Rheumatoid Arthritis dan Osteoarthritis

Artikel ini sudah dibaca 22069 kali!

Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis (RA) merupakan sebuah peradangan di sendi yang terjadi secara progresif dan kronik. Bagian yang sering diserang ialah sinovium.

RA diduga terjadi karena ada respon imun atau inflamasi karena infeksi. Bisa juga karena autoimunitas. Autoantibodi patogen atau sel T yang mengalami auto reaksi bisa menyerang sinovium dan rawan sendi. Selain itu, kelainan pada pengaturan produksi sitokin proinflamasi atau transformasi komponen seluler sinovium juga dapat memicu autoimunitas ini.

Penderita umumnya akan mengalami kekakuan  sendi di pagi hari sedikitnya selama 1jam serta berlangsung lebih dari 6 minggu. Bengkak pada 3 sendi yang terjadi setidaknya 6 minggu, lebih sering pada pergelangan tangan, di ujung bawah jari, maupun di sendi ruas jari. Pembengkakan sendi pada RA biasanya simetris. Jika dilihat dengan sinar X akan tampak erosi dan dekalsifikasi tulang yang jelas. Kemudian, dapat ditemukan nodul rheumatoid serta faktor rheumatoid . Namun, faktor rheumatoid, sebenarnya tidak bisa menjadi acuan utama karena tidak semua penderita memiliki FR, sebaliknya, ada beberapa orang sehat yang justru memilikinya.

Obat yang diberikan untuk penderita RA adalah DMRAD yang tujuannya adalah mencegah kerusakan sendi. Yang paling sering digunakan adalah klorokuin, sulfasalazin, metotreksat, garam emas, minoksilin, azatioprin, siklosporin, leflunomid dan D-penisilamin. DMRAD biasanya diberikan secara kombinasi karena menunjukan perlambatan kerusakan sendi dibanding dosis tunggal. Kombinasi yang paling sering adalah metotreksat, sulfasalazin, dan hidroksiklorokuin. Kombinasi lain ialah metotreksat ditambah dengan siklosporin A.

Osteoarthritis (OA)

Berbeda dengan RA, OA bukan merupakan peradangan yang disebabkan oleh autoimun, tapi merupakan penyakit yang disebabkan proses degenerasi sehingga terjadi kerusakan rawan sendi. Sendi yang sering terkena adalah sendi lutut, panggul, lumbal (punggun) dan leher yang merupakan sendi-sendi penopang berat tubuh. Namun, bukan tidak mungkin jika menyerang sendi-sendi di tangan, terutama sendi antara ruas-ruas jari.

Yang sering menjadi keluhan pada penderita OA adalah nyeri ditambah kekakuan sendi serta keterbatasan fungsi sendi yang diserang. Nyeri biasanya akan timbul perlahan dan makin terasa sakit jika sendi digunakan. Nyeri yang timbul pada waktu istirahat atau malam hari, bisa menunjukan adanya OA yang berat atau adanya peradangan lokal. Kekakuan sendi juga bisa terjadi, hanya saja tidak lebih dari 30 menit. Bisa juga kekakuan ini muncul setelah istirahat lama, tapi akan segera menghilang setelah aktivitas beberapa menit.

Krepitus kadangkala bisa menjadi gejala klinik yang muncul pada kasus OA saat sendi yang terserang digerakan secara pasif. Otot-otot di sekitar sendi juga bisa terasa kaku. Selain itu, sendi mungkin akan mengalami penurunan kestabilan.

osteoarthritis

Pemeriksaan secara radiologik akan menunjukan penyempitan celah sendi, pembentukan osteofit, sklerosis subkondral, dan pada keadaan berat akan nampak kista subkondral. Pemeriksaan cairan sendi akan menunjukan keadaan yang normal.

Penatalaksanaan OA bertujuan untuk menghilangkan gejala, utamanya rasa sakit. Selain itu, perbaikan fungsi sendi dan menghindari kecacatan fisik juga sangat utama untuk dilakukan. Juga, perlu dipikirkan adanya toksisitas obat pad terapi farmakologis.

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, tapi kualitas hidup pasien tetap bisa ditingkatkan. Terapi fisik sebaiknya dilakukan dengan latihan untuk memperkuat otot serta memperluas lingkup gerak sendi. Latihan aerobik juga bisa dilakukan. Latihan yang dilakukan sebelum pembedahan bisa mengurangi resiko komplikasi akibat pembedahan.

Pasien juga harus dilatih untuk melakukan kegiatan keseharian, utamanya yang berhubungan dengan pekerjaannya sehingga tidak bergantung pada orang lain. Jika perlu, alat bantu bisa digunakan. Pada pasien obesitas, penurunan berat badan sangat penting untuk dilakukan mengingat pembebanan terhadap sendi akan semakin besar seiring dengan besarnya berat badan. Kelincahan pasien untuk bergerak juga bisa turun akibat obesitas tersebut. Penurunan berat badan dilakukan dengan diet, fitness, jogging maupun berenang.

Obat-obatan yang diberikan pada pasien ini adalah analgesik non narkotik, analgesik narkotik (jarang sekali), obat antiinflamasi nonsteroid,dan penghambat COX-2 selektif. Asetaminofen merupakan obat analgesik sederhana yang dianjurkan sedangkan tramadol merupakan obat analgesik narkotik. Terapi lokal yang bisa diberikan pada penderita OA adalah injeksi steroid atau hialuronan ke dalam sendi,  serta pemberian terapi topikal seperti krim antiinflamasi, krim salisilat, atau krim capsaicin. Injeksi steroid tidak boleh lebih dari 3x dalam setahun karena justru bisa merusak rawan sendi.

Daftar Pustaka

Watts R, Clunie G, Hall F, Marshall T. Oxford Desk Reference Rheumatology. 1st ed. Oxford University Press 2009.

Setyodadi B: Rheumatology untuk dokter umum. Temu ilmiah Rheumatology 2010.

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.