PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)

Artikel ini sudah dibaca 41232 kali!

Disusun oleh Johny Bayu Fitantra

Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan suatu penyakit obstruksi napas yang terjadi secara kronis dan progresif. Suatu obstruksi saluran napas dapat ditandai dengan adanya penurunan rasio dari volume ekspirasi paksa 1 detik (VEP1) dibandingkan dengan kapasitas vital paksa (KVP). Obstruksi saluran napas ditandai dengan nilai VEP1/KVP yang <70%. Juga, dipertimbangkan nilai VEP1 yang <80% nilai prediksi (dibandingkan dengan suatu standar kebanyakan orang, yang mana nilai VEP1 ini tergantung pada usia, jenis kelamin, dan tinggi badan).

Selain ditandai dengan penurunan fungsi paru yang bersifat obstruktif, penderita PPOK juga seringkali memiliki gejala batuk kronik. Gejala batuk tersebut tidak selalu ada. Selain itu, terdapat variasi juga mengenai ada atau tidaknya sputum pada saat batuk.

Pada orang normal, nilai VEP1 akan mencapai puncak pada usia 25 tahun. Kemudian akan terjadi masa plateau untuk kemudian mengalami penurunan secara bertahap dan progresif. Pada penderita PPOK, dapat terjadi lebih rendahnya fungsi paru yang dapat dicapai dibandingkan orang normal, pemendekan masa plateau, serta lebih cepatnya penurunan fungsi paru dibanding orang lain.

Saat ini, kriteria yang digunakan untuk menentukan derajat keparahan PPOK adalah Gold Criteria.

Derajat 1

Tingkat keparahan ringan.

VEP1/KVP <0.7 dan VEP1 >= 80% nilai prediksi

Derajat 2

Tingkat keparahan sedang

VEP1/KVP <0.7 dan VEP1 antara 50%-80% nilai prediksi

Derajat 3

Tingkat keparahan berat

VEP1/KVP<0.7 dan VEP1 antara 30%-50% nilai prediksi

Derajat 4

Tingkat keparahan sangat berat

VEP1/KVP <0.7 dan VEP1 <30% nilai prediksi atau jika VEP1<50% akan tetapi terjadi gagal napas atau tanda-tanda gagal jantung kanan

Muncul dan berkembangnya PPOK amat berkaitan dengan merokok. Dalam menilai kemungkinan pengaruh resiko riwayat merokok digunakan indeks brinkman. IB dihitung dengan mengalikan lamanya tahun merokok dengan banyaknya batang rokok rata-rata yang dikonsumsi perhari. Misal, jika seseorang merokok sebungkus (isi 12) sehari selama 40 tahun, Indeks Brinkman-nya adalah 40×12= 480. Tergolong ringan apabila IB senilai 0 – 200, sedang : 200 – 600, berat : > 600.

Selain rokok, faktor yang dapat berpengaruh terhadap PPOK adalah pajanan tertentu dari lingkungan seperti penambangan batu bara, penambangan emas, dan tekstil katun. Juga, pada orang  dengan hiperresponsi pada saluran napas.

Umumnya, penderita PPOK tidak terlalu menyadari adanya gangguan obstruksi saluran napas ini hingga gangguan tersebut terjadi secara berat. Deteksi dini PPOK adalah dengan pemeriksaan spirometri. Pa O2  biasanya tetap mendekati normal hingga VEP1 turun hingga <50% nilai prediksi. Jika VEP1 turun hingga <25% nilai prediksi, dapat terjadi hiperkarbia dan hipertensi pulmoner.

Penderita PPOK kadangkala mengalami suatu kondisi perberatan gejala seperti sesak napas, batuk dan produksi sputum. Kondisi ini kita sebut sebagai eksaserbasi. Eksaserbasi ini umumnya disebabkan oleh bakteri dan atau infeksi virus pada jalan pernapasan.

Kapan kita dapat mencurigai seseorang menderita PPOK?

Riwayat merokok menjadi hal yang paling utama untuk diketahui. Selain itu, terdapat riwayat batuk kronik yang produktif. Batuk tersebut terjadi selama 3 bulan pertahunnya, selama 2 tahun mengalami bronkitis kronik. (Akan tetapi, bronkitis kronis tanpa adanya obstruksi saluran napas tidak termasuk dalam PPOK.

Sesak napas merupakan salah satu keluhan yang paling utama.Penderita PPOK umumnya terganggu oleh sesak napas yang memberat saat aktivitas. Akibatnya, kegiatan sehari-hari dapat terganggu. Selain itu, penderita PPOK cenderung mengalami penurunan berat hingga terjadi kakeksia. Kondisi ini umumnya terjadi pada penyakit yang sudah dalam tahap lanjut.

Karena adanya obstruksi saluran napas, kondisi seperti hipoksemia dan hiperkarbia dapat terjadi. Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan retensi cairan, sakit kepala, gangguan tidur, eritrositosis, dan sianosis.

Penderita umumnya datang ke rumah sakit atau layanan kesehatan saat terjadi eksaserbasi. Eksaserbasi dapat terjadi lebih sering ketika perkembangan penyakitnya sudah berat serta dapat dipicu oleh infeksi saluran napas sering kali oleh komponen bakteri, Selain itu, kondisi seperti gagal jantung kiri, aritmia jantung, pneumotorak, pneumoni dan tromboembolisme paru juga dapat mencetuskan.

Apa yang bisa kita dapatkan pada pemeriksaan fisik?

Pada pemeriksaan fisik, seringkali pada penderita yang masih dalam derajat rendah hingga sedang tidak ada hasil signifikan yang didapat. Namun, ketika penyakitnya sudah mulai berkembang, dapat terjadi hiperinflasi yang menonjol. Selain itu, wheezing juga dapat ditemukan meskipun tidak dapat memprediksi beratnya obstruksi atau respon terhadap terapi. Pada saat eksaserbasi, yang dapat diamati adalah tanda-tanda distress pernapasan seperti takikardi, takipnea, penggunaan otot-otot bantu napas sianosis.

Apakah foto thorax membantu?

Pada foto thorax kita dapat menemukan adanya hiperinflasi, emfisema dan hipertensi pulmoner. Foto ini dapat berguna untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain saat melakukan evaluasi rutin serta membedakan dengan adanya pneumonia saat terjadi eksaserbasi.

Tes fungsi paru

Tes fungsi paru merupakan salah satu yang paling spesifik dalam menentukan adanya obstruksi saluran napas. Pada PPOK, rasio antara VEP1/KVP berkurang hingga 70% atau bahkan kurang.

 

Penatalaksanaan PPOK

Berhenti merokok

Berhenti merokok dapat menjadi faktor yang amat vital dalam upaya pencegahan memberatnya kondisi penyempitan saluran napas yang dialami oleh pasien PPOK. Meskipun tidak secara cepat meningkatkan fungsi paru, berhenti merokok berguna untuk mengurangi penurunan fungsi paru.

Bronkodilator

Bronkodilator berguna untuk mengurangi gejala-gejala respirasi. Yang sering digunakan adalah beta adrenergik agonis jangka panjang maupun pendek, antikolinergik jangka panjang maupun pendek, dam derivat teofilin.

Jika pasien masih dalam derajat ringan, tatalaksana inhalasi dengan antikolinergik kerja cepat seperti ipratropium bromida atau beta agonis kerja cepat seperti albuterol dapat diberikan. Terapi kombinasi dan beta agonis kerja lambat dan atau antikolinergik kerja lambat dapat ditambahkan pada pasien dengan penyakit yang berat.

Kortikosteroid

Penggunaan kortikosteroid sistemik secara kronik tidak direkomendasikan pada PPOK mengingat efek sampingnya. Beberapa penelitian menunjukan bahwa meskipun kortikosteroid inhalasi tidak terlalu bermanfaat dalam mengurangi kecepatan penurunan dari VEP1, frekuensi eksaserbasi pada individu dengan PPOK yang berat dapat berkurang.

Oksigen

Pemberian terapi oksigen jangka panjang  dapat membantu untuk mengurani gejala dan meningkatkan survival penderita PPOK yang secara kronik mengalami hipoksemia. Pasien dengan PaO2 <=55 mmHg atau SaO2 <=88% sebaiknya mendapatkan O2 untuk meningkatkan SaO2 hingga 90% atau lebih. Selain itu, O2 juga diindikasikan pada pasien dengan SaO2 antara 56-59 mmHg atau SaO2 <=89% jika disertai dengan tanda atau gejala hipertensi pulmoner atau kor pulmonale.

Penatalaksanaan Eksaserbasi PPOK

Antibiotik

Antibiotik dapat dipertimbangkan mengingat pencetus utama dari eksaserbasi PPOK adalah infeksi bakteri. Hal ini terutama ditandai dengan peningkatan sputum atau terjadi perubahan warna sputum. Patogen paling sering adalah S. pneumoniae, H.Influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Pemilihan antibiotik sebaiknya tergantung pada pola sensitifitas antibiotik pada daerah tersebut, kultur sputum sebelumnya, dan beratnya penyakit.

Pasien dengan PPOK yang ringan hingga menengah dapat dipertimbangkan untuk diberikan trimethoprim-sulfamethoxazole, doxycycline, dan amoxicillin. Semakin berat kondisinya, spektrum antibiotik sebaiknya dipilih yang lebih luas.

Bronkodilator

Meningkatnya gejala pernapasan pada saat eksasebasi membuat pemberian bronkodilator amat penting peranannya. Inhalasi b-adrenergik agonis kerja cepat seperti albuterol dapat digunakan. Obat tambahan dapat berupa ipratropium bromida. Umumnya, pemberian dengan nebulizer lebih mudah dilakukan pada pasien dengan distress pernapasan.

Glukokortikoid

Steroid sistemik dapat mempercepat resolusi gejala da mengurangi relaps serta eksaserbasi hingga 6 bulan. Dosisnya belum ada patokan secara pasti, tetapi standar yang ada saat ini adalah prednison 30-40 mg perhari selama 10-14 hari.

Oksigen

Oksigen diberikan supaya SaO2 lebih dari 90% dapat dipertahankan. Nasal kanul dapat digunakan untuk pemberian O2 sebanyak 1-2 L/menit.

Ventilator

Ventilator dapat digunakan apabila pasien mengalami gagal napas. Pasien mengalami asidosi, terjadi hiperkarbia yang progresif, hipoksemia refraktori hingga perubahan status mental.

Referensi:

Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, et al. Harrison’s Manual of Medicine:  Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 17thed. Amerika Serikat: Mc Graw Hill; 2009. p. 759-763

Medicinesia

Sebuah website yang didedikasikan untuk mahasiswa kedokteran maupun ilmu kesehatannya lainnya di Indonesia.