Dislokasi Pinggul

Artikel ini sudah dibaca 37661 kali!

Dislokasi adalah pindahnya permukaan sentuh tulang yang menyusun sendi. Cedera ini dihasilkan oleh gaya yang menyebabkan sendi melampaui batas normal anatomisnya. Pindahnya ujung tulang yang incomplete disebut dislokasi tidak sempurna atau subluxation. Karena fungsi ligament adalah juga untuk mencegah perpindahan atau pergerakan sendi yang abnormal,semua sprains menghasilkan beberapa derajat subluxation. Dislokasi yang komplit, atau luxation, terjadi saat ada pemisahan yang komplit dari ujung tulang.1

Dislokasi panggul

Dislokasi pinggul traumatik hampir selalu disebabkan oleh trauma berenergi tinggi. 2 Adanya cedera dislokasi menandakan bahwa ada gaya yang mencapai 90 pound atau bahkan lebih pada mekanisme traumatik atau adanya patologi yang mendasari yang menyebabkan ketidakstabilan sendi.3Penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman lebih memiliki resiko mengalaminya. Mekanisme klasik untuk dislokasi posterior adalah pada cedera dashboard, yaitu terjadi gaya yang menekan kepala femur melewati posterior acetabular rim saat lutut yang terfleksi dan pinggul terhantam dashboard pada kecelakaan.4 Selain oleh dashboard,dikatakan juga bahwa cedera ini bisa terjadi saat mekanisme mengerem.5Dislokasi anterior dihasilkan dari rotasi eksternal dan abduksi panggul. Kasus dislokasi posterior mendekati 90% kasus, sementara dislokasi anterior hanya 10%.2,3 Cedera nervus sciatic mungkin terjadi pada 10-20% kasus dan lebih dari setengah pasien juga mengalami fraktur lain.

Pada pediatrik, dislokasi sendi mungkin terjadi pada gaya yang lebih kecil 4 dan ada yang terjadi sesudah manuver senam dan jatuh dari posis berdiri. Pasien yang lebih tua atau pada penderita Sindrom Ehlers-Danlos atau down juga bisa mengalami dislokasi pinggul dengan gaya traumatik yang lebih kecil.3

Secara khas, pasien dengan dislokasi pinggul posterior traumatik, nampak dengan pemendekan ekstremitas bawah yang terjadi pada posisi fleksi pinggul, adduksi, dan rotasi internal. Adanya caput femoris kadang-kadang dapat dipalpasi pada bokong ipsilateral.3 Hal ini dapat diandalkan pada pasien dengan dislokasi pinggul sederhana, kehadiran patah tulang pada femur ipsilateral atau pelvis dapat secara dramatis mengubah posisi pasien yang ditunjukan pasien.

Meskipun jarang, dislokasi pinggul bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti avaskular necrosis caput femoris, kelumpuhan nervus sciatic sementara atau permanen, myositis ossificans dan arthrosis degeneratif posttraumatik. Dislokasi pinggul posterior meregangkan dan memelintir arteri iliac external, femoris comunis, dan circumflex sehingga terjadi perubahan aliran darah extraosseous. Meskipun sirkulasi kontralateral dari pembuluh gluteal mungkin mempertahankan aliran darah intraosseous, relokasi yang tertunda mungkin menghasilkan kerusakan arteri yang progresif dan tertunda yang bisa menjadi osteonecrosis. 6

Anatomi2

Kapsul sendi pinggul terdiri dari serat longitudinal yang tebal di samping banyak kondensasi ligamentous yang lebih kuat (iliofemoral, ischiofemoral dan pubofemoral). Selain itu, substansinya juga dikelilingi oleh massa otot. Hal tersebut mneyebabkan dislokasi pinggul jarang terjadi kecuali dengan gaya yang benar-benar besar.5 Empat puluh persen kepala femur ditutupi oleh tulang acetabulum dan labrum meningkatkan penutupan dan kestabilan sendi. Nervus sciatic melewati secara langsung bagian posterior sendi pinggul sehingga rentan pada cedera dislokasi posterior.

Klasifikasi

Dislokasi panggul dilklasifikasikan berdasarkan hubungan kepala femur dan acetabulum dan dengan adanya fraktur yang berhubungan.2

Dislokasi pinggul posterior dideskripsikan oleh Thompson dan Epstein: 7

  • Tipe I     : Dislokasi simple dengan atau tanpa fragment dinding posterior yang tidak signifikan
  • Tipe II    : Dislokasi dengan fraktur tunggal yang besar dari rim posterior acetabulum
  • Tipe III  : Dislokasi dengan fraktur comminuted rim, dengan atau tanpa fragmen mayor yang besar
  • Tipe IV  : Dislokasi dengan fraktur acetabular floor
  • Tipe V   : Dislokasi dengan fraktur caput femoris

Dislokasi pinggul anterior dideskripsikan oleh klasifikasi Epstein: 2

  • Tipe I – Dislokasi superior (lokasi pubis dan subspinous)

A.      Tidak ada fraktur yang terkait

B.      Fraktur terkait atau impact caput femoris

C.      Frakture terkait acetabulum

  • Tipe II – Dislokasi inferior (lokasi obturator dan perineal)

A.      Tidak ada fraktur terkait

B.      Fraktur terkait atau impact caput femoris

C.      Fraktur terkait acetabulum

Deformitas klasik pada dislokasi pinggul posterior adalah fleksi pinggul, rotasi internal, dan aduksi. Pasien mengalami sakit yang parah dan tidak bisa menggerakan ekstremitas bawah yang terlibat.

Diagnosis 2

Dislokasi sendi, tidak peduli apapun etiologinya, merupakan emergenci ortopedik yang membutuhkan diagnosis, evaluasi dan perawatan segera. 3 Untuk menentukan diagnosis, survei trauma penuh penting dilakukan. Uji neurovaskular termasuk evaluasi nervus sciatic (bagian tibia paling sering terpengaruh) dan nervus/arteri femoris perlu dilakukan.

Radiograph anteroposterior (AP) pelvis dan cross-table lateral pinggul penting dilakukan. Kedua caput femoris mestinya muncul dalam ukuran yang sama. Pada AP, jika caput femoris sisi yang terpengaruh tampak lebih besar, bisa dicurigai anterior. Garis Shenton semestinya kontinyu. Saat dislokasi sendi didiagnosis melalui sinar X, yang harus dilakukan adalah mengevaluasi sisa tungkai dan pelvis untuk meyakinkan bahwa manuver reduksi tidak akan menyebabkan kerusakan lebih besar. Sebagai contohnya, pada pelvis yang tidak stabil, kekuatan traksi yang besar mungkin meningkatkan gangguan  pada pelvis dan menyebabkan mortalitas sekunder yang lebih besar akibat perdarahan. Juga, fraktur collum femoris non-displaced, yang ditemukan pada sinar X bisa distabilkan dengan cannulated screw sebelum reduksi pinggul dengan anestesi general.

Dislokasi pinggul posterior bisa nampak pada film AP dengan adanya caput femoris di luar dan di superior acetabulum. CT scan juga bisa digunakan untuk mendiagnosis dan mendeskripsikan dislokasi anatomis dan mengidentifikasi fraktur fragment kecil. 3

Reduksi emergent tertutup (emergent closed reduction)pada dislokasi sendi traumatik, diindikasikan untuk: 3

  • Dislokasi dengan atau tanpa defisit neurologis, saat tidak ada fraktur yang berkaitan.
  • Dislokasi dengan fraktur yang berkaitan dengan defisit neural tidak terjadi

Reduksi tertutup, jika mungkin, sebaiknya dilakukan pada dasar perawatan karena resiko osteonecrosis. Dengan mengabaikan arah dislokasi, reduksi bisa diusahakan pada pasien dengan posisi terlentang dan penerapan traksi in-line. Anestesi umum paling disarankan, meskipun begitu, reduksi tertutup lebih sering dilakukan di ruang emergency. Ada beberapa metode yang dideskripsikan. Pada metode Allis, pembedah segaris dengan peregang. Dengan menarik tepat di bawah lutut, traksi dilakukan segaris dengan femur. Asisten menerapkan counter traction dengan mendorong ke bawah kedua ASIS. Dengan meningkatkan traksi, pinggul difleksikan sampai 70⁰. Aduksi, rotasi internal dan eksternal yang gentle pada pinggul membantu pinggul melewati bibir acetabulum. Gaya berarah lateral juga bisa membantu. Ini bisa diterapkan dengan tangan asisten pada paha atas, atau dengan lembaran yang dililitkan di sekeliling kunci paha ipsilateral dan ditarik pada arah lateral dan superior. Kestabilitasan sebaiknya diperiksa.

Reduksi tertutup diusahakan sebelum reduksi terbuka dengan pembedahan (open surgical reduction).

  • Open surgical reduction biasanya diperlukan untuk dislokasi sendi dengan fraktur dan defisit neurologis (fragment fraktur yang berpindah tempat menekan saraf)
  • Jika open reduction tidak bisa dilakukan dengan segera,  usaha untuk menghilangkan tekanan udara saraf dengan reduksi sebaiknya dilakukan.

Selain itu, open reduction diindikasikan jika reduksi tertutup tidak bisa dilaksanakan, reduksi noncencentric, fraktur caput femori atau acetabulum yang membutuhkan eksisi dan fraktur collum femoris ipsilateral.

Daftar Pustaka

1Booher JM, Thibodean GA. Athletic Injury Assesment: Athletic Related Trauma. 1st Ed. Missouri College Publishing, 1985. P. 147-50.

2Torbert JT. Hip dislocations. Orthopaedia Main. In: Orthopaedia – Collaborative Orthopaedic Knowledgebase. Created Feb 06, 2008 17:00, Last modified Feb 06, 2008 17:00 ver.1. Retrieved 2010-12-06, from http://www.orthopaedia.com/display/Main/Hip+dislocations.

3Davenport, M D. Joint Rredution, Hip Dislocation, Posterior. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/109225-overview. Diakses 6 Desember 2010.

4Greenberg MI, Hendrickson, Silverberg M. Greenberg’s Text-Atlas of Emergency Medicine: Hip Dislocation. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins, 2005. P. 515.

5Whiting WC, Zernicke RF. Biomechanics of Musculoskeletal Injury: Lower Extremity Injury. 2nd Ed. United States of America: Human Kinetics, 2008. P. 159.

6Chew FS, Roberts CC, Lalaji AP. Musculoskeletal Imaging: Pelvis. Philadelphia: Lippincott Williams&Wilkins224, 2006.p. 234

7Stannard JP, Schmidt AH, Kregor PJ. Surgical Treatment of Orthopaedic Trauma: Classification.Jerman: Thieme, 2007. P.523

Gambar: http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQDPW0OX8wyH2WbJRaM8_mH5_LbIX72rPDFue7BBt1I24oGaK8

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.