menit. Pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih sering apabila terdapat indikasi. Pada beberapa kasus, disarankan juga dapat dilakukan pemantauan tekanan darah arteri secara kontinyu.

Temperatur

Pada beberapa kondisi klinis tertentu, temperature atau suhu perlu diperiksa secara berkala, misalnya pada tindakan anestesi yang lama dan kompleks atau pada anak-anak. Pengukuran secara kontinyu direkomendasikan pada pasien-pasien yang diprediksi atau dicurigai terdapat perubahan suhu secara signifikan.

Fungsi Neuromuskular dan Kedalaman Anestesi

Jika penggunaan obat pelumpuh otot digunakan, direkomendasikan dilakukan penggunaan stimulator saraf perifer. Sementara itu, kedalaman anestesi harus diperiksa secara berkala melalui pemeriksaan klinis. Disarankan dilakukan pengukuran kontinyu konsentrasi inspirasi dan ekspirasi gas anestesi. Penggunaan alat untuk memantau fungsi kesadaran otak saat ini masih kontroversial dan belum direkomendasikan secara universal. Namun, pada pasien-pasien dengan risiko tinggi awareness dalam anestesia umum, alat tersebut dapat dipertimbangkan.

Sinyal dan Alarm yang Dapat Terdengar

Alat yang dapat memberikan sinyal suara, seperti tinggi nada yang bervariasi sesuai saturasi oksigen pada pulse oksimetri, serta alarm yang telah diatur untuk teraktivasi pada berbagai batas tertentu harus diaktifkan sepanjang waktu serta cukup keras untuk terdengar pada ruang operasi.

  • Pelayanan Pascaanestesia

Semua pasien yang mendapatkan anestesia yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan atau kehilangan refleks protektif harus tetap berada di tempat anestesi hingga pemulihan atau pasien dapat ditranspor dengan aman ke tempat khusus untuk pemulihan pascaanestesia. Pasien harus diobservasi dan dipantau dengan baik terutama kondisi fungsi sistem saraf, tanda vital dan kondisi medis. Juga, dipastikan bahwa oksigenasi, ventilasi, sirkulasi dan temperature tetap baik dan adekuat. Pulse oksimetri sangat direkomendasikan tetap dipasang hingga kesadaran benar-benar pulih. Selain itu, perlu dilakukan pemantauan nyeri pasca operasi. Sangat direkomendasikan untuk dilakukan upaya pencegahan nyeri pascaoperasi melalui pemberian regimen analgesia.

Residu paralisis oleh agen pelumpuh otot terjadi pada sekitar 30% pasien. Secara klinis, kondisi ini dapat tidak secara jelas terlihat tetapi dapat menyebabkan peningkatan risiko komplikasi pernapasan hingga 20%. Sebuah studi retrospektif yang melibatkan 37.000 pasien menyebutkan bahwa kejadian desaturasi hingga <90% di ruang pemulihan ditemukan pada 5% pasien yang mendapatkan agen pelumpuh otot dibandingkan 3.8% pada pasien yang tidak mendapatkan agen pelumpuh otot.

Residu paralisis diartikan sebagai kondisi train of four ratio (TOFR) <0.9 pada adductor pollicis. Meskipun volume tidal dan kapasitas vital masih terjaga, saat intensitas blokade meningkat, kemungkinan risiko obstruksi jalan napas, gangguan menelan, dan aspirasi paru meningkat yang mana ditandai dengan penurunan TOFR. Keputusan untuk memberikan neostigmine atau sugamadex sebaiknya berdasarkan pada pemulihan spontan pada otot adductor pollicis (ibu jari), bukan pada corrugator supercilii (alis).

Untuk dapat mencapai target TOFR 0.9 dalam 10-15 menit, saat ini direkomendasikan untuk menunggu hingga sudah ada empat twitches. Jika blokade masih dalam, antara nol hingga tiga twitches, pemberian neostigmine lebih awal tidak memberikan manfaat, bahkan pada dosis besar > 50 mcg/kg. Pada pemberian lebih awal tersebut, pemulihan penuh tidak terjadi lebih cepat dibandingkan dengan menunggu terlebih dahulu hingga terdapat empat twitches.

Pasien dapat melakukan gerakan menelan pada TOFR 0.6-0.9. Kapasitas vital sudah mulai mendekati normal pada TOFR 0.5-0.6, bahkan volume tidal dapat tetap normal pada TOFR 0.4. Kemampuan menggenggamkan tangan dan mengangkat kepala dapat terjadi pada TOFR 0.6-0.7. Sementara itu, kemampuan untuk menggertakan gigi dapat hilang pada TOFR 0.8-0.9 sehingga dapat menjadi penanda yang sensitif untuk menilai fungsi neuromuskular.

Daftar Pustaka

  1. Merry AF, Cooper J, Soyannwo O, Wilson IH, Eichhron JH. International Standards for a Safe Practice of Anesthesia 2010. Can J Anesth. 2010; 57: 1027-34. DOI 10.1007/s12630-010-9381-6
  2. Mahajan RP. The WHO Surgical Checklist. Best Practice & Research Clinical Anaesthesiology. 2011; 25 p.161-8.
  3. Donati F. Residual paralysis: a real problem or did we invent a new disease? Canadian Journal of Anesthesia/Journal canadien danesthésie. 2013;60(7):714–29.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.